Thursday, October 3, 2013

Carilah alasan untuk tidak Mengeluh

Di antara tanda sabar itu adalah menahan lisan dari mengeluh. Kalau ada sesuatu yang tidak disukai terjadi dan kita bisa menahan diri dari mengeluh, maka ini termasuk ciri-ciri sabar. Tapi jika kita mengeluh, maka pada saat itu kita tidak sabar.

Tidak mengeluh kelihatannya mudah untuk dilakukan. Namun kenyataannya tidak begitu. Ramai orang yang sudah terbiasa mengeluh, termasuk dalam masalah-masalah yang kecil. Bahkan saat tidak ada masalah pun mereka kadang mengeluh juga. Seolah-olah mengeluh itu mengasyikkan. Mungkin ada juga yang menjadikannya sebagai hobi. Can you imagine? Seperti apa jadinya kalau mengeluh sudah menjadi hobi? Mungkin orang itu akan menjadi semacam “mesin mengomel” (nagging machine). Setiap jumpa orang lain, dia mengeluh dan menggerutu tentang banyak hal dalam hidupnya. Bahkan saat sendirian pun mungkin dia sibuk menggerutu juga.



Apakah pembaca pernah berjumpa dengan orang semacam ini? Semoga tidak. Karena membayangkannya saja sudah melelahkan, apalagi benar-benar berjumpa dan mendengarkan keluhannya selama puluhan menit atau berjam-jam lamanya.

Kebanyakan pembaca tentu tidak berperilaku seperti “mesin mengomel”. Alhamdulillah. Walaupun begitu, mungkin kita masih sering juga mengeluh. Kita mengeluh tanpa sadar, karena sudah menjadi kebiasaan. Saat makanan tak sedap, kita mengeluh dan mencela makanan itu. Padahal Nabi saw. melarang untuk mencela makanan dan beliau sendiri tidak pernah mencela atau mengeluhkan makanan. “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan walaupun hanya sekali. Apabila beliau menghendaki suatu makanan maka beliau akan memakannya dan apabila beliau tidak menyukainya maka beliau meninggalkannya“ (HR Bukhari-Muslim).

Saat hujan turun atau hari terlalu panas kita juga mengeluh, padahal semua itu datangnya dari Allah. Saat waktu berjalan terlalu cepat dan tidak cukup untuk menyelesaikan tugas yang ada, kita pun mengeluh, padahal sebenarnya kita yang tak pandai mengatur waktu. Saat sakit, kita juga mengeluh. Padahal kata Nabi saw, “Jika ia (si sakit) mengetahui apa yang ada di dalam sakit, maka ia akan lebih suka sakit hingga ia bertemu dengan Allah” (HR Ibnu Abu Dunya). Hal ini disebabkan adanya pengurangan dosa di balik sakitnya seseorang. Banyak lagi situasi yang membuat kita mengeluh. Kita sepertinya tidak pernah kehabisan alasan untuk mengeluh. Selalu ada saja hal untuk dikeluhkan dalam hidup.

Mengeluh itu tampaknya mudah untuk dilakukan, tapi sebenarnya ia menyusahkan. Ia menyusahkan diri sendiri dan menyusahkan orang lain yang mendengarnya, karena keluhan berisi perkataan negatif. Dengan mengeluh kita membuat fikiran dan hati kita terus menerus menerima cara pandang yang negatif. Hal itu akan membuat jiwa menjadi pesimis dan merasa susah. Siapa yang membuatnya menjadi susah begitu? Ya diri kita sendiri yang menjadi penyebabnya. Kalau tak mau susah macam itu, berhentilah mengeluh. Buang jauh-jauh kebiasaan mengeluh. Dalam hidup ini sudah terlalu banyak kesusahan, jangan ditambah lagi dengan keluhan-keluhan yang tidak perlu.

Tapi bagaimana caranya untuk menghentikan kebiasaan mengeluh? Tentu saja kita perlu membangun kebiasaan baru. Tidak mengeluh adalah sebuah bentuk kesabaran. Dan dalam proses untuk menjadi sabar (tidak mengeluh), kita pun memerlukan kesabaran dalam membentuk kebiasaan yang baru itu. Perhatikan kebiasaan lama kita. Sadari adanya kekurangan itu. Setelah itu, tahan diri kita setiap kali akan mengeluhkan sesuatu.

Saya ulang sekali lagi. Perhatikan kebiasaan mengeluh. Sadari dan akui hal itu. Tahan diri setiap kali hendak mengeluh. Istighfar dan cepat perbaiki jika terlanjur mengeluh. Lakukan secara terus menerus. Satu hari, dua hari, seminggu, sebulan, sehingga akhirnya kita terbiasa melakukannya.

Agar lebih mudah dalam menahan diri dari mengeluh, maka carilah berbagai alasan untuk tidak mengeluh. Sebagaimana kita selalu menemukan alasan untuk mengeluh, kini carilah seribu alasan untuk tidak mengeluh. Kalau makanan tak sedap, katakanlah pada diri sendiri bahwa masih bagus kita bisa makan. Berapa banyak orang yang tak bisa makan kerana kesusahan hidupnya? Kalau pelajaran di sekolah susah, katakanlah pada diri sendiri bhawa kesusahan itu adalah jalan menuju sukses. Kalau kena marah bos di office, maka katakanlah Alhamdulillah karena kita masih memiliki pekerjaan dan kerana bos masih memperhatikan kita.

Jangan mengeluh. Carilah seribu alasan untuk tidak mengeluh. Lakukan secara terus menerus sehingga ia menjadi kebiasaan. Kalau hal itu sudah benar-benar dilakukan dan kebiasaan mengeluh sudah hilang, maka insya Allah akan ada banyak perubahan yang positif dalam hidup.

Kalau anda masih punya kebiasaan mengeluh, jangan hanya membaca artikel ini dan mengangguk-angguk menyetujuinya. Amalkanlah hal ini, agar kita termasuk dalam orang yang sabar.

Alwi Alatas
Jakarta
3 Oktober 2013

Wednesday, October 2, 2013

Sabar itu tidak mengeluh

Sabar itu tidak mengeluhkan masalah. Ia gigih dalam mencari jalan keluar.

Sabar itu tidak mengeluhkan keadaan. Ia setia dalam melihat sisi cerah dari keadaan itu.

Sabar tidak memiliki waktu untuk mengeluh. Ia terlalu sibuk bergerak ke depan.

“Sabar dan berkeluh-kesah adalah dua hal yang bertentangan…. salah satunya dikalahkan oleh yang lain,” kata Ibn Qayyim al-Jauziyah

(Senyumlah, Apa pun masalahmu Ia pasti akan berlalu)