Showing posts with label wisdom. Show all posts
Showing posts with label wisdom. Show all posts

Monday, April 5, 2010

Persaudaraan Ekonomi


Persaudaraan Ekonomi
Alwi Alatas

Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah bengkel untuk mengganti oli mobil dan memeriksa kendaraan kalau-kalau ada bagian yang perlu diperbaiki. Ada sebuah bengkel di dekat rumah, pengelolanya orang Cina. Maklum, seperti itulah kalau tinggal di lingkungan orang-orang Cina, susah juga mendapatkan bengkel mobil yang dikelola orang Melayu di dekat tempat tinggal. Tapi tak apalah, pengelola bengkel itu masih muda dan sangat ramah. Bukan hanya ramah, ia juga tidak keberatan menjawab berbagai pertanyaan soal mobil yang ditanyakan oleh pelanggan tak berpengalaman seperti saya.

Selain mengganti oli, pekerja yang menangani mobil saya juga melakukan pemeriksaan bagian-bagian mobil lainnya. Ia mengisi air karburator, memeriksa tekanan angin pada ban dan memompa ban yang agak kempes. Saat memeriksa filter angin yang sudah kotor, ia membawanya ke dalam untuk menanyakan pada bosnya apakah filter tersebut sudah waktunya diganti. ”Bersihkan saja,” ujar bosnya setelah memperhatikan keadaan filter tersebut. Maka anak buahnya tadi segera membersihkan filter tersebut dengan menggunakan penyemprot angin. Keadaannya tentu saja masih agak kotor dan berwarna keruh, walaupun kondisinya sudah lebih baik.

Saya berdiri memperhatikan pegawai itu bekerja. Seorang pelanggan lain, seorang Cina juga, ikut berdiri di samping saya. Sambil memperhatikan mobil saya, ia mulai berbincang dengan saya. Ia bercerita kalau ia selalu memeriksa kendaraannya secara rutin di tempat itu.

“Technician kedai ini ok … dia paham dan boleh baiki semua problem kereta …,” ia berkata penuh semangat.

Lalu ia melihat filter angin mobil saya yang kotor dan sedang dipasang kembali di tempatnya. “Itu sudah kotor sekali … very dirty lah,” katanya sambil menunjuk filter tersebut. “Lebih baik kalau diganti ….”

“Perlu diganti …?” saya ragu-ragu. Jujur saja, saya belum lama memiliki mobil dan pengetahuan saya tentang mesin mobil setingkat pelajar taman kanak-kanak. Terlebih lagi, uang di kantong saya tidak begitu banyak.

”Setiap kali service saya selalu ganti baru semua yang perlu ... minyak hitam, filter angin, minyak brake ...,” ujarnya menerangkan. ”Yang penting jalan kereta kita jadi ok. We feel comfortable.”

Saya mulai terpancing kata-katanya. ”Berapa harga filter angin? Biasanya berapa lama filter itu perlu diganti?”

Pekerja yang sedang mengurus mobil saya menjawab pertanyaan saya dan menyebut harganya. Saya mulai mempertimbangkan untuk membelinya. Kebetulan uang di kantong masih cukup.

”You tak akan menyesal lah,” pelanggan di samping saya tadi. ”Semua itu akan bikin kereta jadi lebih baik ....”

Ketika bos bengkel datang menghampiri, saya tanyakan apakah filternya memang perlu diganti. ”Memang filter itu sudah kotor, dan lebih baik diganti. Tapi terpulang pada awak apakah nak tukar filter dengan yang baru atau tak.”

”Saya kira begitu lebih baik,” pelanggan yang di sebelah saya masih memberi komentar.

”Baiklah kalau begitu,” ujar saya mantap.” Saya nak tukar filter itu dengan yang baru.” Saya terpengaruh juga dengan omongan pelanggan di sebelah saya. Usianya jauh lebih tua dari saya, jadi saya tak merasa ia telah menggurui saya.

Bagaimanapun, saya merasa juga kalau si pelanggan ini sebetulnya sedang mendukung bos bengkel mobil ini. Ia terlihat sangat akrab dengan bos bengkel tersebut. Dengan menyarankan saya membeli filter baru berarti pemasukan untuk bengkel itu bertambah. Tapi pada saat yang sama saya juga tidak yakin kalau ia sedang berusaha menipu saya. Filter tersebut memang sangat kotor dan dan beberapa bagian mobil saya memang sudah perlu diganti.

Setelah selesai memperbaiki mobil, saya pun kembali ke rumah. Selama beberapa waktu berikutnya saya mengingat-ingat kejadian itu. Saya merasa kagum dengan sikap orang-orang keturunan Cina yang saling mendukung dalam berekonomi. Bahkan di antara sesama pedagang Cina biasanya juga cenderung saling mendukung. Mereka membentuk semacam persaudaraan ekonomi untuk menguatkan posisi perekonomian mereka. Tentu saja di antara mereka juga sering terjadi persaingan dan permusuhan. Tapi saat menghadapi orang lain, mereka biasanya bersatu dan saling mendukung.

Bagaimana dengan kaum Muslimin? Apakah kaum Muslimin dan para pedagang Muslim juga terbiasa melakukan hal yang sama? Barangkali sebagian pelaku ekonomi Muslim juga memiliki kecenderungan yang sama. Namun kami khawatir sikap kebalikannya yang lebih sering muncul. Saya jadi teringat dengan apa yang saya baca di buku Anne Booth, The Indonesian Economy in the Nineteenth and Twentieth Century. Dengan mengutip dari Clifford Geertz saat menjelaskan tentang para pedagang pribumi di Kudus, ia menulis bahwa ‘sikap individualisme mereka yang berlebihan membawa pada kecemburuan ekonomi dan pertengkaran di antara sesama mereka sendiri, daripada membangun jaringan dan memberi dukungan yang saling menguntungkan yang menjadi ciri khas kaum imigran Cina.’

Saya tidak begitu paham dengan sikap individualisme yang berlebihan. Tapi rasa-rasanya masalah kecemburuan ekonomi dan konflik internal cukup mudah dipahami dan dicari contohnya. Apa yang disebutkan Geertz atau Booth di atas terjadi beberapa dekade yang lalu. Apakah hal semacam itu masih berlaku sampai sekarang ini? Wallahu a’lam. Semoga saja tidak.

Kuala Lumpur, 3 Desember 2009

Wednesday, March 31, 2010

Anak laki-laki dan sekantung paku


Anak laki-laki dan sekantung paku

Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk.

Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku,dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang dipagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.

Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar.

Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata :

"Anakku, kamu sudah berlaku baik,tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada dipagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar."

"Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka."

"Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya sama perihnya seperti luka fisik."

"Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka."

"Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat."

"Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu."

"Tunjukkanlah kepada teman- temanmu betapa kau menyukai mereka."

http://fawatihus.blogspot.com/2008/02/anak-laki-laki-dan-sekantung-paku.html

Monday, March 29, 2010

Kenapa …?


Kenapa …?


Riyadh, Selasa, 8 Syawal 1400H

Di ruang tunggu bandara, sepasang suami istri berumur kurang lebih 60 tahun, tengah menanti penerbangan ke Mekah.

Sambil menunggu pengumuman, lelaki tua itu berbaring berbantalkan kain ihram, setelah berpesan pada istrinya,

"Nanti, kalau mereka mengumumkan pesawat akan berangkat, bangunkan saya."

"InsyaAllah" jawab istrinya singkat.

Kemudian wanita tua itu diam. Sambil menunggu, terkadang ia berbincang-bincang dengan para wanita lain di sekelilingnya, kemudian dia katakan,

"Saya mau pergi ke toilet."

Selanjutnya ia pergi menuju toilet di samping masjid bandara tersebut. Karena ia merasa tidak bisa menggunakan dengan baik toilet di bandara atau toilet yang dibuat model Eropa, sang istri pun tertahan lama di toilet tersebut.

Ketika kembali dari sana, ternyata orang-orang sekelilingnya telah pergi. Sang istripun segera membangunkan suaminya. Setengah berteriak dia katakan kepadanya,

"Hai Abu Muhammad, orang-orang sudah pergi, mereka meninggalkan kita."

Orang tua itu bangun dengan gelagapan, lalu mengambil barang-barangnya, kemudian masuk ke pintu gerbang. Ternyata petugas di sana mencegahnya untuk masuk, petugas itu berkata,

"Pesawat telah tinggal landas Paman, ke mana engkau tadi?? Tunggulah penerbangan berikutnya tiga jam lagi."

Lelaki tua itu tak bisa tak bisa berbuat apa-apa selain menengok pada istrinya, lalu menumpahkan segala kemarahannya kepada istrinya. Istrinya dibentaknya seraya berkata,

"Kenapa kita sampai tertinggal oleh pesawat? Kemana kamu tadi?"

Seorang petugas segera datang, lalu berkata, "Paman, marilah istirahat disini saja dulu, insyaAllah, segala sesuatunya akan beres."

Akan tetapi lelaki tua itu semakin berang. Dia marah sekali, sementara sang istri berupaya meredakan amarah suaminya, tetapi tidak juga berhasil. Lelaki tua itu terus saja mengecam istrinya dengan berkata,

"KENAPA....KENAPA....KENAPA......" dan seterusnya

Di tengah hujan kecaman yang kian gencar itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengejutkan. Terdengar pengumuman di bandara bahwa pesawat yang baru saja berangkat mengalami gangguan pada salah satu mesin, kemudian gangguan itu makin parah, hingga akhirnya pesawat itu terbakar. Pilot pesawat itu telah menghubungi pusat pengendalian di bandara, meminta izin untuk melakukan pendaratan darurat. Namun selalu dijawab, "Tunggulah sebentar, landasan pacu masih sibuk."

Namun setelah pilot menyaksikan api makn besar, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mendarat darurat. Tiba-tiba tampaklah kobarna api dari segala penjuru pesawat. Seketika itu juga para petugas keamanan dan para medis memburu masuk bandara untuk menyelamatkan para penumpang. Akan tetapi, tidak berhasil, musibah tersebut menyebabkan terjadinya insiden luar biasa dan semua penumpang tewas.

Orang-orang yang mendengar peristiwa naas itupun, langsung berhamburan datang dari segala penjuru. Termasuk anak pasangan tua itu.

Tiba-tiba lelaki tua itu didekap oleh anaknya seraya berkata,

Alhamdulillah, kau selamat bapak, mana ibu?"

Lelaki tua itu menarik napas panjang, lalu berkata,

"Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami berdua. Demi Allah anakku, sebelumnya aku marah dan sedih sekali karena tertinggal oleh pesawat. Aku tidak pernah mengecam ibumu atas apapun seperti yang aku lakukan terhadapnya hari ini. Astaghfirullah wa atubu ilaih....."

........................................................................

Turut meninggal dalam kecelakaan pesawat itu adalah co pilot Saudi Arabian Airlines yang seharusnya tidak bertugas, yaitu Sami Husnain


From Suci Ummi Adam in Facebook

http://www.facebook.com/photo.php?pid=281013&id=100000142608027


Message: When unpleasant things happen to you, don’t ask ‘why,’ just accept them … and prepare for the next ‘flights.’

Sunday, February 28, 2010

MELAKSANAKAN AMANAH DENGAN IKHLAS


MELAKSANAKAN AMANAH DENGAN IKHLAS

Dari milis teman

Seorang ayah ingin mengajarkan kepada anaknya sejak dini yang baru duduk dikelas 3 SD untuk mengatur uang jajannya. Sang anak diberi uang Rp 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek). Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah.
Pada minggu pagi mereka berdua hendak jalan-jalan ke kota untuk menikmati liburan. Sebelum berangkat, tak lupa sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya. Ditengah keasikan sang ayah dan anaknya menikmati hari libur mereka, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek pengemis yangg telah tua renta sambil memelas.

Tak tega melihat sang kakek tua memelas, sang anak dengan sigap langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,- dari saku celana dan diberikan seluruhnya. Kontan saja kakek pengemis ini terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira kepada sang anak dan ayahnya ini.

Setelah si kakek tua berlalu, kemudian sang ayah bertanya;
“Sayang, kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga nanti malam?”
“Ayah..kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar!” Jawab anaknya dengan wajah tersenyum..
“Tek!!!” Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut.
“Nah, terus uang jajanmu untuk seminggu ke depan bagaimana?” Tanya sang ayah mencoba menguji.
“Kan aku masih punya ayah dan bunda! Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia ini.” Balas anaknya.
“Kenapa kamu begitu yakin kalo ayah dan bunda akan mengganti uang jajanmu? Ayah nggak janji loh?” Kembali sang ayah mengujinya.
“Kalo ayah merasa bahwa aku adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada ayah dan bunda, maka aku sangat yakin ayah dan bunda tak akan membiarkan aku kelaparan seperti kakek tua itu..” Jawab sang anak mantap.

Seakan sang ayah tak percaya dengan jawaban dari putranya hingga ia kehabisan kata-kata. Ia tak menyangka jawaban seperti itu keluar dari seorang bocah kelas 3 SD. Ia seperti sedang berhadapan dengan seorang ulama besar dan ia tak bernilai apa-apa ketika berada dihadapannya.

Lalu ia berjongkok dan memegang kedua pundak anaknya..
“Sayang…ayah dan bunda janji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga Allah tetapkan batas umur ini. Ayah sangat sayang padamu..” Sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah tak kuat menahan haru..

Sambil memegang kedua pipi ayahnya, sang anak membalas,
“Ayah tak perlu berkata seperti itu. Sejak dulu aku sudah tahu bahwa ayah dan bunda sangat mencintai dan menyayangiku. Kelak jika aku sudah dewasa aku akan selalu menjaga ayah dan bunda, dan aku tidak akan membiarkan ayah dan bunda hidup dijalan seperti kakek tua itu…”

Dan airmata sang ayahpun tak terbendung mendengar jawaban tulus dari anaknya. Dipeluklah tubuh mungil itu dengan sangat erat. Dan kedua larut dalam haru dan kasih sayang.

Sunday, December 13, 2009

Tunanetra Dilantik Jadi Hakim


SELASA, 23 JUNI 2009
Pertama, Tunanetra Dilantik Jadi Hakim
DETIKPOS.net - Ketunaan fisik seharusnya tak menghalangi hak dasar dan peluang seseorang. Di Antwerpen, Belgia, seorang tunanetra dilantik menjadi hakim dan langsung bertugas.

Bart Hagen (32), nama tunanetra itu. Dia dilantik dan diambil sumpah oleh Ketua Pengadilan Tinggi Michel Rozie, Senin (22/6/2009).

Hakim Tinggi Rozie mengenal baik hakim Hagen, karena dia juga dosen yang mengajar Hagen saat masih mahasiswa.

"Saya mengenal Anda saat Anda menempuh ujian di Mahkamah Agung, di mana Anda meraih nilai tinggi. Kemudian saya memonitor Anda saat praktik kerja lapangan di Pengadilan Mechelen dan saya juga pernah mengajar Anda, di mana Anda selalu aktif berpartisipasi," Ujar Rozie, dikutip dari De Standaard.

Hakim Hagen akan menjalankan tugas dengan cara memindai dokumen, selanjutnya dengan bantuan teknologi dokumen itu diubah ke dalam bentuk suara.

Sementara untuk mobilitas di gedung pengadilan, dia akan dipandu oleh anjing pemandunya yang setia.

Sumber: Kompas.com
http://www.detikpos.net/2009/06/pertama-tunanetra-dilantik-jadi-hakim.html

Tuesday, December 8, 2009

Ada Kalanya Kita Tidak Perlu Menawar

Ada Kalanya Kita Tidak Perlu Menawar

Alwi Alatas

Kadang saya berpikir dalam hati, kalau ada orang yang bertanya apa hal yang paling tidak saya sukai, mungkin jawaban saya adalah menemani perempuan (istri atau ibu) belanja. Saya sering menemani istri belanja (itu pun karena terpaksa), dan saya sering heran betapa kuatnya dia bolak-balik dan melakukan tawar menawar selama berjam-jam hanya untuk membeli beberapa barang. Agaknya tidak salah juga kalau ada ungkapan yang membandingkan antara laki-laki dan perempuan. Ungkapan itu menyebutkan bahwa ’seorang pria akan membayar 2 dollar untuk barang seharga 1 dollar yang ia perlukan, dan seorang perempuan akan membayar 1 dollar untuk barang seharga 2 dollar yang tidak dia perlukan.’ ”Rasanya nggak afdhal kalau membeli tanpa tawar menawar semaksimal mungkin,” begitu istri saya pernah berkata.

Istri saya ini seorang negosiator yang alami (barangkali istri Anda juga seperti itu). Begitu asyiknya dia berlama-lama mebolak-balik dan menawar barang sampai saya sering merasa tidak tega dengan penjualnya. Seperti baru-baru ini kami berbelanja beberapa pakaian untuk kemudian dijual lagi (kalau untuk keperluan dagang tentu saja kami harus menawarnya sebaik mungkin). Istri saya melihat barang-barang itu satu demi satu, dikeluarkan dari tempatnya, diperhatikan setiap lekukan, lalu diletakkan kembali sambil melihat barang yang lain. Ketika membuka dan melihat barang yang baru, ia menemukan ada bagian yang kurang bagus, dan memutuskan untuk melihat yang lain lagi. Si penjual akan melipat kembali pakaian yang sudah dilihat, tapi kadang yang sudah dilihat ini terpaksa dibuka kembali karena istri saya ingin melihatnya kembali.

Saya jadi kasihan dengan si penjual. Dia pasti penat sekali menghadapi pembeli seperti kami, dan pada akhirnya mungkin akan menyerah juga dengan harga yang diusulkan istri saya. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga usaha.
Saya pernah membaca bahwa salah satu teknik negosiasi yang berhasil adalah dengan berlama-lama mencoba barang yang akan dibeli dan terus menerus melakukan tawar menawar. Si penjual pada akhirnya akan merasa letih dengan pelanggannya ini dan memutuskan untuk mengalah dan mengambil untung sedikit saja asalkan barangnya terjual. Kalau waktunya sudah habis untuk melayani pelanggan semacam ini dan akhirnya tidak dibeli, mungkin dia akan merasa kesal. Istri saya sama sekali tidak mengetahui teori negosiasi semacam ini. Ia hanya menikmati proses berbelanja dan tawar menawar serta berusaha mendapatkan harga sebaik mungkin.

Ukuran keberhasilan dalam tawar menawar dan membeli barang tentu saja dengan mendapatkan barang sebagus mungkin dengan harga yang paling rendah. Namun, dalam hidup ini ada kalanya menawar barang untuk harga yang lebih rendah bukanlah hal terbaik yang bisa kita raih. Terlebih lagi jika ekonomi kita sangat berkecukupan dan kita membeli barang dari pedagang kecil. Ada sebagian orang yang menawar murah-murah barang yang dijajakan seorang pedagang kecil. Lalu setelah ia membeli barang tersebut ia mulai merasa menyesal mengapa harus menawar terlalu murah. Bukankah pedagang itu kehidupannya sangat susah. Kadang usianya juga sudah cukup tua. Ia harus memikul barang dagangannya di hari yang sangat panas dan hanya mendapat keuntungan tidak seberapa dari penjualannya. Bahkan jika semua barangnya laku tanpa ditawar sekalipun dia tetap tidak akan menjadi orang kaya.

Saya pernah mendengar tentang seorang tuan tanah kaya di Batavia pada jaman kolonial dulu. Namanya Abdullah bin Alwi al-Attas (w. 1929). Kalau membeli dari pedagang kecil dia sama sekali tidak mau menawar dan akan membayar sesuai dengan harga yang diajukan si pedagang (tentu saja para pedagang kecil ini juga tahu diri dan tidak menaikkan harga barang semaunya saja). Ia juga tidak suka melihat binatang yang dikurung. Kalau melihat ada pedagang burung yang lewat, maka ia akan memanggilnya dan membeli semua burung yang ada, lalu melepaskannya begitu saja.

Ketika ada pedagang kecil lainnya datang untuk menjajakan barangnya, maka ia akan membeli sebagian besar barang yang dijual oleh pedagang itu. Ia membeli tanpa menawar lagi. Jika ditanyakan mengapa ia melakukan hal itu, maka ia akan menjawab bahwa Allah sudah menganugerahkan rizki yang banyak baginya, maka bagaimana mungkin dia akan menawar barang dari pedagang yang keadaannya susah. Ia menganggap hal itu ’haram’ baginya.

Kini kembali pada diri kita. Mungkin kita tidak mampu melakukan seperti Sayyid Abdullah di atas. Kita masih perlu melakukan tawar menawar dalam membeli barang, karena keadaan ekonomi yang sulit belakangan ini dan karena harga-harga barang terus naik. Itu tidak masalah. Tapi kita toh sesekali tetap bisa membantu para pedagang kecil dengan membeli barang mereka tanpa harus menawar terlalu banyak. Nilai belanja kita memang jadi sedikit lebih mahal. Namun senyum bahagia si pedagang kecil akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kita. ’Kebahagiaan itu tidak bisa diraih dengan memiliki, tapi dengan memberi,’ begitu kata pepatah. Bukankah ini indah? Kita membayar sedikit lebih mahal, dan kita mendapatkan kebahagiaan sebagai gantinya.

Barangkali kita juga bukan orang kaya. Dan kalaupun kaya mungkin kekayaannya tidak sama dengah tuan tanah yang diceritakan di atas. Namun boleh jadi kita memiliki kekayaan hati, kekayaan yang membolehkan kita membantu orang-orang yang tengah berusaha di sekitar kita. Kekayaan jiwa semacam ini akan membawa kita pada kekayaan yang sesungguhnya.

Kini perhatikanlah orang-orang kecil yang tengah berusaha di sekitar tempat tinggal kita. Sesekali, datanglah dengan tersenyum pada mereka. Lalu belilah barang mereka tanpa menawar lagi. Mudah-mudahan senyum mereka menjadi doa buat kita.

Jakarta, 30 Oktober 2009

Thursday, November 26, 2009

Iedul Adha di Kolong Tol

Suharyah: Saya Sudah Tak Tahan Tinggal di Kolong Tol

Jumat, 27 November 2009 | 13:27 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com - Suasana Idul Adha tidak pernah terasa meriah bagi Suharyah (48). Bahkan, Idul Adha tahun ini pun suasananya terasa lebih memprihatinkan bagi warga Kampung Baru, Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara ini.

Pada Setember lalu sekitar sepekan setelah hari raya Idul Fitri, rumahnya ludes dilalap api saat kebakaran hebat melanda dua RW di Kelurahan Penjaringan. Tak satu pun perabotan maupun barang berharga yang mampu diselamatkannya kala peristiwa itu.
Satu-satunya barang yang bisa dibawanya hanyalah baju yang melekat di badannya. Beruntung tak satu pun angggota keluarganya yang menjadi korban. Suhardi (58), suaminya dan kelima anaknya, sedang tak berada di rumah saat itu. Tak lagi memiliki tempat berteduh, mereka pun terpaksa tinggal di kolong tol Rawa Bebek akses menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama ratusan warga korban lainnya.

Hampir tiga bulan sejak kebakaran tersebut, Suharyah bersama keluarganya hingga kini masih bertahan di kolong tol. Tak punya biaya membangun rumah menjadi persoalan mendasar yang membuatnya bertahan di penampungan yang sudah tidak layak itu.
"Kalau ingat sekarang lagi Lebaran Haji, saya malah jadi ingat kebakaran kemarin pas beberapa hari sehabis Lebaran juga," ujar Suharyah kepada Kompas.com, Jumat (27/11).

Siang ini terasa begitu terik di lokasi penampungan di kolong tol. Suharyah masih memasak di bawah sebuah meja biliard bekas yang jika malam hari menjadi tempatnya merebahkan diri. Bukannya memasak daging sebagaimana lazimnya perayaan Idul Adha, justru sayur asem yang dimasaknya untuk anak-anaknya.
"Saya enggak dapat daging. Sudah enggak ada lagi yang motong kurban kayaknya di sini sekarang," ujarnya.

Mushala Nurul Huda yang letaknya tak jauh dari "rumah" Suharyah memang sepi dari aktivitas hari raya. Tahun ini tak ada pemotongan hewan kurban di mushala itu. "Saya juga tadi pagi enggak sempat shalat. Saya lagi enggak enak badan," ujarnya.
Suharyah juga mengaku tak medapatkan bantuan zakat dari pemerintah dan para dermawan meski kesulitan ekonomi betul-betul mengimpitnya.

Idul Adha kali ini hanya berlangsung begitu saja tanpa terasa oleh Suharyah. Suhardi, suaminya pun tetap sibuk mencari dan mengumpulkan barang bekas untuk dijualnya sebagai penghidupan sehari-hari.
"Saya sudah enggak bisa ngapa-ngapain lagi. Ngebayangin bisa naik haji aja saya enggak berani," tuturnya.

Masih bisa bersyukur

Meski demikian, dengan kondisi memprihatinkan seperti itu, Suharyah mengaku masih bersyukur bisa bertahan hidup di Kota Metropolitan yang keras ini. Penyakit gula akut memang menderanya sejak lama.
Bahkan tahun lalu, Suharyah sempat dioperasi di RS Atma Jaya Pluit akibat penyakitnya. Jika ditotal, biaya pengobatan dan operasi yang harus ditanggungnya mencapai 16 juta. Beruntung dia mendapatkan bantuan pemerintah melalui surat keterangan tidak mampu. "Ya, alhamdulillah saya bisa operasi gratis," ungkapnya.

Hingga kini, setiap dua pekan sekali, Suharyah mesti bolak-balik ke rumah sakit untuk mengontrol penyakitnya itu. "Tapi obatnya jarang-jarang saya tebus. Soalnya sekarang yang gratis cuma periksanya saja. Obatnya tetap bayar," ujarnya.

Di hari Idul Adha ini wanita asli Betawi ini mengungkapkan harapannya agar bisa segera meninggalkan penampungan dan hidup layak di rumah tetap. Dia berharap pemerintah bisa mengucurkan bantuan agar dia bisa membangun kembali rumahnya yang kini rata dengan tanah.
"Saya enggak minta dipindahin. Saya cuma pengin bantuan supaya rumah saya bisa dibangun lagi. Saya sudah enggak tahan tinggal di kolong begini," ucapnya dengan mata menerawang.

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/11/27/13271662/Suharyah.Saya.Sudah.Tak.Tahan.Tinggal.di.Kolong.Tol

Saturday, November 21, 2009

Pengorbanan ibu berbaloi anak cacat dapat 5A

Pengorbanan ibu berbaloi anak cacat dapat 5A

SITI Norfarah Hanim Azman yang memperolehi 5A didukung oleh ibunya, Norhaida Harun setelah pulang dari mengambil keputusan UPSR di Besut, semalam.
________________________________________

BESUT 19 Nov. - Ibu ini cekal mendukung anaknya yang cacat untuk ke sekolah sejak enam tahun lalu.

Hari ini pengorbanan Norhaida Harun, 38, berbaloi apabila Siti Norfarah Hanim Azman, 12, berjaya memperoleh keputusan 5A dalam Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR) yang diumumkan hari ini.

Walaupun cacat kerana menghidap penyakit Osteogenesis Imperfecta, sejenis penyakit kerapuhan tulang tapi Siti Norfarah tidak mudah mengalah malah tetap gigih berusaha hingga akhirnya memperolehi kejayaan itu.

Dia adalah antara 40 murid Sekolah Kebangsan Tengku Mahmud II yang berjaya memperolehi 5A dalam UPSR tahun ini yang diraikan dalam satu majlis di sekolah itu hari ini.

Ketika nama diumumkan untuk ke pentas bagi mengambil slip keputusan UPSR, Siti Norfarah dan ibunya dilihat berlinangan air mata kegembiraan.
Bagi Norhaida, hanya pelajaran yang mampu diberikan kepada anaknya itu memandangkan dia sendiri tidak mampu untuk menyediakan harta yang banyak untuk kehidupan akan datang.

Semuanya adalah pengorbanan demi masa depan anaknya walaupun kadang kala terasa dirinya seakan terikat dengan rutin kehidupan sebegitu kerana terpaksa menghantar dan mengambil anaknya setiap hari.

Noraida juga akur dengan tugas suaminya Azman Mohamad, 40, yang hanya bekerja sebagai pembantu kesihatan juga tidak mampu meluangkan banyak masa untuk membantu menguruskan anaknya.

Hanya pada ketika tertentu sahaja Azman dapat menghantar Siti Norfarah ke sekolah manakala selebihnya, Norhaida yang banyak menghabiskan masa bersama anaknya itu di samping menjaga seorang lagi anaknya Siti Norfadila Husna, yang berusia 4 tahun.
Setiap pagi sebelum ke sekolah Norfarah akan dibekalkan dengan sedikit makanan kerana tidak mampu berjalan untuk ke kantin.

Dia bagaimanapun agak bernasib baik kerana ada seorang rakan sekelasnya, Nurul Alia Rosdi yang secara sukarela membantunya semasa di dalam kelas.
Nurul Alia banyak meringankan masalah anaknya sejak berada di tahun satu lagi dengan membantu jika anaknya itu ingin ke tandas pada masa yang diperlukan di samping menjadi rakan belajar," kata Norhaida.

Rakannya itu merasa tersentuh ketika pertama kali melihat kepayahan yang dihadapi Siti Norfarah lalu secara sukarela membantu rakannya sebagai menunaikan tanggungjawab sebagai seorang insan.

"Sesiapa sahaja yang memerlukan perlu dibantu dan saya tidak pernah merasa bosan dengan tugas sukarela ini malah merasa puas hati apabila dapat memberikan khidmat kepada mereka," ujar Nurul Alia.

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2009&dt=1120&pub=Utusan_Malaysia&sec=Dalam_Negeri&pg=dn_07.htm

Saturday, November 7, 2009

Rencana-Nya Selalu Sempurna

Rencana-NYA selalu SEMPURNA

Iwan Budhiarta

http://www.facebook.com/home.php?filter=app_2347471856#/note.php?note_id=168196169650


Di Surabaya, sebuah kota di Jawa Timur, hiduplah seorang ibu penjual tempe dengan seorang anaknya yang masih balita. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lakukan sebagai penyambung hidup dirinya dan anak semata wayangnya.

Tak ada pekerjaan lain sebagai penyambung hidup anak semata wayangnya.
Meski demikian, nyaris tak pernah lahir sebuah keluhan pun dari bibirnya. Ia selalu menjalani hidupnya dengan riang gembira. "Jika tempe ini yang nanti akan mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya...",...demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu Jumat pagi, setelah shalat subuh, dia pun segera berkemas dan mengambil keranjang bambu tempat tempe, lalu dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas satu-satunya meja panjang di rumahnya. Akan tetapi (deg!...dadanya bergemuruh...) tempe yang akan dia jual di pasar, ternyata belum jadi. Semuanya masih berupa kacang kedelai, dan sebagian berderai, belum disatukan oleh ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi tempe sempurna. Tubuhnya mendadak jadi lemas. Dia bayangkan, hari ini dia pasti tidak akan mendapatkan uang, untuk makan anaknya, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi.
Di tengah rasa putus asa, terbersit secercah harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah SWT, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, segera ditengadahkan kepalanya, dia angkat tangannya, dan dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, ubahlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..." Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan kehangatan yang
menjalari daun itu. Proses peragian memang sedang berlangsung. Dadanya masih bergemuruh. Dengan pelan-pelan, dia buka daun pembungkus tempe itu. Dan akhirnya... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semuanya menyatu oleh kapas-kapas ragi putih.

Tetapi, dengan memaksa senyum, dia segera berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia.

Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku
lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah tempe ini. Bantulah aku, kabulkan doaku..."

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju ke pasar, dia buka daun pembungkus tempe itu sekali lagi.
Tempeku pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari sela-sela pembungkus daun itu, dan... belum jadi. Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, bahwa Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia mulai letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe!" batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Kecewa, airmata mulai menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Allah begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia mulai gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas karpet plastik yang telah dia sediakan.
Dengan lemas, dia mulai gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas karpet plastik yang telah dia sediakan. Tangannya mulai lemas, tak yakin akan ada orang yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Allah telah meninggalkan aku, batinnya.

Tangisnya kian menjadi-jadi.
Airmatanya kian mengalir deras. Terbayang di benaknya bahwa esok dia tak akan dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan, begitu pula dengan buah hati tersayangnya. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas karena sudah menjelang sore. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah habis terjual. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya kembali, dia tak pernah mengalami kejadian ini. Tempenya tak pernah tak jadi. Tangisnya kian menjadi-jadi. Dia merasa cobaan hari itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan ramah mendarat di pundaknya. Dia memalingkan wajahnya seketika. Seorang perempuan cantik, paruh baya, tengah tersenyum, memandangnya.
"Maaf Ibu, apakah ibu punya tempe yang setengah jadi? Saya lelah sekali mencari-cari di pasar ini sejak pagi, dan tak ada seorang pedagang tempe yang menjualnya. Apakah Ibu punya tempe setengah jadi?"

Ibu penjual tempe itu segera termangu-mangu. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab
pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menengadahkan tangan. "Ya Allah, pada saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi sempurna. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe..." Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe..."

"Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan
jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat?........ Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih
sama. Belum jadi! "Alhamdulillah!" pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok aneh ya, ibu mencari tempe kok yang belum jadi?"

Si ibu pembeli tempe itu menyahut "Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Muhammad, yang kuliah S2 di Swedia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, supaya bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sesampainya di sana masih layak dimakan. Oh ya, semua tempenya saya borong, bu. Dan jadi semua tempenya berapa, Bu?"

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hikmah:
Dalam kehidupan sehari-hari, kita acapkali berdoa, dan "memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa.

Padahal, Allah SWT paling tahu apa yang paling cocok dan baik untuk kita. Bahwa semua rencanaNYA adalah SEMPURNA.

Wassalam...

Monday, November 2, 2009

Hadiah Terbaik

Hadiah Terbaik

Tak ada hadiah yang lebih indah di mata orang tua dibandingkan apa yang terbaik bagi anak-anak mereka

Itu juga yang dirasakan oleh seorang Muslim Indonesia yang bersama keluarganya tinggal di Australia. Hidup di negeri yang budayanya liberal dan masyarakatnya berbeda agama tentu menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga Muslim yang hidup di negeri Kangguru. Bisa saja anak yang sudah dididik sebaik mungkin di rumah mendapat pengaruh negatif di luar rumah dan akhirnya mengabaikan nilai-nilai keluarga. Terlebih lagi jika keluarganya sendiri tidak memiliki nilai dan relijiusitas yang baik.

Orang yang kami ceritakan ini menjalani hari-harinya di Australia sebagaimana kebanyakan orang-orang Indonesia lainnya. Namun, selama tinggal dan bekerja di Australia itu ia justru makin banyak belajar tentang Islam, agamanya yang dianut sedari kecil. Makin lama perhatiannya terhadap agama menjadi semakin mendalam. Tentu saja ia berharap hal yang sama juga dirasakan oleh anggota keluarganya yang lain, oleh istri dan anak-anaknya.

Ia memiliki seorang anak perempuan yang sudah beranjak remaja. Betapa besar keinginannya agar sang anak mengenakan jilbab dan menutup auratnya. Keinginannya itu semata-mata karena menutup aurat merupakan tuntunan dari-Nya dan akan membawa banyak kebaikan bagi orang-orang yang menjalankannya.

“Kenakanlah jilbab wahai anakku,” anjurnya pada sang anak. Tapi setiap kali itu juga anaknya menggelengkan kepala.

”Aku belum siap, Papa,” ujarnya. ”Mungkin suatu saat nanti.”

Sang ayah tak ingin memaksakan kehendaknya, karena ia ingin anaknya menjalankan ajaran agamanya dengan tulus dan penuh kesadaran. Ia bersedia untuk menunggu, walaupun ia tak tahu untuk berapa lama. Ia memutuskan untuk bersabar sembari terus berdoa dan memberi bimbingan pada sang anak.

Pada salah satu liburan sekolah, anak gadisnya itu berlibur ke Bandung tanpa didampingi oleh orang tuanya. Ketika berada di kota kembang tersebut, sang anak menyempatkan diri menelpon ayahnya.

“Papa mau dibawakan apa dari Bandung?” tanyanya pada sang ayah.

“Ah … nggak usah,” jawab sang ayah apa adanya. “Nanti kalau mau pulang, kasih tahu saja tanggal dan waktunya.”

Maka pada tanggal kepulangan sang anak ke Australia, ayahnya menjemputnya di Sidney International Airport. Ia menanti anaknya dengan penuh rasa rindu. Tentu ada banyak cerita yang dibawanya dari tanah air. Tentu ia merasa senang selama berada di Indonesia.

Pesawat yang ditumpangi anaknya sudah mendarat sejak beberapa waktu yang lalu. Ia mencari-cari anaknya di antara para penumpang yang berjalan keluar dari pintu bandara. Sekian lama dipandanginya orang-orang yang bergerak dari dalam keluar. Belum juga didapatinya wajah anak yang dicintainya.

Tiba-tiba ia melihat wajah yang amat dikenalinya. Namun ada sesuatu yang berbeda pada wajah itu. Sang ayah sempat ragu saat memperhatikan wajah itu. Apakah ini memang anak gadisnya? Benarkah?

Ya, wajah itu kini dihiasi oleh jilbab nan anggun. Anak gadisnya itu, lengkap dengan busana muslimahnya, berjalan ke arah ayahnya dengan wajah tersenyum cerah. Sebuah senyum yang sangat indah, dari wajah yang teramat indah. Sang anak mengucapkan salam dan memeluk ayahnya.

”This is my best present for you ....”

Ayahnya mengangguk haru. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang dialaminya saat itu.

Ya, ini adalah hadiah terindah bagi Ayah.

Sebagaimana dikisahkan oleh Ustadz Agus Setiawan
Dutulis oleh Alwi Alatas
26 Oktober 2009

Friday, October 30, 2009

Iseng

Iseng-iseng … Mati!

Manusia memang suka berbuat iseng, terutama kalau sedang tidak ada aktivitas serius dan tidak tahu apa yang mesti dikerjakan. ”Hmm, lagi iseng nih,” begitu biasanya kita berkomentar saat tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Dan akhirnya kita mengisi waktu dengan hal-hal yang nggak ada nilainya. Sekedar mengisi waktu. Yah, namanya juga iseng.

Hanya saja yang namanya kegiatan iseng ini terkadang bukan hanya kurang bermutu, tapi juga bisa berbahaya, dan juga teramat konyol. Terutama kalau sampai berakibat kematian.

Mati? Masak sih sekedar iseng aja bisa menyebabkan kematian?

Nggak percaya? Belum lama ini ada yang betul-betul mengalami hal semacam itu. Berita di Okezone tanggal 20 Oktober 2009 menyebutkan ada tiga anak remaja bernama Ayub Kuncoro (12 tahun), Rian (13 tahun), dan Bejo (15 tahun) tewas tergilas kereta api. Hal ini terjadi di dusun Gowok, Bantul, DIY.

Bagaimana remaja-remaja yang masih sehat dan lincah ini bisa tersambar kereta api? Anak-anak ini iseng bermain-main di atas rel kereta api. Bahkan mereka tidur-tiduran di atas rel. Seorang saksi mata sudah mengingatkan supaya mereka tidak main tidur-tiduran di atas rel kereta api karena berbahaya, tetapi anak-anak ini tidak mengindahkannya. Beberapa waktu kemudian kereta api lewat. Saksi mata tadi teringat anak-anak remaja itu dan bergegas menuju tempat mereka bermain. Ternyata mereka sudah tewas terlindas kereta api.

Apakah anak-anak itu iseng bermain tidur-tiduran dan akhirnya tertidur betulan, sehingga akhirnya terlindas kereta api tanpa sadar? Atau mereka membiarkan kereta api mendekat lalu ketika hendak menghindar ternyata sudah terlambat? Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi. Yang jelas mereka telah tewas karena keisengan yang aneh itu.

Bukankah ini sangat konyol dan mengenaskan? Makanya kalau mau melakukan sesuatu dipikir-pikir dulu yang matang. Umur kita cuma sepenggalan. Sayang kalau disia-siakan untuk kegiatan yang bermotif iseng.

Alwi Alatas
26 Oktober 2009

Thursday, October 29, 2009

Sudah Makan ...?

Sudah Makan ...?
Alwi Alatas

Teman saya yang satu ini, anggap saja namanya Pak Hadi (bukan nama sebenarnya), sangat suka bersosialisasi dengan siapa saja. Walaupun ia sangat kaya dan penghasilannya sangat besar, tapi ia biasa bergaul dengan banyak orang. Kalau saya perhatikan, setiap kali pergi dan pulang dari mushala kecil di dekat rumahnya, hampir tak pernah ia mengabaikan kesempatan bertegur sapa dengan orang-orang yang dilewatinya. Bahkan terhadap orang yang tak dikenal pun ia akan berusaha menyapa dan ambil perhatian. Saya suka malu sendiri kalau ingat kelebihan kawan saya ini.

Beliau bukan hanya suka bertegur sapa, tapi juga suka membantu orang yang kesulitan ekonomi. Tidak jarang ia yang berinisiatif mencari tahu keadaan seseorang, kalau-kalau ia memerlukan bantuannya. Jika memang ada yang perlu dibantu, maka ia akan dengan senang hati menolongnya. Hal itu membuatnya dekat dengan banyak orang, mulai dari para ustadz yang kadang dibelikan motor hingga tukang pasang marmer yang akhirnya menjadi anak buahnya dalam bisnis marmer.

Walaupun kaya dan bergaji besar, beliau tidak sungkan keluar masuk tempat yang sangat sederhana atau berteman dengan orang dari kalangan yang sangat miskin sekalipun. Saya pernah diundang mengisi pengajian di rumahnya yang ternyata pesertanya adalah tukang batu, tukang sayur, tukang kaligrafi masjid, dan pekerja dengan profesi sejenis. Rasanya indah sekali menyaksikan orang-orang dengan latar belakang ekonomi yang jauh berbeda bisa duduk bersama-sama dalam suasana yang akrab.

Nah, Pak Hadi ini bercerita bahwa dulu ia pernah punya seorang tetangga. Tetangganya ini tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. Ia cukup dekat dengan tetangganya ini dan biasa berinteraksi dengannya. Walaupun begitu, sebuah kejadian telah membuatnya tersentak. Ternyata masih ada hal-hal yang tidak diketahuinya tentang tetangganya ini.

Suatu hari ia memutuskan mampir ke rumah tetangganya ini untuk bersilaturahim. Walaupun agak malu dan merasa kurang enak dengan keadaan rumahnya yang sederhana, tetangganya ini menerima kehadiran Pak Hadi. Ia mempersilahkan kawan saya ini masuk ke dalam.

Pak Hadi bukan tipe orang yang jaim (jaga image). Kalau sudah dekat dengan seseorang ia tidak akan merasa sungkan dalam berinteraksi dengan orang itu. Begitu pula halnya ketika ia mampir ke rumah tetangganya ini.

”Ada siapa saja di rumah?” ia bertanya pada tetangganya saat masuk ke dalam rumah.

”Lagi nggak ada orang,” jawab tetangganya itu. ”Saya sendirian saja sekarang ini.”

”Sudah makan belum?” tanyanya lagi sambil melihat-lihat ke sekeliling rumah.

”Sudah Mas, alhamdulillah.”

”Masak? Di mana dapurnya? Boleh saya lihat?” tanya Pak Hadi santai.

“Wah, nggak enak, Mas. Dapurnya jelek,” jawab tetangganya itu malu.

“Ah, nggak apa kok, saya cuma mau tahu aja. Tapi kalau nggak boleh juga nggak apa.”

“Boleh kok, Mas,” tetangganya mengalah dan menunjukkan dapurnya pada beliau.

Saat memasuki dapur, mata Pak Hadi tertumbuk pada sebuah penggorengan kecil yang terletak di atas penggorengan yang sangat sederhana.

“Hmmm, baru masak ya?” tanya Pak Hadi.

Yang ditanya diam saja.

“Masak apa sih? Saya kok nggak diajak makan,” ujar Pak Hadi sambil menyentuh tutup penggorengan.

Tetangganya itu terkejut dan seperti hendak menghalangi Pak Hadi. Tapi ia tak sampai melakukannya ... dan itu juga sudah terlambat. Tangan kawan saya ini sudah terlanjur mengangkat tutup penggorengan dan melihat makanan yang ada di dalam penggorengan itu. Apa yang dilihatnya membuat ia sangat terkejut. Di balik penggorengan itu ada daging-daging bekicot. Ya, bekicot yang bisa ditemukan di pojok-pojok luar rumah yang lembab. Itulah yang menjadi menu tuan rumah pada hari itu ... dan mungkin juga hari-hari lainnya.

Kawan saya ini tentu saja merasa tidak enak dengan kejadian itu, sekaligus juga merasa sedih karena ternyata tetangganya sendiri masih ada yang tak mampu membeli lauk sampai terpaksa mengumpulkan dan memasak keong yang ada di sekitar rumahnya. Ia juga merasa segan karena tetangganya ini menjaga diri dari meminta-minta, walaupun kondisi ekonominya sangat susah. Maka ia pun membantu tetangganya itu dan memintanya untuk terbuka padanya jika ia memerlukan sesuatu.

Kebanyakan pembaca tentu tidak pernah merasakan menu makanan seperti di atas. Karena itu, bersyukurlah atas makanan yang kita peroleh, sesederhana apa pun makanan itu. Jika kita sedang duduk di depan meja makan dan tidak menyukai hidangan di atas meja, bayangkanlah daging bekicot di dalam penggorengan. Barangkali itu membuat kita lebih menghargai makanan yang ada.

27 Oktober 2009

Cerita Pagi

Cerita Pagi

By: Ummu Hani

Today at 1:45pm


Pagi ini, seperti biasa, sambil menunggu suamiku bersiap-siap ke kantor, aku duduk di teras dengan secangkir kopi dan HP – yang hampir tak pernah ketinggalan. Tidak lama kemudian, ibuku duduk disampingku. Entah apa yg ada dipikirannya, tiba-tiba saja dia membuka pembicaraan dengan pertanyaan, “Kenapa sih jaman sekarang orang slalu memandang orang lain dari hartanya? Mudah-mudahan kita bukan bagian dari orang-orang kayak gitu y….”

Ia pun mulai bercerita tentang uztadzahnya yang baru meninggal 2 bulan yang lalu.Namanya Udztadzah Mahani. Mungkin sebagian orang sudah mengenal orang mulia ini. Jujur saja, saya tidak mengenal sosok ini secara langsung. Tapi kepribadiannya yang mengagumkan menggugah hati saya.Mungkin diantara orang-orang kaya dan berpendidikan, sosok ini tidak dikenal atau yaaaa mungkin dia dikenal hanya sebagai guru ngaji yang miskin.

Ibu saya mengikuti pengajiannya setiap Rabu siang di Cawang. Saya tidak tahu, dimana lagi beliau mengajar. Rumahnya di daerah Larangan. Setiap Rabu, dengan baju yang sederhana, dia turun naik angkot dan bis (sekitar 6x turun naik bis atau angkot pulang-pergi) dari Larangan ke Cawang. Bukan jarak yang dekat untuk wanita usia 68 tahun. Kalau ada muridnya yang menawarkan untuk antar jemput dengan mobil, dia menolak halus.

Dia selalu berangkat sekitar jam 10an, sampai di Cawang menjelang Dzuhur. Setelah sholat Ashar dia pulang, sholat Magrib di salah satu masjid yang dia lewati dan sampai setelah Isya. Belum kalau bisnya lagi demo, bisa tengah malam baru sampai rumah.

Kalau kita terkagum-kagum dengan semangat Lintang di film Laskar Pelangi, kita juga pasti terkagum-kagum dengan perjuangan Uztadzah Mahani.Bayangkan, untuk wanita 68 tahun, harus berjalan sendiri dan pulang tengah malam – beliau tidak menikah dan tinggal dengan saudaranya – naik turun angkot, hanya untuk mengajar mengaji. Tak ada kata absen, selalu hadir walau diluar udaranya panas atau sedang musim hujan dan banjir, walau muridnya banyak yang tidak masuk. Ia tetap masuk karena tidak ingin mengecewakan murid-murid yang sudah hadir. Penghasilannya hanya dari uang sukarela murid-muridnya, bukan dari iuran tetap. Apa kita bisa seperti beliau di umur 68 tahun?

Tiba-tiba di bulan Ramadhan kemarin, beliau meninggal.Ia hanya sakit 2 hari dan meninggal di rumah sakit. Sebelum meninggal, ia bilang pada saudaranya kalau ini sakit maut. Semua orang yang mengenalnya terhentak mendengar kabar duka ini. Tiga hari sebelum meninggal dia masih beraktivitas keluar rumah dan di hari meninggalnya dia ada jadwal mengajar mengaji di satu tempat.Semua muridnya datang takziah ke rumahnya dan sebelum dikubur, murid-muridnya mengkhatamkan Qur’an untuknya.

Beberapa minggu sesudah meninggal, seseorang bercerita kepada kami kalau sebenarnya Udztadzah Mahani menderita penyakit yang cukup parah (semacam kanker, tapi entah dimananya) yang mungkin untuk orang lain akan membuatnya tergeletak di tempat tidur sampai akhir hayatnya. Tapi dengan kuasa dan ridho Allah, ia tidak merasakan sakit dan tetap bisa mengajar mengaji sampai ajal menjemputnya.

Setelah meninggalnya pula kami baru mengetahui kalau sebenarnya ia lulusan Al Azhar Kairo. Embel-embelnya Prof. Dr. Gelarnya setingkat dengan Quraish Shihab yang juga lulusan Al Azhar. Tapi ia tidak mau memakai gelarnya karena ke-tawadhu-annya.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Untuk menjadi Wali Allah di jaman sekarang, tidak perlu ceramah kesana kemari, masuk TV, dipanggil orang dengan bayaran yg besar. Tidak perlu menjadi pintar tapi kerjanya melecehkan orang lain, atau memandang orang hanya dari hartanya.”

Akui saja, banyak sekali uztad-uztad yang seperti itu jaman sekarang. Bahkan banyak uztad-uztad pintar dari daerah-daerah yang lari ke Jakarta, karena bisa menangguk uang banyak di Jakarta, padahal di daerah asalnya banyak orang yang perlu dan ingin belajar agama.Untuk menjadi Wali Allah di jaman sekarang cukup jaga hati kita dari urusan keduniaan saja, karena itu saja sudah susah banget. Bukan saja urusan nafsu kita untuk kaya, atau kesenangan kita untuk berfoya-foya tapi juga dari hal-hal kecil yang sudah menjadi bagian dari hidup kita.Seperti masalah gossip yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Kadang kita sudah menghindari infotainment, eee ada teman nelpon bawa gossip baru, udah gitu kita juga senang mendengarnya. Bahkan ada yang bilang, itu bukan gossip, itu beneran kok….haduh! Kl beneran namanya GOSSIP, kl gak bener namanya FITNAH!

Kita juga tanpa sadar menjudge orang, “si ini beginilah”, “heran si itu begitu”. Padahal kita tidak pernah tahu, mungkin orang-orang yang kita ‘cap tidak benar’, lebih baik di mata Allah.And one thing, yang paling susah dari semuanya adalah menundukkan hati kita untuk tawadhu. Tanpa sadar kita kadang suka menjadi riya (hayo ngaku…). Sebenarnya itu manusiawi. Orang2 seperti Uztadzah Mahani sangat mungkin untuk menjadi terkenal, bahkan mungkin kalau beliau terkenal, akan lebih terkenal dari uztadzah-uztadzah yang sekarang. Tapi ia tidak mau. Di saat kita terkenal, semua orang akan menyanjung kita. Mengelu-elukan kita. Dan lama-lama hati akan berbalik. Tumbuh keriyaan, lama-lama berubah jadi sombong, dll. Menundukkan hati kita adalah rintangan kita yang paling besar. Mungkin karena itu ia menolak ketenaran, wallahu’allam.

Yang pasti, beliau mungkin tidak terkenal di dunia, tapi beliau pasti terkenal di ‘langit’, seperti Uwais Al Qorny.Tulisan ini saya tulis bukan untuk menyindir atau mengkritik orang-orang tertentu, tapi sekadar rasa kagum dan bangga bisa mengenal orang-orang seperti Udztadzah Mahani. Penulis juga orang yang masih belajar dan jauh dari sifat-sifat mulia di atas. Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi kita semua.

29 Oktober 2009

Wednesday, October 28, 2009

Rem Putus Saat Kecepatan Tinggi

Rem putus saat kecepatan tinggi

Alwi Alatas

Kita belum betul-betul memahami resiko sebuah bahaya sampai kita berhadapan sendiri dengan maut

Saya teringat ada seorang ustadz di Yogyakarta yang sangat perhatian terhadap kendaraan rekan-rekannya yang aktif berdakwah, terutama terhadap mereka yang mengendarai motor. Setiap kali ia melihat ban motor rekannya sudah tipis atau gundul, atau ada kekurangan lainnya pada sepeda motor tersebut, ia akan menasehatinya. “Kamu ini da’i, kamu juga punya anak istri. Jangan anggap remeh ban yang sudah gundul ini. Kalau sampai terjadi kecelakaan, keluarga kamu akan kehilangan, umat juga akan kehilangan.

”Ini merupakan sebuah kebenaran yang sering kita abaikan. Kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Banyak yang akan merasa kehilangan kalau kita sampai mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.

Seperti banyak orang lainnya, saya dulunya juga sering meremehkan perkara-perkara yang kelihatannya kecil. Pernah rem tangan sepeda motor saya tak berfungsi. Saya tak segera memperbaikinya. Sibuk, begitu alasan yang membuat saya menunda pergi ke bengkel. Hari demi hari berlalu dan rem itu saya biarkan tak berfungsi. Toh masih ada rem kaki, demikian pikir saya.

Lalu pada suatu pagi, saya mengendarai sepeda motor dari daerah Gombak menuju ke tempat mengajar di wilayah Ampang, Kuala Lumpur. Motor saya arahkan melewati jalan besar yang biasa disebut MRR2. Jam menunjukkan waktu antara pukul 9-10 pagi, waktu yang sangat sibuk. Jalan penuh dengan mobil-mobil yang meluncur cepat ke tempat tujuan masing-masing.

Saya memacu motor dengan kecepatan yang cukup tinggi supaya bisa sampai di tempat mengajar tepat waktu.Jalur MRR2 merupakan sebuah jalur utama lalu lintas yang tidak dihalangi oleh lampu lalu lintas, kecuali ketika kendaraan bergerak keluar untuk memasuki jalur lain. Jalan turun melalui under pass atau naik lewat way over setiap kali bertemu dengan jalur yang melintanginya. Jalan yang besar-besar dan jarang dihalangi oleh kemacetan membuat mobil-mobil dan motor di Kuala Lumpur kebanyakan melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Motor bergerak cepat seolah berpacu dengan mobil-mobil di sekitarnya. Menjelang Zoo Negara (kebun binatang), jalan naik ke atas. Motor saya menanjak ke atas dan siap meluncur turun kembali. Saya tekan rem kaki untuk mengurangi kecepatan. Kecepatan tidak berubah, justru bertambah karena jalan yang mulai menurun. Saya kembali menginjak rem, tapi tak ada perubahan. Saya injak rem berkali-kali dengan perasaan takut.

Jantung saya seolah melompat keluar dari rongga dada. Rem kaki saya tiba-tiba putus dan tidak berfungsi.Motor meluncur semakin cepat di samping mobil-mobil yang juga melaju kencang. Jalan memanjang dan menurun di depan sana, motor bergerak semakin laju, dan tidak ada rem sama sekali. Entah apa yang akan terjadi berikutnya. Rasanya maut mengintai dari jarak yang dekat sekali.

Saya teringat istri dan anak-anak saya. Saya teringat murid-murid saya, orang-orang yang mengikuti pengajian saya.Saya tidak hidup sendirian. Bagaimana dengan orang-orang yang saya cintai kalau maut betul-betul menjemput?

Motor meluncur turun dengan kecepatan yang terus bertambah. Jalan menurun yang panjang. Tidak ada yang bisa menghentikan motor itu, kecuali setelah ia mencapai jalan mendatar jauh di depan sana ... atau ada sebuah mobil yang akan membenturnya dan membuatnya jatuh dengan keras.

Saya menurunkan kaki dan menekan sepatu saya ke aspal sebisa saya. Usaha itu nyaris sia-sia. Motor tetap melaju kencang. Rasanya tidak ada lagi yang bisa saya lakukan selain pasrah. Kengerian menyelimuti perasaan. Lisan saya mengucapkan berbagai doa yang terlintas di dalam kepala.

Tak jauh di depan ada jalan masuk menuju Zoo Negara. Namun jalur menurun yang saya lalui bertemu dengan jalur kendaraan masuk dari sebelah kiri. Sewaktu-waktu motor saya bisa dihantam dengan keras oleh mobil-mobil yang melaju dari bagian kiri jalan. Saya sama sekali tidak bisa menahan kecepatan motor saya jika tiba-tiba ada kendaraan lain yang tidak mau mengalah di samping saya. Saya cuma bisa berdoa supaya bisa selamat dalam menepikan motor ke pinggir jalan. Untungnya tidak ada mobil yang menyalip dari sebelah kiri.

Motor berhasil diarahkan ke Zoo Negara. Tapi jalan di situ ternyata juga menurun. Saya kembali menekan sepatu ke aspal sambil tak henti berdoa. Perlahan-lahan, motor mulai berhenti. Setelah beberapa saat, kendaraan roda dua itu akhirnya berhenti sama sekali. Saya segera memarkir kendaraan itu dan turun.

Saya duduk di pinggir jalan dan diam untuk beberapa saat. Jantung saya masih berdebar kencang Pengalaman itu seolah melumpuhkan seluruh syaraf saya. Selama beberapa saat lamanya, seluruh kehidupan saya seperti tersedot ke dalam pengalaman menakutkan yang baru saja saya alami.

Setelah perasaan mencekam itu mulai hilang, saya mengeluarkan handphone untuk menelpon atau meng-sms teman. Tapi ternyata pulsa saya habis. Saya juga tidak membawa cukup uang untuk mengendarai taksi. Seorang bapak yang mengamati apa yang terjadi pada saya sebelumnya berjalan mendekat dan menanyakan keadaan saya. Saya menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada bapak itu. Ketika ia menawarkan bantuan, saya menanyakan apakah boleh meminjam handphone-nya untuk mengirim sms. Ia mengangguk dan mengeluarkan handphone.

Saya mengirim sms kepada seseorang di tempat saya mengajar, menanyakan apakah saya boleh meminjam uang setibanya di sekolah nanti. Saya mendapat jawaban positif, lalu segera mencari taksi dan menuju ke sekolah.

Saya bersyukur, tidak terjadi sesuatu pada saya dan motor saya. Sejak saat itu saya tidak pernah menunda-nunda lagi jika ada bagian motor yang perlu diperbaiki. Saya tidak hidup sendirian. Ada orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab saya. Ada orang-orang yang mengikuti pengajian saya.

Merawat dan memperhatikan kondisi kendaraan merupakan hal yang sangat penting dan tidak boleh diremehkan. Ia bagian dari tanggung jawab sebagai seorang Muslim.

KL, 15 Agustus 2009

Sebagaimana dituturkan oleh seorang ustadz