Tuesday, July 27, 2010

From Seedlings to Servings

From Seedlings to Servings: 11-Year-Old Grows Tons of Veggies for the Homeless user
by Tonic, on Mon Jul 19, 2010 7:09am PDT 148

When third-grader Katie Stagliano inadvertently grew a 40-pound cabbage in her back yard, she decided to donate it to a local soup kitchen — feeding 275 homeless people in the process. Three years later, the inspired 11-year-old has grown more than 4,000pounds of veggies for the needy.

By Diane Herbst

It sounds like a sub-plot from Jack and the Beanstalk. When Katie Stagliano brought a single cabbage seedling home from school as part of a third-grade class project, the 9-year-old planted it in the soil in a tiny plot in her family's back yard. She watered and weeded appropriately. Next thing she knew, that seedling grew into a monster-sized, 40-pound cabbage.

None of her classmates' cabbages grew so large. Katie didn't even add any sort of magic fertilizers, or receive any special gardening tips from adults. "Absolutely not," her mom, Stacy, tells Tonic. The biggest known OS Cross cabbage ever — the "OS" in the name stands for "oversize" — was 55 pounds, according to Bonnie Plants (the company that provided free seedlings to Stagliano's class as part of a nationwide school gardening initiative). So this wasn't a record, but it certainly was something.

Some might call it beginner's luck, yet others might call it fate—because what Katie did next turned her story into a heartwarming tale that's touching people all over the world. Katie decided that her green-leafy pride and joy should be donated to a local soup kitchen, where it was made into meals for 275 people (with the help of some ham and rice). "I thought, 'Wow, with that one cabbage I helped feed that many people?'" says Katie, now entering sixth grade. "I could do much more than that."
So with the help of her parents, Katie started her own nonprofit, Katie's Krops, and began planting vegetable gardens specifically to feed the needy. She has six right now, including one the length of a football field at her school in her hometown of Summerville, S.C. Classmates, her family and other people in the community help plant and water, and Bonnie Plants donates seedlings. This past year, Katie took her commitment to a new level, providing soup kitchens with over 2,000 pounds of lettuce, tomatoes and other vegetables. Katie and her helpers are now harvesting the spring planting, and another 1,200 pounds will be donated by October.

"She just walks in like a proud little girl with her treasures in her arm," says Sue Hanshaw, CEO of Tricounty Family Ministries, the soup kitchen in Charleston, S.C., where Katie first brought her 40-pound crucifer. "I love what she exudes, caring for others. It's made a big impact on a lot of people."

Says Elois Mackey, 49, a formerly homeless mother of two who has received a weekly vegetable delivery from Katie since September: "She is showing that you can help other people no matter how young you are. I love the vegetables she brings."

Read more inspiring stories on Tonic.

Katie is a well-spoken 11-year-old who juggles the life of a school child with that of a world-changer. Swim practice, tennis matches, and studying (she has had the highest GPA of her class for the last four years) are sandwiched between daily waterings and tending. "It makes me feel good," says Katie. "I feel bad for those people who have to go to Palmetto house [a homeless shelter where she and residents recently planted a garden], but I feel good that I'm helping people."

Katie's desire to help as well as create sprouted early. "She's always been very inquisitive and wants to go above and beyond," says her mom, Stacy, 41. "It's like, 'What about this and why aren't we doing this?"

Since the age of four, Katie has placed first in competitions that include inventing a toothbrush now on sale that teaches water conservation, for the Dr. Fresh company. "When you put the toothbrush in your mouth to brush," says Katie, "it plays a rap song that says, 'Turn off the water when you brush your teeth, and you can save eight gallons of water.'"

As a third grader, upset about a local drought, Katie decided her school, Pinewood Prep, needed to conserve water. Katie wrote the headmaster over Christmas break, suggesting how the school could better conserve. Soon after, the high school's advanced placement environmental studies teacher called to meet with her and work on a water conservation project. Katie's suggestions for rain barrels to catch water and other ideas were soon implemented throughout the school. "As a parent, I am so moved," says Stacy. "I say to her, 'I hope some day when you are a parent, you have a kid who is as amazing as you so you can see it from a mom's perspective.'"

Much of the thanks goes to Stacy and Katie's devoted group of helpers, including her 7-year-old brother, John Michael, who has toiled in two of the gardens to plan pumpkin patches.

Since February of last year, master gardener Lisa Turocy has not only sat shoulder to shoulder with Katie planting and giving advice, she's transformed her entire front yard into a garden with 600 seedlings. "If I can help her change the world," says Turocy, "that's awesome."

Locals Linda and Bob Baker, golf professionals with 41 acres of farmland set along a rutted dirt road on the outskirts of Summerville, gave Katie some acreage for a garden. Bob lugged his John Deer tractor to Katie's school to till the soil, and taught Katie how to drive the machine. Says Bob: "It makes you feel so good to see someone that young with that amount of compassion, step in there and really make a difference."

Since she started, Katie has been contacted by schools and parents as far away as South Africa looking for advice on planting gardens of their own, specifically to help needy individuals in their communities. And Katie’s story has inspired supporters to donate to Katie’s Krops to help her buy irrigation equipment, fertilizer and other supplies for her six gardens.

As one of Katie's best friends told Tonic, most kids their age mainly like to watch TV and play on computers; they don't like to do what Katie does. Another friend, Anna Semar, 11, who was inspired by Katie to grow her own vegetable garden, says: "If there were more people like Katie the world would be a better place."


Jatuh dari Lantai 16 Tidak Mati

Bocah Sakti
Jatuh dari Lantai 16, Tidak Mati
Senin, 26 Juli 2010 | 14:38 WIB

WELLINGTON, KOMPAS.com — Seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun selamat dengan luka ringan setelah terjatuh dari balkon apartemen keluarganya setinggi 16 lantai ke lantai beton.

Koran The New Zealand Herald melaporkan, Senin (26/7/2010), seorang remaja yang tidak disebutkan namanya tersebut melayang jatuh dari balkon lantai 16 setinggi sekitar 50 meter.

Menurut saksi mata, remaja tersebut meluncur cepat dan kemudian menembus atap tempat parkir. Setelah itu meluncur ke bawah, sebelum akhirnya mencapai lantai beton.

"Anak itu meluncur cepat sekali. Sebelum kemudian terhempas di atas atap dan menghilang ke bawah," kata penghuni lain setelah melihat anak yang jatuh itu melewati jendelanya.

Surat kabar tersebut menyebutkan, para ahli medis heran bagaimana remaja tersebut bisa selamat. Sebab, menurut perhitungan medis, hanya beberapa orang yang selamat bila terjatuh lebih dari lima lantai.

Menurut laporan The New Zealand Herald, saat ini remaja tersebut dalam keadaan stabil. Ia dirawat di sebuah rumah sakit di Auckland.

"Anak itu menderita luka ringan pergelangan tangan, tulang rusuk patah, luka kaki, dan sejumlah luka dalam," katanya.

"Tuhan mungkin telah melindunginya. Ia dijaga malaikat, itu pasti," kata Kaa Wehi, penjaga rumah, yang bekerja di gedung saat peristiwa itu terjadi.

Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2010/07/26/14382261/Jatuh.Dari.Lantai.16..Tidak.Mati-3

Friday, July 23, 2010

Mengapa Tidak Puasa?

Mengapa Tidak Puasa?

Alwi Alatas

Kemarin petang, sekitar pukul 18.00, cuaca di daerah Wangsa Maju, Kuala Lumpur, sangat cerah (waktu Maghrib di KL sekitar pukul 19.30). Saya memarkir kendaraan di tepi jalan, kemudian menyeberang dan menghampiri kios (kedai) kecil tempat penjual burger. Saya memang bermaksud membeli dua potong burger untuk berbuka puasa hari itu.

Saat tiba di depan kios burger dan menyebutkan pesanan, saya dapati kedua anak muda yang berjualan burger itu tengah makan es krim. Yang satu segera meletakkan es krim yang ada di tangannya dan menyiapkan pesanan saya, sementara kawannya tetap duduk di tempatnya dan menghabiskan es krim yang ada di tangannya.

Tiba-tiba saya jadi merasa sangat kesal. Mengapa kedua ana muda ini tidak berpuasa? Padahal waktu berbuka tidak lama lagi. Saya perhatikan wajah mereka. Mereka memang orang-orang Melayu, bukan orang Cina atau India. Mereka tentu Muslim. Tapi kenapa tidak puasa?

Saya perhatikan pedagang burger yang sedang duduk dan menjilat es krimnya itu. Dia cuek saja, tak perduli dengan pandangan sebal saya. Sudah diperhatikan seperti itu, masih saja tetap makan, tidak merasa malu sama sekali. Saya jadi kehilangan selera dan hampir-hampir membatalkan pesanan. Tapi daging burger sudah mulai dipanaskan. Jadi saya terpaksa diam saja.

Tak jauh dari tempat itu, ada laki-laki lain, Melayu juga, sedang duduk dan makan sesuatu. Dia juga makan! Mengapa dia juga tidak berpuasa. Dan bukan dia saja. Seorang ibu pedagang di sebelah sana juga tidak berpuasa. Ia makan sepotong kue sambil merapikan tempat perniagaannya. Ibu itu mengenakan kerudung, tapi tak berpuasa. Hmm, mungkin saja dia memang sedang tak boleh berpuasa, karena ada halangan. Tapi anak-anak muda ini?

Beberapa kali saya melirik pemuda yang duduk agak jauh tadi dengan wajah sebal. Ia masih asyik menghabiskan makanannya. Beberapa kali pemuda itu juga melihat saya dengan tatapan aneh dan kurang suka, mungkin karena saya memperhatikan dia dengan wajah yang kurang menyenangkan. Selesai makan, pemuda itu pergi ke sepeda motornya yang terletak di dekat kios burger, lalu memeriksa giginya di kaca spion (cermin) motor itu, mungkin takut ada sisa makanan yang tersangkut di sela-sela gigi. Subhanallah, saya tambah geleng-geleng kepala. Sudah makan, sekarang tanpa malu periksa gigi segala. Hampir-hampir saya tidak sabar dan ingin menegur. Tapi saya tahan.

Setelah burger selesai dibuat, saya tanya harganya dan membayar sesuai harga yang disebutkan. Tanpa berucap apa-apa lagi … dan tanpa senyum …, saya kembali ke mobil. Setelah masuk ke dalam kendaraan, saya letakkan burger yang terbungkus rapi itu di bangku belakang. Burger yang sebelumnya begitu mengundang selera kini jadi tak menarik lagi.

Kendaraan tak langsung saya jalankan, karena masih menunggu misscall dari istri yang sedang bersilaturahim ke rumah kawannya dan akan saya jemput tak lama lagi. Sambil duduk di kursi kendaraan, saya merenungkan apa yang baru saja lihat. Saya benar-benar-benar tak habis pikir, mengapa di Malaysia, di negeri yang katanya menganut nilai-nilai Islam, ada begitu banyak orang Melayu yang tak berpuasa dan berani-beraninya makan di depan umum? Apakah kesibukan berdagang yang menjadi alasan mereka? Tapi saya tidak melihat pedagang-pedagang lain, yang ada di dekat kendaraan saya, makan.

Saya masih merasa sebal dan agak marah, karena merasa ajaran dan nilai-nilai Islam telah diabaikan oleh kaum Muslimin sendiri. Lama juga saya berada dalam keadaan seperti itu. Mengapa mereka tidak puasa? Mengapa tidak mau bersabar sedikit saja menahan diri dari makan dan minum? Apakah mereka tidak dididik agama oleh orang tua mereka? Mengapa ...?

Lalu tiba-tiba saja saya tersenyum sendiri. Saya seperti orang yang baru saja terjaga dari mimpi. Rasanya tak percaya dengan apa yang telah terlintas di dalam pikiran sejak tadi. Keterlaluan betul saya ini! Tentu saja mereka tidak berpuasa. Sekarang kan masih bulan Sya'ban, belum masuk bulan Ramadhan!

Rupanya sejak tadi tanpa sadar saya merasa kalau bulan Ramadhan sudah bermula dan semua kaum Muslimin tengah berpuasa. Allahu Akbar. Untung saja saya tidak sampai menegur para pedagang itu. Kalau saya lakukan, tentu saya sendiri yang bakal malu.

Tak lama setelah itu, saya menjalankan kendaraan untuk menjemput istri dan pulang ke rumah. Selama beberapa menit setelah itu saya masih senyum-senyum sendiri. Ah, rupanya Ramadhan sudah hampir tiba. Suasananya sudah betul-betul terasa. Ahlan wasahlan ya Ramadhan. Semoga umur kami sampai ke Ramadhan tahun ini dan dapat merasakan manisnya bulan yang penuh berkah.

Allahumma barik lana fi Sya’ban, wa balighna Ramadhan.

Kuala Lumpur,
23 July 2010

Tuesday, June 8, 2010

"Odol" dari Surga

"Odol" dari Surga

Today at 2:38pm

Diposkan oleh Jusharno Ahmad 15 Jan 2010

Cerita menggelikan ini kudengar ketika duduk dibangku SMA dulu. Cerita yang akhirnya tertulis begitu dalam di relung-relung hati. Cerita yang meskipun naif, namun bermakna sangat dalam.

Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol dipenjara. Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan. Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul. Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?

Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar mendapatkan jawaban dari-NYA . Meminta dibukakan jalan keluar dari setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat gagah untuk diucapkan. Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan berulang-ulang kali sebelum diutarakan. Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk esok hari –entah sampai berapa hari- menjengkelkan hatinya amat sangat. Amat tidak penting bagi orang lain, tetapi sangat penting bagi dirinya.

Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu, lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap gila itu. Ia berdiri ragu-ragu dipojok ruangan sel penjara, dalam temaram cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang ia lakukan. Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : “TUHAN, Kau mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu”. Doa selesai. Wajah lelaki itu tampak memerah. Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata amin. Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip dengan seseorang yang berludah ditempat tersembunyi. Tetapi walaupun demikian ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore hari diucapkan, permintaan itu menggelisahkannya hingga malam menjelang tidur. Akhirnya, lelaki itu –walau dengan bersusah payah- mampu melupakan doa sekaligus odolnya itu.

Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar dikamar selnya.

“Saya tidak bersalah Pak !!!”, teriak seorang lelaki gemuk dengan buntalan tas besar dipundak, dipaksa petugas masuk kekamarnya,” Demi TUHAN Pak !!! Saya tidak salah !!! Tolong Pak…Saya jangan dimasukin kesini Paaaaaaaaak. .!!!”

Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari ‘tamu baru’ itu.

“Diam !!”, bentak sang petugas,”Semua orang yang masuk keruangan penjara selalu meneriakkan hal yang sama !! Jangan harap kami bisa tertipu !!!!”

“Tapi Pak…Sssa..”

Brrrraaaaang !!!!

Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan lelaki gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan.

Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya. Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu. Akhirnya tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun kembali tertidur pulas.

Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali ini karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas. Ia terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara. Lho mana Si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi ? Ah masa iya, mimpi itu begitu nyata ?? Aku yakin ia disini tadi malam.

“Dia bilang itu buat kamu !!”, kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas dipojok ruangan. Lelaki itu segera menoleh dan segera menemukan benda yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

“Sekarang dia dimana Pak ?”, tanyanya heran.

“Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi…biasa salah tangkap !”, jawab petugas itu enteng, ”saking senangnya orang itu bilang tas dan segala isinya itu buat kamu”.

Petugas pun ngeloyor pergi.

Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari kepojok ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk untuknya.

Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri. “Ya..TUHAAANNN !!!!”, laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur dipojok ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata. Lelaki itu bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu. Disampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya berhamburan keluar. Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian sehari-hari.


Sahabat, Kisah tersebut sungguh-sunguh kisah nyata. Sungguh-sungguh pernah terjadi. Dan aku mendengarnya langsung dari orang yang mengalami hal itu. Semoga semua ini dapat menjadi tambahan bekal ketika kita meneruskan berjalan menempuh kehidupan kita masing-masing. Jadi suatu ketika, saat kita merasa jalan dihadapan kita seolah terputus. Sementara harapan seakan menguap diganti deru ketakutan, kebimbangan dan putus asa.

Pada saat seperti itu ada baiknya kita mengingat sungguh-sungguh bahkan Odol pun akan dikirimkan oleh Surga bagi siapapun yang membutuhkannya. Apalagi jika kita meminta sesuatu yang mulia. Sesuatu yang memuliakan harkat manusia dan DIA yang menciptakan kita.

Tuesday, April 6, 2010

Lima Miliarder Dunia yang Hidup Sederhana

Lima Miliarder Dunia yang Hidup Sederhana
Mereka tidak suka menghambur-hamburkan uangnya.
Selasa, 6 April 2010,

VIVAnews - Setidaknya satu kali dalam hidup, pernahkah Anda berfantasi menjadi orang yang bergelimang harta? Lantas, apa yang akan Anda lakukan dengan uang miliaran atau triliunan di tangan Anda?

Memang tidak sedikit jumlah orang kaya di planet ini. Namun percaya atau tidak, masih ada di antara orang-orang kaya dunia tersebut yang hidup relatif normal, dalam arti hidup seperti orang kebanyakan.

Rahasia "kotor" dari orang-orang kaya bersahaja ini adalah bahwa mereka tidak bertingkah laku seperti orang kaya. Mereka sibuk berhemat dan berinvestasi demi masa depan, daripada menghambur-hamburkan uang hanya untuk kepentingan sesaat.

Coba simak beberapa orang kaya bersahaja di dunia berikut ini, seperti dikutip dari laman San Francisco Chronicle, Kamis 1 April 2010.

1. Warren Buffett
Buffett adalah seorang investor sukses, pebisnis, sekaligus filantropis, dan pemilik Berkshire Hathaway. Namun, rahasia sebenarnya dari kekayaan pribadi Buffett mungkin adalah kegemarannya untuk berhemat. Pemilik harta kekayaan senilai US$47 miliar ini menjauhi rumah dan benda-benda mewah. Bersama istrinya, pria 79 tahun ini masih tinggal di rumah sederhana mereka di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat yang mereka beli dengan harga US$31.500, lebih dari 50 tahun lalu. Meski Buffett sering menikmati hidangan di restoran terbaik di berbagai belahan dunia, bila disodori pilihan, Buffett akan lebih memilih burger dan kentang goreng beserta Coke cherry dingin. Saat ditanya mengapa dia tidak memiliki sebuah kapal pesir, Buffett menjawab: "Kebanyakan mainan cuma menimbulkan rasa nyeri di leher."

2. Carlos Slim
Nama Carlos Slim belum terlalu dikenal orang bila dibandingkan dengan nama-nama besar macam Bill Gates. Namun, pria warga Meksiko ini baru saja dikukuhkan sebagai orang paling kaya sejagat, mengalahkan pendiri Microsoft tersebut. Kekayaan Slim bernilai lebih dari US$53 miliar. Meski dia bisa membeli berbagai barang mewah duniawi, Slim hampir tidak pernah memanfaatkan kesempatan itu. Seperti Buffett, Slim tidak memiliki kapal pesiar atau pesawat, dan tetap menghuni rumah yang sama sejak 40 tahun lalu.

3. Ingvar Kamprad
Kamprad, pendiri ritel furnitur terkemuka asal Swedia, Ikea. Bagi Kamprad, mencari cara untuk menghemat uang bukan hanya persoalan konsumennya, tetapi juga menjadi nilai berharga bagi dirinya sendiri. Kamprad pernah berujar, "Orang-orang Ikea tidak mengendarai mobil mencolok atau tinggal di hotel-hotel mewah." Aturan tersebut berlaku juga bagi dirinya, pendiri perusahaan ritel Ikea. Dia sering menggunakan kereta untuk mengurus bisnisnya yang tersebar di mana-mana. Untuk urusan di dalam kota, Kampard cukup memanfaatkan bus kota atau mengendarai mobilnya yang telah berumur 15 tahun, sebuah Volvo 240 GL.

4. Chuck Feeney
Feeney tumbuh besar sebagai seorang keturunan Amerika-Irlandia saat terjadi Depresi Besar di Amerika Serikat. Faktor itu bisa jadi mempengaruhi gaya hidup hemat pria kelahiran 23 April 1931 ini. Dengan motto pribadi "Saya ditakdirkan untuk bekerja keras, bukan untuk menjadi orang kaya," salah seorang pendiri Duty Free Shoppers ini diam-diam menjadi seorang miliuner dunia.

Namun, hal lain yang juga dilakukan diam-diam adalah bahwa Feeney memberikan nyaris semua kekayaannya ke yayasan kemanusiaan, Atlantic Philanthropies. Selain memberikan lebih dari US$600 miliar ke almamater Cornell University, dia juga menyumbangkan miliaran dolar ke berbagai sekolah, rumah sakit, dan badan penelitian. Feeney bahkan mengalahkan Buffett dan Kamprad dalam "kategori donasi".

Pemakai rutin fasilitas transportasi umum ini juga selalu terbang menggunakan kelas ekonomi, membeli pakaian dari toko ritel, dan tidak menghamburkan uang hanya untuk membeli rak sepatu besar. "Kita hanya bisa mengenakan satu pasang sepatu dalam satu kali kesempatan," katanya. Dia juga membesarkan anak-anaknya dengan cara normal, yakni dengan meminta mereka bekerja paruh waktu saat musim panas seperti yang dilakukan anak-anak remaja di Amerika.

5. Frederik Meijer
Toko-toko kelontong Meijer banyak tersebar di Midwest, Amerika Serikat. Nilai kekayaan Meijer mencapai lebih dari US$5 miliar, dan hampir separuh dari kekayaan itu justru ditimbun saat pendapatan bersih bisnis Meijer anjlok pada 2009.

Seperti Buffett, Meijer membeli mobil dengan harga logis dan mengendarai mobil-mobil itu sampai tidak bisa digunakan lagi. Seperti Kamprad, Meijer memilih motel-motel biasa saat bepergian untuk urusan bisnis. Dan seperti Chuck Feeney, Meijer fokus pada sesuatu yang bisa diberikan pada masyarakat, dan bukan memboroskan uang untuk kepentingan pribadi.


Monday, April 5, 2010

Persaudaraan Ekonomi

Persaudaraan Ekonomi
Alwi Alatas

Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah bengkel untuk mengganti oli mobil dan memeriksa kendaraan kalau-kalau ada bagian yang perlu diperbaiki. Ada sebuah bengkel di dekat rumah, pengelolanya orang Cina. Maklum, seperti itulah kalau tinggal di lingkungan orang-orang Cina, susah juga mendapatkan bengkel mobil yang dikelola orang Melayu di dekat tempat tinggal. Tapi tak apalah, pengelola bengkel itu masih muda dan sangat ramah. Bukan hanya ramah, ia juga tidak keberatan menjawab berbagai pertanyaan soal mobil yang ditanyakan oleh pelanggan tak berpengalaman seperti saya.

Selain mengganti oli, pekerja yang menangani mobil saya juga melakukan pemeriksaan bagian-bagian mobil lainnya. Ia mengisi air karburator, memeriksa tekanan angin pada ban dan memompa ban yang agak kempes. Saat memeriksa filter angin yang sudah kotor, ia membawanya ke dalam untuk menanyakan pada bosnya apakah filter tersebut sudah waktunya diganti. ”Bersihkan saja,” ujar bosnya setelah memperhatikan keadaan filter tersebut. Maka anak buahnya tadi segera membersihkan filter tersebut dengan menggunakan penyemprot angin. Keadaannya tentu saja masih agak kotor dan berwarna keruh, walaupun kondisinya sudah lebih baik.

Saya berdiri memperhatikan pegawai itu bekerja. Seorang pelanggan lain, seorang Cina juga, ikut berdiri di samping saya. Sambil memperhatikan mobil saya, ia mulai berbincang dengan saya. Ia bercerita kalau ia selalu memeriksa kendaraannya secara rutin di tempat itu.

“Technician kedai ini ok … dia paham dan boleh baiki semua problem kereta …,” ia berkata penuh semangat.

Lalu ia melihat filter angin mobil saya yang kotor dan sedang dipasang kembali di tempatnya. “Itu sudah kotor sekali … very dirty lah,” katanya sambil menunjuk filter tersebut. “Lebih baik kalau diganti ….”

“Perlu diganti …?” saya ragu-ragu. Jujur saja, saya belum lama memiliki mobil dan pengetahuan saya tentang mesin mobil setingkat pelajar taman kanak-kanak. Terlebih lagi, uang di kantong saya tidak begitu banyak.

”Setiap kali service saya selalu ganti baru semua yang perlu ... minyak hitam, filter angin, minyak brake ...,” ujarnya menerangkan. ”Yang penting jalan kereta kita jadi ok. We feel comfortable.”

Saya mulai terpancing kata-katanya. ”Berapa harga filter angin? Biasanya berapa lama filter itu perlu diganti?”

Pekerja yang sedang mengurus mobil saya menjawab pertanyaan saya dan menyebut harganya. Saya mulai mempertimbangkan untuk membelinya. Kebetulan uang di kantong masih cukup.

”You tak akan menyesal lah,” pelanggan di samping saya tadi. ”Semua itu akan bikin kereta jadi lebih baik ....”

Ketika bos bengkel datang menghampiri, saya tanyakan apakah filternya memang perlu diganti. ”Memang filter itu sudah kotor, dan lebih baik diganti. Tapi terpulang pada awak apakah nak tukar filter dengan yang baru atau tak.”

”Saya kira begitu lebih baik,” pelanggan yang di sebelah saya masih memberi komentar.

”Baiklah kalau begitu,” ujar saya mantap.” Saya nak tukar filter itu dengan yang baru.” Saya terpengaruh juga dengan omongan pelanggan di sebelah saya. Usianya jauh lebih tua dari saya, jadi saya tak merasa ia telah menggurui saya.

Bagaimanapun, saya merasa juga kalau si pelanggan ini sebetulnya sedang mendukung bos bengkel mobil ini. Ia terlihat sangat akrab dengan bos bengkel tersebut. Dengan menyarankan saya membeli filter baru berarti pemasukan untuk bengkel itu bertambah. Tapi pada saat yang sama saya juga tidak yakin kalau ia sedang berusaha menipu saya. Filter tersebut memang sangat kotor dan dan beberapa bagian mobil saya memang sudah perlu diganti.

Setelah selesai memperbaiki mobil, saya pun kembali ke rumah. Selama beberapa waktu berikutnya saya mengingat-ingat kejadian itu. Saya merasa kagum dengan sikap orang-orang keturunan Cina yang saling mendukung dalam berekonomi. Bahkan di antara sesama pedagang Cina biasanya juga cenderung saling mendukung. Mereka membentuk semacam persaudaraan ekonomi untuk menguatkan posisi perekonomian mereka. Tentu saja di antara mereka juga sering terjadi persaingan dan permusuhan. Tapi saat menghadapi orang lain, mereka biasanya bersatu dan saling mendukung.

Bagaimana dengan kaum Muslimin? Apakah kaum Muslimin dan para pedagang Muslim juga terbiasa melakukan hal yang sama? Barangkali sebagian pelaku ekonomi Muslim juga memiliki kecenderungan yang sama. Namun kami khawatir sikap kebalikannya yang lebih sering muncul. Saya jadi teringat dengan apa yang saya baca di buku Anne Booth, The Indonesian Economy in the Nineteenth and Twentieth Century. Dengan mengutip dari Clifford Geertz saat menjelaskan tentang para pedagang pribumi di Kudus, ia menulis bahwa ‘sikap individualisme mereka yang berlebihan membawa pada kecemburuan ekonomi dan pertengkaran di antara sesama mereka sendiri, daripada membangun jaringan dan memberi dukungan yang saling menguntungkan yang menjadi ciri khas kaum imigran Cina.’

Saya tidak begitu paham dengan sikap individualisme yang berlebihan. Tapi rasa-rasanya masalah kecemburuan ekonomi dan konflik internal cukup mudah dipahami dan dicari contohnya. Apa yang disebutkan Geertz atau Booth di atas terjadi beberapa dekade yang lalu. Apakah hal semacam itu masih berlaku sampai sekarang ini? Wallahu a’lam. Semoga saja tidak.

Kuala Lumpur, 3 Desember 2009

Wednesday, March 31, 2010

Anak laki-laki dan sekantung paku

Anak laki-laki dan sekantung paku

Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk.

Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku,dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang dipagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.

Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar.

Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata :

"Anakku, kamu sudah berlaku baik,tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada dipagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar."

"Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka."

"Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya sama perihnya seperti luka fisik."

"Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka."

"Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat."

"Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu."

"Tunjukkanlah kepada teman- temanmu betapa kau menyukai mereka."


Monday, March 29, 2010

Kenapa …?

Kenapa …?

Riyadh, Selasa, 8 Syawal 1400H

Di ruang tunggu bandara, sepasang suami istri berumur kurang lebih 60 tahun, tengah menanti penerbangan ke Mekah.

Sambil menunggu pengumuman, lelaki tua itu berbaring berbantalkan kain ihram, setelah berpesan pada istrinya,

"Nanti, kalau mereka mengumumkan pesawat akan berangkat, bangunkan saya."

"InsyaAllah" jawab istrinya singkat.

Kemudian wanita tua itu diam. Sambil menunggu, terkadang ia berbincang-bincang dengan para wanita lain di sekelilingnya, kemudian dia katakan,

"Saya mau pergi ke toilet."

Selanjutnya ia pergi menuju toilet di samping masjid bandara tersebut. Karena ia merasa tidak bisa menggunakan dengan baik toilet di bandara atau toilet yang dibuat model Eropa, sang istri pun tertahan lama di toilet tersebut.

Ketika kembali dari sana, ternyata orang-orang sekelilingnya telah pergi. Sang istripun segera membangunkan suaminya. Setengah berteriak dia katakan kepadanya,

"Hai Abu Muhammad, orang-orang sudah pergi, mereka meninggalkan kita."

Orang tua itu bangun dengan gelagapan, lalu mengambil barang-barangnya, kemudian masuk ke pintu gerbang. Ternyata petugas di sana mencegahnya untuk masuk, petugas itu berkata,

"Pesawat telah tinggal landas Paman, ke mana engkau tadi?? Tunggulah penerbangan berikutnya tiga jam lagi."

Lelaki tua itu tak bisa tak bisa berbuat apa-apa selain menengok pada istrinya, lalu menumpahkan segala kemarahannya kepada istrinya. Istrinya dibentaknya seraya berkata,

"Kenapa kita sampai tertinggal oleh pesawat? Kemana kamu tadi?"

Seorang petugas segera datang, lalu berkata, "Paman, marilah istirahat disini saja dulu, insyaAllah, segala sesuatunya akan beres."

Akan tetapi lelaki tua itu semakin berang. Dia marah sekali, sementara sang istri berupaya meredakan amarah suaminya, tetapi tidak juga berhasil. Lelaki tua itu terus saja mengecam istrinya dengan berkata,

"KENAPA....KENAPA....KENAPA......" dan seterusnya

Di tengah hujan kecaman yang kian gencar itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengejutkan. Terdengar pengumuman di bandara bahwa pesawat yang baru saja berangkat mengalami gangguan pada salah satu mesin, kemudian gangguan itu makin parah, hingga akhirnya pesawat itu terbakar. Pilot pesawat itu telah menghubungi pusat pengendalian di bandara, meminta izin untuk melakukan pendaratan darurat. Namun selalu dijawab, "Tunggulah sebentar, landasan pacu masih sibuk."

Namun setelah pilot menyaksikan api makn besar, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mendarat darurat. Tiba-tiba tampaklah kobarna api dari segala penjuru pesawat. Seketika itu juga para petugas keamanan dan para medis memburu masuk bandara untuk menyelamatkan para penumpang. Akan tetapi, tidak berhasil, musibah tersebut menyebabkan terjadinya insiden luar biasa dan semua penumpang tewas.

Orang-orang yang mendengar peristiwa naas itupun, langsung berhamburan datang dari segala penjuru. Termasuk anak pasangan tua itu.

Tiba-tiba lelaki tua itu didekap oleh anaknya seraya berkata,

Alhamdulillah, kau selamat bapak, mana ibu?"

Lelaki tua itu menarik napas panjang, lalu berkata,

"Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami berdua. Demi Allah anakku, sebelumnya aku marah dan sedih sekali karena tertinggal oleh pesawat. Aku tidak pernah mengecam ibumu atas apapun seperti yang aku lakukan terhadapnya hari ini. Astaghfirullah wa atubu ilaih....."


Turut meninggal dalam kecelakaan pesawat itu adalah co pilot Saudi Arabian Airlines yang seharusnya tidak bertugas, yaitu Sami Husnain

From Suci Ummi Adam in Facebook


Message: When unpleasant things happen to you, don’t ask ‘why,’ just accept them … and prepare for the next ‘flights.’

Sunday, February 28, 2010



Dari milis teman

Seorang ayah ingin mengajarkan kepada anaknya sejak dini yang baru duduk dikelas 3 SD untuk mengatur uang jajannya. Sang anak diberi uang Rp 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek). Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah.
Pada minggu pagi mereka berdua hendak jalan-jalan ke kota untuk menikmati liburan. Sebelum berangkat, tak lupa sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya. Ditengah keasikan sang ayah dan anaknya menikmati hari libur mereka, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek pengemis yangg telah tua renta sambil memelas.

Tak tega melihat sang kakek tua memelas, sang anak dengan sigap langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,- dari saku celana dan diberikan seluruhnya. Kontan saja kakek pengemis ini terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira kepada sang anak dan ayahnya ini.

Setelah si kakek tua berlalu, kemudian sang ayah bertanya;
“Sayang, kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga nanti malam?”
“Ayah..kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar!” Jawab anaknya dengan wajah tersenyum..
“Tek!!!” Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut.
“Nah, terus uang jajanmu untuk seminggu ke depan bagaimana?” Tanya sang ayah mencoba menguji.
“Kan aku masih punya ayah dan bunda! Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia ini.” Balas anaknya.
“Kenapa kamu begitu yakin kalo ayah dan bunda akan mengganti uang jajanmu? Ayah nggak janji loh?” Kembali sang ayah mengujinya.
“Kalo ayah merasa bahwa aku adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada ayah dan bunda, maka aku sangat yakin ayah dan bunda tak akan membiarkan aku kelaparan seperti kakek tua itu..” Jawab sang anak mantap.

Seakan sang ayah tak percaya dengan jawaban dari putranya hingga ia kehabisan kata-kata. Ia tak menyangka jawaban seperti itu keluar dari seorang bocah kelas 3 SD. Ia seperti sedang berhadapan dengan seorang ulama besar dan ia tak bernilai apa-apa ketika berada dihadapannya.

Lalu ia berjongkok dan memegang kedua pundak anaknya..
“Sayang…ayah dan bunda janji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga Allah tetapkan batas umur ini. Ayah sangat sayang padamu..” Sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah tak kuat menahan haru..

Sambil memegang kedua pipi ayahnya, sang anak membalas,
“Ayah tak perlu berkata seperti itu. Sejak dulu aku sudah tahu bahwa ayah dan bunda sangat mencintai dan menyayangiku. Kelak jika aku sudah dewasa aku akan selalu menjaga ayah dan bunda, dan aku tidak akan membiarkan ayah dan bunda hidup dijalan seperti kakek tua itu…”

Dan airmata sang ayahpun tak terbendung mendengar jawaban tulus dari anaknya. Dipeluklah tubuh mungil itu dengan sangat erat. Dan kedua larut dalam haru dan kasih sayang.