Wednesday, October 28, 2009

Miskin atau Kaya Dulu?

Miskin atau Kaya Dulu?

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang sepupu saya yang usianya jauh lebih tua. Kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Lalu tibalah pembicaraan ke tema tentang nasib. Sepupu saya yang bernama Husin itu lantas berkata bahwa dalam banyak hal manusia bisa berikhtiar atas nasibnya. Artinya, manusia bisa berusaha untuk memilih nasibnya sendiri, dengan izin Allah tentu saja, dan pilihannya itu boleh jadi memberikan sebuah arah bagi masa depannya. Ia lalu bercerita tentang kisah sepasang suami istri yang sudah lama tak dikaruniai anak dan hidup secara sederhana (saya tidak tahu dari mana beliau mendapatkan cerita ini, apakah dari buku atau dari penuturan orang lain).

“Pada suatu hari, sepasang suami istri ini tidur dan bermimpi. Di dalam mimpinya mereka diberitahu bahwa separuh hidup mereka akan msikin dan separuh hidupnya yang lain akan menjadi kaya raya. Mereka dipersilahkan memilih akan menempuh yang mana dulu. Sekiranya mereka ingin kaya dulu, maka akhir hidup mereka bakal jadi miskin. Kalau mereka memilih miskin terlebih dahulu, maka separuh akhir hidup mereka akan menjadi kaya raya.

“Ketika bangun dari tidurnya, si suami menceritakan mimpinya kepada sang istri. Istrinya merasa terkejut dan mengatakan bahwa ia juga mendapatkan mimpi yang sama. Karena kejadian yang unik ini, keduanya memutuskan untuk mendatangi seorang ulama untuk berkonsultasi. Setelah berjumpa dengan si ulama dan menceritakan mimpi mereka, ulama tersebut menjelaskan bahwa mimpi mereka itu kemungkinan besar merupakan mimpi yang benar. Maka ia menyarankan keduanya untuk menetapkan pilihan yang diberikan di dalam mimpi tersebut dan berdoa pada Allah. Kedua suami istri ini kemudian menjalankan saran si ulama dan menetapkan pilihan mereka.”

Saat mendengarkan cerita ini, sempat terlintas di benak saya untuk ikut memilih. Sekiranya saya yang berada di posisi kedua orang itu, kemungkinan besar saya akan memilih untuk menjadi miskin dulu, lalu menjadi kaya raya di akhir hidup. Seperti kata pepatah kan: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Saya pikir suami istri ini tentu juga bakal memilih seperti itu. Apa enaknya menjadi kaya dulu tapi akhirnya susah.
Tapi ternyata tebakan saya meleset. Suami istri itu, menurut cerita sepupu saya, memilih kebalikan dari itu.

“Suami istri tadi memilih dan memohon pada Allah untuk menjadi kaya dulu dan menjadi miskin di akhir hidupnya,” sepupu saya melanjutkan ceritanya. “Mereka ingin berbuat sesuatu dengan kekayaannya itu selagi mereka masih muda dan kuat, sehingga mereka bisa menolong banyak orang dengannya. Adapun di akhir hidupnya mereka akan menghabiskan waktu untuk banyak beribadah pada Allah. Mereka tidak perduli menjadi miskin di akhir hidupnya. Itu mungkin lebih baik, karena dengan begitu ibadah mereka tidak akan terganggu oleh kesibukan duniawi.

“Maka Allah pun mengabulkan doa mereka. Tak lama kemudian mereka menjadi kaya raya. Allah juga menganugerahkan mereka anak. Seperti yang mereka niatkan, kekayaan tidak menjadikan mereka sombong dan lupa diri. Mereka banyak menolong orang dengan harta kekayaan tersebut. Harta terus mengalir ke pundi-pundi tabungan mereka, sementara pada saat yang sama mereka tak bosan-bosannya menyedekahkan harta mereka itu kepada orang-orang yang membutuhkannya.

“Hari berganti hari dan tahun berganti tahun. Mereka telah melewati tahun-tahun kesenangan dan merasa sudah hampir tiba waktunya untuk mempersiapkan diri menghadapi masuknya paruh akhir hidup mereka. Mereka sudah merasa puas telah memanfaatkan harta benda mereka di masa kaya untuk bersedekah dan terus menerus berbuat baik. Kini mereka siap sekiranya Allah mengambil harta benda tersebut dan menjadikan mereka miskin. Mereka akan menghabiskan sisa umur mereka untuk beribadah pada Allah.

“Akhirnya, pada suatu malam mereka bermimpi lagi. Di dalam mimpinya itu mereka diberitahu bahwa sudah datang waktunya bagi mereka memasuki paruh terakhir umur mereka. Hanya saja, ternyata nasib mereka berubah. Mereka tak perlu menghabiskan sisa umur mereka dalam kemiskinan. Allah menganugerahkan sisa umur mereka dalam kekayaan, bukan dalam kemiskinan. Sedekah dan kebaikan-kebaikan selama mereka kaya raya telah mengubah garis nasib mereka.

“Mereka hidup dalam kemakmuran, kebahagiaan, dan amal shalih hingga ke akhir hidup mereka.”

By: Alwi Alatas
Jakarta, 15/11/08

2 comments:

Cisca Zarmansyah said...

Menjadi miskin lahiriah di masa tua, namun kaya dengan bekal batiniah...

Alwi said...

Syukran untuk comment-nya.