Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts
Thursday, September 19, 2013
Life may end at forty
Habib Munzir al-Musawa meninggal dunia beberapa hari lepas dalam usia lebih kurang 40 tahun.
Beberapa bulan lepas, Ustadz Jefri al-Buckhori meninggal dunia, juga dalam usia 40 tahun.
Keduanya merupakan ustadz dan pendakwah terkenal di Indonesia. Semoga Allah merahmati keduanya.
Dahulu orang mengatakan "life begins at forty". Sekarang mungkin orang berkata, "life may end at forty."
Usia saya pun sudah dekat 40. Sementara amal sangat sedikit dan dosa-dosa terlalu banyak.
Ya Allah, janganlah Engkau matikan kami melainkan dalam keadaan yang Engkau ridhai.
Wafatkanlah kami dalam husnul khatimah.
Monday, December 14, 2009
Perawat Menjadi Raja

Perawat Menjadi Raja
RABU, 21 OKTOBER 2009
KASESE, DETIKPOS.net - Kisah rakyat jelata yang kemudian menjelma menjadi raja bukan dongeng semata. Kisah itu nyata pada Charles Wesley Mumbere (56) yang semula bekerja sebagai seorang perawat pembantu di Maryland dan Pennsylvania, Amerika Serikat. Dia dinobatkan sebagai raja.
Senin (19/10), setelah bertahun-tahun menempuh perjuangan politik dan keuangan, Mumbere akhirnya dinobatkan sebagai raja bagi rakyatnya.
Ribuan warga berjalan kaki beberapa kilometer untuk dapat melihat penobatan Mumbere, yang mengenakan kain menyerupai sarung berwarna hijau dan topi berwarna-warni.
Dalam sebuah rapat umum pada hari yang sama, Presiden Uganda Yoweri Museveni secara resmi mengakui Kerajaan Rwenzururu yang berpopulasi 300.000 jiwa itu. Museveni mengembalikan keberadaan kerajaan tradisional di Uganda yang dihapuskan pendahulunya pada 1967. Akan tetapi, Museveni tetap membatasi wewenang para raja hanya pada tugas-tugas kebudayaan dan tidak boleh ikut campur dalam urusan politik.
”Ini sebuah peristiwa besar. Kita bisa mengetahui bahwa pada akhirnya pemerintah pusat memahami tuntutan rakyat Bakonzo yang telah berupaya keras mendapatkan pengakuan atas identitasnya,” ungkap Mumbere di sebuah bangunan berlantai satu dan berwarna putih, yang difungsikan sebagai sebuah istana, di Kasese.
Parlemen Rwenzururu berada di dekat ”istana”, di sebuah bangunan berukuran lebih besar dan terbuat dari alang-alang. Di ”gedung” parlemen itulah ritual tradisional diselenggarakan pada Senin malam waktu setempat untuk pemberian mahkota kepada Raja.
”Semua orang sangat gembira karena Presiden bersedia datang kemari dan secara resmi mengakui Kerajaan Rwenzururu,” kata Masereka Tadai (43), warga yang mengawasi latihan untuk berpawai sambil menampilkan tari- tarian.
Belajar di AS
Saat remaja, Mumbere memimpin sebuah kekuatan pemberontak, kemudian menjadi seorang murid miskin di AS, hingga kemudian menerima pekerjaan sebagai pembantu perawat di AS, di mana dia tinggal selama hampir 25 tahun.
Asal muasal Mumbere yang merupakan putra mahkota baru disebarluaskan di Pennsylvania pada Juli lalu. Saat itu dia memberikan sebuah wawancara kepada The Patriot-News of Harrisburg saat bersiap kembali ke Uganda.
Dia menjadi putra mahkota ketika ayahnya, Isaya Mukirania Kibanzanga, tewas saat memimpin sebuah kelompok perlawanan di Pegunungan Rwenzori atau lebih dikenal dengan sebutan Pegunungan Bulan. Mereka memprotes penindasan terhadap kelompok etnis Bakonzo oleh Kerajaan Toro yang kemudian menguasai mereka. Warga Bakonzo menuntut agar diakui sebagai sebuah entitas terpisah dan bernama Kibanzanga, yang diambil dari nama seorang mantan guru sekolah dasar yang kemudian menjadi raja mereka pada tahun 1963.
Segera setelah tewasnya Kibanzanga, anak lelakinya memimpin para pejuang turun dari gunung untuk menyerahkan senjata. Mumbere pun kemudian pergi ke AS pada 1984 dengan beasiswa Pemerintah Uganda. Dia kuliah di sebuah sekolah bisnis hingga kepemimpinan Uganda berganti dan beasiswa dihentikan.
The Patriot-News of Harrisburg pada artikel mengenai kisah Mumbere, Juli 2009, menguraikan, Mumbere mendapat suaka politik pada 1987. Dia kemudian berlatih sebagai perawat pembantu dan bekerja di sebuah rumah jompo di pinggiran Washington untuk hidupnya.
Ketika Pemerintah Uganda memutuskan menghidupkan kembali kerajaan-kerajaan tradisional, Mumbere pun giat melobi agar Kerajaan Rwenzururu diakui. Setelah 10 tahun berunding, Presiden Museveni pada Agustus lalu mengumumkan akan mengakui Kerajaan Rwenzururu sebagai satu dari tujuh kerajaan di Uganda. (kompas)
Detik Pos Indonesia
http://www.detikpos.net/2009/10/perawat-menjadi-raja.html#
Wednesday, October 28, 2009
Rem Putus Saat Kecepatan Tinggi
Rem putus saat kecepatan tinggi
Alwi Alatas
Kita belum betul-betul memahami resiko sebuah bahaya sampai kita berhadapan sendiri dengan maut
Saya teringat ada seorang ustadz di Yogyakarta yang sangat perhatian terhadap kendaraan rekan-rekannya yang aktif berdakwah, terutama terhadap mereka yang mengendarai motor. Setiap kali ia melihat ban motor rekannya sudah tipis atau gundul, atau ada kekurangan lainnya pada sepeda motor tersebut, ia akan menasehatinya. “Kamu ini da’i, kamu juga punya anak istri. Jangan anggap remeh ban yang sudah gundul ini. Kalau sampai terjadi kecelakaan, keluarga kamu akan kehilangan, umat juga akan kehilangan.
”Ini merupakan sebuah kebenaran yang sering kita abaikan. Kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Banyak yang akan merasa kehilangan kalau kita sampai mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Seperti banyak orang lainnya, saya dulunya juga sering meremehkan perkara-perkara yang kelihatannya kecil. Pernah rem tangan sepeda motor saya tak berfungsi. Saya tak segera memperbaikinya. Sibuk, begitu alasan yang membuat saya menunda pergi ke bengkel. Hari demi hari berlalu dan rem itu saya biarkan tak berfungsi. Toh masih ada rem kaki, demikian pikir saya.
Lalu pada suatu pagi, saya mengendarai sepeda motor dari daerah Gombak menuju ke tempat mengajar di wilayah Ampang, Kuala Lumpur. Motor saya arahkan melewati jalan besar yang biasa disebut MRR2. Jam menunjukkan waktu antara pukul 9-10 pagi, waktu yang sangat sibuk. Jalan penuh dengan mobil-mobil yang meluncur cepat ke tempat tujuan masing-masing.
Saya memacu motor dengan kecepatan yang cukup tinggi supaya bisa sampai di tempat mengajar tepat waktu.Jalur MRR2 merupakan sebuah jalur utama lalu lintas yang tidak dihalangi oleh lampu lalu lintas, kecuali ketika kendaraan bergerak keluar untuk memasuki jalur lain. Jalan turun melalui under pass atau naik lewat way over setiap kali bertemu dengan jalur yang melintanginya. Jalan yang besar-besar dan jarang dihalangi oleh kemacetan membuat mobil-mobil dan motor di Kuala Lumpur kebanyakan melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Motor bergerak cepat seolah berpacu dengan mobil-mobil di sekitarnya. Menjelang Zoo Negara (kebun binatang), jalan naik ke atas. Motor saya menanjak ke atas dan siap meluncur turun kembali. Saya tekan rem kaki untuk mengurangi kecepatan. Kecepatan tidak berubah, justru bertambah karena jalan yang mulai menurun. Saya kembali menginjak rem, tapi tak ada perubahan. Saya injak rem berkali-kali dengan perasaan takut.
Jantung saya seolah melompat keluar dari rongga dada. Rem kaki saya tiba-tiba putus dan tidak berfungsi.Motor meluncur semakin cepat di samping mobil-mobil yang juga melaju kencang. Jalan memanjang dan menurun di depan sana, motor bergerak semakin laju, dan tidak ada rem sama sekali. Entah apa yang akan terjadi berikutnya. Rasanya maut mengintai dari jarak yang dekat sekali.
Saya teringat istri dan anak-anak saya. Saya teringat murid-murid saya, orang-orang yang mengikuti pengajian saya.Saya tidak hidup sendirian. Bagaimana dengan orang-orang yang saya cintai kalau maut betul-betul menjemput?
Motor meluncur turun dengan kecepatan yang terus bertambah. Jalan menurun yang panjang. Tidak ada yang bisa menghentikan motor itu, kecuali setelah ia mencapai jalan mendatar jauh di depan sana ... atau ada sebuah mobil yang akan membenturnya dan membuatnya jatuh dengan keras.
Saya menurunkan kaki dan menekan sepatu saya ke aspal sebisa saya. Usaha itu nyaris sia-sia. Motor tetap melaju kencang. Rasanya tidak ada lagi yang bisa saya lakukan selain pasrah. Kengerian menyelimuti perasaan. Lisan saya mengucapkan berbagai doa yang terlintas di dalam kepala.
Tak jauh di depan ada jalan masuk menuju Zoo Negara. Namun jalur menurun yang saya lalui bertemu dengan jalur kendaraan masuk dari sebelah kiri. Sewaktu-waktu motor saya bisa dihantam dengan keras oleh mobil-mobil yang melaju dari bagian kiri jalan. Saya sama sekali tidak bisa menahan kecepatan motor saya jika tiba-tiba ada kendaraan lain yang tidak mau mengalah di samping saya. Saya cuma bisa berdoa supaya bisa selamat dalam menepikan motor ke pinggir jalan. Untungnya tidak ada mobil yang menyalip dari sebelah kiri.
Motor berhasil diarahkan ke Zoo Negara. Tapi jalan di situ ternyata juga menurun. Saya kembali menekan sepatu ke aspal sambil tak henti berdoa. Perlahan-lahan, motor mulai berhenti. Setelah beberapa saat, kendaraan roda dua itu akhirnya berhenti sama sekali. Saya segera memarkir kendaraan itu dan turun.
Saya duduk di pinggir jalan dan diam untuk beberapa saat. Jantung saya masih berdebar kencang Pengalaman itu seolah melumpuhkan seluruh syaraf saya. Selama beberapa saat lamanya, seluruh kehidupan saya seperti tersedot ke dalam pengalaman menakutkan yang baru saja saya alami.
Setelah perasaan mencekam itu mulai hilang, saya mengeluarkan handphone untuk menelpon atau meng-sms teman. Tapi ternyata pulsa saya habis. Saya juga tidak membawa cukup uang untuk mengendarai taksi. Seorang bapak yang mengamati apa yang terjadi pada saya sebelumnya berjalan mendekat dan menanyakan keadaan saya. Saya menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada bapak itu. Ketika ia menawarkan bantuan, saya menanyakan apakah boleh meminjam handphone-nya untuk mengirim sms. Ia mengangguk dan mengeluarkan handphone.
Saya mengirim sms kepada seseorang di tempat saya mengajar, menanyakan apakah saya boleh meminjam uang setibanya di sekolah nanti. Saya mendapat jawaban positif, lalu segera mencari taksi dan menuju ke sekolah.
Saya bersyukur, tidak terjadi sesuatu pada saya dan motor saya. Sejak saat itu saya tidak pernah menunda-nunda lagi jika ada bagian motor yang perlu diperbaiki. Saya tidak hidup sendirian. Ada orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab saya. Ada orang-orang yang mengikuti pengajian saya.
Merawat dan memperhatikan kondisi kendaraan merupakan hal yang sangat penting dan tidak boleh diremehkan. Ia bagian dari tanggung jawab sebagai seorang Muslim.
KL, 15 Agustus 2009
Sebagaimana dituturkan oleh seorang ustadz
Alwi Alatas
Kita belum betul-betul memahami resiko sebuah bahaya sampai kita berhadapan sendiri dengan maut
Saya teringat ada seorang ustadz di Yogyakarta yang sangat perhatian terhadap kendaraan rekan-rekannya yang aktif berdakwah, terutama terhadap mereka yang mengendarai motor. Setiap kali ia melihat ban motor rekannya sudah tipis atau gundul, atau ada kekurangan lainnya pada sepeda motor tersebut, ia akan menasehatinya. “Kamu ini da’i, kamu juga punya anak istri. Jangan anggap remeh ban yang sudah gundul ini. Kalau sampai terjadi kecelakaan, keluarga kamu akan kehilangan, umat juga akan kehilangan.
”Ini merupakan sebuah kebenaran yang sering kita abaikan. Kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Banyak yang akan merasa kehilangan kalau kita sampai mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Seperti banyak orang lainnya, saya dulunya juga sering meremehkan perkara-perkara yang kelihatannya kecil. Pernah rem tangan sepeda motor saya tak berfungsi. Saya tak segera memperbaikinya. Sibuk, begitu alasan yang membuat saya menunda pergi ke bengkel. Hari demi hari berlalu dan rem itu saya biarkan tak berfungsi. Toh masih ada rem kaki, demikian pikir saya.
Lalu pada suatu pagi, saya mengendarai sepeda motor dari daerah Gombak menuju ke tempat mengajar di wilayah Ampang, Kuala Lumpur. Motor saya arahkan melewati jalan besar yang biasa disebut MRR2. Jam menunjukkan waktu antara pukul 9-10 pagi, waktu yang sangat sibuk. Jalan penuh dengan mobil-mobil yang meluncur cepat ke tempat tujuan masing-masing.
Saya memacu motor dengan kecepatan yang cukup tinggi supaya bisa sampai di tempat mengajar tepat waktu.Jalur MRR2 merupakan sebuah jalur utama lalu lintas yang tidak dihalangi oleh lampu lalu lintas, kecuali ketika kendaraan bergerak keluar untuk memasuki jalur lain. Jalan turun melalui under pass atau naik lewat way over setiap kali bertemu dengan jalur yang melintanginya. Jalan yang besar-besar dan jarang dihalangi oleh kemacetan membuat mobil-mobil dan motor di Kuala Lumpur kebanyakan melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Motor bergerak cepat seolah berpacu dengan mobil-mobil di sekitarnya. Menjelang Zoo Negara (kebun binatang), jalan naik ke atas. Motor saya menanjak ke atas dan siap meluncur turun kembali. Saya tekan rem kaki untuk mengurangi kecepatan. Kecepatan tidak berubah, justru bertambah karena jalan yang mulai menurun. Saya kembali menginjak rem, tapi tak ada perubahan. Saya injak rem berkali-kali dengan perasaan takut.
Jantung saya seolah melompat keluar dari rongga dada. Rem kaki saya tiba-tiba putus dan tidak berfungsi.Motor meluncur semakin cepat di samping mobil-mobil yang juga melaju kencang. Jalan memanjang dan menurun di depan sana, motor bergerak semakin laju, dan tidak ada rem sama sekali. Entah apa yang akan terjadi berikutnya. Rasanya maut mengintai dari jarak yang dekat sekali.
Saya teringat istri dan anak-anak saya. Saya teringat murid-murid saya, orang-orang yang mengikuti pengajian saya.Saya tidak hidup sendirian. Bagaimana dengan orang-orang yang saya cintai kalau maut betul-betul menjemput?
Motor meluncur turun dengan kecepatan yang terus bertambah. Jalan menurun yang panjang. Tidak ada yang bisa menghentikan motor itu, kecuali setelah ia mencapai jalan mendatar jauh di depan sana ... atau ada sebuah mobil yang akan membenturnya dan membuatnya jatuh dengan keras.
Saya menurunkan kaki dan menekan sepatu saya ke aspal sebisa saya. Usaha itu nyaris sia-sia. Motor tetap melaju kencang. Rasanya tidak ada lagi yang bisa saya lakukan selain pasrah. Kengerian menyelimuti perasaan. Lisan saya mengucapkan berbagai doa yang terlintas di dalam kepala.
Tak jauh di depan ada jalan masuk menuju Zoo Negara. Namun jalur menurun yang saya lalui bertemu dengan jalur kendaraan masuk dari sebelah kiri. Sewaktu-waktu motor saya bisa dihantam dengan keras oleh mobil-mobil yang melaju dari bagian kiri jalan. Saya sama sekali tidak bisa menahan kecepatan motor saya jika tiba-tiba ada kendaraan lain yang tidak mau mengalah di samping saya. Saya cuma bisa berdoa supaya bisa selamat dalam menepikan motor ke pinggir jalan. Untungnya tidak ada mobil yang menyalip dari sebelah kiri.
Motor berhasil diarahkan ke Zoo Negara. Tapi jalan di situ ternyata juga menurun. Saya kembali menekan sepatu ke aspal sambil tak henti berdoa. Perlahan-lahan, motor mulai berhenti. Setelah beberapa saat, kendaraan roda dua itu akhirnya berhenti sama sekali. Saya segera memarkir kendaraan itu dan turun.
Saya duduk di pinggir jalan dan diam untuk beberapa saat. Jantung saya masih berdebar kencang Pengalaman itu seolah melumpuhkan seluruh syaraf saya. Selama beberapa saat lamanya, seluruh kehidupan saya seperti tersedot ke dalam pengalaman menakutkan yang baru saja saya alami.
Setelah perasaan mencekam itu mulai hilang, saya mengeluarkan handphone untuk menelpon atau meng-sms teman. Tapi ternyata pulsa saya habis. Saya juga tidak membawa cukup uang untuk mengendarai taksi. Seorang bapak yang mengamati apa yang terjadi pada saya sebelumnya berjalan mendekat dan menanyakan keadaan saya. Saya menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada bapak itu. Ketika ia menawarkan bantuan, saya menanyakan apakah boleh meminjam handphone-nya untuk mengirim sms. Ia mengangguk dan mengeluarkan handphone.
Saya mengirim sms kepada seseorang di tempat saya mengajar, menanyakan apakah saya boleh meminjam uang setibanya di sekolah nanti. Saya mendapat jawaban positif, lalu segera mencari taksi dan menuju ke sekolah.
Saya bersyukur, tidak terjadi sesuatu pada saya dan motor saya. Sejak saat itu saya tidak pernah menunda-nunda lagi jika ada bagian motor yang perlu diperbaiki. Saya tidak hidup sendirian. Ada orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab saya. Ada orang-orang yang mengikuti pengajian saya.
Merawat dan memperhatikan kondisi kendaraan merupakan hal yang sangat penting dan tidak boleh diremehkan. Ia bagian dari tanggung jawab sebagai seorang Muslim.
KL, 15 Agustus 2009
Sebagaimana dituturkan oleh seorang ustadz
Subscribe to:
Posts (Atom)
