Sunday, November 16, 2008

Kalau Rejeki Nggak Kemana 1

Ketika saya masuk kuliah di Universitas Indonesia, tahun 1994, biaya kuliah masih relatif murah. Saya hanya perlu membayar 425 ribu rupiah setiap semesternya. Angka itu tentu saja jauh lebih murah dibandingkan biaya kuliah sekarang ini yang mencapai jutaan rupiah setiap semesternya. Belum lagi ditambah dengan uang gedung yang nilainya mencakar langit. Walaupun pada masa itu belum terjadi krisis moneter dan nilai rupiah lebih tinggi ketimbang sekarang, biaya kuliah pada saat itu masih sangat terjangkau oleh banyak orang. Sehingga bagi mereka masuk ke perguruan tinggi negeri merupakan pilihan utama untuk meringankan beban orang tua.

Karena tidak berasal dari keluarga yang terlalu miskin, sekaligus tidak juga terlalu kaya, saya jadi kurang terdorong untuk mencari-cari peluang beasiswa. Lebih-lebih lagi informasi seputar beasiswa ketika itu masih agak terbatas, dan saya termasuk orang yang kurang gesit dalam mencari celah-celah mendapatkan beasiswa semacam itu. Maka setiap semester saya hanya mengandalkan dana dari orang tua untuk membiayai kuliah.

Pada tahun-tahun terakhir kuliah, saya mulai bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar. Gajinya tentu saja masih sangat kecil. Tapi adanya pekerjaan itu jelas membuat biaya kuliah tidak terlalu membebani lagi. Nah, dalam keadaan seperti inilah saya justru mendapatkan rejeki tambahan. Anehnya, walaupun rejeki itu semula saya tolak, saya terpaksa menerimanya juga pada akhirnya. Begini ceritanya.

Pada suatu hari, saya sedang duduk-duduk di taman kampus saya, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) UI. Lalu tiba-tiba saja teman saya, Amin Rahayu, mendatangi saya cepat-cepat. Begitu sampai, dia segera duduk di samping saya.

“Wi, kamu mau dapat beasiswa kan?” tiba-tiba dia bertanya seperti itu. Siapa yang nggak syok coba kalau ditanya mendadak seperti itu.

“Eh …,” saya bingung mau jawab apa.

“Kamu mesti mau, Wi!” katanya bersemangat. “Mau ya!”

“Ini ada apa sih, kok tiba-tiba nawarin beasiswa?” saya bertanya heran. “Pakai maksa lagi.”

“Begini,” ia mulai menjelaskan, “Ada beasiswa yang ditawarkan untuk mahasiswa kampus ini. Dari seorang pengusaha besar yang kebetulan salah satu keponakannya bekerja di fakultas kita ini. Hanya saja beasiswa itu tidak diumumkan kepada seluruh mahasiswa. Beasiswa hanya diberikan pada anak yang Indeks Prestasinya bagus. Selama ini, jatah penerima beasiswa sudah penuh. Peluang baru hanya muncul kalau ada mahasiswa penerima beasiswa yang sudah habis masa kuliahnya, sehingga dia sudah tidak bisa menerima lagi ….”

“Kenapa tidak kamu saja yang menerima, Min?” tanya saya.

“Justru itu. Saya sudah dapat beasiswa sebelumnya. Sekarang kuliah saya sudah habis, sehingga sudah tidak bisa menerima lagi. Nah, saya punya kesempatan merekomendasikan seorang mahasiswa untuk menggantikan tempat saya. Saya pikir kamu yang cocok, Wi.”

“Tapi …,” saya merasa ragu.

“Sudah, ambil saja!” si Amin ini terus mendesak saya.

“Tapi, Min, saya kira masih banyak mahasiswa lain yang lebih perlu dari saya,” saya masih merasa ragu untuk menerima. Duh, ditawari beasiswa kok malah nolak, gak salah nih. Tapi memang begitulah yang terlintas di benak saya ketika itu. Walaupun dari keluarga sederhana, saya tidak pernah dididik untuk mengharapkan bantuan dari orang lain. Itulah sebabnya mengapa saya merasa ragu untuk menerimanya. Apalagi saya sudah bekerja, walaupun gajinya belum seberapa.

“Tidak, Wi, saya yakin kamu layak menerimanya,” Amin masih memaksa saya.

“Hmm …, gimana ya?”

“Pokoknya kamu mesti mau!” ujarnya sambil memegang dan menarik tangan saya.

“Lho, kita mau kemana?”

“Saya mau bawa kamu ke keponakan si pengusaha itu, supaya nama kamu didaftarkan menggantikan nama saya.”

Maka saya pun, dengan sangat terpaksa dan rasa enggan (duile, kagak salah nih?), akhirnya didaftarkan sebagai seorang penerima beasiswa. Tidak ada proses lamaran dan interview yang berbelit-belit. Saya cuma perlu melampirkan copy indeks prestasi saya yang memang sudah memenuhi syarat itu. Lalu, jadilah saya menjadi penerima beasiswa. Si pemberi beasiswa ternyata pemilik Hotel Kartika Chandra. Jumlah beasiswanya lumayan juga. Walaupun saya cuma menerimanya selama dua semester, karena kuliah saya ketika itu memang sudah hampir selesai.

Kalau dipikir-pikir unik juga yang saya alami itu. Saya tidak mencari beasiswa, tapi beasiswanya yang datang sendiri. Saya sudah menolaknya, tapi dipaksa juga untuk menerima beasiswa. Memang benar kata orang-orang: Kalau rejeki nggak kemana.

Monday, November 10, 2008

Sakit Mata yang tak Kunjung Sembuh

Belajarlah melepas dengan rasa ikhlas, karena hanya dengan itu Anda akan menerima dengan penuh berkat.

Bagaimana perasaan Anda sekiranya Anda diberitahu bahwa mata Anda sakit serius dan sudah tak bisa disembuhkan lagi? Apa yang akan Anda lakukan kalau mata Anda tak lama lagi akan menjadi buta? Apakah Anda akan merasa frustasi? Anda akan kehilangan semangat dan menjalani sisa umur sambil meratapi nasib buruk? Atau Anda akan memilih sikap yang berbeda?

Cobalah bayangkan ini: mata Anda benar-benar di ambang kebutaan. Bagaimana Anda akan menyambut saat-saat kehilangan yang sangat berat itu?

Keadaan inilah yang dihadapi oleh seorang ibu bernama Nafisah. Beliau sudah berusia 68 tahun dan mulai disergap beberapa penyakit. Di antara penyakit-penyakit tua yang terasa amat mengganggunya adalah penyakit mata. Saya mengetahui bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini beliau sering mengeluhkan penyakit matanya yang tak kunjung sembuh. Tapi beberapa minggu yang lalu saya benar-benar dibuat terkejut. Saya sedang berkunjung ketika beliau tiba-tiba saja berbicara tentang sakit matanya.

“Kamu tahu kan kalau Umi sudah menderita sakit mata ini cukup lama?” katanya saat saya duduk di hadapannya.

Benak saya menerawang, berusaha mengingat-ingat sejak kapan beliau mulai mengeluhkan soal penyakit matanya. Saya tidak tahu kapan persisnya, tapi memang itu sudah berlangsung cukup lama.

“Umi ingat sudah berapa lama sakit mata?” saya bertanya penasaran.

“Kurang lebih sudah tiga tahun,” jawabnya.

Tiga tahun dirongrong oleh sakit mata tentunya sangat menyiksa. Karena tak semenit pun berlalu melainkan kita menggunakan mata kita untuk beraktivitas, kecuali saat tidur tentunya.

“Apa saja yang Umi rasakan selama sakit mata?”

Perempuan yang sudah berusia lanjut itu mendesah. Asam garam kehidupan mengalir di sela-sela keriput wajahnya yang semakin menua, wajah yang bercahaya karena basuhan wudhu dan pancaran iman.

“Selama masa itu mata Umi terasa sakit, kering dan seperti ada pasir atau kerikil kecil di bagian dalam.”

Jadi begitulah yang beliau rasakan: kering dan kelilipan pasir halus, walaupun sama sekali tidak ada pasir yang masuk ke dalam matanya. Gangguan tersebut menyebabkan beliau sering merasakan mata lelah dan pusing di bagian kepala. Sungguh menyiksa sekali.

“Umi pergi ke dokter mata, semuanya dokter spesialis, tapi sakit mata ini tak kunjung sembuh juga. Berbotol-botol obat tetes mata, mulai dari obat mata biasa hingga obat mata khusus yang bersifat antibiotik, sudah Umi gunakan, tapi nyaris tidak ada perubahan. Perubahan begitu didamba, tapi semuanya bersifat semu belaka. Kesembuhan amat diharapkan, tetapi itu tak pernah terjadi secara permanen. Mata Umi hanya membaik selama menggunakan obat-obatan itu saja. Begitu obat habis, mata Umi kembali sakit dan penuh masalah, sama seperti sebelumnya, atau malah lebih buruk lagi.

“Salah satu dokter mata mengatakan bahwa Umi mengalami mata kering. Mata Umi sudah tidak bisa lagi memproduksi air mata. Itulah yang menyebabkan semua rasa sakit serta rasa kelilipan yang sangat mengganggu. Lalu dokter itu memberi Umi sebuah obat tetes yang berfungsi sebagai pengganti air mata. Karena fungsinya sebagai pengganti air mata, dokter itu memerintahkan Umi untuk menggunakan obat tetes itu setiap satu jam sekali.”

“Setiap jam?” saya terperanjat mendengarnya, “Tapi itu jelas sulit sekali.”

“Malah dokter itu sempat berbisik halus pada Umi, ‘Kalau perlu Ibu meneteskannya setiap setengah jam sekali.’”

Saya menggelengkan kepala. Itu keterlaluan sekali. Bagaimana mungkin seseorang bisa meneteskan obat mata setiap setengah jam sekali, sepanjang hidupnya. Itu seperti sebuah vonis kematian; kematian dua bola lampu penuh keajaiban yang senantiasa membimbing kita pada cahaya kehidupan. Bahkan para pengangguran pun akan memprotes sekiranya mereka harus meneteskan obat mata setiap jam sekali. Memangnya mereka tak punya pekerjaan lain?

“Coba saja bayangkan, betapa repotnya harus meneteskan obat mata setiap jam, terlebih buat orang tua yang masih aktif seperti Umi ini ….”

Beliau memang masih sangat aktif. Kendati sudah berusia cukup lanjut, beliau terkadang masih suka pergi ke Kramat Jati, ke Proyek Senen, atau ke Pasar Baru (dari Condet!) sendirian dan naik angkot.

“… setiap jam Umi harus berhenti sejenak untuk meneteskan obat mata. Umi meneteskan obat mata di atas angkot atau mikrolet; Umi berhenti sebentar di tengah pasar Senen, meletakkan tas, lalu meneteskan obat mata; Umi harus berhenti di mana saja setiap jamnya demi meneteskan obat mata ini. Rasanya sungguh tidak nyaman ….”

“Sungguh menyiksa sekali,” komentar saya.

“Memang …. Namun, Umi tidak pernah berhenti. Umi selalu melakukannya.”

Kalau saya yang berada di posisi beliau, tentu saya sudah menyerah sejak hari yang pertama. Pengobatan macam apa itu? Orang berobat untuk sembuh, bukannya untuk berobat terus menerus seperti itu.

“Tapi karena pengobatan semacam itu tidak memberi perbaikan apa-apa, maka Umi akhirnya mencari pengobatan ke dokter lain. Oleh dokter yang baru, Umi diberi obat yang baru lagi. Namun, kesembuhan tak kunjung datang juga, walaupun begitu banyak uang sudah keluar untuk pengobatan. Kalau saja mata ini sembuh, sungguh tak masalah berapa pun banyaknya uang yang keluar. Namun, kesembuhan rupanya jauh lebih mahal daripada uang yang banyak itu.”

Saya termenung. Alangkah luar biasanya nikmat yang terdapat pada mata manusia. Benarlah kalau dikatakan bahwa seluruh ibadah yang mampu dilakukan manusia masih belum cukup untuk membayar nikmat sebelah mata saja.

“Kadang obat-obatan yang diberikan membuat mata ini terasa enakan. Mata tak lagi merasa sakit selama menggunakan obat. Tapi begitu obat dihentikan, tiba-tiba saja mata mengalami iritasi yang cukup serius. Seolah-olah mata mulai mengalami ketergantungan terhadap obat; sudah tak bisa lepas lagi dari obat-obatan,” beliau melanjutkan keterangannya.

“Hingga sekarang ini, sudah berapa kali Umi berganti dokter?” saya bertanya.

“Umi sudah berobat pada empat dokter spesialis,” jawab beliau. “Pada dokter yang terakhir, Umi sudah berobat kurang lebih setahun.”

“Apakah ada perubahan yang berarti selama berobat ke dokter yang terakhir ini?”

“Agaknya dokter yang ini lebih baik dari yang lain-lainnya, tapi sudah berobat sejauh ini mata Umi masih juga sakit jika tidak menggunakan obat,” terangnya. “Sebelumnya, salah seorang dokter pernah berkata … mata Umi sudah tak bisa sembuh lagi.”

“Sudah tak bisa sembuh?” saya terkejut.

“Ya, begitulah yang dia katakan. Ketika Umi menanyakannya pada dokter yang sekarang ini, dia sama sekali tidak mengiyakan vonis itu, … tapi dia juga tidak menolaknya.”

Saya merasa sangat sedih mendengarnya. Beliau berobat selama bertahun-tahun mengharapkan kesembuhan, dan akhirnya seperti terjebak di sebuah jalan buntu. Beliau seperti berdiri di tepi jurang kebutaan, jurang yang dipenuhi kabut dan tak memperlihatkan adanya jalan atau jembatan sama sekali. Kemanapun kaki melangkah, hasil akhirnya sama saja: jatuh ke jurang kegelapan. Kini tampaknya hanya ada sedikit waktu yang menyisakan cahaya. Waktu-waktu cahaya yang amat berharga.

“Kamu tahu kan kalau sebelum ini Umi tidak bisa membaca al-Qur’an dengan lancar?” beliau tiba-tiba saja mengubah tema pembicaraan.

Saya mengangguk. Memang selama ini beliau tidak biasa membaca al-Qur’an, walaupun beliau berasal dari keluarga yang sangat taat beragama. Selama ini agama bagi beliau hanyalah ritual-ritual tertentu saja, dan al-Qur’an hanyalah Surat Yasin dan Ayat Kursi. Beliau nyaris tidak pernah membaca al-Qur’an dari al-Fatihah sampai al-Naas. Namun, beberapa bulan terakhir ini beliau mulai rutin membaca al-Qur’an. Ya, beliau mulai membaca al-Qur’an dari permulaan surat hingga ke bagian akhirnya. Beliau membaca secara terbata-bata, tapi terus membaca secara teratur dari hari ke hari.
“Sayang memang dulu Umi tidak membiasakan diri membaca al-Qur’an secara teratur. Tapi sekarang Umi membacanya setiap hari, walaupun dengan bacaan yang terbata-bata,” katanya.
Lalu saya lihat mata beliau mulai berkilat-kilat penuh cahaya dan kebahagiaan.

“Semua pengobatan dokter yang tidak kunjung membawa kesembuhan membuat Umi berpikir bahwa mata ini tidak mungkin sembuh lagi. Umi merasa mata ini akhirnya akan menjadi buta,” beliau kembali berbicara tentang matanya. “Lalu tiba-tiba saja sebuah pikiran terlintas di benak Umi. Umi berpikir kalau mata ini menjadi buta nantinya, maka Umi tidak bisa lagi membaca al-Qur’an. Karena itu, mumpung mata ini masih bisa melihat, Umi berniat untuk membaca al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Itulah sebuah niat yang terlintas di pikiran Umi: Umi ingin membaca al-Qur’an sesering mungkin sebelum mata ini tak mampu melihat lagi.

“Maka Umi pun membaca al-Qur’an lebih banyak dari biasanya. Kalau mata ini terasa kering dan sakit saat membaca al-Qur’an, Umi berhenti sebentar dan meneteskan obat mata. Setelah itu Umi kembali melanjutkan baca al-Qur’an. Demikianlah dari hari ke hari, Alhamdulillah, Umi terus membaca al-Qur’an. Sampai akhirnya Umi bisa membaca al-Qur’an lebih lancar dari biasanya. Sekarang, dalam sehari Umi bisa membaca al-Qur’an lebih dari satu juz.

“Di tengah aktivitas membaca al-Qur’an yang meningkat itu, Umi masih terus menggunakan obat mata yang cukup keras. Umi tidak bisa berhenti menggunakan obat mata itu, karena begitu obat itu habis mata Umi mulai mengalami iritasi. Mata Umi menjadi gatal-gatal dan merah. Terakhir kali Umi pergi ke dokter, dokter memang tidak menyuruh Umi untuk kembali lagi. Tapi Umi pikir bagaimana jadinya nanti kalau obat habis. Umi tidak mungkin membeli obat tanpa surat dokter. Sementara kalau Umi berhenti menggunakan obat, mata Umi biasanya kembali menjadi sakit.

“Lalu ketika obat akhirnya habis, kira-kira dua bulan yang lalu, Umi memutuskan untuk membiarkannya sementara waktu. Umi sudah siap-siap kalau mata ini akan kembali sakit setelah beberapa hari, maka Umi akan langsung pergi ke dokter. Tapi sungguh aneh, mata Umi tidak sakit. Hari demi hari berlalu, minggu berganti minggu, dan mata Umi sama sekali tidak terasa sakit, laiknya mata orang-orang yang normal. Mata Umi tidak terasa kering, tidak terasa ada pasir yang mengganjal, tidak ada gangguan sama sekali. Rasa-rasanya sebuah keajaiban sedang terjadi. Mata itu tiba-tiba saja sembuh, setelah bertahun-tahun sakit, setelah bertahun-tahun menjalani pengobatan, dengan botol-botol obat yang berderet-deret panjang, tanpa ada sebuah kepastian sembuh. Mata itu tiba-tiba sembuh setelah sebelumnya divonis tak bisa sembuh oleh dokter ahli ….”

“Jadi …, mata Umi benar-benar sembuh,” saya tak bisa mempercayai pendengaran saya. “Maksud saya, Umi sekarang tidak menggunakan obat sama sekali, dan mata Umi tidak merasa sakit?”

“Seperti mata yang normal …,” beliau menjawab tersenyum. “Tanpa obat sama sekali, tanpa ada keluhan yang muncul. Mata Umi bertahan tanpa obat selama dua bulan terakhir ini, tanpa ada rasa sakit seperti sebelumnya. Dan Umi masih terus membaca al-Qur’an, bahkan kini menjadi semakin bersemangat menyelami huruf demi hurufnya yang begitu indah.”

“Apakah kesembuhan Umi ini disebabkan niat Umi …, maksud saya niat Umi untuk membaca al-Qur’an selama mata Umi masih bisa melihat?” saya bertanya penasaran.

“Boleh jadi memang seperti itu,” beliau tersenyum. Ekspresi wajahnya memancarkan kebahagiaan dan rasa takjub yang belum hilang. “Lagi pula, bukankah dokter dan obat hanyalah perantara …. Allah-lah Yang Maha Menyembuhkan.”

Jiwa saya bergetar mendengar kisah itu. Tentu saja saya mengetahui kalau Tuhan Maha Menyembuhkan. Tentu saja kejadian semacam ini bukan perkara yang sulit bagi Allah. Tapi tetap saja cerita ini menyentuh hati dengan cara yang begitu berkesan. Rasanya seperti melihat sebuah mukjizat ditampakkan di depan mata.

Ketika obat-obatan tak mampu memberi kesembuhan, Ayat-Ayat Suci hadir sebagai penawar. Ketika dokter-dokter tak mampu mengobati, Yang Maha Menyembuhkan meneteskan rahmat-Nya. Jurang kebutaan pun membentangkan sebuah jembatan, memberi jalan pada cahaya.
Alwi Alatas
8/11/2008

Saturday, November 1, 2008

Tanyakan Saja

Ketika Randy bersama ayahnya dan anaknya Dylan hendak menaiki monorel, Dylan ingin duduk di sebelah jurumesin di muncung monorel iaitu di koc paling depan. Ayah Randy berandaian bahawa hal itu tidak mungkin dilakukan.

“Sayang sekali mereka tidak mengizinkan orang biasa duduk di situ,” kata beliau.

“Hmm,” kata Randy. “Sebenarnya, ayah, sebagai seorang pengimaginasi, saya tahu bahawa ada trik untuk boleh duduk di depan. Mahu lihat?”

Ayah Randy menjawab tentu sahaja.

Maka Randy menghampiri petugas monorel yang penuh senyum dan berkata, “Maaf, apakah kami bertiga boleh duduk di koc paling depan?”

“Tentu, tuan,” kata petugas itu. Dia membukakan pintu dan kami duduk di sebelah jurumesin. Itulah salah satu daripada segelintir saat dalam hidup Randy ketika dia melihat ayahnya benar-benar terpana.

“Tadi saya sudah katakan ada triknya,” kata Randy sambil monorel meluncur laju menuju Magic Kingdom. “Saya tidak katakan trik itu susah.”

(Diambil daripada Randy Pausch, The Last Lecture.)

Syed Alwi Alatas
Kuala Lumpur, 1 Desember 2008

Friday, October 31, 2008

Don't Say Impossible

One of my Malaysian friends told me a story when he entered a military training in Singapore. In the first day, the chief officer ordered all the soldiers to bring a dictionary. After they congregated with the dictionary in their hands, the officer asked them to open the page that contain the word IMPOSSIBLE. When they found it, they were ordered to erase the word. The officer said that since that day they could not use the word anymore in their life. The word IMPOSSIBLE had been prohibited since then.

For a while my mind was tempted to imagine that a naughty soldier might trickily use other words such ‘unable,’ ‘incapable,’ unachievable,’ unable to be realized’ or other corresponding words. This is a smart approach to express similar meanings without saying ‘impossible.’
But of course the order to remove the word ‘impossible’ in the story above is symbolical. It means, we are directed not to give up easily and not to judge something as impossible before we really try it. How could we know that something is possible or not before we really optimize our effort to make it happen?

In fact, we tend to employ this pessimistic attitude so many times in our life, without even struggling to achieve what we want. If you go to a supermarket which sells fixed price items, for example, then you will not dare to negotiate the price with the retailer. How could we bargain with such supermarket? It’s impossible, useless, and shameful. That’s what we think or believe and that’s why we will never try it.

I had an experience with this 'impossible attitude.' One day, I went from Kajang to Gombak, a quite far distance, with my wife. At that time, we lived in Kajang, not far from Kuala Lumpur, Malaysia, and decided to go by a rapid bus. After waiting for a long time, the bus finally headed off. There were few passengers in the bus. We had to pay 2 ringgits for a one way ticket. But if we buy a 4 ringgits ticket, we can use it for the whole day, not only for this bus but also for all government buses with ‘Rapid KL’ logo. The transportation system in Kuala Lumpur was relatively comfortable and economical. The passengers could buy a whole-day ticket that enabled them going everywhere around KL with a very low cost. All the buses, and also the trains, were clean and air-conditioned. The only problem was the passengers had to wait for quite a long time before the bus came. The availability of bus in Kuala Lumpur is not like in Jakarta. In Kuala Lumpur, people wait for the bus; in Jakarta, buses (including the small public transportation) wait for people. However, compare to Jakarta’s traffic jam, the traffic jam in Kuala Lumpur is nothing.

We decided to buy the whole-day ticket. When the bus was ready to go, the driver pushed the button to open the doors automatically. The passengers entered the bus one by one. They put their money in the money box or tap their electronic card and received a ticket from the driver. When it came our turn to pay, we asked for the RM 4 ticket and made sure that it could be used for the entire day. The driver confirmed it, but he gave an alternative.

“However, if you buy a 7 ringgits ticket, you can use it for the whole day not only for buses, but also for trains with ‘Rapid-KL’ logo,” he explained.

“By RM 7 we can use trains too?” we felt uncertain.

“Yes,” he nodded. “So, which one will you take?”

I was in doubt and not sure that the 7 ringgits ticket would really benefit us. However, my wife was inclined to the driver’s option. For seconds, we had an argument, while other passengers waited behind us. In the end, I made a quick decision.

“I want to buy the 4 ringgits ticket,” I said.

“Not the RM 7 one?” he asked me once more.

“No, just give me the RM 4 ticket,” I spoke clearly, though I still felt uncertain. At the same time, my wife gave me a sign showing her disagreement.

The driver nodded and printed two tickets which each cost 4 ringgits. I paid 8 ringgits and took the tickets. After that, we moved inside the bus and searched for seats.

“Why don’t buy the 7 ringgits ticket?” my wife complained.

“I think the cheaper the better,” I defended my choice, while kept thinking whether I had made right decision or not.

We got comfortable seats in the middle of the bus.

“The 7 ringgits ticket surely gives more advantages,” my wife still criticized me. “Besides this bus, we will also go by train to Gombak, and then use the same transportation on our way home.”

“But, we have bought the tickets,” I argued. “It’s impossible to change them.”

“Why don’t we ask the driver,” my wife suggested. “He looks very kind.”

“No, I won’t,” I refused. “He must reject us.”

“How if I try?” my wife said vaguely.

“Are you bold enough to do that? What will you do if he refuses?”

My wife became silent. But then she was grumbling. “You shouldn’t have declined the driver’s offer to buy the 7 ringgits ticket.”

“But I thought that 7 ringgits ticket is too expensive and wouldn’t benefit us.”

“It’s obviously cheaper.”

I knew it was cheaper and gave more advantages, but the problem was, to what extent? It wouldn’t be significant if the difference was only about 1 or 2 ringgits. However, I made a calculation silently and found that the 7 ringgits tickets supposed to benefit us 6 ringgits for the whole trip we plan that day. I started to regret my decision.

“You are right, the 7 ringgits ticket is more advantageous,” I admitted my mistake.

“You see, I’ve told you before.”

“What can we do, we’ve bought the ticket.”

“Just try to change the ticket, the driver may allow that.”

“I think it’s impossible,” I hesitated. “We have gone quite far from the station.” We were passing Metro Kalang at that time.

“That’s the problem. You should have chosen or changed the tickets since the beginning.”

“We have to accept the situation then, since we can’t do anything,” I consoled myself. “Take this as an experience. We’ll buy the 7 ringgits ticket next time we go to Gombak.”

We were silent and gazed at new passengers who entered the bus. I started to consider my choice. What will happen if I go forward and ask for changing the ticket? Will he accept my request? Or will he be angry and refuse it? I encouraged myself to approach the driver and asked for changing. If I failed, I wouldn’t get any risk, would I? I wouldn’t get hurt or die if the driver refused my request. So, what's to be afraid?

Thus, I convinced myself. When the bus stopped at a traffic light, I stood up from my seat.

“What are you doing?” my wife asked.

“I want to change the tickets,” I said and moved forward. I walked fast toward the driver, while my heart was pounding. I was still afraid that the driver will reject and be angry with me. Again I encouraged myself, so the driver wouldn’t see my uncertainty.

“Cik …!” I said to the driver, “May I change the tickets with the 7 ringgits ones?” I showed him my tickets and RM 6 in my hand. He looked at me for a while, while I smiled and showed him my innocent face. Can … cannot … can … cannot … can … cannot …, my mind was wrestling. C’mon, just say it if you refuse, I spoke without a sound. I was ready with the worst possibility and kept smiling.

To my surprise, the driver accepted my request. He took my tickets and the money and pushed the ticket button to produce the new ones: the 7 ringgits tickets.

After taking the new tickets, I went back directly to my seat with a triumph in my face. Yes! I’m success, Alhamdulillah! My wife asked me incessantly when I approach her. Do you succeed? What’s the driver’s reaction? He said nothing? You see, I’ve told you before. Just try it. It’s OK, isn’t it?

We were very happy with the small success we got. It was not about the financial advantages we achieved. We wouldn’t feel very happy like now if we bought the 7 ringgits tickets since the beginning. The happiness was triggered by the very important lesson we got from our experience that day; the lesson that said, “Don’t ever say impossible before you really try.” I’ve tried and I succeed, though I thought it’s impossible in the beginning. Of course, you might fail sometimes, but it won’t risk you any serious damage. So, why don’t you just try?

I thanked God for the rest of my trip. A ticket could be used for all the Rapid-KL buses and trains for the whole day. Wow, it’s great. I felt very excited and wanted to tease the driver with another question, “Cik, is it possible for us to eat freely in IIUM’s canteens with this tickets?”

Since that day, I always remember that lesson. Just try and don’t say impossible! Try and ignore the risk! You may find an unpredictable and exciting result.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur, 3 December 2007

Wednesday, October 29, 2008

Jangan Katakan Impossible

Seorang kawan di Malaysia pernah bercerita bagaimana dia pertama kali dididik dengan latihan tentera di Singapura. Pada hari pertama, komandannya memerintahkan semua anak buahnya membawa sebuah kamus. Setelah mereka semua berkumpul dengan sebuah kamus di tangan, sang komandan memerintahkan mereka untuk membuka halaman yang berisi perkataan IMPOSSIBLE. Setelah mereka menemui perkataan tersebut, mereka diminta untuk mencoretnya. Kemudian sang komandan menegaskan bahawa seluruh anggota pasukan harus menyedari bahawa sejak hari itu tidak ada lagi istilah impossible dalam hidup mereka. Tidak boleh ada lagi perkataan tak mungkin.

Untuk sejenak fikiran, saya terangsang untuk membayangkan bahawa mungkin juga seorang perajurit yang nakal akan berkelit dengan kata-kata yang lain: unable (tidak boleh), incapable (tidak mampu), unachievable (tidak boleh diraih), unable to be realized (tidak boleh direalisasikan), ataupun kata-kata lain yang sejenis. Ini adalah cara-cara cerdik untuk menyatakan maksud yang sama tanpa menggunakan kata impossible.

Tetapi tentu sahaja perintah menghapuskan kata impossible pada kisah di atas lebih bersifat simbolik. Ertinya, seseorang diarahkan untuk tidak cepat menyerah dan mengatakan bahawa sesuatu itu tidak mungkin sebelum dia benar-benar mencubanya.
Kerana, bagaimana kita tahu sesuatu itu mungkin atau tidak mungkin sebelum kita mencubanya dengan sungguh-sungguh?

Ternyata, banyak sekali perkataan seperti ini muncul dalam kehidupan seharian kita, padahal kita sama sekali belum mencubanya. Kalau kita masuk ke pasar raya yang menjual barang-barang dengan harga tetap (fixed price) misalnya, kita tidak akan berani untuk menawar harga barang yang kita beli. Mana mungkin (impossible) menawar barang dengan harga tetap semacam itu di sebuah pasar raya? Itu merupakan hal yang sia-sia dan hanya akan memalukan diri. Begitu yang biasanya terlintas di fikiran kita. Banyak lagi contoh kes yang seumpama ini.

Hal yang sama juga pernah – sebenarnya sering – berlaku pada diri penulis. Pernah satu hari, penulis bersama isteri menempuh perjalanan dari Kajang ke Gombak, satu jarak yang jauh. Ketika itu kami memang tinggal di Kajang dan kami memutuskan untuk pergi dengan menggunakan bas ekspres. Agak lama juga menunggu bas itu bertolak. Jumlah penumpang juga tidak terlalu ramai. Harga tiket bas RM2 untuk perjalanan sehala. Tetapi dengan tiket berharga RM4 seorang, kami boleh menggunakan tiket itu seharian, termasuk untuk bas-bas Rapid-KL yang lain di Kuala Lumpur.

Sistem pengangkutan di Kuala Lumpur memang relatif selesa dan menguntungkan bagi para penumpang, kerana mereka boleh membeli tiket yang boleh digunakan seharian, sehingga belanja perjalanan menjadi sangat murah dibandingkan dengan kos perjalanan yang sepatutnya. Semua bas tersebut menggunakan pendingin hawa sebagaimana juga di dalam kereta api. Hanya ada satu masalah dengan pengangkutan bas ini, iaitu kita harus bersabar menunggu bas datang, kerana jumlah bas di KL boleh dikatakan tidak terlalu banyak.

Kami memutuskan untuk membeli tiket yang boleh digunakan seharian. Ketika bas sudah sedia untuk bertolak, pemandu bas menekan butang untuk membuka pintu secara automatik. Para penumpang yang hanya sedikit jumlahnya pun satu persatu menaiki bas. Penumpang-penumpang bas membayar dengan memasukkan wang ke dalam sebuah alat di tepi pemandu atau dengan menempelkan kad elektronik yang boleh diisi semula. Ketika akan membayar, kami memesan tiket berharga RM4 sambil menegaskan bahawa tiket itu boleh digunakan seharian. Pemandu itu membenarkan, tetapi dia juga menawarkan alternatif.

“Tetapi kalau membeli tiket berharga tujuh ringgit seorang, tiket itu boleh digunakan seharian bukan hanya untuk bas, tetapi juga kereta api berlogo Rapid-KL,” dia menerangkan sambil menahan tangannya daripada menekan butang pencetak tiket untuk beberapa waktu.

“Dengan tujuh ringgit boleh digunakan untuk kereta api juga?” saya dan isteri bertanya ragu.

“Ya,” pemandu itu mengangguk, “Jadi, nak beli yang mana?”

Saya masih berasa ragu, apakah tiket berharga RM7 itu benar-benar bermanfaat bagi kami, atau jangan-jangan kami hanya melakukan pembaziran sahaja nanti. Tetapi, isteri saya kelihatannya cenderung untuk membeli tiket berharga RM7 itu.

Untuk beberapa detik kami berbincang dengan suara berbisik, sementara di belakang kami masih ada penumpang yang akan membeli tiket. Akhirnya saya mengambil keputusan cepat.

“nak beli yang empat ringgit sahaja, encik,” ujar saya.

“Tak nak yang tujuh ringgit?” pemandu itu kembali bertanya.

“Tak, yang empat ringgit sahajalah,” tegas saya, walaupun masih ada nada ragu pada suara saya. Sementara pada masa yang sama, isteri saya menarik baju saya dari belakang sebagai tanda kurang bersetuju dengan keputusan saya.

Pemandu itu mengangguk dan menekan butang untuk mencetak dua keping tiket berharga RM4 setiap satu. Saya membayar RM8 dan menerima kedua-dua keping tiket yang hanya berupa lembaran kertas itu. Setelah itu kami bergerak ke bahagian belakang bas untuk mencari tempat duduk.

“Kenapa tidak beli yang berharga tujuh ringgit sahaja?” tanya isteri saya.

“Nampaknya lebih menguntungkan beli yang empat ringgit,” jawab saya sambil terus berfikir apakah saya memang telah mengambil sebuah keputusan yang tepat.

Kami mendapat tempat duduk yang selesa tidak jauh dari pintu tengah bas. “Tiket tujuh ringgit itu jelas lebih menguntungkan,” isteri saya masih protes setelah kami duduk.

“Setelah naik bas, kita masih perlu naik LRT ke Gombak, lalu naik bas. nanti pulang kita naik kenderaan itu lagi.”

“Tetapi kita sudah beli tiket, mana mungkin ditukar lagi,” bantah saya. Kami terdiam untuk beberapa saat.

“Apa salahnya dicuba,” ujar isteri saya lagi, “Pemandu itu kelihatannya baik.”

“Tak mahulah,” jawab saya, “Dia pasti bakal menolak.”

“Bagaimana kalau saya sahaja yang cuba?” isteri saya bertanya ragu-ragu.

“Memangnya kamu berani? nanti kalau ditolak bagaimana?”

Isteri saya terdiam dan tampak ragu-ragu. Tetapi dia masih mengomel sendirian. “Tadi ketika ditawarkan tiket yang tujuh ringgit kenapa tak mahu?”

“Habis, nampaknya tiket tujuh ringgit itu mahal juga dan belum tentu lebih efektif penggunaannya.”

“Jelas lebih murahlah,” protes isteri saya.

Saya tahu itu memang lebih murah, tetapi masalahnya, seberapa jauh perbezaan harganya. Saya fikir, kalau perbezaannya hanya satu atau dua ringgit, tidak terlalu signifikan. Tetapi diam-diam saya menghitung seluruh belanja perjalanan kami hari itu.

Setelah turun dari bas nanti, kami harus naik LRT ke Gombak yang belanjanya sekitar RM3. Setelah itu naik bas dengan tiket berharga RM1 yang boleh digunakan pergi balik. Setelah itu kami akan naik LRT lagi saat pulang dengan belanja sekitar RM3 juga, sebelum akhirnya boleh menggunakan tiket bas ekspres yang sama untuk pulang ke Kajang. Jadi seluruh belanja tambahannya lebih daripada RM6. Itu untuk satu orang, belum ditambah dengan tiket untuk isteri saya. Padahal kalau beli tiket yang berharga RM7 tadi, kami cuma perlu tambah RM3 sahaja seorang.

Wah, kalau begitu saya rugi lah, saya mulai menyesal kerana tadi tidak membeli tiket yang berharga tujuh ringgit.

“Benar juga, ternyata tiket yang tujuh ringgit itu jauh lebih murah,” saya mulai mengakui kesalahan.

“Betul kan, sepatutnya beli tiket yang tujuh ringgit tadi,” isteri saya menimpali.

“Habis bagaimana, sudah terlanjur beli.”

“Cubalah minta ditukar tambah, barangkali pemandunya mahu berikan.”

“Nampaknya macam tak mungkin,” saya masih ragu-ragu, “Apalagi kita sudah berjalan cukup jauh.”

Ketika itu bas memang sudah sampai di daerah Metro Kajang.

“Tadi kenapa tak beli atau tukar dari awal.”

“Ya sudahlah, mahu kata apa lagi,” saya berusaha menghibur diri sendiri, “Anggap saja sebagai pengalaman.
Esok-esok baru kita beli tiket yang tujuh ringgit kalau melakukan perjalanan yang jauh seperti ini.”

Kami pun diam dan memperhatikan penumpang-penumpang yang baru menaiki bas. Fikiran saya mulai menimbang-nimbang pilihan yang ada. Kalau saya maju ke depan dan minta tukar tiket, apa agaknya reaksi si pemandu? Apakah dia akan setuju? Ataukah dia akan marah dan menolak permintaan saya?

Diam-diam saya mulai memberanikan diri untuk mencuba menukar tiket. Kalaupun usaha saya gagal, apa risikonya? Paling-paling saya cuma akan ditolak. Saya tidak bakal mati atau cedera kalau permintaan saya ditolak oleh pemandu kan? Jadi, apa salahnya mencuba?

Maka saya pun memberanikan diri. Ketika bas berhenti agak lama di sebuah lampu isyarat, saya bangkit dari tempat duduk.

“Mahu ke mana?” isteri saya terkejut melihat saya meninggalkan tempat duduk.

“Mahu tukar tiket,” jawab saya singkat sambil terus berjalan ke depan. Saya melangkah agak cepat menuju pemandu, sementara batin saya masih berasa khuatir kalau-kalau permintaan saya ditolak. Saya harus kuatkan diri saya, jangan sampai kelihatan ragu di depan pemandu nantinya. Saya harus yakin diri!

“Encik . . . !” kata saya ketika sudah berada di tepi pemandu, “Boleh tak tukar dengan tiket yang tujuh ringgit.” Saya berkata begitu sambil memperlihatkan dua keping tiket dan wang kertas RM6. Pemandu itu menatap saya selama beberapa saat, sementara saya tersenyum dan memperlihatkan raut wajah meyakinkan pada si pemandu.

Boleh . . . tidak . . . boleh . . . tidak . . . boleh . . . tidak, batin saya bertanya-tanya sementara pemandu yang berkaca mata hitam itu masih memperhatikan saya.

Ayuhlah cepat, kalau tak boleh, ya . . . tak bolehlah! Saya sedia dengan kemungkinan terburuk, tetapi masih memperlihatkan wajah santai dan meyakinkan.

Pemandu itu ternyata menerima permintaan saya. Dia mengambil kedua-dua tiket bersama wang tadi dan mulai menekan butang untuk mencetak dua tiket baru berharga RM7 setiap satu.

Tidak lama kemudian, saya berjalan kembali menuju tempat duduk dengan wajah penuh kemenangan. Alhamdulillah saya berjaya. Isteri saya yang sejak tadi terus memperhatikan terus bertanya ketika saya sudah sampai di tempat duduk.

Berjaya tukar tiketnya? Bagaimana reaksi pemandu? Dia tidak cakap apa-apa? Benar kan yang saya cakap tadi, dicuba dulu, ternyata berjaya kan.

Kami cukup gembira dengan kejayaan kecil yang baru sahaja kami raih. Hal yang paling membuat saya gembira bukan keuntungan material yang telah saya perolehi. Saya fikir saya tidak akan segembira ini sekiranya saya membeli tiket berharga tujuh ringgit itu sejak awal. Kegembiraan itu lebih disebabkan oleh pelajaran penting yang telah kami dapati melalui kejadian itu, iaitu “jangan sekali-kali mengatakan tidak mungkin sampai kamu benar-benar mencubanya.”

Saya telah mencuba dan ternyata berjaya, walaupun pada awalnya saya berasa hal itu mustahil. Tentu sahaja percubaan seperti ini pada waktu-waktu yang lain boleh jadi akan menghadapi penolakan. Tetapi penolakan tentu tidak akan memberi risiko yang terlalu serius pada diri kita. Jadi, apa salahnya kalau kita mencuba?

Sepanjang perjalanan, saya terus-menerus bersyukur. Sekeping tiket yang boleh digunakan untuk menaiki bas dan kereta api bertanda Rapid-KL di Kuala Lumpur selama seharian. Waw, hebat sekali. Kami boleh pergi ke mana pun selama seharian ini. Tiket itu jadi begitu menarik buat saya. Berapa besar subsidi yang diberikan oleh kerajaan untuk itu. Saya sampaikan ingin mendatangi si pemandu lagi dan bertanya kepadanya, “Encik, apakah tiket ini boleh digunakan untuk makan tengah hari secara percuma di kantin kampus saya, UIA?”

Sejak itu, saya terus mengingat-ingat pelajaran yang saya perolehi pada hari itu. Cuba dulu dan jangan katakan tidak mungkin. Begitu juga dengan pembaca. Cubalah, dan jangan terlalu khuatirkan risikonya! Siapa tahu kita akan memperolehi hasil yang tak terduga sebelumnya.

Syed Alwi Alatas
Kuala Lumpur, 3 Desember 2007