Kematian bukanlah akhir hidup manusia
Ia hanyalah pintu keluar dari dunia
Menuju kediaman berikutnya
Dunia ini menyibukkan dan membuat lupa
Sehingga banyak yang alpa
Untuk apa hidup itu sebenarnya
Tak kurang pula yang bersuka ria
Tak bersedia untuk hidup setelahnya
Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:
"Di balik kematian ada dua tempat kediaman
Kalau engkau terlepas dari tempat yang pertama
Engkau akan berakhir di tempat yang kedua"
Tiada tempat yang ketiga
Tiada pula yang boleh membeli dengan hartanya
Satu kediaman bernama Surga
Yang lainnya bernama Neraka
Ramai yang ingin Surga
Tapi berkelakuan ahli Neraka
Ramai inginkan surga dunia
Tapi mengundang Neraka tiada habisnya
Siapa yang kejar dunia untuk akhiratnya
Dia beruntung sepanjang masa
Jangan cintai dunia, cintai Pemiliknya
Karena Dia saja yang boleh memberi bahagia
Bahagia yang sebenarnya
Dia saja, tiada selain-Nya
Jakarta, 8 Nov 2013
Alwi Alatas
Showing posts with label kematian. Show all posts
Showing posts with label kematian. Show all posts
Thursday, November 7, 2013
Wednesday, November 6, 2013
Tak belajar dari kematian
Kubur dan kematian seharusnya dapat menjadi pengingat bagi kita untuk sadar dan menjauhi hal-hal yang negatif. Namun ada juga sebagian manusia yang tak peduli dengan kematian, walaupun mereka berada didekatnya.
Pada bulan September 2013 lalu, ada seorang bernama Soleh yang meninggal dunia. Sayang namanya tidak menggambarkan perilakunya. Ia wafat setelah pesta minum arak dan dikuburkan beberapa waktu kemudian. Beberapa saat sebelum Soleh dikuburkan, tujuh orang lainnya melakukan pesta minum arak pula di lokasi kuburan. Sebagian dari ketujuh orang itu bekerja sebagai penggali kubur. Selepas menguburkan jenazah Soleh, mereka kembali melanjutkan pesta minum arak di tempat yang sama. Malam itu juga, beberapa orang yang meminum arak tersebut masuk ke rumah sakit. Satu di antara mereka meninggal dunia selepasnya.
Mereka buat maksiat di tempat yang seharusnya mengingatkan mereka pada kematian. Kalau kematian sudah tak dapat menyadarkan dan menginsafkan, apa lagi yang hendak diharapkan?
Ya Allah, jauhkan kami daripada Su'ul Khatimah.
http://jogja.tribunnews.com/2013/09/18/tujuh-orang-pesta-miras-oplosan-di-kompleks-makam-lima-tewas
Pada bulan September 2013 lalu, ada seorang bernama Soleh yang meninggal dunia. Sayang namanya tidak menggambarkan perilakunya. Ia wafat setelah pesta minum arak dan dikuburkan beberapa waktu kemudian. Beberapa saat sebelum Soleh dikuburkan, tujuh orang lainnya melakukan pesta minum arak pula di lokasi kuburan. Sebagian dari ketujuh orang itu bekerja sebagai penggali kubur. Selepas menguburkan jenazah Soleh, mereka kembali melanjutkan pesta minum arak di tempat yang sama. Malam itu juga, beberapa orang yang meminum arak tersebut masuk ke rumah sakit. Satu di antara mereka meninggal dunia selepasnya.
Mereka buat maksiat di tempat yang seharusnya mengingatkan mereka pada kematian. Kalau kematian sudah tak dapat menyadarkan dan menginsafkan, apa lagi yang hendak diharapkan?
Ya Allah, jauhkan kami daripada Su'ul Khatimah.
http://jogja.tribunnews.com/2013/09/18/tujuh-orang-pesta-miras-oplosan-di-kompleks-makam-lima-tewas
Thursday, September 26, 2013
Money Changer Kehidupan
“Coba lihat itu,” saya berkata pada istri yang duduk di sebelah. Kami ketika itu sedang menunggu dipanggilnya nomor giliran di sebuah money changer yang cukup besar. Saya menunjuk ke arah dua orang perempuan, yang satu berusia sekitar 40 tahun, dan satunya lagi yang tampaknya adalah ibunya berusia lebih dari 60 tahun. Keduanya sedang berdiri menukar uang di depan pegawai money changer.
“Ada apa?” istri saya belum faham.
“Ibu yang tua itu jalannya sudah tertatih-tatih sehingga perlu dituntun oleh anaknya,” saya menerangkan.
Istri saya memperhatikan kedua perempuan itu. Tak lama kemudian, keduanya berjalan menuju ke deretan kursi untuk menunggu panggilan berikutnya. Perempuan yang tua berjalan dengan dibimbing oleh perempuan yang lebih muda. Ia berjalan dengan susah payah. Kakinya sulit digerakkan, sehingga jalannya sangat lambat. Kaca mata perempuan tua itu juga sangat tebal, mungkin ia sudah tidak bisa melihat dengan jelas.
“Betul juga,” kata istri saya saat melihat keduanya berjalan.
“Perempuan ini sudah tua, tapi dia masih saja sibuk mengurusi dunia,” ujar saya lagi kepada istri. “Bukankah lebih baik kalau dia menyibukkan diri untuk akhiratnya, terutama pada umurnya sekarang ini?”
Namun perempuan itu tampaknya keturunan Cina dan mungkin bukan Muslim. Cara berpikirnya tentu berbeda dengan cara berpikir kami.
“Tapi pada sisi lain, mungkin ada baiknya dia tetap melakukan aktivitas seperti ini,” kata saya lagi kepada istri. “Bukankah orang tua yang tidak banyak aktivitas dan tidak banyak bergerak akan cepat menjadi pikun.”
“Itu pun benar juga,” kata istri saya. “Orang tua perlu tetap beraktivitas agar jiwa dan pikirannya tetap sehat.”
Saya kemudian bebisik kepada istri saya sambil tersenyum, “Kalau begitu, kalau Allah anugerahkan kita umur panjang, kita akan tetap beraktivitas walaupun sudah berusia tua. Kita akan pergi ke bank dan money changer. Kita terus jalankan bisnis dan berinvestasi. Tapi kita melakukan itu semua sambil berzikir … subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar ….”
Istri saya tersenyum membayangkan hal itu.
Tentu saja kami tak tahu apakah akan melakukan semua itu pada usia tua atau tidak. Macam pengusaha hebat saja. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah dalam setiap aktivitas yang dilakukan jangan sampai lupa pada Allah.
Tetap menjalankan urusan duniawi yang halal hingga ke usia tua tidak masalah, tapi jangan lupakan kematian yang semakin dekat. Niatkan aktivitas duniawi itu untuk kepentingan akhirat, dan selalu basahi lisan berzikir mengingat-Nya. Dengan begitu, mudah-mudahan akhir perbuatan dan ucapan kita adalah sesuatu yang dicintai oleh-Nya, bukan yang dibenci-Nya.
Kita juga harus selalu ingat bahwa saat kita meninggal dunia, kita akan memasuki sebuah negeri yang baru, yaitu negeri akhirat. Di sana kita memerlukan ‘mata uang’ yang berbeda dengan yang ada di dunia. Orang yang hendak pergi ke negeri lain, perlu datang ke money changer untuk menukar uangnya dengan mata uang yang bisa diterima di negeri yang akan didatanginya. Seorang yang akan pergi ke negeri akhirat (kita semua akan pergi ke sana) juga perlu menukar terlebih dahulu apa yang dimilikinya di dunia dengan hal-hal yang dapat diterima di negeri yang baru itu.
Negeri akhirat tidak mengenal dollar, ringgit, ataupun rupiah, yang dikenalnya adalah buah dari amal soleh dan sedekah yang ikhlas karena-Nya. Negeri itu tak mengenal berbagai harta benda yang kita miliki sekarang, yang dikenalnya hanyalah hasil dari ketulusan menyembah-Nya. Negeri itu tak mengenal wajah yang tampan, fisik yang kuat, maupun ramainya kawan-kawan yang hebat, yang dikenalnya hanyalah lisan yang jujur dan banyak berzikir, sifat kasih sayang dan tolong menolong karena-Nya, serta hati dan jiwa yang bersih.
Negeri akhirat itulah negeri kita yang sebenarnya, bukan negeri yang sekarang ini. Kita akan pergi dan menetap seterusnya di sana. Masalahnya, kita tidak tahu kapan ‘flight’ kita akan berangkat ke sana. Mungkin beberapa puluh tahun lagi, tapi mungkin juga esok pagi. Maka tukarkan ‘uang’ yang kita miliki di dunia ini sebanyak-banyaknya untuk menyiapkan diri menuju ke negeri akhirat. Pergilah ke ‘money changer’. Kalau kita menemukan ada orang yang memerlukan pertolongan, maka itulah money changer-nya. Kalau kita memiliki waktu luang untuk beribadah, maka itulah money changer-nya. Setiap tempat dan bumi yang kita ada di atasnya atau sedang kita lalui, maka itu pun bisa menjadi money changer. Pada semua money changer itu, kita tukar harta duniawi serta berbagai aktivitas kita dengan keridhaan-Nya. Nilai tukarnya tidak akan pernah jatuh, selama keikhlasan tetap terjaga. Dengan begitu, kelak kita akan memasuki negeri akhirat dengan ‘uang’ yang mencukupi insya Allah.
Akhirnya, jangan menunggu sampai menjadi tua seperti si perempuan tua untuk pergi ke ‘money changer’. Ia berjalan dengan susah payah dan mesti dibantu orang lain. Bersiaplah sekarang juga, ‘flight’ kita mungkin akan lepas landas sebentar lagi. Wallahu a’lam.
Syed Alwi Alatas
Jakarta, 26 September 2013
“Ada apa?” istri saya belum faham.
“Ibu yang tua itu jalannya sudah tertatih-tatih sehingga perlu dituntun oleh anaknya,” saya menerangkan.
Istri saya memperhatikan kedua perempuan itu. Tak lama kemudian, keduanya berjalan menuju ke deretan kursi untuk menunggu panggilan berikutnya. Perempuan yang tua berjalan dengan dibimbing oleh perempuan yang lebih muda. Ia berjalan dengan susah payah. Kakinya sulit digerakkan, sehingga jalannya sangat lambat. Kaca mata perempuan tua itu juga sangat tebal, mungkin ia sudah tidak bisa melihat dengan jelas.
“Betul juga,” kata istri saya saat melihat keduanya berjalan.
“Perempuan ini sudah tua, tapi dia masih saja sibuk mengurusi dunia,” ujar saya lagi kepada istri. “Bukankah lebih baik kalau dia menyibukkan diri untuk akhiratnya, terutama pada umurnya sekarang ini?”
Namun perempuan itu tampaknya keturunan Cina dan mungkin bukan Muslim. Cara berpikirnya tentu berbeda dengan cara berpikir kami.
“Tapi pada sisi lain, mungkin ada baiknya dia tetap melakukan aktivitas seperti ini,” kata saya lagi kepada istri. “Bukankah orang tua yang tidak banyak aktivitas dan tidak banyak bergerak akan cepat menjadi pikun.”
“Itu pun benar juga,” kata istri saya. “Orang tua perlu tetap beraktivitas agar jiwa dan pikirannya tetap sehat.”
Saya kemudian bebisik kepada istri saya sambil tersenyum, “Kalau begitu, kalau Allah anugerahkan kita umur panjang, kita akan tetap beraktivitas walaupun sudah berusia tua. Kita akan pergi ke bank dan money changer. Kita terus jalankan bisnis dan berinvestasi. Tapi kita melakukan itu semua sambil berzikir … subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar ….”
Istri saya tersenyum membayangkan hal itu.
Tentu saja kami tak tahu apakah akan melakukan semua itu pada usia tua atau tidak. Macam pengusaha hebat saja. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah dalam setiap aktivitas yang dilakukan jangan sampai lupa pada Allah.
Tetap menjalankan urusan duniawi yang halal hingga ke usia tua tidak masalah, tapi jangan lupakan kematian yang semakin dekat. Niatkan aktivitas duniawi itu untuk kepentingan akhirat, dan selalu basahi lisan berzikir mengingat-Nya. Dengan begitu, mudah-mudahan akhir perbuatan dan ucapan kita adalah sesuatu yang dicintai oleh-Nya, bukan yang dibenci-Nya.
Kita juga harus selalu ingat bahwa saat kita meninggal dunia, kita akan memasuki sebuah negeri yang baru, yaitu negeri akhirat. Di sana kita memerlukan ‘mata uang’ yang berbeda dengan yang ada di dunia. Orang yang hendak pergi ke negeri lain, perlu datang ke money changer untuk menukar uangnya dengan mata uang yang bisa diterima di negeri yang akan didatanginya. Seorang yang akan pergi ke negeri akhirat (kita semua akan pergi ke sana) juga perlu menukar terlebih dahulu apa yang dimilikinya di dunia dengan hal-hal yang dapat diterima di negeri yang baru itu.
Negeri akhirat tidak mengenal dollar, ringgit, ataupun rupiah, yang dikenalnya adalah buah dari amal soleh dan sedekah yang ikhlas karena-Nya. Negeri itu tak mengenal berbagai harta benda yang kita miliki sekarang, yang dikenalnya hanyalah hasil dari ketulusan menyembah-Nya. Negeri itu tak mengenal wajah yang tampan, fisik yang kuat, maupun ramainya kawan-kawan yang hebat, yang dikenalnya hanyalah lisan yang jujur dan banyak berzikir, sifat kasih sayang dan tolong menolong karena-Nya, serta hati dan jiwa yang bersih.
Negeri akhirat itulah negeri kita yang sebenarnya, bukan negeri yang sekarang ini. Kita akan pergi dan menetap seterusnya di sana. Masalahnya, kita tidak tahu kapan ‘flight’ kita akan berangkat ke sana. Mungkin beberapa puluh tahun lagi, tapi mungkin juga esok pagi. Maka tukarkan ‘uang’ yang kita miliki di dunia ini sebanyak-banyaknya untuk menyiapkan diri menuju ke negeri akhirat. Pergilah ke ‘money changer’. Kalau kita menemukan ada orang yang memerlukan pertolongan, maka itulah money changer-nya. Kalau kita memiliki waktu luang untuk beribadah, maka itulah money changer-nya. Setiap tempat dan bumi yang kita ada di atasnya atau sedang kita lalui, maka itu pun bisa menjadi money changer. Pada semua money changer itu, kita tukar harta duniawi serta berbagai aktivitas kita dengan keridhaan-Nya. Nilai tukarnya tidak akan pernah jatuh, selama keikhlasan tetap terjaga. Dengan begitu, kelak kita akan memasuki negeri akhirat dengan ‘uang’ yang mencukupi insya Allah.
Akhirnya, jangan menunggu sampai menjadi tua seperti si perempuan tua untuk pergi ke ‘money changer’. Ia berjalan dengan susah payah dan mesti dibantu orang lain. Bersiaplah sekarang juga, ‘flight’ kita mungkin akan lepas landas sebentar lagi. Wallahu a’lam.
Syed Alwi Alatas
Jakarta, 26 September 2013
Thursday, September 19, 2013
Life may end at forty
Habib Munzir al-Musawa meninggal dunia beberapa hari lepas dalam usia lebih kurang 40 tahun.
Beberapa bulan lepas, Ustadz Jefri al-Buckhori meninggal dunia, juga dalam usia 40 tahun.
Keduanya merupakan ustadz dan pendakwah terkenal di Indonesia. Semoga Allah merahmati keduanya.
Dahulu orang mengatakan "life begins at forty". Sekarang mungkin orang berkata, "life may end at forty."
Usia saya pun sudah dekat 40. Sementara amal sangat sedikit dan dosa-dosa terlalu banyak.
Ya Allah, janganlah Engkau matikan kami melainkan dalam keadaan yang Engkau ridhai.
Wafatkanlah kami dalam husnul khatimah.
Wednesday, September 18, 2013
Syair yang menyentuh tentang kematian
Jika Tuhanku bertanya padaku
Tidak malukah kau bermaksiat pada-Ku?
Kau sembunyikan dosamu dari makhluk-Ku
Dan datang pada-Ku dengan penuh dosa
Bagaimana aku nak jawab duhai diriku yang malang?
… dan siapalah yang dapat menyelamatkan aku?
Aku terus menyogok jiwaku dengan impian
Dan harapan dari semasa ke semasa
Dan aku melupakan apa yang bakal dihadapi selepas mati
Dan apa yang akan berlaku selepas aku dikafankan
Seolah-olah aku ini telah dijamin untuk hidup selamanya
Seakan mati tidak akan menemuiku
Dan telah datang padaku sakaratul yang ngeri
Nah! Siapa sekarang yang mampu melindungiku?
Aku melihat pada wajah-wajah …
Apakah ada daripada mereka yang akan menebusku?
Aku akan disoal apa yang telah aku lakukan
Di dunia untuk menyelamatkan diri ini?
Maka bagaimana akan kujawab
Setelah aku mengabaikan urusan agamaku?
Celakanya aku! Apakah aku tak mendengar
Ayat-ayat Allah yang menyeruku?
Adakah aku tak dengar apa yang telah diberitakan
Di dalam surah Qaaf dan Yaasin?
Apakah aku tak dengar tentang hari dikumpulkan manusia
Hari perhimpunan dan hari al-Deen (Qiyamah)?
Adakah aku tak dengar panggilan ajal maut,
Menyeru dan menjemputku?
Maka Ya Rabb! Seorang hamba datang bertaubat,
Siapa yang dapat melindunginya?
Melainkan Tuhan yang Maha Luas pengampunan-Nya
Yang membimbingku pada kebenaran?
Aku telah datang pada-Mu maka kasihanilah daku
Dan beratkan timbangan (kebaikan) ku
Dan ringankan (percepatkan) hisabku
Kerana Engkaulah yang terbaik dalam penghisaban
Tidak malukah kau bermaksiat pada-Ku?
Kau sembunyikan dosamu dari makhluk-Ku
Dan datang pada-Ku dengan penuh dosa
Bagaimana aku nak jawab duhai diriku yang malang?
… dan siapalah yang dapat menyelamatkan aku?
Aku terus menyogok jiwaku dengan impian
Dan harapan dari semasa ke semasa
Dan aku melupakan apa yang bakal dihadapi selepas mati
Dan apa yang akan berlaku selepas aku dikafankan
Seolah-olah aku ini telah dijamin untuk hidup selamanya
Seakan mati tidak akan menemuiku
Dan telah datang padaku sakaratul yang ngeri
Nah! Siapa sekarang yang mampu melindungiku?
Aku melihat pada wajah-wajah …
Apakah ada daripada mereka yang akan menebusku?
Aku akan disoal apa yang telah aku lakukan
Di dunia untuk menyelamatkan diri ini?
Maka bagaimana akan kujawab
Setelah aku mengabaikan urusan agamaku?
Celakanya aku! Apakah aku tak mendengar
Ayat-ayat Allah yang menyeruku?
Adakah aku tak dengar apa yang telah diberitakan
Di dalam surah Qaaf dan Yaasin?
Apakah aku tak dengar tentang hari dikumpulkan manusia
Hari perhimpunan dan hari al-Deen (Qiyamah)?
Adakah aku tak dengar panggilan ajal maut,
Menyeru dan menjemputku?
Maka Ya Rabb! Seorang hamba datang bertaubat,
Siapa yang dapat melindunginya?
Melainkan Tuhan yang Maha Luas pengampunan-Nya
Yang membimbingku pada kebenaran?
Aku telah datang pada-Mu maka kasihanilah daku
Dan beratkan timbangan (kebaikan) ku
Dan ringankan (percepatkan) hisabku
Kerana Engkaulah yang terbaik dalam penghisaban
Wednesday, August 21, 2013
Bangkit dari Kematian
Dalam akhbar The Sun semalam, Selasa 20 Ogos 2013, terdapat berita tentang seorang wanita Australia yang secara klinikal dinyatakan meninggal dunia, Namun tidak sampai satu jam kemudian wanita itu hidup semula, bangkit dari kematian. Wanita bernama Vanessa Tanasio yang berumur 41 tahun itu mengalami serangan jantung dan segera dibawa ke sebuah hospital di Melbourne. Arteri utamanya telah tersekat.
Tak lama selepas ketibaannya di hospital, ia dinyatakan meninggal dunia. Walaupun begitu, dokter tetap berusaha untuk membuka sekatan pada arterinya, sementara sebuah alat lainnya digunakan untuk memastikan bekalan darah ke otaknya.
Lebih kurang 42 menit kemudian, jantung wanita itu kembali berdenyut ke rentak normal. Ia hidup semula. Dokter yang menolongnya pun merasa hal itu sebagai sebuah keajaiban. “Indeed this is a miracle, “ kata dokter kardiologi Wally Ahmar, “I did not expect her to be so well.”
Pengalaman mati kemudian hidup semula cukup banyak terjadi, kadang disertai pengalaman menyaksikan apa-apa yang dilakukan orang-orang yang masih hidup di sekitarnya. Sebetulnya, orang itu memang belum ditakdirkan untuk meninggal dunia. Ia masih memiliki umur untuk hidup di dunia, walaupun melewati sebuah pengalaman semacam kematian untuk waktu tertentu. Ianya menjadi satu pelajaran bagi kita semua tentang hakikat kematian dan kebangkitan kembali.
Orang yang meninggal dunia pun bukannya berakhir kehidupannya secara mutlak. Ia hanya berpindah dari kehidupan di dunia ini kepada kehidupan yang berikutnya. Kerananya kita mesti sediakan bekal yang cukup untuk menghadapi kehidupan selepas ini.
Setiap insan pada akhirnya akan mati, mungkin di usia tua ataupun di usia muda. Bersedia atau tidak, Kita bakal mati juga. Tak semua orang mendapat kesempatan kedua, bangkit semula daripada kematian, seperti yang dialami wanita pada kisah di atas. Kebanyakan orang yang meninggal dunia tak pernah bangkit semula. Mereka mati seterusnya dan tak pernah kembali lagi.
Jika saat itu datang, adakah kita bersedia menghadapinya?
Kuala Lumpur, 21 Ogos 2013
Syed Alwi alatas
Tak lama selepas ketibaannya di hospital, ia dinyatakan meninggal dunia. Walaupun begitu, dokter tetap berusaha untuk membuka sekatan pada arterinya, sementara sebuah alat lainnya digunakan untuk memastikan bekalan darah ke otaknya.
Lebih kurang 42 menit kemudian, jantung wanita itu kembali berdenyut ke rentak normal. Ia hidup semula. Dokter yang menolongnya pun merasa hal itu sebagai sebuah keajaiban. “Indeed this is a miracle, “ kata dokter kardiologi Wally Ahmar, “I did not expect her to be so well.”
Pengalaman mati kemudian hidup semula cukup banyak terjadi, kadang disertai pengalaman menyaksikan apa-apa yang dilakukan orang-orang yang masih hidup di sekitarnya. Sebetulnya, orang itu memang belum ditakdirkan untuk meninggal dunia. Ia masih memiliki umur untuk hidup di dunia, walaupun melewati sebuah pengalaman semacam kematian untuk waktu tertentu. Ianya menjadi satu pelajaran bagi kita semua tentang hakikat kematian dan kebangkitan kembali.
Orang yang meninggal dunia pun bukannya berakhir kehidupannya secara mutlak. Ia hanya berpindah dari kehidupan di dunia ini kepada kehidupan yang berikutnya. Kerananya kita mesti sediakan bekal yang cukup untuk menghadapi kehidupan selepas ini.
Setiap insan pada akhirnya akan mati, mungkin di usia tua ataupun di usia muda. Bersedia atau tidak, Kita bakal mati juga. Tak semua orang mendapat kesempatan kedua, bangkit semula daripada kematian, seperti yang dialami wanita pada kisah di atas. Kebanyakan orang yang meninggal dunia tak pernah bangkit semula. Mereka mati seterusnya dan tak pernah kembali lagi.
Jika saat itu datang, adakah kita bersedia menghadapinya?
Kuala Lumpur, 21 Ogos 2013
Syed Alwi alatas
Subscribe to:
Posts (Atom)


