Wednesday, October 28, 2009

Kalau Rejeki Nggak Kemana 2

Kalau Rejeki Nggak Kemana 2

Kalau rejeki memang nggak kemana. Ya, begitulah yang biasa dikatakan sebagian orang. Artinya, kalau memang sudah jadi rejeki kita, dia tentu akan sampai juga ke tangan kita, walaupun kita tidak mengejarnya. Ini juga yang beberapa kali terjadi pada diri saya.

Salah satu peristiwa yang pernah saya alami adalah ketika saya diminta menjadi juri lomba baca puisi. Pada suatu malam, saya sedang duduk-duduk di ruang keluarga ketika telpon berdering. Saya pun mengangkat telepon.

“Assalamu’alaikum …?” terdengar suara di seberang sana.

“Wa’alaikum salam,” jawab saya.

“Eh, Pak … kami dari panitia …,” si penelpon memperkenalkan dirinya pada saya. “Kami ingin meminta Bapak untuk menjadi juri lomba baca puisi tingkat SMP dan SMU.”

“Juri lomba baca puisi?” saya meragukan pendengaran saya. “Tapi itu sama sekali bukan bidang saya. Kalau juri lomba menulis cerpen atau artikel saya bisa. Tapi lomba baca puisi …?”

“Kami percaya Bapak cocok untuk itu.”

“Siapa saja yang ikut menjadi juri?” tanya saya.

Lalu si penelpon menyebutkan dua nama lainnya, yang salah satunya saya kenal. Ia juga menjelaskan bahwa panitia sempat meminta seorang mantan artis yang kini sudah memakai jilbab untuk menjadi juri, tapi batal karena fee yang diminta si artis terlalu tinggi. Saya sempat berpikir, kalau panitia berani mengundang artis, walaupun akhirnya tidak jadi, tentu fee yang mereka tawarkan lumayan tinggi juga; terlalu rendah untuk si artis, tapi barangkali cukup tinggi buat orang biasa seperti saya. Hanya saja saya tidak ingin menanyakan berapa fee yang ditawarkan panitia.

“Sebetulnya, dari mana dapat informasi tentang saya?” saya bertanya penasaran.

“Eh …, ada beberapa teman yang menginformasikan dan merekomendasikan Bapak untuk posisi juri ini.”

Saya tidak mencoba menyelidik lebih jauh dari mana mereka mendapatkan nama saya. Sebetulnya saya agak tertarik dan ingin membantu, tapi saya merasa ini bukan bidang saya.

“Senang sekali kalau saya bisa membantu, tapi sayangnya saya bukan orang yang tepat untuk posisi itu. Akan lebih baik kalau posisi juri ini diisi oleh orang yang benar-benar berkompeten,” saya berusaha menjelaskan alasan penolakan saya pada mereka.

“Aduh, gimana ya …?” si penelpon kelihatannya agak kecewa dengan penolakan saya.

“Begini saja …,” saya berusaha memberikan jalan keluar, “Saya merekomendasikan satu nama untuk menggantikan saya. Coba pihak panitia hubungi dulu Dr. Amir. Beliau doktor tafsir lulusan Pakistan dan beliau sangat menguasai soal puisi. Beberapa puisi beliau dimuat oleh Majalah Horison.”

Si penelpon tidak merespon. Kelihatannya dia kurang tertarik dengan usulan saya. Aneh juga, saya pikir, ditawari orang yang lebih baik kok ragu-ragu.

“Coba hubungi beliau dulu. Kalau beliau bisa, Alhamdulillah, saya yakin panitia tidak akan kecewa. Tapi kalau Dr. Amir tidak bisa, panitia boleh menghubungi saya lagi.”

“Kalau beliau tidak bisa, Bapak siap menjadi juri kan?” si penelpon mencari penegasan dengan nada harap.

“Insya Allah,” jawab saya. “Tapi hubungi dulu Dr. Amir ya.”
Maka ia pun mengucapkan salam dan menutup telepon setelah saya membalas salamnya. Istri saya yang mendengar percakapan itu bertanya pada saya kenapa harus menolak permintaan tersebut. Saya jawab, karena saya merasa bukan ahlinya.

“Jadi juri puisi untuk anak-anak SMP dan SMU kan tidak susah,” kata istri saya seperti menyesali penolakan saya. “Bukankah lebih baik kalau permintaan itu diterima saja?”

Saya hanya mengangkat bahu. Saya pikir keputusan saya itu tidak salah. Bukankah sebuah urusan itu sebaiknya dikerjakan oleh ahlinya. Kalau saya memaksakan diri terjun ke bidang yang tidak begitu saya kuasai, jangan-jangan malah merusak acara. Lain ceritanya kalau tidak ada alternatif lain atau saya benar-benar dipaksa oleh panitia.

“Kalau rejeki nggak kemana. Kalau ini memang rejeki saya, nanti juga panitia akan nelpon lagi,” jawab saya sekenanya.

“Lha, kalau panitianya nggak nelpon lagi?”

“Ya berarti bukan rejeki saya.”

Maka saya pun mengerjakan urusan yang lain. Saya segera melupakan permintaan dari panitia tersebut, karena saya menduga Dr. Amir tentu akan menyanggupi permintaan itu. Kalaupun doktor di bidang tafsir itu berhalangan, barangkali beliau akan merekomendasikan temannya yang lain yang cocok untuk itu.

Beberapa saat setelah itu, telepon kembali berdering.

“Assalamu’alaikum,” terdengar suara yang familiar di seberang sana. “Pak, ini dari panitia ….”

“Oh ya …, bagaimana, sudah menghubungi Dr. Amir?”

“Sudah, tapi beliau tidak bisa karena sudah ada acara,” jawab suara di seberang sana. “Beliau malah menyarankan supaya Bapak saja yang menjadi juri.”

“Begitu ya …,” saya masih ragu-ragu. “Apa panitia tidak punya alternatif lain …?”

“Tidak ada …, dan kami sangat berharap Bapak mau menjadi juri.”

Saya tidak punya pilihan lain. Saya mau tidak mau menerimanya. Alhamdulillah, ternyata pilihan panitia tidak sepenuhnya salah. Tugas menjadi juri baca puisi jauh lebih sederhana daripada yang saya bayangkan. Pada prinsipnya, semua orang yang memiliki sedikit pemahaman tentang puisi dan pembacaan puisi bisa menjadi juri di acara tersebut.

Saya menjadi juri seharian penuh bersama dua orang juri lainnya. Setelah tugas selesai, panitia memberikan fee kepada setiap juri. Jumlah yang lumayan untuk seorang guru seperti saya. Saya menatap amplop berisi uang itu sambil tersenyum.

“Saya sudah menolakmu dan menyuruhmu pergi ke tempat lain. Tapi rupanya Allah sudah menetapkan kamu sebagai rejeki saya, maka kamu pun datang kembali ke tangan saya.”

Berapa banyak harta dikejar tapi tak kunjung dapat, sementara rejeki yang tak terbayangkan sebelumnya malah datang secara tak terduga.

Written b: Alwi Alatas
Jakarta, 14/11/08

No comments: