Showing posts with label Allah. Show all posts
Showing posts with label Allah. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Benih kebaikan di dalam hati seseorang

Oleh Q.T.
...
Suatu hari Ahmed duduk di dalam Masjid, ia membaca al-Qur'an, Surah Qaf. Tiba-tiba ia mendengar suara orang menangis. Ia memandang sekelilingnya. Seorang lelaki sedang duduk di sana. Ia pun berjalan ke arah lelaki itu.
"Apa masalahmu, saudaraku?" ia bertanya kepadanya.
"Saya seorang yang berdosa," jawab lelaki tersebut. "Saya tidak menyentuh al-Qur'an selama bertahun-tahun. Saya melakukan banyak perkara buruk yang lain. Adakah saya akan diampuni?" katanya.
Ahmed tersenyum kepada lelaki itu dan berkata, "Apakah engkau tidak mendengar firman Allah dalam al-Qur'an yang mulia:
'Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' [al Zumar 39:53]"
Lelaki itu memandang kepadanya dengan wajah gembira, sementara matanya penuh dengan air mata. Kemudian dia mengucapkan selamat tinggal dan pergi.

Tidak kira berapa besar kejahatan yang ada, selalu ada benih kebaikan di dalam hati seseorang. Jika Allah menurunkan rahmat-Nya kepada kita, ia akan berbuah, Insya Allah.
Benih ini seolah-olah senantiasa berperang di dalam hati kita, bahkan sekiranya hati itu diliputi nafsu. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, Dia menjadikan cahaya kebaikan menyinari hati kita. Dia akan menunjuki kita ke jalan yang benar.
Allah berfirman dalam al-Quran yang mulia: 
'Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.' [al-An'am 6: 125].

Diambil dan diterjemahkan daripadahttp://www.sunniforum.com/forum/showthread.php…

Monday, May 13, 2013

Takdir: Antara sikap fatalistik dan free will

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ

Takdir merupakan salah satu hal yang tidak mudah untuk dipahami. Banyak manusia yang tergelincir dan jatuh ke dalam kesalahan karena salah dalam memahami takdir. Ada yang memandang bahwa manusia tidak memiliki ikhtiar (pilihan), yaitu tidak dapat berusaha dalam hidupnya karena segala sesuatunya telah ditentukan. Ia hanya seperti wayang (puppet) di tangan seorang dalang. Karena itu, maka tidak ada yang perlu dilakukan dalam hidup. Pasrah saja. Kalau kemudian ia jadi orang jahat maka takdir-lah yang salah, karena ia tidak mampu memilih dalam hidupnya. Takdir-lah yang membuatnya jadi seperti itu. Ini merupakan sikap fatalistik.

Sebaliknya, ada yang menganggap manusia memiliki kehendak mutlak (free will). Ia dapat memilih dan berusaha apa pun, dan tak ada yang dapat menghalanginya, termasuk takdir. Ia percaya bahwa ia sendirilah yang menentukan takdirnya, bukan Tuhan. Jadi berhasil atau tidaknya seorang dalam usahanya mencapai sesuatu ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh selainnya.



Namun para ulama telah menjelaskan bahwa pendapat yang tepat adalah yang pertengahan di antara dua pendapat yang ekstrim ini. Ini seperti yang dijelaskan oleh al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Membuka Rahasia Ilahi:

Sesungguhnya yang berpendapat bahwa seorang hamba tidak mempunyai ikhtiar dan kemampuan atas segala sesuatu, dan perbuatan ikhtiarnya seperti pemaksaan, maka mereka adalah kaum bid’ah yang dinamakan Jabari. Pendapat yang sesat ini telah dibantah dan dibatalkan dengan dalil manfaat pengutusan seorang rasul dan diturunkannya kitab suci.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa manusia mempunyai kemandirian mutlak pada kehendak dan kemampuannya dalam berikhtiar, mereka juga kaum bid’ah yang dinamakan mu’tazilah.

Yang lain berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan dan ikhtiar yang dengannya dapat melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kemampuan dan ikhtiar itu tidak mandiri secara mutlak. Manusia juga tidak menciptakan kemampuan dan ikhtiarnya. Kelompok terakhir inilah yang telah selamat dari bid’ah dan dinamakan ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Masalah ini memerlukan penjelasan yang panjang dan berkelok-kelok yang mungkin membuat seseorang tersesat di dalamnya. Di dalamnya terdapat rahasia ketetapan Allah yang banyak membingungkan akal manusia. Sayyid Al-Mursalin Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang manusia untuk terlalu menyelami dalam membicarakan masalah ini.


Jadi yang pertengahan inilah yang tepat dan indah. Manusia memiliki kemampuan dan ikhtiar. Ia memiliki kemampuan untuk memilih tindakannya dan untuk berusaha dalam hidupnya. Tetapi kemampuannya itu tidak mutlak. Kemampuan itu juga berasal dari Allah. Hasil dari usahanya juga tidak mutlak, kerana bukan ia yang menjadi penentu akhirnya.

Bagi orang yang pasrah berlebihan dalam hidupnya dan tidak mau berusaha dengan alasan takdir, maka sebaiknya ia mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

1. Allah telah mengutus Rasul dan menurunkan Kitab Suci

Ini seperti yang telah disebutkan oleh Habib Abdullah bin Alwi di atas. Diutusnya Rasul dan diturunkannya Kitab Suci tentu memiliki manfaat. Kalau tidak begitu, maka tidak mungkin Allah mengadakan kedua hal ini. Kalau manusia tidak memiliki sebarang daya untuk memilih, maka tidak ada gunanya diutus seorang Rasul. Justru dengan diutusnya Rasul itu, maka sebagian manusia memilih untuk mengikutinya dan sebagian yang lainnya memutuskan untuk menentangnya. Dan masing-masing akan menerima ganjaran berdasarkan pilihannya sendiri.

Makhluk selain manusia tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Hewan-hewan tidak memiliki ikhtiar seperti yang dimiliki manusia. Karena itu kita tidak pernah mendengar ada Nabi atau kitab petunjuk tertentu yang diturunkan ke tengah-tengah hewan. Hewan-hewan itu tidak dihadapkan pada pilihan untuk taat atau ingkar pada Tuhannya. Mereka semua hidup dengan tunduk pada Tuhannya dan selalu mengikuti fitrahnya.

Namun manusia berbeda. Dia diberi kemampuan untuk memilih. Maka kepadanya diutus seorang Rasul dan ia diperintahkan untuk menyambut seruannya berdasarkan kemampuan memilih yang ia miliki. Dengan ikhtiar ini, sebagian manusia memilih untuk menerima petunjuk Allah, sementara sebagian yang lain menolaknya.

2. Kita diarahkan untuk berusaha dan berdoa

Kita diberi kemampuan untuk berusaha. Kita juga diperintah untuk berdoa, meminta apa pun yang baik pada Allah. Sudah tentu usaha dan doa ini memiliki manfaat. Kalau tidak, maka tidak ada gunanya kita berusaha ataupun berdoa. Kalau usaha dan doa memiliki manfaat, berarti manusia memiliki kemampuan untuk mencapai hal-hal tertentu dalam hidupnya dan untuk mencapai kedudukan tertentu di akhirat. Ini tidak seperti yang dikatakan orang yang pasrah secara mutlak dan menganggap dirinya dipaksa oleh takdir.

Manusia memang memiliki kemampuan, tetapi kemampuannya ini tidak mutlak seperti yang dipercayai oleh segolongan manusia. Manusia tidak memiliki kehendak mutlak (free will). Ia memang memiliki kehendak dan kemampuan, tetapi kehendak dan kemampuannya itu ada batasnya.



Dalam satu kesempatan, saya pernah membahas persoalan ini sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Ketika Allah Menguji Kita (Malaysia: Bila Allah Menduga Kita). Saat tanya jawab, ada seorang peserta yang rupanya kurang setuju dengan penjelasan saya. Ia mengatakan pada saya bahwa menurut yang ia pahami, manusia memiliki kehendak mutlak (free will) untuk menentukan apa pun dalam hidupnya. Untuk menjawabnya, saya berikan kepadanya argumen seperti di bawah ini:

1. Kepastian hasil

Saya bertanya kepadanya, “Ketika manusia menghendaki sesuatu, apakah ia dapat memastikan hasilnya secara mutlak? Apakah ia dapat memastikan bahwa semua kehendaknya pasti terwujud sesuai dengan apa yang direncanakannya?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Kalau ia tak dapat memastikan hasilnya secara mutlak, maka siapa yang sesungguhnya menentukan hasil itu? Kalau manusia tidak bisa memastikan kehendaknya pasti terwujud sesuai yang ia rencanakan, maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa ia memiki kehendak mutlak (free will)? Bahwa ia memiliki kehendak itu betul, tapi dimana letak kemutlakannya?

Manusia memang tak dapat memastikan hasil usahanya secara mutlak. Karena penentu akhirnya adalah Allah. Manusia memang memiliki pilihan dan kehendak, tapi hal ini dibatasi oleh kehendak Allah. Allah-lah yang menentukan hasil akhirnya, dan insya Allah Dia memilihkan yang paling tepat dan paling baik bagi hamba-Nya.

Kepada pembaca tulisan ini, saya menambahkan satu argumen lagi.

2. Ucapan insya Allah

Ketika kita menghendaki sesuatu, apakah kita mengatakan, “Hal itu akan terwujud dengan izin saya,” atau kita akan mengatakan, “Hal itu akan terwujud dengan izin/ kehendak Allah.” Kita tentu akan mengatakan kalimat yang kedua. Kita biasanya mengucapkan in sya Allah ‘jika Allah menghendaki.’ Ini pun menunjukkan terbatasnya kehendak dan kemampuan kita.

Kalau ada yang memilih perkataan yang pertama bahwa hal itu akan terwujud dengan izinnya sendiri, maka sejak kapan ia memiliki kemampuan untuk mengizinkan terjadi atau tidaknya sesuatu? Kalau ada yang merasa bahwa hal semacam ini mungkin saja dimiliki manusia dalam hidupnya, maka mengapa manusia masih mengenal yang namanya kegagalan? Kalau ini benar, orang-orang yang memiliki pemahaman ini tentu tidak akan pernah gagal dalam hidupnya. Tapi coba tanyakan pada mereka, apakah mereka tak pernah gagal dalam hidup? Apakah semua yang mereka rencanakan pasti terwujud? Kenyataannya tidak. Para pakar berpikir positif yang paling optimis sekalipun, jika ia jujur, tentu akan mengakui bahwa kehendak yang dimiliki seorang manusia, walaupun kehendak itu dianggap powerful, tidak dapat dipastikan keberhasilannya secara mutlak.

Jadi ambillah pendapat yang pertengahan. Gunakan pilihan dan kehendak dengan sebaik mungkin, tapi jangan lupa untuk selalu menyandarkan diri pada Yang Maha Menentukan segala sesuatu.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
4 Rajab 1434/ 14 May 2013

Wednesday, April 3, 2013

Tangisan Abu Darda’

Alwi Alatas

Ibnu Katsir menceritakan di dalam Al-Bidayah wan Nihayah bahwa pada tahun 28H/ 649M, kaum Muslimin di wilayah Sham (wilayah yang mencakup Suriah, Yordania, Palestina, dan Lebanon) melakukan pelayaran jihad yang pertama. Sebelumnya peperangan dan jihad menghadapi Byzantium, ataupun Persia, hanya berlangsung di daratan. Tapi kali ini mereka menyeberangi Laut Tengah (Mediterrania) untuk merebut Pulau Cyprus dari kekuasaan Byzantium.

Kaum Muslimin tidak sampai menaklukkan pulau itu, tetapi mereka mendapatkan banyak pampasan dan tawanan perang dalam pertempuran tersebut. Selepas itu, mereka pun kembali ke negeri Sham.

Saat melihat para tawanan dari pulau Cyprus didatangkan, Abu Darda’ ra, seorang sahabat Nabi saw., menangis. Seseorang kemudian bertanya kepadanya, “Mengapa anda menangis padahal pada hari ini Allah telah menjayakan Islam dan kaum Muslimin?”

Abu Darda’ kemudian menjawab, “Bagaimana kamu ini, tadinya mereka adalah ummat yang dapat menguasai kerajaan-kerajaan lain. Di saat mereka tidak menghiraukan perintah Allah, Allah mengubah posisi mereka menjadi seperti yang kamu lihat sendiri. Mereka menjadi tawanan. Jika suatu kaum telah menjadi tawanan, maka Allah tidak lagi mempedulikan mereka.”

Kemudian ia melanjutkan perkataannya, “Sungguh Allah SWT sangat menghinakan hamba yang meninggalkan perintah-Nya.”



Tidakkah kita merasa takjub dengan tangisan Abu Darda’? Kaum Muslimin ketika itu sedang tampil ke muka dan mulai menjadi pemimpin peradaban. Mereka menjadi ummat yang unggul dan menang menghadapi lawan-lawannya. Tapi saat melihat apa yang terjadi pada musuh yang telah menjadi tawanan, beliau melakukan refleksi dan menangis. Mereka dulunya ummat yang kuat, tetapi telah menjadi pihak yang kalah dan tertawan. Apa sebabnya? Karena mereka menjauh dari Tuhannya dan meninggalkan perintah-Nya.

Bagaimana dengan kita? Perlukah kita menangis juga seperti Abu Darda’? Bukannya mudah menjawab pertanyaan ini. Karena sekarang ini, kitalah sebenarnya ummat yang berada dalam posisi ditangisi.

Kuala Lumpur,
22 Jumadil Awwal 1434/ 3 April 2013

Thursday, September 27, 2012

Tersembunyi, tetapi ada dan sangat penting

Alwi Alatas

Kita semua pernah mendengar perkataan ruh atau roh. Tetapi mungkin tidak banyak mengetahui tentangnya, karena kita memang tak diberi pengetahuan yang mendalam tentang hal ini. Seperti yang dikatakan di dalam al-Qur’an: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (QS 17: 85). Walaupun sedikit yang diketahui tentangnya, bukan berarti ia tidak penting.

Saat berkunjung ke Pekanbaru, Riau, di bulan Ramadhan lalu, saya mendengar sebuah ceramah yang sangat bagus tentang ruh dari Dr. Mustafa Umar, seorang ulama muda yang biasa mengisi taklim di Pekanbaru dan juga di Malaysia. Beliau menjelaskan bahwa setiap kata dalam bahasa Arab yang terdiri dari huruf ra’, waw, dan ha mengandung makna ‘yang tak nampak’, ‘tersembunyi’, tetapi ‘ada dan keberadaannya sangat penting dan menentukan’.

Kata riih (angin), misalnya, terdiri dari ketiga huruf ini: ra’, waw, dan ha. Angin merupakan sesuatu yang tak nampak, tetapi ia ada dan keberadaannya penting. Ia membantu kehidupan manusia dalam banyak hal, walaupun kadang-kadang juga dapat menimbulkan kerusakan. Ia tak kelihatan, tetapi keberadaannya menentukan. Demikian juga dengan kata ruh yang juga terdiri dari ketiga huruf tersebut. Ruh tak nampak, tersembunyi, tetapi ada dan sangat penting. Manusia tak boleh hidup tanpa ruh. Posisi ruh bagi manusia bahkan lebih penting daripada jasad.

Selain itu masih ada lagi contoh yang lain. Jika mendapat musibah, kita dilarang berputus asa dari rahmat Allah, karena “sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS 12: 87). Nah, kata ‘rahmat’ pada ayat di atas (rawhillah) ternyata juga menggunakan ketiga huruf ini: ra’, waw, dan ha. Berarti ia tak nampak; ia tersembunyi. Walaupun begitu, ia ada dan keberadaannya sangat penting.


Ketika kita mendapat musibah dan kesusahan, serta hampir berputus asa karena tidak melihat jalan keluar, kita perlu ingat dengan makna ini. Jalan keluar itu memang tak nampak, rahmat dan pertolongan Allah itu memang tersembunyi dari pandangan, sehingga membuat sebagian manusia cenderung berputus asa. Tetapi sebenarnya ia ada. Bukan hanya ada, keberadaannya juga sangat penting dan menentukan. Ia akan muncul pada waktunya dan memberi keselamatan. Kalau kita tidak melihatnya pada saat ini, bukan berarti ia tak ada. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk berputus asa jika kita benar-benar beriman.

Ini adalah sebuah makna yang indah. Bukankah begitu? Hal ini juga mengisyaratkan bahwa semua masalah tentu ada jalan keluarnya. Jalan keluar itu tersembunyi, tetapi ia ada dan akan menjadi faktor penting yang dapat mengubah keadaan kita dari kesusahan kepada kemudahan dan keberhasilan. Insya Allah.

Kuala Lumpur,
26 Syawal 1433 H/ 13 September 2012

http://www.facebook.com/pages/Senyumlah-Apa-pun-masalahmu-Ia-pasti-akan-berlalu/116783405069645

http://www.facebook.com/MudahkanJanganSusahkan

Saturday, October 22, 2011

Berulang kali mencuri


Aneh sekali orang-orang di jaman modern ini. Banyak yang mengenakan atribut Islami, tapi sama sekali tidak merasa takut dan malu kepada Allah.

Saya pening dengan kejadian ini,” seorang direktur sebuah rumah sakit (hospital) di Riau bercerita tentang masalah yang dihadapi lembaga yang dipimpinnya itu. “Ini sudah terjadi berulang kali.”

Direktur rumah sakit ini bercerita tentang pencurian yang dilakukan oleh beberapa orang yang bekerja di bagian farmasi di rumah sakit tersebut. Ia baru saja memberhentikan beberapa orang dari pekerjaannya disebabkan oleh kejadian itu.

Para pelakunya tidak melakukan hal ini secara sendiri-sendiri. Mereka melakukannya secara berjamaah dan saling bersekongkol untuk menutupi perbuatan tersebut. Hal ini berlangsung untuk waktu yang cukup lama,” ia melanjutkan ceritanya. “Mereka melakukan pencurian dan penipuan melalui pembelian obat rumah sakit. Kalau dihitung-hitung, kerugian yang ditanggung oleh rumah sakit ini mungkin lebih dari lima ratus juta rupiah (sekitar RM 175,000).”

Itu jumlah yang sangat banyak,” saya berkata pada direktur tersebut. ”Bagaimana mereka bisa melakukan semua itu tanpa diketahui oleh rumah sakit?

Ada banyak yang terlibat di dalamnya, hingga mencapai dua puluh orang,” terang direktur rumah sakit itu. “Tapi ada satu orang yang rupanya memimpin dan mengatur semuanya. Uang hasil curian dibagi-bagikan kepada semua yang terlibat, sehingga kejadian itu tetap tidak diketahui untuk waktu yang lama. Sistem pembelian obat telah diatur dengan cara yang baik, tapi mereka rupanya menemukan celah untuk melakukan korupsi dari pembelian obat itu.

Mungkin salah saya karena terlalu mempercayai mereka,” lanjut direktur tersebut. ”Saya betul-betul tidak mengerti mengapa mereka bisa melakukannya. Kami selalu membuat pengajian rutin di rumah sakit ini dan mewajibkan mereka semua untuk menghadirinya. Kepada mereka telah dijelaskan tentang mengenal Allah, kebersamaan dengan Allah. Semua pegawai itu juga mengenakan jilbab rapih. Orang yang memimpin pencurian ini termasuk yang paling rajin mengikuti pengajian, selalu duduk di depan, dan sering bertanya kepada ustadz yang memberikan pengajian. Lalu mengapa dia masih berani mencuri?

Saya pun merasa heran saat mendengar cerita itu. Sejauh yang saya perhatikan, rumah sakit itu termasuk yang sangat memelihara nilai-nilai keislaman. Semua pegawai perempuan mengenakan jilbab, para pegawai yang laki-laki juga sangat menjaga adab. Pengajian rutin merupakan salah satu program yang mesti dihadiri oleh para pegawai. Rasanya sulit dipercaya hal semacam ini bisa terjadi di tempat itu.

Apakah ada cara penyampaian yang salah sehingga mereka tidak juga faham tentang haramnya mencuri? Atau jangan-jangan mereka telah terbiasa memakan makanan yang haram di rumahnya, sehingga mereka tidak lagi perduli dari mana dan dengan cara bagaimana mereka mendapatkan uang?"

Saya agak ngeri memikirkan kemungkinan itu. Kalau pegawai-pegawai yang berbusana Islami yang bekerja di tempat yang Islami telah terekspos (exposed) dengan hal-hal yang haram, bagaimana lagi dengan orang-orang selain mereka?

Ketika kami akhirnya mengetahui kejahatan itu, kami terpaksa memberhentikan semua pegawai yang terlibat,” direktur itu kembali menjelaskan. ”Beberapa waktu setelah itu, orang yang memimpin pencurian itu mengirimkan sms kepada saya, meminta maaf, dan memohon agar diperkenankan kembali bekerja di rumah sakit. Karena selama ini saya cukup dekat dengannya dan selalu mempercayainya (walaupun kemudian ia mengkhianati kepercayaan itu), maka saya pun memaafkannya dan menerimanya kembali bekerja. Tapi ....

Apakah hal itu kembali terjadi?” saya bertanya penasaran.

Kejadian itu memang terjadi lagi. Benar-benar tak dapat dimengerti. Baru saja dimaafkan dan diterima bekerja kembali, begitu melihat kesempatan untuk melakukan kejahatan, ia segera mencoba untuk melakukannya lagi. Tapi kali ini perbuatannya segera diketahui.

Saya memanggilnya ke ruangan saya,” direktur itu meneruskan ceritanya. ”Saya mengingatkan dia tentang semua yang telah difahaminya, tentang haramnya mencuri, tentang iman pada Allah, dan banyak hal lainnya.

Apakah ia menyesali perbuatannya?” tanya saya.

Dia hanya diam saja,” direktur ini menjawab dengan nada kesal, seolah pegawai itu masih ada di ruangan itu juga. ”Tidak ada ekspresi di wajahnya. Tidak ada rasa takut pada Allah. Tidak ada perasaan malu karena telah melakukan perbuatan itu. Seolah-olah hatinya telah membeku. Saya benar-benar tak bisa memahami hal itu.

Saya tak bisa membiarkan hal ini lebih jauh,” sambung direktur itu lagi. ”Sebelum ini saya tidak mau melaporkan pencurian ini kepada polisi. Tapi sekarang saya terpaksa melaporkannya. Dan ketika saya menyebutkan tentang polisi di depannya, wajah pegawai itu langsung berubah. Ia mulai merasa khawatir dan ketakutan. Ah, rupanya dia tidak takut kepada Allah. Dia hanya takut kepada polisi. Ya sudahlah, biar ia menyelesaikan urusannya dengan polisi dan menikmati hari-harinya di penjara.

Saya lama merenungkan cerita itu. Sudah separah inikah perilaku mencuri dan korupsi di negeri ini? Kalau kepada Allah seorang sudah tak lagi takut, maka tak banyak hal yang dapat menahan seseorang dari melakukan keburukan. Kita berlindung kepada Allah dari hal semacam ini.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
11 Dzulqaidah 1432/ 9 Oktober 2011

Monday, September 26, 2011

Pandangan dan Jiwa Pemandang

Seorang yang berpikiran kotor melihat kilasan-kilasan lucah pada benda-benda mati dan orang-orang yang lalu lalang

Seorang ilmuwan melihat hukum alam dan percikan pengetahuan pada benda-benda di sekitarnya

Seorang ahli hikmah melihat pelajaran-pelajaran yang indah pada kejadian-kejadian yang diamatinya

Seorang pecinta Tuhan melihat Allah pada berbagai benda yang tertumbuk oleh pandangannya

Masing-masing melihat benda-benda yang sama dengan mata fisik yang sama, tapi yang didapati ternyata berbeda

Semuanya kembali kepada keadaan dan perbendaharaan jiwa manusia yang memandang

Jakarta,
24 Shawal 1432/ 22 September 2011