Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Monday, September 26, 2011

Pandangan dan Jiwa Pemandang

Seorang yang berpikiran kotor melihat kilasan-kilasan lucah pada benda-benda mati dan orang-orang yang lalu lalang

Seorang ilmuwan melihat hukum alam dan percikan pengetahuan pada benda-benda di sekitarnya

Seorang ahli hikmah melihat pelajaran-pelajaran yang indah pada kejadian-kejadian yang diamatinya

Seorang pecinta Tuhan melihat Allah pada berbagai benda yang tertumbuk oleh pandangannya

Masing-masing melihat benda-benda yang sama dengan mata fisik yang sama, tapi yang didapati ternyata berbeda

Semuanya kembali kepada keadaan dan perbendaharaan jiwa manusia yang memandang

Jakarta,
24 Shawal 1432/ 22 September 2011

Tuesday, July 27, 2010

Jatuh dari Lantai 16 Tidak Mati

Bocah Sakti
Jatuh dari Lantai 16, Tidak Mati
Senin, 26 Juli 2010 | 14:38 WIB

WELLINGTON, KOMPAS.com — Seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun selamat dengan luka ringan setelah terjatuh dari balkon apartemen keluarganya setinggi 16 lantai ke lantai beton.

Koran The New Zealand Herald melaporkan, Senin (26/7/2010), seorang remaja yang tidak disebutkan namanya tersebut melayang jatuh dari balkon lantai 16 setinggi sekitar 50 meter.

Menurut saksi mata, remaja tersebut meluncur cepat dan kemudian menembus atap tempat parkir. Setelah itu meluncur ke bawah, sebelum akhirnya mencapai lantai beton.

"Anak itu meluncur cepat sekali. Sebelum kemudian terhempas di atas atap dan menghilang ke bawah," kata penghuni lain setelah melihat anak yang jatuh itu melewati jendelanya.

Surat kabar tersebut menyebutkan, para ahli medis heran bagaimana remaja tersebut bisa selamat. Sebab, menurut perhitungan medis, hanya beberapa orang yang selamat bila terjatuh lebih dari lima lantai.

Menurut laporan The New Zealand Herald, saat ini remaja tersebut dalam keadaan stabil. Ia dirawat di sebuah rumah sakit di Auckland.

"Anak itu menderita luka ringan pergelangan tangan, tulang rusuk patah, luka kaki, dan sejumlah luka dalam," katanya.

"Tuhan mungkin telah melindunginya. Ia dijaga malaikat, itu pasti," kata Kaa Wehi, penjaga rumah, yang bekerja di gedung saat peristiwa itu terjadi.

Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2010/07/26/14382261/Jatuh.Dari.Lantai.16..Tidak.Mati-3

Tuesday, June 8, 2010

"Odol" dari Surga

"Odol" dari Surga

Today at 2:38pm

Diposkan oleh Jusharno Ahmad 15 Jan 2010

Cerita menggelikan ini kudengar ketika duduk dibangku SMA dulu. Cerita yang akhirnya tertulis begitu dalam di relung-relung hati. Cerita yang meskipun naif, namun bermakna sangat dalam.

Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol dipenjara. Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan. Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul. Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?

Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar mendapatkan jawaban dari-NYA . Meminta dibukakan jalan keluar dari setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat gagah untuk diucapkan. Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan berulang-ulang kali sebelum diutarakan. Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk esok hari –entah sampai berapa hari- menjengkelkan hatinya amat sangat. Amat tidak penting bagi orang lain, tetapi sangat penting bagi dirinya.

Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu, lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap gila itu. Ia berdiri ragu-ragu dipojok ruangan sel penjara, dalam temaram cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang ia lakukan. Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : “TUHAN, Kau mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu”. Doa selesai. Wajah lelaki itu tampak memerah. Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata amin. Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip dengan seseorang yang berludah ditempat tersembunyi. Tetapi walaupun demikian ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore hari diucapkan, permintaan itu menggelisahkannya hingga malam menjelang tidur. Akhirnya, lelaki itu –walau dengan bersusah payah- mampu melupakan doa sekaligus odolnya itu.

Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar dikamar selnya.

“Saya tidak bersalah Pak !!!”, teriak seorang lelaki gemuk dengan buntalan tas besar dipundak, dipaksa petugas masuk kekamarnya,” Demi TUHAN Pak !!! Saya tidak salah !!! Tolong Pak…Saya jangan dimasukin kesini Paaaaaaaaak. .!!!”

Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari ‘tamu baru’ itu.

“Diam !!”, bentak sang petugas,”Semua orang yang masuk keruangan penjara selalu meneriakkan hal yang sama !! Jangan harap kami bisa tertipu !!!!”

“Tapi Pak…Sssa..”

Brrrraaaaang !!!!

Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan lelaki gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan.

Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya. Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu. Akhirnya tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun kembali tertidur pulas.

Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali ini karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas. Ia terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara. Lho mana Si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi ? Ah masa iya, mimpi itu begitu nyata ?? Aku yakin ia disini tadi malam.

“Dia bilang itu buat kamu !!”, kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas dipojok ruangan. Lelaki itu segera menoleh dan segera menemukan benda yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

“Sekarang dia dimana Pak ?”, tanyanya heran.

“Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi…biasa salah tangkap !”, jawab petugas itu enteng, ”saking senangnya orang itu bilang tas dan segala isinya itu buat kamu”.

Petugas pun ngeloyor pergi.

Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari kepojok ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk untuknya.

Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri. “Ya..TUHAAANNN !!!!”, laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur dipojok ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata. Lelaki itu bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu. Disampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya berhamburan keluar. Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian sehari-hari.

~~~

Sahabat, Kisah tersebut sungguh-sunguh kisah nyata. Sungguh-sungguh pernah terjadi. Dan aku mendengarnya langsung dari orang yang mengalami hal itu. Semoga semua ini dapat menjadi tambahan bekal ketika kita meneruskan berjalan menempuh kehidupan kita masing-masing. Jadi suatu ketika, saat kita merasa jalan dihadapan kita seolah terputus. Sementara harapan seakan menguap diganti deru ketakutan, kebimbangan dan putus asa.

Pada saat seperti itu ada baiknya kita mengingat sungguh-sungguh bahkan Odol pun akan dikirimkan oleh Surga bagi siapapun yang membutuhkannya. Apalagi jika kita meminta sesuatu yang mulia. Sesuatu yang memuliakan harkat manusia dan DIA yang menciptakan kita.

Monday, April 5, 2010

Persaudaraan Ekonomi


Persaudaraan Ekonomi
Alwi Alatas

Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah bengkel untuk mengganti oli mobil dan memeriksa kendaraan kalau-kalau ada bagian yang perlu diperbaiki. Ada sebuah bengkel di dekat rumah, pengelolanya orang Cina. Maklum, seperti itulah kalau tinggal di lingkungan orang-orang Cina, susah juga mendapatkan bengkel mobil yang dikelola orang Melayu di dekat tempat tinggal. Tapi tak apalah, pengelola bengkel itu masih muda dan sangat ramah. Bukan hanya ramah, ia juga tidak keberatan menjawab berbagai pertanyaan soal mobil yang ditanyakan oleh pelanggan tak berpengalaman seperti saya.

Selain mengganti oli, pekerja yang menangani mobil saya juga melakukan pemeriksaan bagian-bagian mobil lainnya. Ia mengisi air karburator, memeriksa tekanan angin pada ban dan memompa ban yang agak kempes. Saat memeriksa filter angin yang sudah kotor, ia membawanya ke dalam untuk menanyakan pada bosnya apakah filter tersebut sudah waktunya diganti. ”Bersihkan saja,” ujar bosnya setelah memperhatikan keadaan filter tersebut. Maka anak buahnya tadi segera membersihkan filter tersebut dengan menggunakan penyemprot angin. Keadaannya tentu saja masih agak kotor dan berwarna keruh, walaupun kondisinya sudah lebih baik.

Saya berdiri memperhatikan pegawai itu bekerja. Seorang pelanggan lain, seorang Cina juga, ikut berdiri di samping saya. Sambil memperhatikan mobil saya, ia mulai berbincang dengan saya. Ia bercerita kalau ia selalu memeriksa kendaraannya secara rutin di tempat itu.

“Technician kedai ini ok … dia paham dan boleh baiki semua problem kereta …,” ia berkata penuh semangat.

Lalu ia melihat filter angin mobil saya yang kotor dan sedang dipasang kembali di tempatnya. “Itu sudah kotor sekali … very dirty lah,” katanya sambil menunjuk filter tersebut. “Lebih baik kalau diganti ….”

“Perlu diganti …?” saya ragu-ragu. Jujur saja, saya belum lama memiliki mobil dan pengetahuan saya tentang mesin mobil setingkat pelajar taman kanak-kanak. Terlebih lagi, uang di kantong saya tidak begitu banyak.

”Setiap kali service saya selalu ganti baru semua yang perlu ... minyak hitam, filter angin, minyak brake ...,” ujarnya menerangkan. ”Yang penting jalan kereta kita jadi ok. We feel comfortable.”

Saya mulai terpancing kata-katanya. ”Berapa harga filter angin? Biasanya berapa lama filter itu perlu diganti?”

Pekerja yang sedang mengurus mobil saya menjawab pertanyaan saya dan menyebut harganya. Saya mulai mempertimbangkan untuk membelinya. Kebetulan uang di kantong masih cukup.

”You tak akan menyesal lah,” pelanggan di samping saya tadi. ”Semua itu akan bikin kereta jadi lebih baik ....”

Ketika bos bengkel datang menghampiri, saya tanyakan apakah filternya memang perlu diganti. ”Memang filter itu sudah kotor, dan lebih baik diganti. Tapi terpulang pada awak apakah nak tukar filter dengan yang baru atau tak.”

”Saya kira begitu lebih baik,” pelanggan yang di sebelah saya masih memberi komentar.

”Baiklah kalau begitu,” ujar saya mantap.” Saya nak tukar filter itu dengan yang baru.” Saya terpengaruh juga dengan omongan pelanggan di sebelah saya. Usianya jauh lebih tua dari saya, jadi saya tak merasa ia telah menggurui saya.

Bagaimanapun, saya merasa juga kalau si pelanggan ini sebetulnya sedang mendukung bos bengkel mobil ini. Ia terlihat sangat akrab dengan bos bengkel tersebut. Dengan menyarankan saya membeli filter baru berarti pemasukan untuk bengkel itu bertambah. Tapi pada saat yang sama saya juga tidak yakin kalau ia sedang berusaha menipu saya. Filter tersebut memang sangat kotor dan dan beberapa bagian mobil saya memang sudah perlu diganti.

Setelah selesai memperbaiki mobil, saya pun kembali ke rumah. Selama beberapa waktu berikutnya saya mengingat-ingat kejadian itu. Saya merasa kagum dengan sikap orang-orang keturunan Cina yang saling mendukung dalam berekonomi. Bahkan di antara sesama pedagang Cina biasanya juga cenderung saling mendukung. Mereka membentuk semacam persaudaraan ekonomi untuk menguatkan posisi perekonomian mereka. Tentu saja di antara mereka juga sering terjadi persaingan dan permusuhan. Tapi saat menghadapi orang lain, mereka biasanya bersatu dan saling mendukung.

Bagaimana dengan kaum Muslimin? Apakah kaum Muslimin dan para pedagang Muslim juga terbiasa melakukan hal yang sama? Barangkali sebagian pelaku ekonomi Muslim juga memiliki kecenderungan yang sama. Namun kami khawatir sikap kebalikannya yang lebih sering muncul. Saya jadi teringat dengan apa yang saya baca di buku Anne Booth, The Indonesian Economy in the Nineteenth and Twentieth Century. Dengan mengutip dari Clifford Geertz saat menjelaskan tentang para pedagang pribumi di Kudus, ia menulis bahwa ‘sikap individualisme mereka yang berlebihan membawa pada kecemburuan ekonomi dan pertengkaran di antara sesama mereka sendiri, daripada membangun jaringan dan memberi dukungan yang saling menguntungkan yang menjadi ciri khas kaum imigran Cina.’

Saya tidak begitu paham dengan sikap individualisme yang berlebihan. Tapi rasa-rasanya masalah kecemburuan ekonomi dan konflik internal cukup mudah dipahami dan dicari contohnya. Apa yang disebutkan Geertz atau Booth di atas terjadi beberapa dekade yang lalu. Apakah hal semacam itu masih berlaku sampai sekarang ini? Wallahu a’lam. Semoga saja tidak.

Kuala Lumpur, 3 Desember 2009

Wednesday, March 31, 2010

Anak laki-laki dan sekantung paku


Anak laki-laki dan sekantung paku

Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk.

Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku,dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang dipagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.

Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar.

Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata :

"Anakku, kamu sudah berlaku baik,tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada dipagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar."

"Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka."

"Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya sama perihnya seperti luka fisik."

"Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka."

"Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat."

"Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu."

"Tunjukkanlah kepada teman- temanmu betapa kau menyukai mereka."

http://fawatihus.blogspot.com/2008/02/anak-laki-laki-dan-sekantung-paku.html

Monday, March 29, 2010

Kenapa …?


Kenapa …?


Riyadh, Selasa, 8 Syawal 1400H

Di ruang tunggu bandara, sepasang suami istri berumur kurang lebih 60 tahun, tengah menanti penerbangan ke Mekah.

Sambil menunggu pengumuman, lelaki tua itu berbaring berbantalkan kain ihram, setelah berpesan pada istrinya,

"Nanti, kalau mereka mengumumkan pesawat akan berangkat, bangunkan saya."

"InsyaAllah" jawab istrinya singkat.

Kemudian wanita tua itu diam. Sambil menunggu, terkadang ia berbincang-bincang dengan para wanita lain di sekelilingnya, kemudian dia katakan,

"Saya mau pergi ke toilet."

Selanjutnya ia pergi menuju toilet di samping masjid bandara tersebut. Karena ia merasa tidak bisa menggunakan dengan baik toilet di bandara atau toilet yang dibuat model Eropa, sang istri pun tertahan lama di toilet tersebut.

Ketika kembali dari sana, ternyata orang-orang sekelilingnya telah pergi. Sang istripun segera membangunkan suaminya. Setengah berteriak dia katakan kepadanya,

"Hai Abu Muhammad, orang-orang sudah pergi, mereka meninggalkan kita."

Orang tua itu bangun dengan gelagapan, lalu mengambil barang-barangnya, kemudian masuk ke pintu gerbang. Ternyata petugas di sana mencegahnya untuk masuk, petugas itu berkata,

"Pesawat telah tinggal landas Paman, ke mana engkau tadi?? Tunggulah penerbangan berikutnya tiga jam lagi."

Lelaki tua itu tak bisa tak bisa berbuat apa-apa selain menengok pada istrinya, lalu menumpahkan segala kemarahannya kepada istrinya. Istrinya dibentaknya seraya berkata,

"Kenapa kita sampai tertinggal oleh pesawat? Kemana kamu tadi?"

Seorang petugas segera datang, lalu berkata, "Paman, marilah istirahat disini saja dulu, insyaAllah, segala sesuatunya akan beres."

Akan tetapi lelaki tua itu semakin berang. Dia marah sekali, sementara sang istri berupaya meredakan amarah suaminya, tetapi tidak juga berhasil. Lelaki tua itu terus saja mengecam istrinya dengan berkata,

"KENAPA....KENAPA....KENAPA......" dan seterusnya

Di tengah hujan kecaman yang kian gencar itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengejutkan. Terdengar pengumuman di bandara bahwa pesawat yang baru saja berangkat mengalami gangguan pada salah satu mesin, kemudian gangguan itu makin parah, hingga akhirnya pesawat itu terbakar. Pilot pesawat itu telah menghubungi pusat pengendalian di bandara, meminta izin untuk melakukan pendaratan darurat. Namun selalu dijawab, "Tunggulah sebentar, landasan pacu masih sibuk."

Namun setelah pilot menyaksikan api makn besar, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mendarat darurat. Tiba-tiba tampaklah kobarna api dari segala penjuru pesawat. Seketika itu juga para petugas keamanan dan para medis memburu masuk bandara untuk menyelamatkan para penumpang. Akan tetapi, tidak berhasil, musibah tersebut menyebabkan terjadinya insiden luar biasa dan semua penumpang tewas.

Orang-orang yang mendengar peristiwa naas itupun, langsung berhamburan datang dari segala penjuru. Termasuk anak pasangan tua itu.

Tiba-tiba lelaki tua itu didekap oleh anaknya seraya berkata,

Alhamdulillah, kau selamat bapak, mana ibu?"

Lelaki tua itu menarik napas panjang, lalu berkata,

"Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami berdua. Demi Allah anakku, sebelumnya aku marah dan sedih sekali karena tertinggal oleh pesawat. Aku tidak pernah mengecam ibumu atas apapun seperti yang aku lakukan terhadapnya hari ini. Astaghfirullah wa atubu ilaih....."

........................................................................

Turut meninggal dalam kecelakaan pesawat itu adalah co pilot Saudi Arabian Airlines yang seharusnya tidak bertugas, yaitu Sami Husnain


From Suci Ummi Adam in Facebook

http://www.facebook.com/photo.php?pid=281013&id=100000142608027


Message: When unpleasant things happen to you, don’t ask ‘why,’ just accept them … and prepare for the next ‘flights.’