Thursday, November 3, 2011

Manusia atau Kuda?


Karena yang dihadapi itu manusia, bukan hewan, maka bersikaplah manusiawi dan berakhlak

Dalam beberapa kesempatan, saya mendapati teman-teman yang memiliki semangat dalam memperjuangkan Islam dan menegakkan kebenaran, tapi sayangnya semangat itu tidak diikuti dengan cara yang bagus serta akhlak yang baik. Akibatnya, para aktivis Muslim yang bersemangat ini sering terlihat keras dan garang di mata orang-orang awam. Pada gilirannya, Islam yang diwakili oleh orang-orang yang bersemangat ini jadi kelihatan menyeramkan dan menakutkan. Padahal Rasulullah pernah mengingatkan, “Mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari.” (HR Bukhari)

Pernah suatu kali sebagian aktivis Muslim melakukan demonstrasi di Masjid al-Azhar, Jakarta Selatan. Ada beberapa peserta demonstrasi yang mengambil jalan pintas masuk ke halaman masjid dengan cara melompati pagar yang tidak terlalu tinggi. Tiba-tiba terdengar ada yang berteriak kasar, ”Hei, masuk lewat pintu, jangan melompati pagar seperti itu!

Sebenarnya tidak ada masalah dengan isi nasihat itu. Yang menjadi masalah adalah kata-kata itu dilontarkan dengan nada tinggi dan agak kasar. Hal itu tentu menggores perasaan orang-orang yang melompati pagar tadi. Kalau saja hal itu disampaikan dengan cara yang lebih baik, tentu ia akan menjadi bagus dan lebih sempurna.

Pada kesempatan yang lain lagi, saat masih menjadi mahasiswa baru di Universitas Indonesia, hal yang hampir sama pernah juga terjadi. Ketika itu kami sedang menjalani serangkaian kegiatan penerimaan mahasiswa baru yang biasa disebut ospek/ mapras dan istilah-istilah sejenisnya. Pada waktu ashar kami sama-sama pergi ke mushala (surau) untuk shalat dan mendengarkan ceramah dari seorang ustadz atau senior di kampus itu. Setelah itu, ada sedikit minuman dan snack yang diberikan kepada para mahasiswa baru.

Saat makan dan minum, banyak juga mahasiswa yang melakukannya sambil berdiri. Walaupun mereka semua Muslim, banyak yang tidak memahami bahwa makan dan minum sebaiknya dilakukan sambil duduk.

Ketika melihat ada banyak yang makan dan minum sambil berdiri, seorang senior aktivis mushala berteriak keras, ”Hoi, kalau makan dan minum duduk, jangan seperti kuda!

Para mahasiswa terdiam dan saling melihat satu sama lain, seolah-olah ada seekor kuda sedang berdiri di antara mereka. Senior yang tadi berteriak tidak menampakkan wajahnya, hanya suaranya saja yang terdengar. Sebagian dari mahasiswa baru ini ada yang mencari tempat untuk duduk. Tapi banyak yang lainnya tetap berdiri dan melanjutkan makan minum mereka. Tentu saja, mereka memang belum mengetahui tentang tuntunan Islam dalam makan dan minum. Seruan yang agak kasar tadi tidak memberikan pemahaman kepada mereka tentang cara makan dan minum yang baik.

Sebagian orang yang melihat atau mendengar kejadian semacam ini mungkin termenung, karena mereka itu manusia, dan bukan kuda, mengapa tidak perlakukan mereka seperti manusia. Berikan nasihat dengan cara yang baik dan lembut. Kuda pun tak akan suka jika dikasari.

Nasihat yang baik akan menjadi berkesan jika ia disampaikan dengan cara yang juga baik. Sampaikanlah kebenaran dengan cinta, agar manusia melihat keindahan dan kelembutan pada agama ini. Kita bisa melakukannya, insya Allah.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
19 Dzulqaidah 1432/ 17 Oktober 2011

Monday, October 31, 2011

Tegurlah tapi jangan menyakiti


Tegurlah orang yang melakukan kesalahan dengan cara yang tidak membuatnya merasa malu atau sakit hati

Menegur kesalahan orang lain memerlukan seni tersendiri. Jika kita menegurnya terlalu keras boleh jadi ia akan merasa sakit hati. Kalau kita menegurnya di depan orang banyak tentu ia akan merasa malu. Akibatnya, apa yang diharapkan dari teguran itu boleh jadi tidak terwujud. Atau mungkin saja teguran itu diterima tapi memberikan bekas menyakitkan yang lama di hati orang yang mendapat teguran.

Ketika masih belajar di SMA (senior high school), saya baru mulai mendalami Islam dan menjadi sangat bersemangat untuk menjalankannya. Usia masih sangat muda ketika itu. Sehingga semangat yang sangat tinggi belum diimbangi dengan cara berpikir dan sikap yang lebih bijaksana.

Pada suatu hari, ketika sedang duduk di mushala (surau) sekolah, ada seorang teman yang sedang shalat dzuhur. Ia terlambat melakukannya sehingga kemudian melakukan shalat sendirian.

Tiba-tiba masuk seorang kawannya yang terkenal usil dan suka bercanda. Saat masuk ke dalam mushala dan melihat kawannya sedang sujud, sikap usilnya muncul. Ia segera menghampiri kawannya itu dan menarik kakinya ke belakang, sehingga posisi kawan yang sebelumnya sujud berubah menjadi terlungkup atau tengkurap.

Ya Allah, pelajar ini sedang shalat dan sujud menghadap Tuhannya, tapi posisinya kini menjadi seperti orang yang sedang tidur dengan wajah menghadap ke bawah. Sementara pelajar yang melakukannya tertawa senang karena berhasil mengerjai kawannya itu.

Saya sangat terkejut melihat itu dan melompat spontan dari tempat duduk. Saya menarik pelajar itu dan menjauhkannya dari kawan yang sedang shalat tadi. ”Mengapa kamu melakukan hal itu?” saya menegurnya. ”Jangan bergurau dalam perkara ibadah dan shalat!”

”Oh ...,” pelajar tadi merasa terkejut dan berhenti tertawa, ”maaf.” Wajahnya langsung berubah dan ia segera pergi meninggalkan mushala.

Untunglah ia menerima teguran dan tidak menentangnya. Tapi saya tak dapat melupakan ekspresi wajahnya ketika itu. Teguran itu tampaknya terlalu mengejutkan dan membuatnya merasa sangat malu. Saya jadi menyesal karena terlalu bersemangat melakukannya. Sebenarnya saya boleh menariknya perlahan dan menjelaskan dengan lembut bahwa hal itu tidak baik. Tentu ia tidak akan merasa terkejut atau malu karenanya.

Apa yang dilakukannya memang keterlaluan, sangat keterlaluan. Tapi itu disebabkan ia belum paham. Walaupun perbuatan itu keterlaluan, tapi menegurnya tetap perlu dengan kelembutan. Perbuatan yang terlalu itu sama sekali tidak memberi alasan bagi kita untuk menegur secara keras dan berlebihan, kecuali mungkin jika ia dengan sengaja melecehkan kebenaran.

Bukankah tindakan kencing di dalam masjid itu merupakan tindakan yang keterlaluan? Seorang mukmin tentu akan sangat marah jika melihat ada orang yang sengaja kencing di dalam masjid. Ini juga dulu pernah terjadi di jaman Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dan hal itu membuat marah para sahabat. Tapi Nabi menahan kemarahan mereka dan beliau menegur orang Arab Badui yang melakukan perbuatan itu dengan cara yang baik, sehingga orang ini akhirnya memutuskan masuk Islam.

Maka tetaplah bersemangat dalam beragama, dan bersemangatlah dalam meluruskan yang salah, tapi gunakan kata-kata yang lembut dan tidak menyakitkan. Kecuali jika yang melakukan perbuatan buruk itu memang orang yang sangat memusuhi kebaikan dan sengaja menghalang-halangi orang dari jalan Allah. That’s a different thing.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
19 Dzulqaidah 1432/ 17 Oktober 2011

Friday, October 28, 2011

Hujan di Hari Jum'at


Hujan pada Jum'at ini lain dari biasanya. Saat berangkat ke masjid, matahari bersinar sangat terik. Udara sangat panas. Orang-orang masuk ke dalam masjid dan ibadah Jum'at dimulai tidak lama kemudian.

Saat khatib sedang berkhutbah, suasana tiba-tiba menjadi mendung. Lalu hujan turun dengan derasnya selama kurang lebih 5 menit. Selama beberapa menit kemudian hujan masih turun rintik-rintik, setelah itu berhenti.

Saat ibadah Jum'at selesai, orang-orang keluar dari masjid untuk kembali ke office, ke rumah masing-masing, atau ke tempat lainnya. Tidak terlihat adanya tanda atau bekas-bekas hujan. Matahari bersinar terik. Udara sangat panas. Dan jalan kering seperti sebelumnya.

Hujan pada tengah hari ini hanya turun sebentar saja, seolah-olah menjadi tanda turunnya rahmat bagi mereka yang menjalankan ibadah Jum'at. Wallahu a'lam bis showab.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur
1 Dzulhijjah 1432/ 28 Oktober 2011

Thursday, October 27, 2011

Perubahan pada Kecerdasan dan Otak Manusia


Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah seminar tentang remaja, seorang psikolog muda menjelaskan bahwa banyak psikolog cenderung memandang bahwa karakter dan kecerdasan manusia lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetika, yaitu sesuatu yang bersifat menurun, bukan sosial. Kalaupun ada pengaruh sosial, maka hal itu tidaklah signifikan.

Saya agak terkejut mendengar pendapat ini. Jika hal ini benar, maka betapa deterministiknya perjalanan hidup seorang manusia. Kecerdasan dan karakternya merupakan sesuatu yang given, ’dari sananya’ kalau kata orang Jakarta. Mereka tak mampu berbuat banyak untuk mengubah hal itu dalam perjalanan hidupnya, karena ia bersifat genetik. Kalau mau mengubahnya, mereka mungkin perlu melakukan suatu rekayasa genetika.

Sejak awal saya tidak merasa cocok dengan pendapat ini. Faktor genetik memang tidak dapat diabaikan. Tapi apakah lingkungan sosial dan pendidikan tidak dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap kecerdasan dan karakter manusia? Saya percaya lingkungan, pendidikan, dan latihan yang teratur juga dapat membentuk perkembangan otak manusia, terutama pada masa usia awal dari perkembangan manusia. Hanya saja, saya tidak memiliki data dan bukti penelitian tentang itu.

Namun baru-baru ini, ada sebuah penelitian yang menjungkirbalikkan pandangan banyak orang tentang kecerdasan (IQ). Selama ini kita diberitahu bahwa IQ (Intelligence Quotient) seorang manusia cenderung tidak mengalami perubahan pada sepanjang hidupnya. Ia merupakan sesuatu yang given dan relatif stabil. Anak yang cerdas akan tumbuh menjadi seorang yang cerdas. Anak yang bodoh akan berkembang menjadi orang yang bodoh. Apakah seseorang yang cerdas menggunakan kecerdasannya dengan baik dan menjadi sukses dalam hidupnya, itu merupakan hal yang berbeda.

Yang jelas, IQ dianggap sebagai sesuatu yang tidak mengalami perubahan dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dalam hidup seseorang. Tapi penelitian yang dilakukan belum lama ini mengungkapkan fakta yang berbeda. Para peneliti menemukan adanya perubahan kecerdasan yang sangat besar (huge swings in intelligence) pada anak-anak usia remaja. Sebagian hasil penelitian ini diungkap dalam surat kabar The Sun (25 Oktober 2011, hlm. 30).

Pada tahun 2004, beberapa peneliti Inggris melakukan tes terhadap 33 remaja berusia antara 12 dan 16 tahun. Tes yang diberikan adalah tes IQ standar, ”verbal” (bahasa, aritmatika, daya ingat, pengetahuan umum) dan ”non-verbal” (identifikasi bagian gambar yang hilang dll). Selain menjalani tes IQ, anak-anak ini juga dites dengan menggunakan scanner MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk melihat gambar otak mereka dalam bentuk 3 dimensi (3D). Semua hasil pengukuran ini disimpan oleh tim peneliti.

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 2007 dan 2008, penelitian kembali dilakukan terhadap remaja-remaja yang sama. Anak-anak yang umurnya kini telah tiga atau empat tahun lebih tua itu kembali menjalani tes IQ dan tes dengan scanner MRI. Hasilnya sungguh mengejutkan. Sebagian remaja tidak mengalami perubahan IQ yang berarti. Tapi sebagian yang lain mengalami kenaikan, atau penurunan, IQ hingga 20 poin. ”Some subjects performed markedly better but some performed considerably worse,” kata Sue Ramsden dari Wellcome Trust Center for Neuroimaging pada University College London (UCL). Saat gambar scan otak mereka diteliti, didapati adanya perubahan yang signifikan dalam beberapa tahun itu.

”Kami menemukan adanya hubungan yang jelas antara perubahan kemampuan (dalam menjalani tes IQ) ini dan perubahan pada struktur otak mereka,” kata Ramsden, “dan karenanya dapat dikatakan dengan cukup pasti bahwa perubahan IQ ini merupakan sesuatu yang nyata.”

Apakah otak manusia hanya dapat mengalami perubahan signifikan pada masa-masa remaja saja? Kelihatannya tidak. Hal ini tampaknya juga dapat berlaku pada orang-orang dewasa. Penelitian lainnya menunjukkan adanya sifat kenyal/ liat (plasticity) pada otak manusia yang memungkinkan terjadinya perubahan struktural sepanjang kehidupan seorang dewasa. Tes atas seorang sopir taksi di London memperlihatkan bahwa ia memiliki hippocampus yang lebih besar. Hippocampus merupakan titik sentral untuk kemampuan navigasi dan memori.

Hal ini membuat Cathy Price, seorang professor di UCL, mengajukan sebuah pertanyaan mendasar, “… jika struktur otak kita dapat berubah pada sepanjang masa dewasa kita, apakah IQ kita juga dapat berubah?” Ia menjawab sendiri pertanyaannya, “Saya kira, ya. Ada banyak bukti yang menyarankan bahwa otak kita dapat beradaptasi dan strukturnya dapat berubah, bahkan pada masa dewasa.”

Saya kira, saya juga setuju dengan Anda, Prof. Price. Hasil penelitian ini lebih melegakan dibandingkan pandangan deterministik yang selama ini kita terima. Ini memberi kesempatan pada seorang manusia untuk memilih dan berupaya, apakah ia ingin menjadi lebih baik atau lebih buruk, termasuk dalam hal kecerdasan.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur
28 Dzulqaidah 1432/ 26 Oktober 2011

Wednesday, October 26, 2011

Who Knows?


Ada sebuah cerita dari Cina. Dikisahkan ada seorang petani tua yang memiliki seekor kuda tua yang digunakannya untuk membantu bekerja di ladang. Pada suatu hari kuda itu pergi meninggalkan ladang dan menghilang. Tetangga-tetangga petani tua itu menyatakan rasa simpati mereka atas nasib buruk yang menimpanya. Petani tua itu menjawab, "Nasib buruk? Nasib baik? Siapa yang tahu?

Seminggu kemudian kudanya datang kembali dengan membawa sekumpulan kuda liar. Orang-orang pun memberi selamat kepadanya atas keberuntungannya. Ia hanya menjawab, "Nasib baik? Nasib buruk? Siapa yang tahu?

Beberapa waktu kemudian, anak si petani berusaha menaiki seekor kuda liar, tapi ia terjatuh dari kuda itu dan kakinya patah. Atas kejadian itu, orang-orang kembali menyatakan rasa prihatinnya. Tapi respons si petani tua masih sama, "Nasib buruk? Nasib baik? Siapa yang tahu?

Beberapa minggu kemudian, tentara kerajaan datang ke desa itu dan mewajibkan semua anak muda yang sehat untuk masuk militer dan ikut berperang. Mereka mengambil para pemuda dari setiap keluarga, tapi membiarkan anak si petani karena kakinya yang patah dan tidak memungkinkannya untuk ikut berperang. Semua orang tua sedih karena harus berpisah dengan anak-anaknya dan mereka khawatir anak-anak mereka akan mati di medan perang. Sementara petani tua itu tak perlu berpisah dengan anaknya. Tapi jika orang-orang datang dan berkata-kata kepadanya, Anda tentu mengetahui apa yang akan dikatakannya.

"Nasib baik? Nasib buruk? Siapa yang tahu?

Diceritakan kembali dari beberapa sumber

Alwi Alatas
Kuala Lumpur
29 Dzulqaidah 1432/ 27 Oktober 2011

Tuesday, October 25, 2011

Sensitivitas terhadap sesuatu yang negatif


Al-Qur’an tidak berubah, al-Sunnah tidak berubah, yang berubah adalah respons kita terhadap al-Qur’an dan al-Sunnah
(Abdulbary Yahya, al-Maghrib Institute)

Seorang anak yang belajar di sebuah pesantren, karena terpengaruh temannya, tiba-tiba melakukan kesalahan yang serius: mencuri. Ia mencuri uang temannya, uang abangnya, dan juga uang ibunya. Uang itu digunakan untuk membeli baju-baju baru, handphone, dan beberapa benda lainnya.

Sebenarnya ia merupakan seorang anak yang baik dan tidak pernah melakukan perilaku buruk semacam itu sebelumnya. Tapi rupanya ia mudah dipengaruhi oleh orang lain. Kami kemudian menasihatinya dan memindahkannya dari pesantren ke sebuah madrasah dengan harapan hal itu dapat membantunya untuk berubah.

Suatu hari saya diberitahu bahwa baju yang dulu dibelinya dengan uang curian masih digunakan secara bergantian oleh anak ini dan abangnya. Uang yang dicuri memang dikembalikan kepada pemiliknya secara berangsur (dibayarkan beberapa kali) dan santri yang dicuri uangnya sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Tapi kenyataan ini membuat saya gelisah. Walaupun masalahnya sudah dianggap selesai dan baju itu telah menjadi halal, tapi baju itu sebelumnya didapat dengan cara mencuri. Bagaimana mungkin seorang anak dapat memahami dan merasakan besarnya kejahatan mencuri jika barang bekas curiannya masih tetap melekat di badannya?

Ketika saya berkesempatan berbincang dengan orang tuanya, saya sampaikan kegelisahan saya ini. Saya jelaskan bahwa baju itu memang sekarang sudah halal, tapi hal itu sama sekali tidak mendidiknya. Kalau yang melakukan hal semacam itu adalah anak saya sendiri, saya akan menasihatinya dan menyuruhnya untuk membakar baju-baju itu. Saya tidak ridha dia memakai sesuatu yang bersumber dari perbuatan buruknya. Ia harus menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah suatu kesalahan yang besar.

Orang tuanya merasa berat untuk membakar atau membuang pakaian-pakaian itu, tapi setuju untuk menjauhkannya dari rumah. Mereka memutuskan untuk memberikan baju-baju itu kepada orang lain. Tak apalah, pikir saya, yang penting ia tidak lagi memakai baju-baju itu.

Membakar atau membuang baju-baju itu bukanlah sesuatu yang berlebihan atau salah untuk dilakukan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah melakukan hal ini. Pernah suatu kali beliau mendapati seorang pria mengenakan sebuah cincin emas di jarinya. Beliau kemudian menghampiri orang itu, melepaskan cincin emas dari jarinya, dan membuangnya ke tanah. ” Salah seorang dari kalian dengan sengaja melihat bara api dari neraka dan menggunakannya di tangannya,” kata beliau saat membuang cincin emas itu. Beliau kemudian meninggalkan tempat itu.

Orang itu masih berdiri di sana selama beberapa saat. Seorang yang melihat kejadian itu kemudian berkata kepada si pemilik cincin, ”Ambil cincin itu dan manfaatkanlah.”

Apa yang dikatakan orang itu tidak salah. Cincin dan benda-benda emas lainnya hanya haram untuk dikenakan oleh pria. Tapi emas sama sekali tidak haram untuk disimpan dan dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.

Tapi apa respons pemilik cincin itu? Apakah ia mengambil kembali cincin yang telah dibuang itu dan kemudian memanfaatkannya dengan cara yang halal? Ternyata tidak. ”Demi Allah, saya tidak akan mengambil cincin yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah membuangnya,” kata orang itu (Hadits riwayat Muslim ini kami ambil dari buku Shaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Bekal Bagi para Dai di dalam Dakwah).

Betapa indah dan efektifnya tarbiyah Rasulullah kepada orang-orang di sekitarnya. Betapa indahnya sikap dan respons para sahabat terhadap nasihat dan peringatan Nabinya. Mengapa kita tidak mau mengambil pelajaran yang indah ini untuk kehidupan kita sehari-hari? Banyak di antara kita pada hari ini yang tidak ingin anak dan anggota keluarganya melakukan perbuatan buruk. Tapi sayangnya mereka membiarkan bekas-bekas keburukan melekat pada tubuh mereka. Atau bahkan membiarkan terjadinya suatu kesalahan tanpa adanya usaha yang serius untuk mengubahnya.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Ustadz Abdulbary Yahya, salah seorang instruktur pada al-Maghrib Institute, saat memberikan khutbah Jum’at di Masjid International Islamic University Malaysia (IIUM), 14 Oktober 2011: The Qur’an is not changed, the Sunnah is not changed, what is changed is our response to the Qur’an dan the Sunnah.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
19 Dzulqaidah 1432/ 17 Oktober 2011

Monday, October 24, 2011

Presiden dan Pena yang Menggiurkan


Perbuatan mencuri ternyata tidak hanya dapat dilakukan oleh orang-orang umum. Hal itu dapat juga dilakukan oleh seorang pemimpin sebuah negara. Walaupun yang dicuri itu hanya sebuah benda yang kurang berarti, dan aksi itu dilakukan sambil tersenyum di depan publik dan di depan kamera (hanya saja ia tidak tahu aksinya tertangkap oleh kamera).

Pembaca tentu sudah pernah mendengar berita tentang Presiden Republik Ceko, Vaclav Klaus, dan kisahnya dengan sepotong pena? Ia berkunjung ke Republik Chile beberapa waktu yang lalu dan duduk bersama Presiden Chile, Sebastian Pinera, untuk menandatangani suatu perjanjian. Saat Pinera sibuk memberikan kata sambutan, Klaus membuka kotak pena, mengeluarkan pena itu, dan menatapnya dengan penuh rasa tertarik.

Dengan gaya yang cukup profesional dan tetap menatap hadirin, ia kemudian menurunkan pena itu ke bawah meja. Untuk beberapa detik, kedua tangannya terlihat beraksi di bawah meja tanpa terlihat apa yang sedang ia lakukan dengan pena tadi. Kemudian kedua tangannya kembali naik ke atas meja tanpa membawa pena. Wajahnya menampakkan senyum penuh kepuasan. Akhirnya, ia menutup kotak tempat pena yang sudah kosong.

Aksinya yang tertangkap kamera itu segera menjadi sensasi media masa. Juru bicara Republik Chile kemudian menyatakan bahwa pena itu memang biasa diberikan kepada tamu-tamu negara, termasuk untuk Presiden Klaus. Bagaimanapun, cara Tuan Klaus menerima pena hadiahnya sungguh sangat tidak biasa.

Lain kali kalau tertarik dengan sebuah pena, minta saja dengan baik-baik, tentu akan diberikan. Bukankah begitu?

Video dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=hkt1wSXRnRg&feature=feedrec_grec_index

Kuala Lumpur
26 Dzulqaidah 1432/ 24 Oktober 2011

Saturday, October 22, 2011

Berulang kali mencuri


Aneh sekali orang-orang di jaman modern ini. Banyak yang mengenakan atribut Islami, tapi sama sekali tidak merasa takut dan malu kepada Allah.

Saya pening dengan kejadian ini,” seorang direktur sebuah rumah sakit (hospital) di Riau bercerita tentang masalah yang dihadapi lembaga yang dipimpinnya itu. “Ini sudah terjadi berulang kali.”

Direktur rumah sakit ini bercerita tentang pencurian yang dilakukan oleh beberapa orang yang bekerja di bagian farmasi di rumah sakit tersebut. Ia baru saja memberhentikan beberapa orang dari pekerjaannya disebabkan oleh kejadian itu.

Para pelakunya tidak melakukan hal ini secara sendiri-sendiri. Mereka melakukannya secara berjamaah dan saling bersekongkol untuk menutupi perbuatan tersebut. Hal ini berlangsung untuk waktu yang cukup lama,” ia melanjutkan ceritanya. “Mereka melakukan pencurian dan penipuan melalui pembelian obat rumah sakit. Kalau dihitung-hitung, kerugian yang ditanggung oleh rumah sakit ini mungkin lebih dari lima ratus juta rupiah (sekitar RM 175,000).”

Itu jumlah yang sangat banyak,” saya berkata pada direktur tersebut. ”Bagaimana mereka bisa melakukan semua itu tanpa diketahui oleh rumah sakit?

Ada banyak yang terlibat di dalamnya, hingga mencapai dua puluh orang,” terang direktur rumah sakit itu. “Tapi ada satu orang yang rupanya memimpin dan mengatur semuanya. Uang hasil curian dibagi-bagikan kepada semua yang terlibat, sehingga kejadian itu tetap tidak diketahui untuk waktu yang lama. Sistem pembelian obat telah diatur dengan cara yang baik, tapi mereka rupanya menemukan celah untuk melakukan korupsi dari pembelian obat itu.

Mungkin salah saya karena terlalu mempercayai mereka,” lanjut direktur tersebut. ”Saya betul-betul tidak mengerti mengapa mereka bisa melakukannya. Kami selalu membuat pengajian rutin di rumah sakit ini dan mewajibkan mereka semua untuk menghadirinya. Kepada mereka telah dijelaskan tentang mengenal Allah, kebersamaan dengan Allah. Semua pegawai itu juga mengenakan jilbab rapih. Orang yang memimpin pencurian ini termasuk yang paling rajin mengikuti pengajian, selalu duduk di depan, dan sering bertanya kepada ustadz yang memberikan pengajian. Lalu mengapa dia masih berani mencuri?

Saya pun merasa heran saat mendengar cerita itu. Sejauh yang saya perhatikan, rumah sakit itu termasuk yang sangat memelihara nilai-nilai keislaman. Semua pegawai perempuan mengenakan jilbab, para pegawai yang laki-laki juga sangat menjaga adab. Pengajian rutin merupakan salah satu program yang mesti dihadiri oleh para pegawai. Rasanya sulit dipercaya hal semacam ini bisa terjadi di tempat itu.

Apakah ada cara penyampaian yang salah sehingga mereka tidak juga faham tentang haramnya mencuri? Atau jangan-jangan mereka telah terbiasa memakan makanan yang haram di rumahnya, sehingga mereka tidak lagi perduli dari mana dan dengan cara bagaimana mereka mendapatkan uang?"

Saya agak ngeri memikirkan kemungkinan itu. Kalau pegawai-pegawai yang berbusana Islami yang bekerja di tempat yang Islami telah terekspos (exposed) dengan hal-hal yang haram, bagaimana lagi dengan orang-orang selain mereka?

Ketika kami akhirnya mengetahui kejahatan itu, kami terpaksa memberhentikan semua pegawai yang terlibat,” direktur itu kembali menjelaskan. ”Beberapa waktu setelah itu, orang yang memimpin pencurian itu mengirimkan sms kepada saya, meminta maaf, dan memohon agar diperkenankan kembali bekerja di rumah sakit. Karena selama ini saya cukup dekat dengannya dan selalu mempercayainya (walaupun kemudian ia mengkhianati kepercayaan itu), maka saya pun memaafkannya dan menerimanya kembali bekerja. Tapi ....

Apakah hal itu kembali terjadi?” saya bertanya penasaran.

Kejadian itu memang terjadi lagi. Benar-benar tak dapat dimengerti. Baru saja dimaafkan dan diterima bekerja kembali, begitu melihat kesempatan untuk melakukan kejahatan, ia segera mencoba untuk melakukannya lagi. Tapi kali ini perbuatannya segera diketahui.

Saya memanggilnya ke ruangan saya,” direktur itu meneruskan ceritanya. ”Saya mengingatkan dia tentang semua yang telah difahaminya, tentang haramnya mencuri, tentang iman pada Allah, dan banyak hal lainnya.

Apakah ia menyesali perbuatannya?” tanya saya.

Dia hanya diam saja,” direktur ini menjawab dengan nada kesal, seolah pegawai itu masih ada di ruangan itu juga. ”Tidak ada ekspresi di wajahnya. Tidak ada rasa takut pada Allah. Tidak ada perasaan malu karena telah melakukan perbuatan itu. Seolah-olah hatinya telah membeku. Saya benar-benar tak bisa memahami hal itu.

Saya tak bisa membiarkan hal ini lebih jauh,” sambung direktur itu lagi. ”Sebelum ini saya tidak mau melaporkan pencurian ini kepada polisi. Tapi sekarang saya terpaksa melaporkannya. Dan ketika saya menyebutkan tentang polisi di depannya, wajah pegawai itu langsung berubah. Ia mulai merasa khawatir dan ketakutan. Ah, rupanya dia tidak takut kepada Allah. Dia hanya takut kepada polisi. Ya sudahlah, biar ia menyelesaikan urusannya dengan polisi dan menikmati hari-harinya di penjara.

Saya lama merenungkan cerita itu. Sudah separah inikah perilaku mencuri dan korupsi di negeri ini? Kalau kepada Allah seorang sudah tak lagi takut, maka tak banyak hal yang dapat menahan seseorang dari melakukan keburukan. Kita berlindung kepada Allah dari hal semacam ini.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
11 Dzulqaidah 1432/ 9 Oktober 2011

Thursday, October 20, 2011

Walau hanya segelas air


Diceritakan oleh Thabit al-Banani bahwa Abdullah ibn Mutraf meninggal dunia. Kemudian ayahnya muncul di tengah orang-orang dengan mengenakan pakaian yang bagus serta memakai wangi-wangian.

Orang-orang merasa kesal dan berkata kepadanya, “Abdullah meninggal dunia dan kamu berbuat (berpakaian) seperti ini?”

“Apakah saya harus merasa susah?” jawabnya. “(Sementara) Allah telah menjanjikan kepada saya tiga hal yang semuanya sangat tinggi nilainya bagi saya. Allah berfirman: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ’Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.’ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna (shalawat) dan rahmat (rahmah) dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (muhtadun) (QS al-Baqarah [2]: 156-157).”

Kemudian ia melanjutkan, ”Sungguh saya akan mengganti (menebus) apa pun yang diambil dari saya di dunia ini untuk saya dapatkan balasannya di akhirat kelak, walaupun (yang hilang) itu hanya segelas air.” (Diambil dari Mukhtasar Minhajul Qashidin karya Ibn Qudamah al-Maqdisi)

Kalau ada milik kita yang hilang, janganlah mengeluh atau marah. Allah sudah menyiapkan gantinya untuk kita. Ucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un dan mintalah kepada Allah ganti yang lebih baik. Allah tidak akan melalaikan apa yang dijanjikan-Nya.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
21 Dzulqaidah 1432/ 19 Oktober 2011



Tuesday, October 18, 2011

Special Football


Life is not only about winning yourself. It’s also about winning others.

Pemain yang bertubuh kekar, pelindung tubuh yang banyak, permainan yang kasar dan agak berbahaya. Inilah yang akan terbayang di dalam pikiran kita saat membicarakan tentang American Football. Olah raga (Malaysia: sukan) ini memang unik. Salah satu tim akan saling melemparkan bola di antara pemainnya dan berusaha membawa bola itu ke tempat lawan. Sementara para pemain dari tim lawan akan berusaha menghalanginya. Dalam permainan ini mereka boleh mendorong, membanting lawan yang sedang membawa bola hingga jatuh, serta boleh menindih lawan yang sudah jatuh secara bersama-sama sehingga ia tidak boleh bergerak lagi.

Sebaiknya Anda memiliki badan yang cukup kuat serta lari yang cukup cepat jika ingin menyertai permainan ini. Lari yang cepat diperlukan untuk menghindari serangan lawan dan untuk bergerak ke garis sasaran. Tubuh yang kuat juga diperlukan … agar badan tidak remuk saat dijatuhkan dan ditindih oleh banyak pemain lawan.

Ketangguhan fisik dan kecepatan gerak tentunya menjadi syarat penting untuk menjadi seorang pemain American Football. Tapi tidak demikian halnya dengan Ike Ditzenberger. Ia merupakan seorang pemain football junior pada Snohomish High School … dan ia seorang penderita down syndrome.

Down syndrome merupakan penyakit genetik yang menyebabkan penderitanya mengalami problem fisik dan mental. Penderita penyakit ini dapat dilihat dari wajah mereka yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Tubuh mereka biasanya lebih pendek dari kebanyakan orang. Mereka juga lebih lambat dalam belajar, cenderung berperilaku impulsif (mengikuti kata hati tanpa mempertimbangkan akibatnya), dan tidak dapat fokus pada sesuatu untuk waktu yang lama.

Ike Ditzenberger juga seperti penderita down syndrome pada umumnya. Tapi saat menyaksikan abangnya bermain football, ia terkesan dan ingin menjadi pemain football seperti abangnya. Entah apa yang menjadi pertimbangan pelatih, ia kemudian diterima menjadi salah satu pemain pada tim Panthers, tim football pada Snohomish High School. Ditzenberger berlatih football dengan sungguh-sungguh dan sang pelatih mengajarinya sebuah teknik khusus.

Saya tidak tahu apakah Ditzenberger pernah diturunkan dalam pertandingan yang sebenarnya atau tidak, mengingat tingginya yang kurang dari dua pertiga rata-rata tinggi pemain football junior serta gerakannya yang jauh lebih lambat. Tapi pada suatu pertandingan di bulan September 2010, tim Panthers mengalami kekalahan telak saat menghadapi Vikings, tim dari sekolah lain yang merupakan musuh bebuyutan mereka. Pada akhir pertandingan, Vikings sudah menang dengan skor (score) 35-0 dan waktu yang tersisa hanya 10 detik saja.

Pada saat itu, pelatih Panthers, Mark Perry, membuat permintaan khusus kepada pelatih tim Vikings. Ia hendak menurunkan Ike Ditzenberger pada sisa permainan itu dan ia meminta agar tim Vikings membiarkannya membawa bola untuk beberapa saat lamanya. Ia juga meminta Vikings untuk tidak mendorong dan menjatuhkan Ditzenberger terlalu keras. Perry memang telah melatih Ditzenberger dan teman-teman timnya dengan satu gerakan yang ia namakan Ike Special. Bagaimanapun, Perry tidak berharap Ike Ditzenberger akan mencapai garis lawan dan melakukan touchdown. Pelatih Vikings menerima permintaan ini dan menginstruksikan hal itu kepada timnya.

Apa yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang sangat menyentuh emosi banyak orang. Ike Ditzenberger menerima bola, membawanya dengan gerakannya yang khas, berlari zigzag ke sebelah kiri lapangan kemudian kembali ke tengah dan terus menuju ke garis musuh. Kawan-kawan timnya melindunginya dari serangan lawan. Tim lawan berusaha mengejar dan menerjangnya. Lebih tepatnya, mereka berpura-pura mengejarnya. Ike terus berlari membawa bola dan ia akhirnya berhasil mencapai garis sasaran dan melakukan touchdown.

Semua orang bersorak. Semua yang melihat kejadian itu tersentuh dengan apa yang baru saja berlaku. Ike Ditzenberger dan kawan-kawannya menari dan merayakan keberhasilan itu. Apa yang seharusnya menjadi kemenangan satu tim, kini menjadi kemenangan kedua tim, bahkan kemenangan semua orang yang ikut menyaksikannya. Ketika mencapai skor 35-0, tim Vikings telah menang secara mutlak. Dan ketika mereka merelakan lawannya yang spesial, Ike Ditzenberger, membuat skor penutup, Vikings membuat permainan itu menjadi sesuatu yang sempurna. Kesempurnaan itu justru diraih dengan sikap melepaskan dan merelakan kemenangan itu untuk ikut dirasakan oleh orang lain. (Diceritakan kembali dari sumber berikut: http://cnews.canoe.ca/CNEWS/Good_News/2010/10/12/pf-15666626.html)

Meraih kemenangan dalam hidup ini memang penting. Tapi membantu orang-orang lainnya untuk turut merasakan kemenangan dan kesuksesan merupakan hal yang lebih penting dan lebih istimewa.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur
21 Dzulqaidah 1432/ 19 Oktober 2011

Monday, October 17, 2011

Lebih dari Tersenyum


Ada orang yang mampu menertawakan sebagian dari masalah yang dihadapinya. Sebagian masalah dan musibah sebetulnya mengandung seporsi hiburan dan kelucuan, walaupun tak semua orang dapat melihatnya

Pada pertengahan Ramadhan 1432 (Agustus 2011) lalu, saya berada di Pekanbaru, Riau, untuk mengisi kajian Ramadhan dan bedah buku Whatever Your Problem, Smile. Saya berada di sana atas undangan Ustadz Mustafa Umar dan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Zainab. Alhamdulillah seluruh program berjalan dengan lancar.

Pada hari terakhir, saya pun berangkat meninggalkan tempat menginap menuju airport untuk kembali ke Kuala Lumpur. Ketika itu saya diantar oleh panitia program, Idris, dan sopir (driver) RSIA Zainab yang biasa kami panggil Pak Dayat. Dalam perjalanan ke airport, sopir keturunan Arab Medan yang biasa bicara ceplas-ceplos ini protes pada saya.

“Tadi saya sempat mendengar kajian buku Ustadz …,” katanya.

“Oh ya?”

“Ya,” katanya setengah tertawa. “Dan saya tertawa dengan tema buku itu, Apapun Masalahmu, Tersenyumlah.”

“Mengapa begitu?” tanya saya heran.

“Saat mendengar pembahasan tadi, saya berkata dalam hati, ‘Ustadz ini enak saja menyuruh senyum orang yang sedang dapat masalah. Coba kalau Ustadz sendiri yang dapat masalah, apakah masih bisa tersenyum?’” ujarnya sambil tertawa.

Saya tersenyum mendengar kritiknya yang to the point itu. “Memang jauh lebih mudah bicara daripada mengamalkannya,” jawab saya, “tapi itu bukan berarti hal itu tidak bisa diamalkan.”

“Saat mendengarkan kajian tadi saya menggeleng-gelengkan kepala,” lanjut Pak Dayat, “Enak betul Ustadz ini bicara. Coba kalau Ustadz yang berada di posisi saya. Saya ini baru saja dapat musibah yang cukup besar ....”

“Baru mendapat musibah?” saya mulai memahami mengapa ia protes pada saya.


“Ya, selama beberapa hari ini saya tertahan di luar kota karena harus mengurus adik saya yang terlibat kecelakaan (accident),” ujarnya. “Akhirnya kami harus membayar ganti rugi sebesar 30 juta rupiah (sekitar RM 10,500).” Ia kemudian menceritakan kisahnya secara detail.

Saya mengangguk-angguk penuh simpati saat ia menuturkan kisahnya. Pantaslah ia tidak kelihatan di RSIA Zainab selama beberapa hari ini? Rupanya ia sedang mengalami musibah di luar kota dan terpaksa menyelesaikannya sebelum dapat kembali lagi ke Pekanbaru, gumam saya dalam hati.

“Itulah sebabnya saya tertawa saat mendengarkan kajian tadi,” Pak Dayat menutup kisahnya sambil tertawa.

“Sebetulnya Pak Dayat ini seorang yang hebat,” kata saya setelah ia menyelesaikan ceritanya.

“Mengapa begitu?” ia bertanya.

“Karena di dalam buku itu saya hanya mengajak orang untuk tersenyum saat mendapat masalah. Tapi Pak Dayat justru tertawa saat mendapat musibah. Itu jauh lebih hebat dari tersenyum,” ujar saya.

Mendengar itu, Pak Dayat tertawa lebih keras lagi. Ia kini tertawa terkekeh-kekeh sambil mengangguk-angguk. ”Antum ini bisa saja memberi jawaban,” katanya pada akhirnya.

Saya hanya tersenyum sambil mendoakan mudah-mudahan ia dan adiknya dapat mengatasi masalah yang dihadapinya dengan sabar dan mendapat ganti yang lebih baik nantinya. Jumlah uang yang harus ia keluarkan sangat besar untuk seorang dengan pekerjaan seperti beliau. Sungguh bukan hal yang mudah untuk tersenyum, apalagi tertawa, setelah menghadapi musibah dan kehilangan uang sebesar itu.

Tidak banyak orang yang bisa menertawakan musibah yang dialaminya? Apakah di antara pembaca ada yang pernah melakukannya? Tidak masalah kalau kita tidak melakukannya. Tersenyum di saat mendapatkan musibah pun sudah merupakan kemampuan yang hebat. Atau kalaupun tidak tersenyum, setidaknya kita tidak mengeluh dan tidak memprotes ketetapan-Nya.

*Gambar oleh Mike Sidharta (http://kfk.kompas.com/kfk/view/64857)

Alwi Alatas
Jakarta,
13 Shawal 1432/ 11 September 2011

Sunday, October 16, 2011

Kita ikut dia ...


Masih cerita dari Padang Sidempuan. Suatu hari saya melakukan perjalanan dengan mengendarai mobil (Malaysia: kereta) bersama beberapa orang teman. Yang membawa kendaraan ketika itu adalah akh Yunus, seorang pengusaha yang masih sangat muda usianya.

Ketika mobil yang kami kendarai melewati suatu jalan, salah seorang yang ada di kendaraan bertanya, ”Kita akan lewat jalan mana?”

“Kita akan ikut mobil yang depan itu,” jawab Yunus sambil tersenyum. Ia menunjuk sebuah mobil di depannya yang berwarna hitam.

Loh, memangnya itu mobil siapa? Saya yang duduk di sebelah Yunus sama sekali tidak mengerti. Dari tadi mobil itu sama sekali tidak bersama dengan mobil kami dan kami tidak mengenalnya.

”Tapi kalau dia berhenti, kita terus,” lanjut Yunus sambil tertawa ringan. Ia berbicara dengan logat Medannya yang khas. ”Kalau dia lurus, kita belok.”

Dan tak berapa lama kemudian, saat mobil yang di depan itu berjalan lurus, Yunus memang membelokkan kendaraan ke sebuah jalan di sebelah kiri.

Kami tersenyum disebabkan perkataan Yunus itu. Ah, rupanya ia hanya bercanda. Mobil yang tadi itu memang mobil orang lain yang tidak kami kenal. Kami sama sekali tidak sedang mengikutinya.

Tapi kemudian saya berpikir, jangan-jangan apa yang dikatakan Yunus itu berlaku juga dalam kehidupan kita. Kalau hanya senda gurau seperti di atas, mungkin tidak ada masalah. Tapi kalau ia berlaku dalam hal yang prinsip dan sangat serius, bagaimana?

Boleh jadi kita ditanya, ”Siapa yang kamu ikuti?”

Dan jawabannya adalah, ”Nabi Muhammad! Tapi kalau beliau pergi ke sana, saya tidak akan ikut. Kalau beliau mengajak kepada ini dan itu, saya akan memilih yang lain.”

Atau mungkin kita ditanya, ”Apa agama yang kamu ikuti?”

Dan kita menjawab dengan cepat, ”Islam! Tapi kalau ia bergerak lurus, saya akan belok ke jalan yang lain.”

Kata-kata yang awal dan diberi tanda seru merupakan jawaban kita saat ditanya, dan kalimat yang berikutnya mungkin tidak kita katakan secara terus terang, tetapi kita lakukan dalam tindakan kita sehari-hari.

Kalau demikian, lalu apalah makna dari mengikuti (ittiba’) jika tidak diikuti dengan ketaatan serta perilaku yang sesuai sebagai pengikut? Apa artinya kita mengikuti sesuatu yang kita anggap sangat penting dalam hidup ini jika kemudian kita tidak benar-benar mengikutinya? Mudah-mudahan kita terhindar dari hal semacam ini.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur
17 Dzulqaidah 1432/ 15 Oktober 2011

Friday, October 14, 2011

Klakson (Horn)


Saat mengendarai mobil (Malaysia: kereta) atau motor di jalan raya, terkadang kita mendengar orang di kendaraan lain membunyikan klakson (horn) ke arah kita. Apa yang kita rasakan saat mendengar suara klakson (horn) seperti itu? Merasa gembira dan tersanjung karena mendapat perhatian orang lain? Atau kita akan merasa kesal dan marah karenanya? Agaknya yang terakhir inilah yang lebih sering dirasakan, terlebih jika kita hidup di kota-kota besar. Sebabnya sederhana saja. Klakson-klakson itu biasanya dibunyikan untuk tujuan menegur atau komplain (complaint).

Ambillah contoh di dua buah kota, Kuala Lumpur dan Jakarta. Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa membunyikan klakson di jalan-jalan Kuala Lumpur merupakan hal yang agak sensitif. Orang jarang menekan klakson, dan jika mereka membunyikannya kemungkinan besar mereka merasa kesal karena tidak suka dengan cara kita mengendarai kendaraan.

Di Jakarta orang lebih murah hati dalam menekan klakson. Di jalan-jalan raya, setiap berapa menit akan terdengar suara klakson dari mobil ataupun motor. Orang-orang begitu bersemangat dan menggebu-gebu dalam membunyikan klakson kendaraan mereka. Maklum, banyak jalan di kota ini sangat macet sehingga para pengendara menjadi sangat tidak sabaran.

Walaupun bunyinya hampir sama, tapi suara klakson itu dapat mewakili beberapa maksud. ”Cepat jalan, lampu sudah hijau!” ”Kalau jalan yang betul, punya mata nggak sih!” ”Kalau belok pakai lampu sen dong, dasar nggak punya otak!” Yah, kurang lebih begitulah bunyi lengkapnya kalau klakson itu bisa bersuara seperti manusia. Jadi wajar kalau orang lain akhirnya juga membalas bunyi-bunyi klakson itu dengan perasaan kesal dan marah.

Tapi saya punya pengalaman lain yang menarik saat saya pergi ke Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Tentu saja Padang Sidempuan bukan kota besar seperti Jakarta atau Kuala Lumpur. Lalu lintas (traffic) di kota itu sangat tidak beraturan. Lampu lalu lintas (traffic light) jarang ditaati oleh para pengendara. Saat lampu berwarna hijau, mereka jalan terus. Dan ketika lampu berwarna merah, mereka juga jalan terus.

”Jadi apa artinya dibuatkan lampu lalu lintas, kalau tidak ditaati?” saya bertanya pada kawan yang membawa kendaraan.

”Tidak ada artinya,” kata kawan saya dengan logat Batak yang cukup kental. ”Lampu dan peraturan lalu lintas ada untuk dilanggar.” Ia menjelaskan sambil tertawa ringan.

”Orang-orang kadang berhenti juga pada saat lampu merah kalau mereka mau atau kalau ada polisi di dekat situ,” Kata kawan yang lain. ”Karena orang-orang biasa melanggar peraturan lalu lintas, mereka yang ingin mentaati peraturan merasa kesulitan sehingga akhirnya terpengaruh oleh orang banyak dan terpaksa ikut melanggar juga.”

Bukan hanya melanggar lampu lalu lintas, kebanyakan pengendara motor di daerah itu juga tidak mengenakan helm (helmet). Kaca-kaca spion (wing mirror atau side mirror) juga dilepaskan dari motor-motor yang ada. Motor-motor yang digunakan kaum perempuan biasanya hanya menggunakan satu kaca spion, sementara yang laki-laki melepaskan kedua-dua kaca spion. Laki-laki yang menggunakan motor dengan kaca spion dianggap banci (Malaysia: pondan).

Terlepas dari hal itu, orang-orang di sana punya kebiasaan menarik terkait dengan klakson (horn). Saat saya diajak melakukan perjalanan bersama kawan-kawan di sana, mereka sering sekali membunyikan klakson. Saat melewati jalan yang agak sepi dan saat berpapasan dengan kendaraan lain, atau bahkan saat berpapasan dengan orang yang sedang berjalan atau duduk di tepi jalan, teman saya sering membunyikan klakson. Hal ini membuat saya merasa heran. Apakah orang-orang yang mendengarnya tidak merasa terganggu dan kesal.

”Mengapa sering membunyikan klakson seperti itu?” saya bertanya.

”Oh, itu kebiasaan kami di sini,” jawab kawan saya. ”Itu cara kami bertegur sapa dengan orang-orang.”

Wow, saya terkesan mendengarnya. Dan memang selama beberapa hari saya mengikuti perjalanan, saya hampir tidak mendapati mereka menekan klakson dengan nada marah. Sebagian besar bunyi klakson itu ditujukan untuk bertegur sapa. Jadi kalau klakson itu bisa bersuara seperti manusia, bunyinya kurang lebih seperti ini: ”Hai.” ”Halo” ”Assalamu’alaikum.” ”Bagaimana kabarnya?” ”Senang berjumpa dengan Anda.” ”Nanti kita jumpa lagi ya.” Dan orang-orang akan membalasnya dengan bunyi klakson yang juga ramah. Mungkin hal semacam ini tidak hanya berlaku di Padang Sidempuan, tetapi juga di beberapa daerah lain di luar kota-kota besar.

Ah, indah sekali jika orang-orang membunyikan klakson kendaraan mereka dengan tujuan yang baik dan ramah seperti ini. Cara pandang saya terhadap bunyi klakson berubah selama saya berada di Padang Sidempuan ...., setidaknya sampai saya berangkat lagi ke Kuala Lumpur dan Jakarta.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
17 Dzulqaidah 1432/ 15 Oktober 2011

Thursday, October 13, 2011

Setelah Musibah


Tidak selamanya hal yang tidak kita sukai berakhir dengan hal yang buruk. Musibah yang kita alami suatu saat pasti akan berlalu. Setelah hujan badai yang keras dan menakutkan, pelangi akan muncul dengan indahnya di ufuk cakrawala. Dan apa yang sering kita sebut dengan nasib sial sebenarnya tidak ada. Ia hanyalah keberuntungan yang belum kita sadari.

Kisah bulan madu Erika dan Stefan Svanstorm merupakan contoh yang menarik terkait dengan hal ini. Keduanya merupakan pasangan Swedia yang menikah pada akhir tahun 2010. Mereka kemudian melakukan perjalanan bulan madu ke beberapa negara. Bulan madu itu tentunya diharapkan akan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan bagi keduanya. Ternyata, perjalanan itu memang menjadi pengalaman yang tak mungkin mereka lupakan di sepanjang hidup mereka. Mereka mengalami bencana beruntun di sepanjang perjalanan tersebut!

Kota pertama yang mereka kunjungi adalah Munich, Jerman. Namun mengunjungi Munich pada akhir tahun itu rupanya merupakan pilihan yang buruk. Kota itu dan sebagian besar wilayah Eropa lainnya sedang mengalami badai salju yang sangat hebat. Dinginnya suhu dan buruknya cuaca membekukan kehangatan bulan madu mereka.

Pasangan ini kemudian memutuskan untuk pergi ke Cairns, Australia, dan mengharapkan suhu Australia yang berlawanan dengan Eropa akan dapat menghangatkan dan membarakan kembali cinta mereka. Tapi saat berada di sana, kota itu sedang mengalami badai siklon. Bukannya menikmati bulan madu, mereka terpaksa ikut berlindung dari badai bersama penduduk setempat.

Mereka lalu meninggalkan kota itu menuju Brisbane, masih di Australia. Tapi kota itu sedang mengalami banjir besar. Mimpi indah mereka pun hanyut bersama banjir yang merendam kota itu. Pasangan ini pun pindah ke kota Australia lainnya, yaitu Perth. ’Kehangatan’ kota ini nyaris dapat menyalakan kembali bara asmara mereka. Tapi suhu di kota itu rupanya terlalu tinggi. Pada saat itu Perth sedang mengalami kebakaran semak (bushfire) yang hebat. Sehingga bukannya cinta yang akan membara, tetapi para pecinta yang boleh jadi akan hangus terbakar di dalamnya. Pasangan ini hampir saja terkena bencana. “(Kami) nyaris saja jadi korban. Pohon-pohon tumbang dan cabang-cabang besar berserakan di jalan,” kata Stefan.

Merasa putus asa dengan Australia, pada akhir Februari 2011 mereka pergi ke Selandia Baru (New Zealand). Apakah tempat yang baru ini akhirnya dapat menggetarkan gelora asmara pasangan yang baru menikah itu? Getaran yang diberikan negeri itu memang dahsyat. Terlalu hebat malah. Beberapa saat setelah mereka tiba, negeri itu mengalami gempa 6,3 skala Richter. Selandia Baru mengumumkan kejadian itu sebagai bencana nasional. Mereka lalu pergi menuju Tokyo. Bukannya berkurang musibah yang dialami, mereka justru mendapati getaran yang lebih kuat lagi di negeri Sakura. Saat berada di sana, Jepang mengalami gempa yang sangat besar, hingga mencapai 8,9 skala Richter. Gempa itu diikuti dengan tsunami yang hebat serta krisis nuklir. Ini jelas bukan tempat yang ideal untuk melakukan perjalanan bulan madu.

Setelah semua bencana itu, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke Bali. Tapi Bali pun ternyata tidak mampu membuat cerah bulan madu mereka. Kehangatan yang mereka cari tak juga mereka dapatkan di pulau dewata. Selama berada di Bali, hujan turun terus menerus. Dengan demikian dapat dikatakan seluruh perjalanan bulan madu yang seharusnya indah dan romantis menjadi hancur berantakan.

Apa yang salah dengan pasangan ini? Mengapa mereka mengalami gempa dan musibah yang terus menerus di sepanjang perjalanan mereka? Kita tidak mengetahui sebabnya. Tapi terlepas dari itu, nama belakang mempelai laki-laki, Svanstorm, menarik untuk diperhatikan. Dalam bahasa yang digunakan di Swedia (bahasa Swensk), kata ini bisa diartikan sebagai ’badai angsa’. Dan jika dikaitkan dengan bahasa Norwegia (Norsk) yang juga digunakan oleh sebagian masyarakat Swedia, kata ini memiliki makna ’badai kehamilan’. Jadi kalau mereka berkali-kali berjumpa dengan badai saat sedang bulan madu, hal itu cukup terwakili oleh nama belakang pasangan muda itu.

Bagaimanapun, kisahnya tidak berhenti sampai di situ. Setelah berbagai bencana dan kesulitan yang dilewati, mereka akhirnya merasakan keberuntungan. Dari Bali mereka menuju ke Cina, dan di tempat yang terakhir ini mereka menemukan suasana yang hangat dan sesuai bagi bulan madu mereka. Selain itu, kisah mereka yang unik rupanya diketahui oleh beberapa media masa. Mereka pun ditawari oleh beberapa media untuk diwawancarai terkait dengan kejadian yang mereka alami. Mereka juga diundang ke New York untuk diwawancarai pada program Good Morning America. Bukan itu saja, sebuah agensi pelancongan dari Swedia menawarkan tiket perjalanan gratis bagi pasangan ini untuk berlibur ke Aruba, Spanyol. Apakah mereka jadi ke Spanyol, dan apakah mereka terhindar dari badai dan gempa di negeri itu? Wallahu a’lam.

Dari kisah ini setidaknya ada dua pelajaran yang bisa kita ambil. Jika kita mengalami musibah yang berat atau musibah yang beruntun, jangan menganggap itu sebagai kesialan atau nasib yang sangat buruk. Sabarkan diri kita. Insya Allah pada akhirnya kita akan mendapatkan kemudahan dan keberuntungan. Dan pelajaran kedua, ... pilihlah nama yang bagus untuk anak-anak kita.

(Diceritakan kembali dari: http://www.inilah.com/read/detail/1397052/apes-bulan-madu-selalu-kena-bencana)

Second/ last picture by Adrianusardya (http://adrianusardya.deviantart.com/art/pagi-yang-cerah-125086644)

Alwi Alatas
Kuala Lumpur
16 Dzulqaidah 1432/ 14 Oktober 2011

Wednesday, October 12, 2011

Mengapa Tertawa?


Berbicara tentang menangis, saya jadi teringat anak-anak yang kadang menangis karena memprotes sesuatu, mungkin karena keinginannya tidak dipenuhi atau karena sebab yang lain. Ternyata ada cara yang sangat efektif untuk membuat seorang anak berhenti menangis.

Pada suatu hari keponakan saya yang masih berusia sekitar lima tahun, Hasan, menangis keras-keras karena suatu hal. Ketika ia sedang menangis dan berteriak-teriak marah, abang saya yang paling tua berkata kepadanya, ”Hasan lagi tertawa ya? Seru banget ketawanya.”

Tangisannya tiba-tiba berkurang. “Siapa yang tertawa?” katanya dengan nada kesal. ”Orang lagi nangis kok.”

”Ah, kedengarannya seperti lagi tertawa,” kata abang saya lagi sambil nyengir.

”Nggak!” Hasan pergi dengan nada kesal. Tapi konsentrasinya dalam menangis buyar sudah. Strategi ini jitu juga untuk membuatnya berhenti menangis.

Pada kesempatan yang lain, ketika Hasan sedang menangis dan marah-marah, abang saya kembali menggodanya. ”Hasan, coba lihat ini,” katanya sambil menghadapkan sebuah cermin di depan wajah Hasan yang sedang kusut karena menangis. ”Coba lihat, ganteng banget kan?”

Sambil menangis ia melihat wajahnya sendiri yang aneh di dalam cermin itu dan mulai tertawa. Tapi ia berusaha menahan tawanya dan tetap konsisten dengan tangisannya. Yang terjadi malah jadi aneh, sesekali menangis sesenggukan dan kemudian tertawa. Konsetrasinya kembali terpecah dan akhirnya ia terpaksa berhenti menangis.

Ternyata jika kita cukup kreatif, ada banyak cara yang sehat untuk menghentikan seorang anak menangis, daripada membentak dan memarahi anak itu.

Peringatan: Jangan praktekkan isi tulisan ini di rumah pada orang dewasa yang sedang sangat sedih atau sedang serius menangis. Baca artikel ini dengan ditemani anak atau adik Anda yang masih kecil!

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
15 Dzulqaidah 1432/ 13 Oktober 2011

Tuesday, October 11, 2011

Tangisan dan Kedewasaan


Tangisan itu bermacam-macam. Ada tangisan sedih dan marah karena apa yang dialami. Ada juga tangisan karena kekuatan cinta dan kelembutan hati.

“Huuu … huuuu …,” suara tangisan itu terdengar menyayat hati.

Ah, saya tak pandai mengekspresikan tangisan dalam tulisan. Sebenarnya, saya hanya hendak menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu, saat hendak tidur, di tengah malam yang sunyi, tiba-tiba terdengar suara tangisan di belakang rumah.

Ish …, ini bukan cerita hantu, jangan pikir macam-macam. Yang menangis ini memang manusia. Suaranya tak berapa jauh, hanya beberapa rumah saja dari tempat kami. Rasanya itu bukan suara tangisan anak kecil, tetapi tangisan seorang perempuan dewasa. Ia menangis sesenggukan dengan suara yang cukup kuat dan dalam waktu yang cukup lama. Makin lama suara tangisannya semakin keras. Ia menangis seperti menangisnya seorang anak kecil yang baru kena hukuman dari ibunya, atau baru berkelahi (bergaduh) dengan temannya.

Ketika itu saya baru saja masuk kamar dan bersiap untuk tidur. Suara tangisan itu memecah rasa kantuk saya untuk beberapa saat lamanya. Entah kapan terakhir kali saya mendengar seorang dewasa menangis cukup keras seperti itu. Sedih juga rasanya mengetahui ada orang lain yang sedang bersedih tanpa tahu apa yang dapat dilakukan untuk membantunya.

Suara tangisan itu akhirnya berkurang dan menghilang ... atau mungkin saja tangisan itu tenggelam bersama hilangnya kesadaran saya yang kemudian terlelap dalam tidur. Yang jelas, saya tidak mendengarnya lagi setelah malam itu.

Apakah Anda pernah menghadapi masalah serius dan kemudian menangis sesenggukan seperti seorang anak kecil? Mudah-mudahan tidak. Tentu kurang pantas bagi seorang dewasa menangis seperti itu, walaupun ia sedang menghadapi musibah yang sangat berat dalam hidupnya.

Saya jadi teringat kisah Nelson Mandela saat ia akan menjalani sebuah ritual penting di usia enam belas tahun. Itu merupakan ritual pengangkatan anak-anak seusianya menjadi pria dewasa. Pada puncaknya, Mandela dan rekan-rekannya menjalani upacara penyunatan. Mereka disunat dengan sebuah pisau yang sangat tajam, tanpa anastesi (anaesthetize) sama sekali. Dapatkah Anda membayangkannya, disunat tanpa dibius. Seperti apa rasanya? Tentu sangat menyakitkan.

Tapi justru di sanalah inti dari ritual tersebut. Sebelum menjalani prosesi yang menyakitkan itu, Mandela mendapat sebuah nasihat yang sangat bermakna dan juga heroik: anak-anak merespons rasa sakit dengan menangis, orang dewasa tidak! Mandela dan kawan-kawannya sama sekali tidak menangis saat kulit kemaluannya dipotong dan rasa sakitnya seketika menyerang syaraf-syaraf otak mereka. Mereka menahan rasa sakit dan menolak untuk menangis, karena mereka kini sudah menjadi manusia yang dewasa.

Hidup ini seringkali menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan daripada disunat tanpa anastesi. Tapi setiap kali merasakan sakitnya kehidupan, tahanlah tangisan atau setidaknya menangislah yang wajar dan tidak berlebihan. Terimalah apa yang sudah terjadi. Ingatlah nasihat di atas: anak-anak merespons rasa sakit dengan menangis, orang dewasa tidak!

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
8 Dzulqaidah 1432/ 6 Oktober 2011

Monday, October 10, 2011

Kuruskan Setanmu

Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya itu memerlukan kesabaran. Kita kadang merasa malas dalam menjalankan kewajiban. Untuk itu kita perlu sabar dan menguatkan diri dalam mengerjakannya. Kita juga sering merasa lemah dalam menghadapi hawa nafsu, merasa tidak berdaya untuk menghindari apa yang diharamkan. Karena itu kita perlu bersabar dalam menghadapi dorongan nafsu. Kita cenderung lupa menyebut nama-Nya dalam setiap aktivitas kita. Untuk itu juga diperlukan kesabaran.

Walaupun bersabar itu kadang terasa berat, tapi buahnya manis. Saat seseorang bersabar dalam melakukan kebiasan yang baik dan Islami, maka ia akan berjaya melemahkan musuh yang selalu berusaha menggoda dan mengganggunya, yaitu setan. Jika ia berhasil mengalahkan setan, tentu setan akan menjadi tak berdaya dan kalah, sementara manusia yang beriman itu akan tersenyum bahagia. Kalau tidak percaya, coba perhatikan kisah singkat berikut ini.

Ibnu Abu Dunya berkata dari sebagian generasi Salaf: Sesungguhnya setan bertemu dengan setan yang lain lalu berkata, ”Kenapa engkau kulihat kurus kering seperti ini?”

Setan yang ditanya menjawab, ”Sesungguhnya aku bersama dengan orang yang jika makan, ia menyebut nama Allah, akibatnya aku tidak bisa makan dengannya. Jika ia minum, ia menyebut nama Allah, akibatnya aku tidak bisa minum dengannya. Jika ia masuk rumahnya, ia menyebut nama Allah, akibatnya aku tidur di luar rumahnya.”

Setan yang satunya lagi berkata, ”Sedang aku bersama dengan orang yang jika makan, ia tidak menyebut nama Allah, maka aku bisa makan bersamanya. Jika ia minum, ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku bisa minum dengannya. Jika ia masuk rumahnya, ia tidak menyebut nama Allah, akibatnya aku bisa masuk ke dalam rumah bersamanya. Dan jika ia menggauli istrinya, ia tidak menyebut nama Allah hingga aku bisa menggauli istrinya bersamanya.”

Ibn Qayyim al-Jauziyah mengakhiri kisah ini dengan kalimat berikut: Barangsiapa membiasakan sabar, maka ia disegani lawannya. Barangsiapa mengalami kesulitan untuk bersabar, maka ia diincar lawannya dan nyaris setan berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan pada orang tersebut. (Diambil dari Ibn Qayyim al-Jauziyah, Sabar: Perisai Seorang Mukmin, Jakarta, Pustaka Azzam, 1420 H, hlm. 37)

Apakah selama ini kita sudah cukup sabar dalam melazimkan kebaikan sehingga membuat setan menjadi kurus dan lemah? Semoga saja.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
12 Dzulqaidah 1432/ 10 Oktober 2011

Wednesday, October 5, 2011

Jalan ke Pekanbaru


By: Alwi

Betapa banyak hal yang kita rencanakan dengan matang tak berjalan sama sekali. Dan berapa banyak hal yang tidak kita rencanakan justru berjalan dengan begitu bagusnya.


Sudah dua tahun ini, setiap bulan Ramadhan, saya diundang ke Pekanbaru, Riau, oleh Ustadz Mustafa Umar dan Rumah Sakit Zainab. Selama berada di Pekanbaru, saya diminta mengisi beberapa program, termasuk bedah buku (booktalk) Ketika Allah Menguji Kita (Bila Allah Menduga Kita) dan Whatever Your Problem, Smile (Senyumlah, Apa pun masalahmu Ia pasti akan berlalu).

Selama berada di sana, orang-orang sering bertanya, “Bagaimana Ustadz mengenal Ustadz Mustafa Umar? Apakah Ustadz sama-sama belajar di Malaysia dan berjumpa di sana?”

Saya selalu tersenyum mendengar pertanyaan itu. Manusia tidak pernah menyangka betapa hebatnya takdir mempertemukan manusia, gumam saya dalam hati.

Dr. Mustafa Umar merupakan seorang dai yang dikenal luas di Pekanbaru dan sekitarnya. Di Malaysia beliau juga memiliki banyak jamaah pengajian. Walaupun sama-sama belajar di Malaysia, kami tidak pernah bertemu. Ustadz Mustafa Umar lebih senior dari saya dalam usianya dan dalam studinya di Malaysia. Yang mempertemukan kami hanyalah sebuah ‘kebetulan’.

Pada suatu malam, beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan tahun 2010, seorang mahasiswa Indonesia di Universiti Islam Antarabangsa (UIA) Malaysia menelpon saya. “Ustadz, besok kami mengadakan program yang akan diisi oleh Ustadz Mustafa Umar. Apakah Ustadz dapat mengirimkan beberapa buku Ustadz untuk dijual pada program tersebut?”

“Programnya besok? Mengapa baru sekarang saya diberi tahu?”

”Minta maaf, Ustadz. Sebelumnya tidak ada rencana untuk berjualan buku. Keputusan ini baru saja dibuat. Kalau Ustadz sempat membawakan buku ke UIA kami akan menjualkan buku-buku itu. Tapi kalau tak sempat tak apalah. Kami minta maaf karena tak merencanakan ini lebih awal.”

“Saya belum dapat memastikannya. Kalau sempat, saya akan membawanya besok.”

Kami pun mengakhiri pembicaraan.

Ketika itu saya belum mengenal Ustadz Mustafa Umar, beliau pun demikian juga. Kami sama sekali belum pernah bertemu dan mengenal satu sama lain. Saya sendiri tidak dapat hadir ke acara tersebut karena ada hal lain yang harus dilakukan. Karena saya tak dapat pergi ke UIA dan teman-teman di sana juga tak dapat datang ke tempat saya yang cukup jauh dari kampus untuk mengambil buku, maka buku-buku itu kemungkinan besar tidak akan dijual pada acara tersebut.

Tapi dengan izin Allah, pada pagi harinya istri saya menawarkan diri untuk mengantarkan buku-buku itu ke UIA. Maka jadilah buku itu dibawa dan dijual oleh panitia (organizer) pada program ceramah Ustadz Mustafa Umar.

Pada petang harinya, saya mendapat kabar dari panitia (organizer), enam buah buku saya terjual pada program tersebut. Buku-buku yang terjual adalah sebuah novel dan lima buah buku Ketika Allah Menguji Kita (Bila Allah Menduga Kita). Lima buku yang terakhir ini seluruhnya dibeli oleh Ustadz Mustafa Umar. Seolah-olah, buku-buku itu berada di tempat itu hanya untuk berjumpa dengan Ustadz Mustafa Umar, dan bukan untuk hal yang lainnya.

Teman-teman di UIA mengatakan bahwa Ustadz Mustafa Umar tertarik saat melihat buku itu dan meminta nomor telepon saya. Beberapa waktu kemudian beliau memang menghubungi saya. Beliau menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan beliau akan mengadakan program bedah buku (booktalk) di Pekanbaru. Setiap harinya ada satu buah buku yang dibedah. Total ada sekitar dua puluh buku yang akan dibedah. Beliau menanyakan kesediaan saya sekiranya diundang ke Pekanbaru dan membedah buku tersebut secara langsung. Saya menyetujui undangan beliau itu. Maka berangkatlah saya pada Ramadhan tahun itu (2010) ke Pekanbaru ... dan juga pada Ramadhan tahun berikutnya (2011). Tersambunglah tali persaudaraan dan silaturahim dengan teman-teman di Pekanbaru.

Setiap mengingat hal itu, saya selalu terkesan dengan cara takdir mempertemukan manusia. Ketika orang-orang tidak memikirkan dan merencanakan sesuatu, tiba-tiba semuanya bergerak sendiri untuk mewujudkannya, walaupun hanya tersisa satu malam untuk itu. Dan semua berlaku sesuai dengan kehendak-Nya. Wallahu a’lam bis showab.

Jakarta,
8 Dzulqaidah 1432/ 6 Oktober 2011

Monday, September 26, 2011

Pandangan dan Jiwa Pemandang

Seorang yang berpikiran kotor melihat kilasan-kilasan lucah pada benda-benda mati dan orang-orang yang lalu lalang

Seorang ilmuwan melihat hukum alam dan percikan pengetahuan pada benda-benda di sekitarnya

Seorang ahli hikmah melihat pelajaran-pelajaran yang indah pada kejadian-kejadian yang diamatinya

Seorang pecinta Tuhan melihat Allah pada berbagai benda yang tertumbuk oleh pandangannya

Masing-masing melihat benda-benda yang sama dengan mata fisik yang sama, tapi yang didapati ternyata berbeda

Semuanya kembali kepada keadaan dan perbendaharaan jiwa manusia yang memandang

Jakarta,
24 Shawal 1432/ 22 September 2011

Friday, September 23, 2011

Di Antara Taman-taman Surga


Alwi Alatas

Sebelum memasuki taman-taman Surga di akhirat kelak, masukilah taman-taman surga-Nya di dunia ini.


Seorang kenalan bercerita tentang salah satu dosennya (lecture) yang non-Muslim. Suatu hari dosennya itu menyindir mahasiswanya yang beragama Islam, “Kasihan orang-orang Islam. Mengapa mereka harus bangun di malam buta untuk shalat tahajjud (qiyamul lail), sementara pada saat itu manusia sedang lelap menikmati tidurnya.”

Ah, sayang sekali, orang ini tidak memahami apa yang diucapkannya.

Bangun malam dan shalat tahajjud memang berat bagi orang yang tidak terbiasa dan tidak memiliki kemauan untuk melakukannya. Tapi bagi mereka yang biasa melakukannya, ia merupakan suatu hal yang indah dan berkesan.

Bagi yang tidak begitu terbiasa melakukannya, setidaknya mereka dapat merasakannya pada waktu-waktu tertentu, seperti di bulan Ramadhan. Mereka berkumpul di masjid-masjid untuk shalat dan membaca al-Qur’an. Lalu di sepuluh hari terakhir mereka melakukan i’tikaf, menetap di masjid, memperbanyak ibadah sambil mengharapkan perjumpaan dengan malam lailatul qadar.

Manusia berhimpun di masjid, beribadah sepanjang malam, atau tidur sebentar dan kemudian melanjutkan kembali ibadah mereka. Suara bacaan al-Qur’an terdengar dari lisan-lisan mereka seperti dengung lebah. Setelah berbuka puasa dan shalat maghrib, mereka akan membuka lembaran-lembaran mushaf dan membacanya dengan khusyu’ sambil menunggu datangnya waktu isya. Setelah itu, orang-orang berdiri dan mendirikan shalat isya dan dilanjutkan dengan shalat tarawih.

Selesai tarawih, mungkin ada tausiyah dan tazkiyah yang dapat melembutkan hati dan meningkatkan semangat beribadah di waktu-waktu yang mulia itu. Kemudian mereka kembali melakukan zikir dan bacaan al-Qur’an, atau berdiri untuk shalat. Ada yang mencari tempat-tempat yang tak banyak dilalui orang, kemudian shalat di tempat itu untuk waktu yang lama. Beberapa yang lain beristirahat selama beberapa atau berbincang dengan beberapa kawannya yang ada di tempat itu. Yang lainnya lagi menghafalkan al-Qur’an atau memurajaah hafalannya.

Kemudian di akhir malam, mereka bergegas berdiri di belakang imam untuk melakukan qiyamul lail. Bacaan imam yang panjang dan menyentuh qalbu membuat jamaah terisak dan menangis. Ketika imam membaca ayat-ayat tentang surga, mereka memohon kepada-Nya untuk mendapatkan Surga. Jika dibacakan ayat-ayat ancaman, hati mereka bergetar dan merasa takut kepada-Nya. Saat imam membaca doa qunut yang indah, banyak yang menangis karena teringat akan dosa-dosanya serta berharap ampunan dari-Nya.

Untuk mereka yang melakukan i’tikaf di masjid yang dipenuhi manusia dari berbagai negara, seperti yang berlaku di masjid Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) ataupun yang lainnya, akan didapati keindahan tambahan. Mereka melangkah di tengah masjid dan melihat manusia dengan berbagai suku bangsa dan beragam warna kulit sibuk dengan ibadah mereka. Saat mereka duduk membaca al-Qur’an, sesekali mereka mengangkat kepalanya dan mendapati seorang Afrika yang berkulit hitam legam atau seorang Eropa yang kulitnya seputih susu menatap sekilas sambil tersenyum ramah.

Mereka berbaris untuk shalat berjamaah dan mendapati seorang Palestina di sebelah kirinya, seorang Nigeria di sebelah kanannya, beberapa orang Melayu di depannya, dan orang-orang bermata sipit yang kemungkinan berasal dari Cina atau Asia Tengah berada di belakangnya. Semuanya tenggelam di dalam bacaan imam yang indah, seolah mereka sedang shalat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Semuanya begitu indah sehingga pada waktu subuh, seorang yang sedang duduk merenungi kenikmatan ibadahnya di sepanjang malam itu mungkin merasakan angin yang lembut menerpa wajah dan tubuhnya. Angin itu sesekali meniup tubuhnya, kemudian menghilang, lalu muncul lagi, dan itu terjadi beberapa kali. Angin itu begitu lembut dan menenangkan jiwa dan perasaan.

Apakah ini merupakan tanda-tanda lailatul qadar seperti yang sering diceritakan orang-orang? Ia memandang ke sebelah kanan, ke sisi masjid yang tak berdinding. Angin itu terasa sangat nikmat. Apakah ini malam lailatul qadar?

Lalu ia mengangkat kepalanya ke atas dan mendapati sebuah kipas angin tak jauh di hadapannya bergerak ke kanan dan ke kiri. Saat kipas itu mengarah kepadanya, ia merasakan hembusan angin seperti yang tadi ia rasakan.

Ah, ternyata hanya hembusan kipas, ia tersenyum sendiri.

Tapi biarlah. Semoga orang-orang yang i’tikaf dan beribadah di penghujung Ramadhan itu mendapatkan lailatul qadar, walaupun mereka tidak merasakan tanda apa pun. Allah tidak akan menyia-nyiakan amal ibadah hamba-hamba-Nya.

Manusia yang berada di masjid-masjid pada malam-malam itu, dengan niat yang ikhlas dan disertai pemahaman yang baik, mereka akan menyaksikan taman-taman surga di dunia. Mereka yang menjaga imannya dan merasakan manisnya iman akan merasakan kenikmatan, seolah-olah mereka sudah berada di Surga sebelum mereka benar-benar memasukinya. Seorang ulama pernah mengatakan, “Di dunia ini ada surga, siapa yang tidak memasukinya tidak akan memasuki Surga di akhirat.”

Tidakkah Anda juga ingin masuk ke dalamnya?


Jakarta,
24 Shawal 1432/ 22 September 2011

Wednesday, September 21, 2011

Ulang Tahun


Ulang Tahun
Alwi Alatas

Kalau kita hendak merayakan ulang tahun, maka tanyalah kepada diri sendiri, “Seberapa besar manfaat yang sudah kita berikan kepada masyarakat sehingga hari lahir kita perlu dirayakan?” Kalau manfaat yang kita berikan cukup besar, maka cukuplah kita mengetahui bahwa Allah tak akan mengabaikan itu semua.



Tanggal kelahiran bukanlah sesuatu yang penting untuk dirayakan. Karena ia hanyalah bagian dari waktu yang akan berlalu meninggalkan kita. Kita seharusnya bukan merayakan, tetapi melakukan refleksi serta perenungan sudah sejauh mana kita mengisi hari-hari yang berlalu dengan kebaikan.

Tapi kadang orang-orang yang dekat dengan kita merasa senang jika hari kelahirannya diingat. Istri dan orang tua kita merasa tersanjung jika kita mengingat hari kelahirannya serta mendoakannya. Dan mungkin mereka akan sedikit kecewa jika kita sama sekali lupa tentang hal itu.

Apakah Anda pernah lupa dengan tanggal kelahiran istri? Saya pernah mengalaminya. Pernah pada suatu hari istri saya berkali-kali bertanya dan memberikan isyarat, “Sekarang hari apa ya? Ini hari apa?”

Setiap kali ditanya, saya selalu menyebutkan tanggal hari itu, tanpa menyadari apa yang diharapkan oleh istri saya. Saya sama sekali tidak menangkap isyaratnya. Saya hanya menjawabnya secara sambil lalu, sambil terus sibuk dengan aktivitas yang lain.

Pada kesempatan yang lain, masih pada hari yang sama, ia kembali bertanya, “Hari ini tanggal berapa? Ada apa ya hari ini?” Saya pun menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tapi pada saat yang sama mulai merasa heran, dan sedikit kesal. Mengapa ia selalu mengulang pertanyaan yang sama?

Pada malam harinya, ia kembali bertanya, “Sekarang tanggal berapa? Ini hari apa?”

Saya mulai kehilangan kesabaran dan menjadi agak marah. “Mengapa dari tadi terus menanyakan pertanyaan yang sama? Apa tidak ada pertanyaan lain yang lebih penting?” saya menjawab dengan kesal. “Saya kan sudah memberi jawaban berkali-kali. Mengapa harus menanyakannya lagi?”

Istri saya tidak bertanya lagi. Dan saya juga melupakan hal itu. Saya tetap tidak ingat ada apa hari itu.

Hampir satu bulan kemudian, ketika sedang berbincang tentang ulang tahun, istri saya berkata dengan nada protes, “Kamu lupa dengan tanggal lahir saya.”

“Loh, kita kan sudah sepakat untuk tidak merayakan dan tidak menganggap penting hari ulang tahun,” saya membela diri.

“Tapi kan tidak ada salahnya sekedar mengingat hari lahir,” kata istri saya.

Kini saya berusaha mengingat-ingat tanggal lahirnya. Apakah saya memang melupakan tanggal lahirnya? Tanggal berapa ulang tahunnya? Oh, beberapa minggu yang lalu dan saya sama sekali tidak ingat. Saya nyengir dan sedikit merasa bersalah. “Maaf ya, saya benar-benar lupa.”

“Padahal saya sudah berusaha mengingatkannya berkali-kali,” istri saya masih protes, “tapi masih tak ingat juga.”

“Sudah diingatkan berkali-kali?”

”Kan hari itu saya bertanya beberapa kali, ’Ini hari apa? Sekarang tanggal berapa?’ Eh, malah saya kena marah.”

“Allahu Akbar,” saya kini ingat dengan hari itu. ”Jadi rupanya ....”

“Makanya, jangan marah-marah saja.”

“Aduh, maafkan saya ya, Sayang,” saya meminta maaf sambil tersenyum. “Saya benar-benar tidak ingat. Bahkan saya sendiri sebenarnya tidak memperhatikan hari lahir saya sendiri (yang kebetulan berdekatan dengan tanggal lahir istri). Kalau bukan karena ada orang-orang yang mengingatkan dan mendoakan pada hari itu, saya tentu sama sekali tidak ingat.”

“Saya ini benar-benar pelupa,” kata saya lagi sambil menepuk kepala sendiri.

“Memang, dasar pelupa,” kata istri saya.

“Keterlaluan sekali.” Sambil mengingat itu semua, saya tersenyum dan tertawa perlahan.

“Mengapa tertawa?” tanya istri saya.

“Saya jadi ingat berita yang saya baca baru-baru ini.”

“Berita apa?” ia bertanya penasaran.

“Belum lama ini ada seorang perempuan di Rusia yang membunuh suaminya karena suaminya lupa dengan ulang tahunnya. Istrinya sudah berkali-kali memberi isyarat dan berusaha mengingatkan, persis seperti yang kamu lakukan, tapi suaminya tak ingat juga. Lalu ia mengambil pisau dapur dan menusuk suaminya sampai mati dan setelah itu menyerahkan diri kepada polisi,” saya menjelaskan sambil tertawa. “Untunglah istri saya tak seperti itu.”

Istri saya merasa takjub. “Perempuan itu membunuh suaminya hanya karena lupa hari lahirnya? Kisah ini benar-benar terjadi?”

Saya menganggukkan kepala dan tersenyum.

“Keterlaluan sekali,” istri saya menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Begitulah kalau manusia tak ada iman,” ujar saya. “Selamat ulang tahun ... walaupun sudah terlambat. Mudah-mudahan memiliki umur yang berkah.”

Istri saya tersenyum dan kisahnya berakhir dengan happy ending. Alhamdulillah.

Untuk teman-teman yang sedang mengenang hari lahirnya, kami doakan mudah-mudahan dipanjangkan umurnya dan dimudahkan dalam mengisi hari-harinya dengan berbagai kebaikan. Tapi jangan sampai ulang tahun membuat kita lalai dan berbangga diri. Jadikanlah ia sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri.

Pada akhirnya, kalau ada yang mengucapkan selamat ulang tahun atau selamat hari lahir maka pikirkanlah baik-baik, apakah umur kita memang berisi keselamatan. Renungkanlah dengan baik, apakah cara kita mengisi usia dapat membawa kita pada keselamatan? Kalau tidak, maka tidak ada selamat dan keselamatan pada hari itu. Semoga kita dijauhkan dari hal semacam ini.

Jakarta,
22 Shawal 1432/ 20 September 2011

Monday, September 19, 2011

Tubuhmu bukan Milikmu

Tubuhmu bukan Milikmu

Alwi Alatas

Apa yang tak pernah didapatkan dengan usaha kita sendiri dan tak dapat dipertahankan selama yang kita kehendaki maka ia bukanlah milik kita


Beberapa tahun yang lalu, di sekolah tempat saya mengajar sempat terjadi diskusi antara guru laki-laki dan perempuan. Temanya sama seperti yang sedang hangat belakangan ini di Indonesia: tentang pakaian dan tubuh perempuan.

Guru laki-laki mengeluh tentang semakin banyaknya perempuan yang berpakaian minim di jalan raya dan di tempat-tempat umum. “Tidak semestinya perempuan berpakaian seperti itu.” “Itulah sebabnya banyak terjadi pemerkosaan dan kejahatan seksual, karena perempuan tidak mau menjaga pakaiannya.”

Guru-guru perempuan membantah hal itu. “Itu salah laki-laki, mengapa mereka berpikiran kotor.” “Mengapa laki-laki harus complain dengan cara berpakaian perempuan? Itu tubuh mereka sendiri, terserah kepada mereka mau mengenakan pakaian seperti apa.” Begitu antara lain pendapat kalangan perempuan.

Maka terjadilah perdebatan selama beberapa menit berikutnya. Sebagian guru laki-laki kemudian menjelaskan, “Sebagian yang kalian katakan memang benar, bahwa dalam kasus kejahatan seksual, pihak lelaki jelas salah. Karena mereka sama sekali tidak berhak melakukan hal semacam itu, walaupun ada perempuan yang tak berpakaian di depan mereka.”

“Nah, betul kan,” kata yang perempuan.

”Tapi kaum perempuan juga perlu membantu laki-laki ...,” lanjut guru laki-laki. ”Kami ini juga perlu dibantu oleh kaum wanita dengan berpakaian yang sopan. Sebab laki-laki lebih mudah terpancing dan tergoda secara seksual saat melihat perempuan yang berpakaian tidak sopan. Itu merupakan hal yang normal bagi laki-laki. Kalau mereka melihat perempuan dengan pakaian yang terbuka, kepala mereka akan menjadi ’pening’ karenanya.”

”Oh, begitu?” guru-guru perempuan rupanya baru menyadari hal itu setelah adanya pengakuan yang jujur dari pihak laki-laki. Mereka semua jadi tersenyum. Tapi ada sesuatu yang positif di sana, yaitu mulai adanya saling pemahaman di antara kedua belah pihak.

Memang begitulah kenyataannya. Kaum laki-laki cenderung lebih kuat hasrat dan syahwatnya saat melihat lawan jenisnya yang berpakaian minim, dibandingkan kaum perempuan melihat lawan jenisnya yang berpakaian minim juga. Secara umum dapat dikatakan, perempuan tidak akan terlalu terangsang saat melihat laki-laki yang berpakaian minim. Memang kalau pria yang berpakaian minim itu sangat ganteng (kacak) dan bertubuh atletis, mungkin perempuan akan berpikiran macam-macam dan muncul hasratnya. Tapi kalau laki-lakinya berwajah biasa saja dan tubuhnya agak gendut, maka perasaan yang muncul mungkin berbeda: ganjil, merasa geli (lucu), atau malah agak jijik.

Kasusnya berbeda dengan laki-laki. Secara umum laki-laki akan merasa tergoda dan terangsang saat melihat perempuan yang berpakaian minim dan menunjukkan lekuk tubuhnya. Itu merupakan hal yang normal pada diri mereka. Ini bukan sebuah alasan yang dibuat-buat atau excuse dari kaum lelaki. Tapi laki-laki memang diciptakan seperti itu dan memiliki kecenderungan dan perasaan yang seperti itu.

Kalau Anda masih meragukan hal ini, cobalah buat survey kecil di tempat-tempat umum. Perhatikan mana yang lebih sering terjadi di antara dua hal ini: laki-laki yang menatap dan melirik perempuan yang menarik atau perempuan yang melirik laki-laki yang menarik. Ambillah sebuah contoh yang agak ekstrim (jangan dipraktekkan). Anggaplah ada seorang laki-laki yang sangat handsome berjalan telanjang bulat di sebuah mall yang ramai. Apa kira-kira reaksi perempuan yang melihatnya? Apakah semua akan menatap laki-laki itu dan menjadi terangsang karenanya? Atau sebagian akan merasa aneh dan geleng-geleng kepala? Atau mungkin ada juga yang tertawa dan merasa itu lucu dan ganjil? Mungkin ada juga yang merasa kesal dan segera menghindar? Coba tanyakan ke kalangan perempuan. Saya yakin banyak juga perempuan yang tidak terpancing syahwatnya karena hal itu. Halnya akan menjadi lain bagi laki-laki.

Coba bayangkan ini: ada seorang perempuan cantik berjalan telanjang di tengah keramaian sebuah mall. Seperti apa reaksi laki-laki yang melihatnya? Rasanya kita semua akan sepakat dengan jawabannya. Semua lelaki normal yang melihatnya akan terpancing syahwatnya. Semuanya, tanpa kecuali, dengan syarat ia lelaki yang normal. Hanya saja, ada di antara mereka yang mampu menahan syahwatnya, menghindarinya, dan melupakan hal itu. Tapi ada (banyak) juga yang tak mampu mengawal hasratnya.

Itu merupakan sesuatu yang built in pada diri laki-laki. Mereka memang diciptakan seperti itu.

Tetap saja laki-laki tidak boleh melakukan kejahatan seksual pada perempuan disebabkan hal itu. Itu betul! Mengganggu perempuan secara seksual merupakan kejahatan. Itu merupakan zina dan dosa dalam pandangan Islam. Lelaki harus menahan diri dari perbuatan yang semacam ini dan mereka yang melakukan kejahatan seksual terhadap perempuan harus dihukum. Tapi kaum perempuan juga diharapkan memahami hal ini dan membantu dengan berpakaian yang sopan dan menutup aurat.

Janganlah bersikap tidak perduli dan tetap bersikukuh mengenakan pakaian minim di tempat-tempat umum. Hilangkan ego dalam hal ini. Jika ada perempuan, ataupun laki-laki, yang hendak telanjang dan berpakaian seksi di tengah hutan atau di dalam ruangan tertutup, maka itu terpulang pada mereka sendiri. Tapi jika mereka melakukannya di tempat-tempat umum, maka ada banyak mata yang akan melihat dan sulit untuk menghindarinya. Hal semacam itu sangat mempengaruhi dan mengganggu kaum lelaki, terutama mereka yang berusaha untuk menjaga diri dari hal-hal semacam itu. Believe me, it’s disturbing! Kalaupun ada laki-laki yang tidak merasa terganggu dan mereka justru menikmati hal semacam itu, maka itu bukan berarti syahwatnya tidak terpengaruh. Hanya saja ia tidak tahu atau tidak perduli bahwa hal itu merupakan dosa.

Sebagian perempuan ada yang berkata kepada kaum lelaki, “Urus saja sendiri mata dan pikiranmu, jangan ikut campur dengan pakaian kami.” Perkataan ini tidak tepat. Karena kalau seperti itu, para perokok juga nantinya akan berkata, “Urus saja sendiri hidung dan paru-parumu, jangan ikut campur dengan apa yang saya letakkan di mulut saya, ini merupakan hak saya.” Atau nanti ada yang memasang musik dengan suara sangat keras sehingga mengganggu tetangganya. Lalu dia berkata, “Saya berhak mendengar apa yang saya mau, jangan campuri urusan saya, urus saja sendiri telinga Anda.”

Apakah argumen-argumen seperti ini bisa diterima? Apakah Anda bisa menerimanya? Anda mungkin merasa berhak mendengarkan sesuatu, menghisap rokok, atau berpakaian apa saja. Tapi ketika Anda melakukannya di tempat umum, maka ada banyak orang lain yang terlibat di sana. Hak-hak mereka juga harus dihargai. Bukankah begitu?

Sebagian perempuan ada yang masih protes, “Ini tubuh saya, milik saya, saya berhak melakukan apa saja dengannya.” Ini juga perkataan yang tidak tepat. Cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Apakah kita pernah membeli atau berusaha untuk mendapatkan tubuh kita ini? Apakah kita pernah membuat pilihan untuk mendapatkan tubuh kita yang sekarang ini? Kalau kita memang memilikinya, apakah kita bisa menukarnya dengan tubuh lain yang lebih kita sukai untuk kita miliki? Selain itu, apakah kita bisa menentukan berapa lama kita akan memiliki tubuh ini? Apakah kita bisa mempertahankan tubuh kita saat kematian datang? Kalau kita tidak mampu menentukan pilihan saat mendapatkannya dan kita tidak mampu mempertahankannya sesuai keinginan kita, maka bagaimana mungkin ia merupakan milik kita?

Tubuh ini bukan milik kita. Ia hanya dipinjamkan kepada kita. Maka pergunakanlah itu dengan sebaik-baiknya. Syukurilah ia dengan menggunakan pakaian yang baik dan menutup aurat. Kalau kita menjaga diri, insya Allah kita pun akan lebih terlindungi dari gangguan orang lain.

Demikian pula kaum lelaki. Gunakan mata dan pikiran untuk hal yang baik, bukan untuk melihat dan memikirkan hal-hal yang dilarang. Kalau tubuh Anda kuat dan syahwat Anda besar, bukan berarti Anda boleh menerjang hal yang diharamkan. Seperti dikatakan dalam sebuah buku (Randy Pausch, The Last Lecture), “Hanya karena kau duduk di kursi pengemudi, tidak berarti kau harus menabrak orang.”

Jakarta,
21 Shawal 1432/ 19 September 2011

Monday, February 14, 2011

Dari Tukang Parkir Jadi Juragan Mebel

Dalyono
Dari Tukang Parkir Jadi Juragan Mebel

Editor: Erlangga Djumena
Senin, 14 Februari 2011 | 12:22 WIB
KOMPAS.com - Dalyono (30) bikin terhenyak peserta diskusi terbatas kewiraswastaan di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah, akhir 2010. Ia berangkat menjadi wiraswasta dari serba nol: nol modal, nol koneksi, dan nol keterampilan. Tiga tahun setelah jatuh-bangun, usahanya, mebel batik Mataram Furniture, pun berkembang.

"Saya berasal dari keluarga miskin di Desa Kalimundu, Gadingharjo, Bantul, DI Yogyakarta. Ayah saya petani, yutun, tak berpendidikan, tak punya sawah, hanya mengandalkan suruhan orang. Saya tahu mengapa orangtua saya miskin. Mohon maaf karena bodoh."

Kondisi itu menguatkan tekad anak sulung dari dua bersaudara ini. ”Saya harus belajar, tak boleh lelah belajar.” Namun, belajar tanpa biaya? ”Ah, itu omong kosong.”

Jadilah anak pasangan Ngadiman-Boniyem ini sejak SMP belajar dan mencari penghasilan dengan berjualan apa saja. Ketika melanjutkan sekolah di SMA 17 Bantul, ia juga berjualan ayam. Ia bekerja sambil belajar, sebab waktu belajar lebih sedikit dari jam kerjanya.

Awalnya, Dalyono tak tahu itulah inti kewirausahaan, kiat dan keterampilan yang kemudian dibicarakan orang terpelajar belakangan ini. ”Tidak mungkin saya menjadi mahasiswa, biaya tak ada. Begitu lulus SMA, saya ke Jakarta. Saya pikir, jadi orang sukses harus ke Jakarta,” kata pria yang ke Jakarta berbekal beras 25 kilogram dan sedikit uang. Ia berjualan ayam di Ibu Kota.

Uangnya habis dalam seminggu. Tak ada tumpangan, ia tidur di kolong jembatan di kawasan Penjaringan. Untuk makan sehari-hari, ia menjadi tukang parkir. Ia hidup terlunta-lunta di Jakarta sekitar tujuh bulan.

Dalyono sempat sakit, tetapi ia menolak kembali ke Yogyakarta. Alasannya, malu karena belum bisa mengirim uang ke kampung. Ia memang tak dibawa ke Bantul, tetapi dimasukkan ke Panti Sosial Bina Remaja di Sleman. Hampir setahun di panti, ia lalu dipekerjakan di bagian menggambar Summer Gallery, perusahaan furnitur.

Berpindah-pindah

Oleh sang bos, Dalyono dianggap tak bisa menggambar. Dia lalu pindah bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain selama kurun waktu lima tahun.

Meski berpindah-pindah tempat kerja, ia tetap bekerja di perusahaan yang lingkup usahanya furnitur. ”Di berbagai perusahaan itu saya dilatih disiplin, minat belajar pun tumbuh lagi,” katanya

Dia lalu bertekad memiliki perusahaan furnitur. Usaha furnitur dirintisnya dan sedikit demi sedikit berkembang. Bahkan, perusahaannya juga menjadi salah satu pemasok perusahaan yang dahulu bosnya menganggap Dalyono tak bisa menggambar.

Suatu saat ia bertemu Ir Ciputra, pengusaha yang punya obsesi kewirausahaan sebagai kunci kemajuan bangsa. Ketika itu Dalyono menjadi juara pemberdayaan masyarakat karena 25 pemuda yang dibinanya lewat usaha mebel Mataram Furnitur. Mereka adalah teman-teman di desanya, Kalimundu.

Awalnya agak sulit karena umumnya mereka tak berlatar belakang tukang kayu. Berkat usaha kerasnya, Dalyono pun terpilih sebagai pemuda pelopor tingkat nasional. Ia dinilai ikut serta memberdayakan masyarakat miskin.

Bupati Bantul (waktu itu) Idham Samawi lalu membiayai Dalyono untuk ikut kursus manajemen pada Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) lewat kerja sama dengan lembaga pendidikan Ciputra dan UGM. ”Saya belajar langsung bagaimana mengubah 'sampah' menjadi 'emas',” katanya.

Selepas kursus kewirausahaan di UGM, Dalyono mengembangkan inovasi produk. Akhir Mei 2006, ia menemukan inovasi mebel batik. Dengan itu, ia bisa mengikuti pameran sampai ke luar negeri.

Semua keberhasilan itu membuat Dalyono berpikir agar hidupnya juga bermanfaat bagi orang lain. Maka, selain mengusahakan mebel batik yang mempekerjakan 160 orang di berbagai kota sebagai pemasok mebelnya (antara lain Jepara, Temanggung, dan Sukoharjo), ia bekerja sama dengan Universitas Ciputra Entrepreneurship di Jakarta mengusahakan lima lembaga kursus dan pelatihan.

Usaha itu kemudian berkembang lagi dengan satu lembaga keuangan mikro. Lembaganya pun mendapat bantuan dari pemerintah sebesar Rp 250 juta, selain bantuan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Konsumsi ekspor

Kantornya menempati enam ruang SD Inpres yang ditutup karena tak ada murid. Sejak tiga tahun lalu Dalyono menyewa tempat itu Rp 200.000 per tahun. Ongkos sewa itu tahun depan bakal naik menjadi Rp 3,5 juta.

Ruang-ruang kelas diaturnya sedemikian rupa hingga layak menjadi kantor sampai ruang untuk membuat desain batik dengan sejumlah karyawan binaan mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Pembeli produk mebel batiknya umumnya orang asing. Ia memanfaatkan promosi dari mulut ke mulut lewat pemandu wisata. ”Saya punya beberapa teman tour guide. Mereka yang memperkenalkan produk saya kepada para tamu asing, selain lewat pameran,” kata Dalyono yang kerap mengikuti berbagai pameran di Jakarta.

Produk mebel batiknya diekspor ke berbagai negara, seperti Perancis, Belanda, dan India. Setiap bulan ia mengekspor sekitar dua kontainer. Omzetnya per bulan sekitar Rp 700 juta.

Dengan mempekerjakan 20 orang di bengkelnya, Dalyono memberi upah sekitar Rp 25.000-Rp 30.000 per hari per pekerja. ”Itu bukan jumlah yang besar, tapi yang penting bermanfaat bagi orang lain,” ucap Dalyono yang juga mengusahakan pernik-pernik, seperti alas kaki sampai gelang kayu yang hari itu diborong konsumen India.

Tak muluk-muluk menafsirkan konsep kewirausahaan, Dalyono berkeyakinan kewirausahaan bukan pengetahuan, tetapi praktik. ”Saya belajar, terus belajar sambil terus bekerja juga.”

Karena itulah, dia juga kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram, Yogyakarta, selain belajar bahasa Mandarin, Inggris, dan Perancis lewat kursus.

Bagaimanapun ia senang karena adiknya, Purwanto (21), tak seperti dia. Selulus SMA sang adik bisa bekerja di perusahaan minyak di Riau. Ngadiman, sang ayah, pun bangga pada pencapaian Dalyono yang dianggapnya mampu ”mengangkat” keluarga.

Berkembangnya usaha mebel yang dirintis, membuat Dalyono semakin yakin bahwa jiwa kewirausahaan memang bisa dibentuk lewat pendidikan di sekolah. Namun, tambahnya, yang kemudian lebih berperan adalah pengalaman, kemauan seseorang berusaha keras, dan disiplin diri.

”Jiwa wirausaha itu terbentuk lewat kemauan keras untuk terus belajar dan senantiasa jeli melihat peluang,” ujar pria kelahiran 20 Juni 1980 yang telah membuktikan bahwa sebuah usaha bisa tercipta dengan kemauan belajar, meski seseorang memulai semuanya dari nol: nol modal, nol relasi, nol pendidikan, dan nol keterampilan. (oleh ST SULARTO)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/02/14/12220853/Dari.Tukang.Parkir.Jadi.Juragan.Mebel