Wednesday, December 24, 2014

Doa Untuk Musuh

Setelah penaklukan kota Makkah, pada tahun 8 Hijriah, tercetus pula Perang Hunain. Kaum Muslimin berjaya mengalahkan musuh dalam pertempuran ini. Antara kabilah yang menyertai Perang Hunain dan turut memerangi Nabi dan para sahabat adalah penduduk Taif.

Setelah dikalahkan dalam pertempuran itu, sisa-sisa kabilah ada yang melarikan diri dan berlindung di sebalik benteng kota Taif. Nabi dan para sahabat kemudian pergi ke kota itu dan mengepungnya. Bagaimanapun, setelah mengepung kota tersebut selama lebih sebulan, kaum Muslimin masih belum berjaya menakluki benteng tersebut. Akhirnya, Rasulullah memutuskan untuk menghentikan pengepungan dan kembali ke kota Madinah. Pada pertempuran itu, belasan sahabat gugur dan beberapa yang lainnya mengalami luka-luka.

Sewaktu mereka berangkat meninggalkan tempat itu, ada yang berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, berdoalah (dengan doa keburukan) atas orang-orang Tsaqif (Taif).” Tetapi Rasulullah tidak melakukan apa yang diharapkan oleh mereka. Sebaliknya, Baginda SAW mendoakan kebaikan bagi mereka. Nabi berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada orang Tsaqif (Taif) dan bawa mereka datang.”

Perhatikanlah doa Nabi itu. Dua kali penduduk Taif menyusahkan Baginda, tetapi Nabi tetap mendoakan kebaikan bagi mereka. Nabi telah disakiti pada pertama kalinya, iaitu tiga tahun sebelum Hijrah. Malaikat penjaga gunung pun menawarkan untuk menghancurkan penduduk Taif, tetapi Nabi memilih untuk mendoakan kebaikan mereka. Nabi disakiti untuk kali yang kedua, pada Perang Hunain. Ketika itu ada yang meminta agar Nabi mendoakan keburukan bagi mereka. Tetapi Nabi tetap memilih untuk mendoakan kebaikan bagi penduduk Taif.

Dan apakah buah daripada semua itu?

Lebih kurang setahun setelah kejadian tersebut, penduduk Taif memutuskan untuk masuk Islam. Mereka menghantar enam orang utusan kepada Rasulullah SAW untuk berbincang dengan Baginda, dan akhirnya mereka setuju untuk masuk Islam. Mereka masuk Islam dengan keislaman yang baik.

* Daripada buku MUDAHKAN, JANGAN SUSAHKAN (Malaysia)/ KALAU BISA MUDAH, MENGAPA DIBUAT SUSAH (Indonesia)

Monday, December 22, 2014

Benih kebaikan di dalam hati seseorang

Oleh Q.T.
...
Suatu hari Ahmed duduk di dalam Masjid, ia membaca al-Qur'an, Surah Qaf. Tiba-tiba ia mendengar suara orang menangis. Ia memandang sekelilingnya. Seorang lelaki sedang duduk di sana. Ia pun berjalan ke arah lelaki itu.
"Apa masalahmu, saudaraku?" ia bertanya kepadanya.
"Saya seorang yang berdosa," jawab lelaki tersebut. "Saya tidak menyentuh al-Qur'an selama bertahun-tahun. Saya melakukan banyak perkara buruk yang lain. Adakah saya akan diampuni?" katanya.
Ahmed tersenyum kepada lelaki itu dan berkata, "Apakah engkau tidak mendengar firman Allah dalam al-Qur'an yang mulia:
'Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' [al Zumar 39:53]"
Lelaki itu memandang kepadanya dengan wajah gembira, sementara matanya penuh dengan air mata. Kemudian dia mengucapkan selamat tinggal dan pergi.

Tidak kira berapa besar kejahatan yang ada, selalu ada benih kebaikan di dalam hati seseorang. Jika Allah menurunkan rahmat-Nya kepada kita, ia akan berbuah, Insya Allah.
Benih ini seolah-olah senantiasa berperang di dalam hati kita, bahkan sekiranya hati itu diliputi nafsu. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, Dia menjadikan cahaya kebaikan menyinari hati kita. Dia akan menunjuki kita ke jalan yang benar.
Allah berfirman dalam al-Quran yang mulia: 
'Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.' [al-An'am 6: 125].

Diambil dan diterjemahkan daripadahttp://www.sunniforum.com/forum/showthread.php…

Sunday, December 21, 2014

A World of Smile

Kira-kira sepuluh tahun yang lalu ketika saya adalah seorang mahasiswa di perguruan tinggi, saya bekerja sebagai pelatih di universitas saya, Museum of Natural History. Suatu hari semasa bekerja di sebuah kedai tempat membeli hadiah, saya melihat sepasang orang tua datang dengan seorang gadis kecil di kursi roda.

Saat saya memperhatikan lebih dekat pada gadis ini, saya melihat bahawa ia bertengger di atas kerusinya. Saya kemudian menyadari bahawa ia tidak mempunyai tangan atau kaki, hanya kepala, leher dan batang tubuh. Dia memakai pakaian putih yang kecil dengan titik polka merah.

Ketika pasangan itu mendorongnya ke arah saya, saya memandang ke kasir. Saya kemudian memalingkan kepala saya ke arah gadis itu dan memberikannya kedipan mata. Setelah saya mengambil uang dari kakek neneknya, saya menoleh lagi pada gadis itu, yang sedang memberi saya senyuman paling besar dan paling manis yang pernah saya lihat. 


Tiba-tiba kekurangannya menjadi hilang dan semua yang saya lihat adalah gadis yang cantik ini, yang senyumannya telah mencairkan saya dan hampir serta-merta memberikan saya rasa yang benar-benar baru tentang arti hidup ini. Ia telah menarik saya dari seorang pelajar kampus yang miskin dan tidak bahagia serta membawa saya ke dunianya; dunia yang penuh senyuman, kasih sayang dan kehangatan.

Itu sepuluh tahun yang lalu. Kini saya adalah seorang peniaga yang berjaya dan setiap kali saya merasa jatuh dan berfikir tentang masalah-masalah yang ada, saya ingat pada gadis kecil itu serta pelajaran luar biasa tentang kehidupan yang ia berikan pada saya.

Diterjemahkan secara bebas daripada http://www.islamcan.com/islamic-stories/a-world-of-smile.shtml#.VJL9gzHF9q0

Saturday, December 20, 2014

Pintu-pintu yang Lain

Anak kami yang berumur 4 tahun mempunyai beberapa masalah kesehatan yang agak serius, jadi kami sering berkunjung ke rumah sakit anak-anak yang berdekatan. Dua minggu lalu, anak kami berada di sana selama beberapa hari untuk menjalani pembedahan.

Ini merupakan keadaan penuh tekanan bagi kami, tetapi kunjungan ke rumah sakit hampir selalu membuat saya merasa bersyukur. Mengapa? Oleh kerana "pintu-pintu yang lain."


Saat saya berjalan di koridor rumah sakit itu, saya lewat di depan pintu yang membawa kepada banyak bagian yang berlainan. Saya melalui bagian di mana pakar bedah membentuk kembali wajah anak-anak. Saya melalui bagian di mana para pakar merawat anak-anak yang telah tragis terbakar. Saya melalui bagian di mana anak-anak dengan penyakit kanker menghabiskan masa kecil mereka melawan penyakit yang menakutkan kebanyakan orang dewasa. Setiap hari, orang-orang berjalan melalui pintu-pintu itu. Saya terus berjalan.

Kadang-kadang, saya berjalan melalui ruang perawatan, memandang dalam kamar seorang anak yang sedang menghadapi kematian. Saya menatap anak itu, tidak sadarkan diri di tengah-tengah banyaknya selang dan mesin. Saya melihat keluarganya, yang sedang menatap kosong ke udara, bersedih atas apa yang akan terjadi. Saya terus berjalan.

Di tingkat empat, saya melewati "kubur bawah tanah" di mana ibu bapak dengan anak-anak di ICU mendapati hari dan malam mereka terentang menjadi minggu dan bulan, tetap mengharapkan berita baik atas keadaan yang tiada harapan. Saya terus berjalan.

Pada suatu malam, saya berjalan di ruang tunggu. Hanya satu keluarga yang masih ada di sana, dan dokter baru saja selesai melakukan pembedahan. Ia mulai memberitahu mereka tentang keadaan pasien .... letupan senapan patah, .... kerusakan muka besar-besaran .... selusin lebih operasi yang akan datang .... kecacatan seumur hidup ... pertanyaan "mengapa?" seumur hidup. Saya duduk, separuh mendengar, mempertimbangkan pintu-pintu itu, yang keluarga ini akan hadapi pada tahun-tahun mendatang.

Saya bangkit berdiri. Saya berjalan kembali ke ruang perawatan anak-anak, ke satu pintu yang saya cari. Di belakang pintu ini, anak kami perlahan-lahan pulih dari pembedahan. Dan dengan cara yang aneh, saya bersyukur atas "keadaan" yang menimpa hidup kami.

Kerana ada seratus pintu lain di tempat ini yang lebih buruk lagi. Dan kita bisa dengan mudahnya berada di dalam salah satu kamar itu.

Saat anda berdoa meminta kekuatan agar bisa keluar dari pintu-pintu (musibah) yang anda hadapi, pastikan juga untuk bersyukur kepada Allah Ta'ala atas pintu-pintu yang Dia telah lepaskan anda daripadanya.

Diterjemahkan secara bebas dari http://www.islamcan.com/islamic-stories/the-other-doors.shtml#.VJGw_THF9q1

Hingga Masuk ke dalam Kubur

Seorang anak lelaki berkata kepada ayahnya: "Saya melihat seorang gadis dan saya ingin menikahinya. Ia begitu cantik dan mempunyai mata yang indah."

Ayahnya menjawab: "Sudah tentu Nak, mari kita datang dan meminangnya."

Apabila ayahnya melihat gadis itu, ia kagum akan kecantikannya dan berkata kepada anaknya: "Kamu tidak berhak atas gadis ini. Ia memerlukan seseorang yang mempunyai pengalaman dalam hidup dan seseorang yang ia boleh bergantung kepadanya, seseorang seperti saya ..."

Anak lelaki itu terkejut dengan sikap ayahnya dan dia berkata kepadanya: "Dia akan menikah dengan saya, bukan denganmu."

Mereka mulai bertengkar dan akhirnya kedua-duanya mengambil keputusan untuk pergi ke kantor polisi untuk menyelesaikan masalah itu. Setelah mereka menceritakan kisah mereka kepada polisi, ia katanyapada mereka: "Bawalah gadis itu ke sini supaya kita boleh menanyakan pendapatnya tentang perkara ini."

Apabila pegawai itu melihat kecantikan gadis itu ia berkata kepada anak dan ayahnya: "Kalian berdua tidak layak, ia memerlukan seseorang yang mempunyai martabat seperti saya."

Ketiga lelaki itu pun bertengkar dan akhirnya memutuskan untuk pergi kepada menteri untuk menyelesaikan masalah mereka. Saat menteri melihat gadis itu, ia berkata: "Ia berhak untuk menikah dengan seorang menteri seperti saya."

Raja mendengar tentang masalah mereka dan memanggil mereka semua untuk membantu menyelesaikannya. Tetapi ketika ia melihat gadis itu ia berkata: "Gadis ini akan menikah dengan saya."

Semua kelima lelaki itu pun bertengkar. Akhirnya, gadis itu berkata kepada mereka semua: "Saya mempunyai jalan penyelesaian! Saya akan mulai berlari dan siapa saja yang bisa menangkap saya, dia lah yang akan menjadi suami saya ".

Ketika ia mula berlari, anak itu, ayahnya, polisi, menteri, dan raja semuanya berlomba untuk menangkap gadis itu. 



Tapi tiba-tiba kelima lelaki itu jatuh ke dalam lubang yang dalam.

Gadis itu memandang kepada mereka dari atas lubang dan berkata "Tidakkah kalian tahu siapa saya? Saya adalah 'Dunya' DUNIA INI!! Orang-orang mau mengejar untuk menangkap saya. Mereka berlomba-lomba untuk memiliki saya. Dengan berbuat demikian, mereka lupa agama mereka, sehingga mereka berakhir di dalam kubur dan tidak mendapatkan saya ....!"

Diterjemahkan daripada https://www.pinterest.com/systemoflife/inspirational-stories-to-boost-up-your-imaan-faith/

Thursday, December 18, 2014

Seorang perempuan yang kehilangan anak

Tulisan dari sebuah grup WA (dengan sedikit editing)

Di sebuah desa kecil di lereng pengunungan ada seorang penasehat yang bijaksana. Suatu hari seorang wanita yang putra satu-satunya telah meninggal, mendatangi penasehat tersebut dan bertanya, "Apa yang anda miliki yang dapat mengobati rasa kecewa dan sakit hatiku?"

Setelah sang penasehat mendengar kisah hidup wanita ini, ia berkata; "Ada, tapi syarat pertama Anda harus membawakan saya segenggam benih padi dari sebuah keluarga yang tidak memiliki masalah."

Wanita itu segera pergi ke sebuah rumah termewah di desa itu. Ia berpikir tentu tidak ada yang salah di rumah ini. Setelah ia menemui pemilik rumah, ia mendengar hal yang sebaliknya. Tuan rumah menceritakan banyak masalah yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Lalu ia datang ke rumah yg lain. Jawab penghuni rumah itu, "Oh Anda datang ke rumah yang salah."


Setelah ia mengunjungi berpuluh rumah ia tetap tak dapat menemukan keluarga yg tidak memiliki masalah. Setelah sebulan ia kembali ke penasehatnya,."Maaf, saya tidak berhasil menemukan keluarga yang tidak memiliki masalah," katanya. "Malahan saya banyak menasehati dan menguatkan beberapa keluarga yang begitu menyedihkan keadaannya."

Penasehat itu bertanya, "Apakah hatimu masih sakit?"

Sambil tersenyum ia menjawab, "Tidak lagi, setelah saya tau orang yang tampaknya bahagia ternyata ia memiliki masalah yang jauh lebih banyak dari saya."


Banyak orang terjebak pada pola pikirnya sendiri, sehingga ia merasa menjadi orang yang paling malang, tidak seperti orang lain yang kelihatan begitu Happy.

Kadang kita begitu sibuk memikirkan diri kita sendiri dan terlalu sibuk menjumlah kesulitankesulitan sehingga kita lupa menghitung berkah dan segala kebaikan yg telah kita terima.

Jeruk Masam Rasa Manis

Bayu Gawtama


Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, “Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?”
Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.
Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.
Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, “Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?” suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.
Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya? Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. “Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,” kata si Ayah kepada keluarganya.
Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.
Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, “Jeruk asam begini kok dibawa…”
Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli sepeti jeruk manis dan segar.
Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.

http://kisahislami.com/2011/12/06/kisah-hikmah-jeruk-busuk-rasa-manis/

Pesan: Tahanlah lidah kita daripada menghina kekurangan orang lain. Hargai niat baiknya, bukan kecilnya pemberian.

Tuesday, March 4, 2014

Gara-gara ditolak Facebook

Brian Acton, ahli komputer lulusan Stanford University, pernah bekerja di Apple dan Adobe. Antara tahun 1996 dan 2007 ia bekerja di Yahoo dan jabatan terakhirnya adalah vice president of engineering. Dengan kepakaran dan pengalaman semacam itu rasanya akan mudah bagi Acton untuk melamar ke perusahaan manapun yang bergerak di bidangIT. Tapi kenyataannya tidak begitu. Pada pertengahan 2009, ia melamar untuk bergabung dengan Facebook, tapi lamarannya ini ditolak. Kabarnya ia juga melamar dan mengalami penolakan oleh Twitter.

Bagi sebagian orang, penolakan semacam itu mungkin merupakan hal yang menyakitkan dan menyebabkan hilangnya semangat. Tapi manusia sering lupa bahwa tertutupnya sebuah pintu bagi mereka mungkin bermakna adanya pintu lain yang terbukan dan bisa membawanya ke tempat yag lebih baik. Ini pula yang rupanya dialami oleh Acton.

Setelah kejadian itu, ia tampaknya tidak menjadi 'down'. Setelah ditolak Facebook, ia menuliskan hal itu di twitternya dan menutupnya dengan kata-kata 'looking forward to life's next adventure'.



Tak lama setelah itu, Acton dan seorang kawannya, Jan Koum, membangun aplikasi Whatsapp. Aplikasi ini ternyata tumbuh dengan pesat dan digunakan oleh banyak pengguna, termasuk di Indonesia. Kini pengguna Whatsapp telah mencapai 430 juta pengguna aktif dan setiap harinya aplikasi ini melayani 50 miliar pesan setiap harinya. Whatsapp telah mengalahkan penggunaan sms di banyak negara.

Baru-baru ini kita mendengar berita bahwa Facebook membeli Whatsapp dengan harga yang sangat fantastis, yaitu senilai 19 miliar dolar AS atau sekitar 223 triliun rupiah. Dari nilai itu, 3 miliar dolar diberikan dalam bentuk saham kepada Acton dan beberapa orang lainnya di Whatsapp. Acton sendiri kini direkrut untuk bergabung dengan Facebook.

Kisah yang menarik bukan. Lima tahun sebelumnya Brian Acton ditolak oleh Facebook. Namun kini ia 'dibeli' dengan harga yang sangat tinggi oleh perusahaan yang pernah menolaknya itu. Kalau pada waktu itu ia diterima oleh Facebook, kita tidak tahun apakah aplikasi Whatsapp akan terlahir, atau apakah ia akan berkembang seperti yang kita ketahui sekarang.

Takdir memang memiliki rahasianya sendiri dalam mengarahkan hidup seseorang. Jadi jangan marah terhadap takdir yang tidak disukai. Sikapi saja dengan positif dan teruskan perjuangan hidupmu. Insya Allah ada banyak kebaikan yang mungkin menanti di hadapan.

Thursday, February 20, 2014

Cegukan (Hiccup)

Rasanya semua orang pernah mengalami cegukan (hiccup). Biasanya hal ini berlaku setelah makan - tentunya bukan setiap kali makan - tanpa kita ketahui penyebabnya. "Hik ... hik ...," kita terceguk tanpa bisa mengendalikannya. Hal ini agak  mengganggu, tetapi biasanya tidak dianggap serius dan biasanya tidak berlangsung lama. Tapi apa jadinya jika cegukan berlangsung terus menerus selama 11 tahun, seperti yang dialami Amanda Corby (46 th)?

Corby mengalami cegukan selama 11 tahun berturut-turut, hingga sekarang ini. Hal ini mulai terjadi pada tahun 2003 dan tidak pernah berhenti cegukan sejak saat itu. Tidak ada yang memahami mengapa hal itu bisa terjadi, termasuk Corby sendiri. Ia mengalami rangkaian cegukan sebanyak lima kali sehari. Ia cegukan setiap dua detik yang lamanya bisa sampai sepuluh menit. Jika ditotal, ia diperkirakan telah cegukan sebanyak tiga juta kali sejak sebelas tahun yang lalu.

Banyak dokter sudah didatangi dan berbagai metode pengobatan sudah dicobanya, tetapi tidak ada yang berhasil. Paling lama pengobatan itu hanya bertahan selama tiga bulan, setelah itu cegukannya kambuh lagi. Corby sudah tidak tahu apa lagi yang mesti dilakukannya untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Mungkin ia akan terpaksa menerima hal itu sebagai bagian dari dirinya.

Walaupun cegukan kelihatannya masalah sederhana, tetapi mengalaminya secara terus menerus merupakan persoalan yang serius. Corby kadang terpaksa berhenti beberapa kali saat minum air disebabkan cegukannya itu (http://www.dailymail.co.uk/health/article-2561936/Woman-46-hiccuped-constantly-11-YEARS-struggles-drink-cup-tea.html). Mudah-mudahan kita dijauhkan dari hal yang seperti ini.

Kita juga pernah mengalami cegukan, tetapi biasanya cegukan itu akan hilang pada hari yang sama. Kalau kita suatu saat kembali mengalami cegukan, jangan mengeluh. Ingat saja bahwa itu merupakan masalah yang tidak seberapa. Bersyukurlah karena kita tidak mengalami cegukan yang menahun seperti yang dialami Corby.

Saturday, November 9, 2013

Gol



Demba Ba, pemain bola sepak Chelsea, diberitakan mencetak sebuah gol yang indah. Ia terus melakukan sujud syukur, menyungkurkan wajahnya ke tanah. Ia sangat istimewa bagi Demba Ba, kerana merupakan golnya yang perdana. Sujudnya jauh lebih istimewa, sebab tak ramai yang mampu berbuat sama.

Saat menyaksikan pertandingan bola, ramai manusia yang merasa teruja. Walaupun ia tiada kena mengena dengan kehidupan mereka. Yang dicari mungkin hiburan semata. Sementara hidup menuntut kerja nyata. Saat sang hero memasukkan bola ke gawang, ia merasa ikut menang. Seharusnya ia meradang, disebabkan waktunya yang terbuang. Masih bagus jika ada pelajaran yang boleh dibawa pulang.

Dalam hidup yang kita jalani pun sebenarnya ada banyak ‘gol’ yang membuat hati gembira. Tak mesti ‘gol’ yang hebat, ‘gol-gol’ kecil pun termasuk tanda berjaya. Semua itu adalah nikmat yang melimpah. Atasnya lidah kita mengucap Alhamdulillah. Ketika itulah, seluruh ‘gol’ menjadi benar-benar indah dan berkah.

Bersyukurlah, dan akan ada lebih banyak ‘gol’ yang tercipta. Tak percaya, sila mencuba!

Thursday, November 7, 2013

Di Balik Kematian

Kematian bukanlah akhir hidup manusia
Ia hanyalah pintu keluar dari dunia
Menuju kediaman berikutnya
Dunia ini menyibukkan dan membuat lupa
Sehingga banyak yang alpa
Untuk apa hidup itu sebenarnya
Tak kurang pula yang bersuka ria
Tak bersedia untuk hidup setelahnya

Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:
"Di balik kematian ada dua tempat kediaman
Kalau engkau terlepas dari tempat yang pertama
Engkau akan berakhir di tempat yang kedua"
Tiada tempat yang ketiga
Tiada pula yang boleh membeli dengan hartanya
Satu kediaman bernama Surga
Yang lainnya bernama Neraka

Ramai yang ingin Surga
Tapi berkelakuan ahli Neraka
Ramai inginkan surga dunia
Tapi mengundang Neraka tiada habisnya

Siapa yang kejar dunia untuk akhiratnya
Dia beruntung sepanjang masa
Jangan cintai dunia, cintai Pemiliknya
Karena Dia saja yang boleh memberi bahagia
Bahagia yang sebenarnya
Dia saja, tiada selain-Nya

Jakarta, 8 Nov 2013
Alwi Alatas

Wednesday, November 6, 2013

Tak belajar dari kematian

Kubur dan kematian seharusnya dapat menjadi pengingat bagi kita untuk sadar dan menjauhi hal-hal yang negatif. Namun ada juga sebagian manusia yang tak peduli dengan kematian, walaupun mereka berada didekatnya.

Pada bulan September 2013 lalu, ada seorang bernama Soleh yang meninggal dunia. Sayang namanya tidak menggambarkan perilakunya. Ia wafat setelah pesta minum arak dan dikuburkan beberapa waktu kemudian. Beberapa saat sebelum Soleh dikuburkan, tujuh orang lainnya melakukan pesta minum arak pula di lokasi kuburan. Sebagian dari ketujuh orang itu bekerja sebagai penggali kubur. Selepas menguburkan jenazah Soleh, mereka kembali melanjutkan pesta minum arak di tempat yang sama. Malam itu juga, beberapa orang yang meminum arak tersebut masuk ke rumah sakit. Satu di antara mereka meninggal dunia selepasnya.

Mereka buat maksiat di tempat yang seharusnya mengingatkan mereka pada kematian. Kalau kematian sudah tak dapat menyadarkan dan menginsafkan, apa lagi yang hendak diharapkan?

Ya Allah, jauhkan kami daripada Su'ul Khatimah.

http://jogja.tribunnews.com/2013/09/18/tujuh-orang-pesta-miras-oplosan-di-kompleks-makam-lima-tewas

Thursday, October 3, 2013

Carilah alasan untuk tidak Mengeluh

Di antara tanda sabar itu adalah menahan lisan dari mengeluh. Kalau ada sesuatu yang tidak disukai terjadi dan kita bisa menahan diri dari mengeluh, maka ini termasuk ciri-ciri sabar. Tapi jika kita mengeluh, maka pada saat itu kita tidak sabar.

Tidak mengeluh kelihatannya mudah untuk dilakukan. Namun kenyataannya tidak begitu. Ramai orang yang sudah terbiasa mengeluh, termasuk dalam masalah-masalah yang kecil. Bahkan saat tidak ada masalah pun mereka kadang mengeluh juga. Seolah-olah mengeluh itu mengasyikkan. Mungkin ada juga yang menjadikannya sebagai hobi. Can you imagine? Seperti apa jadinya kalau mengeluh sudah menjadi hobi? Mungkin orang itu akan menjadi semacam “mesin mengomel” (nagging machine). Setiap jumpa orang lain, dia mengeluh dan menggerutu tentang banyak hal dalam hidupnya. Bahkan saat sendirian pun mungkin dia sibuk menggerutu juga.



Apakah pembaca pernah berjumpa dengan orang semacam ini? Semoga tidak. Karena membayangkannya saja sudah melelahkan, apalagi benar-benar berjumpa dan mendengarkan keluhannya selama puluhan menit atau berjam-jam lamanya.

Kebanyakan pembaca tentu tidak berperilaku seperti “mesin mengomel”. Alhamdulillah. Walaupun begitu, mungkin kita masih sering juga mengeluh. Kita mengeluh tanpa sadar, karena sudah menjadi kebiasaan. Saat makanan tak sedap, kita mengeluh dan mencela makanan itu. Padahal Nabi saw. melarang untuk mencela makanan dan beliau sendiri tidak pernah mencela atau mengeluhkan makanan. “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan walaupun hanya sekali. Apabila beliau menghendaki suatu makanan maka beliau akan memakannya dan apabila beliau tidak menyukainya maka beliau meninggalkannya“ (HR Bukhari-Muslim).

Saat hujan turun atau hari terlalu panas kita juga mengeluh, padahal semua itu datangnya dari Allah. Saat waktu berjalan terlalu cepat dan tidak cukup untuk menyelesaikan tugas yang ada, kita pun mengeluh, padahal sebenarnya kita yang tak pandai mengatur waktu. Saat sakit, kita juga mengeluh. Padahal kata Nabi saw, “Jika ia (si sakit) mengetahui apa yang ada di dalam sakit, maka ia akan lebih suka sakit hingga ia bertemu dengan Allah” (HR Ibnu Abu Dunya). Hal ini disebabkan adanya pengurangan dosa di balik sakitnya seseorang. Banyak lagi situasi yang membuat kita mengeluh. Kita sepertinya tidak pernah kehabisan alasan untuk mengeluh. Selalu ada saja hal untuk dikeluhkan dalam hidup.

Mengeluh itu tampaknya mudah untuk dilakukan, tapi sebenarnya ia menyusahkan. Ia menyusahkan diri sendiri dan menyusahkan orang lain yang mendengarnya, karena keluhan berisi perkataan negatif. Dengan mengeluh kita membuat fikiran dan hati kita terus menerus menerima cara pandang yang negatif. Hal itu akan membuat jiwa menjadi pesimis dan merasa susah. Siapa yang membuatnya menjadi susah begitu? Ya diri kita sendiri yang menjadi penyebabnya. Kalau tak mau susah macam itu, berhentilah mengeluh. Buang jauh-jauh kebiasaan mengeluh. Dalam hidup ini sudah terlalu banyak kesusahan, jangan ditambah lagi dengan keluhan-keluhan yang tidak perlu.

Tapi bagaimana caranya untuk menghentikan kebiasaan mengeluh? Tentu saja kita perlu membangun kebiasaan baru. Tidak mengeluh adalah sebuah bentuk kesabaran. Dan dalam proses untuk menjadi sabar (tidak mengeluh), kita pun memerlukan kesabaran dalam membentuk kebiasaan yang baru itu. Perhatikan kebiasaan lama kita. Sadari adanya kekurangan itu. Setelah itu, tahan diri kita setiap kali akan mengeluhkan sesuatu.

Saya ulang sekali lagi. Perhatikan kebiasaan mengeluh. Sadari dan akui hal itu. Tahan diri setiap kali hendak mengeluh. Istighfar dan cepat perbaiki jika terlanjur mengeluh. Lakukan secara terus menerus. Satu hari, dua hari, seminggu, sebulan, sehingga akhirnya kita terbiasa melakukannya.

Agar lebih mudah dalam menahan diri dari mengeluh, maka carilah berbagai alasan untuk tidak mengeluh. Sebagaimana kita selalu menemukan alasan untuk mengeluh, kini carilah seribu alasan untuk tidak mengeluh. Kalau makanan tak sedap, katakanlah pada diri sendiri bahwa masih bagus kita bisa makan. Berapa banyak orang yang tak bisa makan kerana kesusahan hidupnya? Kalau pelajaran di sekolah susah, katakanlah pada diri sendiri bhawa kesusahan itu adalah jalan menuju sukses. Kalau kena marah bos di office, maka katakanlah Alhamdulillah karena kita masih memiliki pekerjaan dan kerana bos masih memperhatikan kita.

Jangan mengeluh. Carilah seribu alasan untuk tidak mengeluh. Lakukan secara terus menerus sehingga ia menjadi kebiasaan. Kalau hal itu sudah benar-benar dilakukan dan kebiasaan mengeluh sudah hilang, maka insya Allah akan ada banyak perubahan yang positif dalam hidup.

Kalau anda masih punya kebiasaan mengeluh, jangan hanya membaca artikel ini dan mengangguk-angguk menyetujuinya. Amalkanlah hal ini, agar kita termasuk dalam orang yang sabar.

Alwi Alatas
Jakarta
3 Oktober 2013

Wednesday, October 2, 2013

Sabar itu tidak mengeluh

Sabar itu tidak mengeluhkan masalah. Ia gigih dalam mencari jalan keluar.

Sabar itu tidak mengeluhkan keadaan. Ia setia dalam melihat sisi cerah dari keadaan itu.

Sabar tidak memiliki waktu untuk mengeluh. Ia terlalu sibuk bergerak ke depan.

“Sabar dan berkeluh-kesah adalah dua hal yang bertentangan…. salah satunya dikalahkan oleh yang lain,” kata Ibn Qayyim al-Jauziyah

(Senyumlah, Apa pun masalahmu Ia pasti akan berlalu)

Thursday, September 26, 2013

Money Changer Kehidupan

“Coba lihat itu,” saya berkata pada istri yang duduk di sebelah. Kami ketika itu sedang menunggu dipanggilnya nomor giliran di sebuah money changer yang cukup besar. Saya menunjuk ke arah dua orang perempuan, yang satu berusia sekitar 40 tahun, dan satunya lagi yang tampaknya adalah ibunya berusia lebih dari 60 tahun. Keduanya sedang berdiri menukar uang di depan pegawai money changer.

“Ada apa?” istri saya belum faham.

“Ibu yang tua itu jalannya sudah tertatih-tatih sehingga perlu dituntun oleh anaknya,” saya menerangkan.

Istri saya memperhatikan kedua perempuan itu. Tak lama kemudian, keduanya berjalan menuju ke deretan kursi untuk menunggu panggilan berikutnya. Perempuan yang tua berjalan dengan dibimbing oleh perempuan yang lebih muda. Ia berjalan dengan susah payah. Kakinya sulit digerakkan, sehingga jalannya sangat lambat. Kaca mata perempuan tua itu juga sangat tebal, mungkin ia sudah tidak bisa melihat dengan jelas.

“Betul juga,” kata istri saya saat melihat keduanya berjalan.

“Perempuan ini sudah tua, tapi dia masih saja sibuk mengurusi dunia,” ujar saya lagi kepada istri. “Bukankah lebih baik kalau dia menyibukkan diri untuk akhiratnya, terutama pada umurnya sekarang ini?”

Namun perempuan itu tampaknya keturunan Cina dan mungkin bukan Muslim. Cara berpikirnya tentu berbeda dengan cara berpikir kami.

“Tapi pada sisi lain, mungkin ada baiknya dia tetap melakukan aktivitas seperti ini,” kata saya lagi kepada istri. “Bukankah orang tua yang tidak banyak aktivitas dan tidak banyak bergerak akan cepat menjadi pikun.”

“Itu pun benar juga,” kata istri saya. “Orang tua perlu tetap beraktivitas agar jiwa dan pikirannya tetap sehat.”

Saya kemudian bebisik kepada istri saya sambil tersenyum, “Kalau begitu, kalau Allah anugerahkan kita umur panjang, kita akan tetap beraktivitas walaupun sudah berusia tua. Kita akan pergi ke bank dan money changer. Kita terus jalankan bisnis dan berinvestasi. Tapi kita melakukan itu semua sambil berzikir … subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar ….”

Istri saya tersenyum membayangkan hal itu.

Tentu saja kami tak tahu apakah akan melakukan semua itu pada usia tua atau tidak. Macam pengusaha hebat saja. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah dalam setiap aktivitas yang dilakukan jangan sampai lupa pada Allah.

Tetap menjalankan urusan duniawi yang halal hingga ke usia tua tidak masalah, tapi jangan lupakan kematian yang semakin dekat. Niatkan aktivitas duniawi itu untuk kepentingan akhirat, dan selalu basahi lisan berzikir mengingat-Nya. Dengan begitu, mudah-mudahan akhir perbuatan dan ucapan kita adalah sesuatu yang dicintai oleh-Nya, bukan yang dibenci-Nya.

Kita juga harus selalu ingat bahwa saat kita meninggal dunia, kita akan memasuki sebuah negeri yang baru, yaitu negeri akhirat. Di sana kita memerlukan ‘mata uang’ yang berbeda dengan yang ada di dunia. Orang yang hendak pergi ke negeri lain, perlu datang ke money changer untuk menukar uangnya dengan mata uang yang bisa diterima di negeri yang akan didatanginya. Seorang yang akan pergi ke negeri akhirat (kita semua akan pergi ke sana) juga perlu menukar terlebih dahulu apa yang dimilikinya di dunia dengan hal-hal yang dapat diterima di negeri yang baru itu.

Negeri akhirat tidak mengenal dollar, ringgit, ataupun rupiah, yang dikenalnya adalah buah dari amal soleh dan sedekah yang ikhlas karena-Nya. Negeri itu tak mengenal berbagai harta benda yang kita miliki sekarang, yang dikenalnya hanyalah hasil dari ketulusan menyembah-Nya. Negeri itu tak mengenal wajah yang tampan, fisik yang kuat, maupun ramainya kawan-kawan yang hebat, yang dikenalnya hanyalah lisan yang jujur dan banyak berzikir, sifat kasih sayang dan tolong menolong karena-Nya, serta hati dan jiwa yang bersih.

Negeri akhirat itulah negeri kita yang sebenarnya, bukan negeri yang sekarang ini. Kita akan pergi dan menetap seterusnya di sana. Masalahnya, kita tidak tahu kapan ‘flight’ kita akan berangkat ke sana. Mungkin beberapa puluh tahun lagi, tapi mungkin juga esok pagi. Maka tukarkan ‘uang’ yang kita miliki di dunia ini sebanyak-banyaknya untuk menyiapkan diri menuju ke negeri akhirat. Pergilah ke ‘money changer’. Kalau kita menemukan ada orang yang memerlukan pertolongan, maka itulah money changer-nya. Kalau kita memiliki waktu luang untuk beribadah, maka itulah money changer-nya. Setiap tempat dan bumi yang kita ada di atasnya atau sedang kita lalui, maka itu pun bisa menjadi money changer. Pada semua money changer itu, kita tukar harta duniawi serta berbagai aktivitas kita dengan keridhaan-Nya. Nilai tukarnya tidak akan pernah jatuh, selama keikhlasan tetap terjaga. Dengan begitu, kelak kita akan memasuki negeri akhirat dengan ‘uang’ yang mencukupi insya Allah.

Akhirnya, jangan menunggu sampai menjadi tua seperti si perempuan tua untuk pergi ke ‘money changer’. Ia berjalan dengan susah payah dan mesti dibantu orang lain. Bersiaplah sekarang juga, ‘flight’ kita mungkin akan lepas landas sebentar lagi. Wallahu a’lam.

Syed Alwi Alatas
Jakarta, 26 September 2013

Tuesday, September 24, 2013

Sebesar apa rumah kita?

Beberapa hari lalu saya bertakziah ke tempat seorang yang baru saja meninggal dunia. Orang yang wafat ini merupakan seorang pengusaha yang berhasil dan termasuk orang kaya. “Jalan masuk ke rumahnya hanya cukup untuk satu mobil,” begitu saya diberitahu, “tapi rumahnya besar sekali.”

Ketika tiba di rumahnya, saya tidak begitu memperhatikan keadaan tempat itu, karena perhatian tertuju pada orang-orang lainnya yang hadir di sana. Beberapa waktu kemudian, jenazah dibawa dengan sebuah mobil pengantar jenazah menuju ke masjid untuk disalatkan dan kemudian dibawa ke kubur. Saya sendiri tidak ikut menyalatkan di masjid dan mengantarkan ke kuburan. Saya menunggu ibu saya yang ikut bertakziah keluar dari dalam rumah untuk kemudian pulang ke rumah.

Orang-orang sudah mulai pergi meninggalkan tempat itu dan suasana menjadi lebih sepi. Ketika itu, sambil menunggu ibu, saya memperhatikan halaman serta rumah yang besar itu. Untuk sebuah rumah pribadi, tempat itu memang sangat besar. Ia memiliki bangunan tempat meletakkan mobil yang terpisah dari bangunan rumah utama. Halaman dan kebunnya juga sangat luas.

“Besar sekali rumah ini,” saya bertanya-tanya ingin tahu, “berapakah luasnya?”

“Saya dengar luasnya 1 hektar,” kata abang yang ada di sebelah saya.

Dapatkah anda membayangkan sebuah rumah pribadi, di tengah kota besar seperti Jakarta, yang luas tanahnya 1 hektar? Tentu saja Allahyarham bukan satu-satunya orang kaya yang memiliki rumah dan halaman seluas itu. Ada orang-orang kaya lainnya yang memiliki rumah pribadi dengan tanah yang luas. Tapi jumlah mereka tentu terbatas, apalagi jika dibandingkan dengan kebanyakan orang yang rumahnya tidak sampai 100 atau 150 meter persegi. Masih banyak lagi yang tidak memiliki rumah sama sekali dan hanya mampu menyewa rumah.

Kalau pemilik rumah ini selalu bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat itu, tentu ia termasuk orang yang beruntung. Ia memiliki rumah yang besar, memiliki kekayaan yang lebih dari cukup, memiliki kendaraan dan bangunan khusus untuk meletakkan kenderaannya, memiliki bisnis yang hebat, serta memiliki banyak hal lainnya. Tentu tiada alasan untuk tidak bersyukur. Tapi kita yang rumahnya kecil pun, atau belum punya rumah, jangan sampai tak bersyukur. Karena nikmat yang sedikit pun perlu disyukuri. Sekecil apa pun nikmat, di dalamnya ada tuntutan untuk bersyukur. Dan bagi orang yang bersyukur, nikmatnya akan dilipatgandakan.

Jadi begitulah, orang itu memiliki rumah yang sangat besar. Namun kini ia sudah meninggal dunia. Jenazahnya dibawa meninggalkan rumah itu, menuju ke tempat yang lain. Kemana jenazah itu dibawa? Ya, ia dibawa ke ‘rumah’ yang baru. Luas rumah yang baru itu hanya sekitar dua meter persegi, tidak lebih. Rumah barunya itu sama saja dengan rumah kita semua pada akhirnya. Orang yang tidak punya rumah selama hidupnya pun pada akhirnya akan menempati ‘rumah’ yang luasnya kurang lebih sama dengan yang ditempati si kaya.



Rumah di akhir kehidupan itu bernama kuburan. Kita semua akan masuk ke dalamnya. Kekayaan kita di dunia tidak membuat kubur itu lebih besar dan nyaman. Kekayaan amal-lah yang akan menjadikannya terang dan aman.

Jangan hanya sibuk membeli dan mengurus rumah duniawi. Kerana pada akhirnya rumah itu akan jadi milik orang lain. Persiapkan diri untuk rumah yang terakhir. Agar kelak kita tak merasa kecewa yang berpanjangan.

Syed Alwi Alatas
Jakarta, 23 September 2013

Sunday, September 22, 2013

Akhirnya ... bukan awalnya

Belum lama ini saya berjumpa dengan seorang kawan lama, sebut sahaja namanya Adi. Ia mengajak saya pergi dengan mengendarai mobilnya ke beberapa tempat di Jakarta, sambil berbincang tentang banyak hal. Kemudian kami berhenti di sebuah tempat untuk makan nasi goreng rawit.

Saat makan, ia sempat bercerita tentang dialog seorang anak dengan ayahnya. Si anak mengeluh tentang keadaan yang dihadapinya, bahwa ia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ia merasa tak bisa menjadi orang yang sukses dengan keadaannya itu. Ia merasa iri dengan pemuda-pemuda lain yang berasal dari keluarga kaya dan memiliki banyak hal dan kemudahan untuk sukses dalam hidup.

Ayahnya kemudian menasihati anak ini dengan sebuah kalimat, "It doesn't matter where you start. It's matter where you end."

Ini adalah sebuah kisah dan pelajaran yang sangat berharga. Kata-kata nasihat itu singkat saja, tetapi sangat dalam. Apa yang dikatakannya sangat tepat. Tidak penting di mana kamu memulai. Yang penting di mana kamu berakhir. Ramai orang yang sudah membuktikan ini. Awalnya tidak menentukan akhirnya. Orang yang awal hidupnya susah, tidak mesti akhir hidupnya juga susah. Orang yang awal hidupnya bahagia, belum tentu akhirnya juga bahagia. Ada beberapa kisah dalam buku Kalau Bisa Mudah, Mengapa Dibuat Susah? yang membuktikan kebenaran ini.


Kawan saya menyebutkan kisah itu berkenaan dengan usaha manusia dalam kehidupan di dunia. Namun, tiba-tiba saya berpikir bahwa kata-kata itu juga sebenarnya berkenaan dengan kematian. Bahkan hubungannya dengan kematian lebih penting lagi. "It doesn't matter where you start. It's matter where you end." Tidak penting di mana kamu memulai. Kita mungkin memulai kehidupan ini di keluarga miskin atau kaya. Kita mungkin memulainya di keluarga Muslim atau bukan Muslim. Kita mungkin memulainya dalam keadaan sehat atau cacat. Kita mungkin memulainya dalam keadaan bahagia atau menderita. Kita tidak memiliki kuasa atas bagian awalnya. Kita menerima takdir itu sepenuhnya. Ia bukan untuk dikeluhkan. Mengapa begitu? Karena tidak penting di mana kita memulai. Yang penting adalah di mana kita berakhir. Dan awal hidup ini tidak menentukan akhirnya. Banyak yang awal hidupnya baik, tetapi akhir hidupnya buruk, sebagaimana banyak pula orang yang awal hidupnya buruk tetapi akhirnya baik.

Awal hidup manusia ada dua saja, boleh jadi ia baik, boleh jadi ia buruk. Tapi itu tak penting. Akhir hidup manusia juga hanya dua, boleh jadi ia husnul khatimah, boleh jadi su'ul khatimah. Dan ini yang paling penting, kerana hal ini yang menjadi hasil akhirnya.

Jadi yang paling penting adalah akhirnya. Kita bertanggung jawab atas akhirnya. Dan akhir kehidupan ini adalah kematian. It's really matter how we end our life. Sehebat apa pun bagian awal dan perjalanan hidup kita, tapi jika akhirnya buruk (su'ul khatimah), maka sia-sialah semuanya.

Apa yang sudah kita lakukan untuk menghadapi akhir yang sangat penting ini? Mudah-mudahan akhir hidup kita ditutup dengan ucapan syahadat dan karenanya kita mendapat husnul khatimah. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

Rasulullah saw. bersabda, “Sesiapa yang akhir perkataannya adalah lailahaillallah, pasti dia masuk syurga.” (Riwayat al-Hakim dengan sanad hasan)

Thursday, September 19, 2013

Life may end at forty


Habib Munzir al-Musawa meninggal dunia beberapa hari lepas dalam usia lebih kurang 40 tahun.

Beberapa bulan lepas, Ustadz Jefri al-Buckhori meninggal dunia, juga dalam usia 40 tahun.

Keduanya merupakan ustadz dan pendakwah terkenal di Indonesia. Semoga Allah merahmati keduanya.

Dahulu orang mengatakan "life begins at forty". Sekarang mungkin orang berkata, "life may end at forty."

Usia saya pun sudah dekat 40. Sementara amal sangat sedikit dan dosa-dosa terlalu banyak.

Ya Allah, janganlah Engkau matikan kami melainkan dalam keadaan yang Engkau ridhai.

Wafatkanlah kami dalam husnul khatimah.

Wednesday, September 18, 2013

Syair yang menyentuh tentang kematian

Jika Tuhanku bertanya padaku
Tidak malukah kau bermaksiat pada-Ku?

Kau sembunyikan dosamu dari makhluk-Ku
Dan datang pada-Ku dengan penuh dosa

Bagaimana aku nak jawab duhai diriku yang malang?
… dan siapalah yang dapat menyelamatkan aku?

Aku terus menyogok jiwaku dengan impian
Dan harapan dari semasa ke semasa

Dan aku melupakan apa yang bakal dihadapi selepas mati
Dan apa yang akan berlaku selepas aku dikafankan

Seolah-olah aku ini telah dijamin untuk hidup selamanya
Seakan mati tidak akan menemuiku

Dan telah datang padaku sakaratul yang ngeri
Nah! Siapa sekarang yang mampu melindungiku?

Aku melihat pada wajah-wajah …
Apakah ada daripada mereka yang akan menebusku?

Aku akan disoal apa yang telah aku lakukan
Di dunia untuk menyelamatkan diri ini?

Maka bagaimana akan kujawab
Setelah aku mengabaikan urusan agamaku?

Celakanya aku! Apakah aku tak mendengar
Ayat-ayat Allah yang menyeruku?

Adakah aku tak dengar apa yang telah diberitakan
Di dalam surah Qaaf dan Yaasin?

Apakah aku tak dengar tentang hari dikumpulkan manusia
Hari perhimpunan dan hari al-Deen (Qiyamah)?

Adakah aku tak dengar panggilan ajal maut,
Menyeru dan menjemputku?

Maka Ya Rabb! Seorang hamba datang bertaubat,
Siapa yang dapat melindunginya?

Melainkan Tuhan yang Maha Luas pengampunan-Nya
Yang membimbingku pada kebenaran?

Aku telah datang pada-Mu maka kasihanilah daku
Dan beratkan timbangan (kebaikan) ku

Dan ringankan (percepatkan) hisabku
Kerana Engkaulah yang terbaik dalam penghisaban

Saturday, August 31, 2013

Muda, Rajin Berolah Raga, dan ... Kematian

Orang yang masih muda dan suka berolah raga biasanya lebih sehat dan lebih kuat daripada orang yang sudah tua dan jarang berolah raga. Orang yang masih muda dan rajin berolah raga juga biasanya dianggap lebih jauh dari kematian daripada orang tua dan orang yang jarang berolah raga. Tapi itu bukan sebuah kepastian. Tiada yang dapat menjamin bahwa mereka tidak akan wafat lebih dulu daripada orang yang usianya lebih tua dan perilaku hidupnya tidak sehat.

Pada 27 Agustus 2013 lalu, seorang pemain sepak bola pada sebuah klub di Argentina, Hector Sanabria, tiba-tiba jatuh di tengah lapangan saat pertandingan sepak bola baru berjalan sekitar tiga puluh menit. Ia jatuh begitu saja tanpa ada kontak dengan pemain lain. Kemungkinan penyebabnya adalah serangan jantung. Dokter segera turun ke lapangan untuk menolongnya. Sanabria langsung dibawa ke rumah sakit. Namun, sebelum tiba di rumah sakit, ia sudah meninggal dunia (http://www.foxnews.com/sports/2013/08/27/27-year-old-hector-sanabria-dies-heart-attack-during-match-in-argentina-third/).

Umurnya baru 27 tahun. Ia wafat hanya satu hari sebelum ulang tahunnya yang ke-28. Hector Sanabria masih berusia muda dan tentu saja ia rajin berolah raga karena ia adalah seorang pemain sepak bola profesional. Namun ia wafat di usia mudanya itu ... dan saat sedang bertanding sepak bola.

Bukan hanya Hector Sanabria yang mengalami hal semacam ini. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada 5 Januari 2013, seorang remaja berusia 16 tahun bernama Philip Lamin, juga mengalami hal yang sama. Saat bermain sepak bola bersama kawan-kawannya di sebuah lapangan di sekolahnya di London, Lamin tiba-tiba terjatuh tanpa ada kontak dengan pemain lain. Ia segera dibawa ke rumah sakit, tapi nyawanya sudah tak tertolong lagi. Lamin wafat di rumah sakit beberapa jam kemudian (http://www.dailymail.co.uk/news/article-2274380/Boy-16-dies-collapsing-playing-football-friends-school.html).

Lamin digambarkan sebagai seorang dengan senyum yang khas dan suka membuat rekan-rekannya tertawa. ia juga disebut sebagai salah satu olah ragawan paling berbakat di sekolah itu. Tapi jika ajal sudah datang, maka kematian tak akan mundur ke belakang. Orang yang masih sangat belia, bahkan masih remaja, tak memberi jaminan masih panjangnya usia. Orang yang rajin menjaga kesehatan, dan sering melakukannya bersama rekan-rekan, belum tentu ia jauh dari kematian.

Tapi jangan menjadi malas berolah raga setelah membaca tulisan ini. Berolah-ragalah dan jagalah kesehatan, tapi sering-seringlah mengingat kematian.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,

1 September 2013