Showing posts with label al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label al-Qur'an. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Benih kebaikan di dalam hati seseorang

Oleh Q.T.
...
Suatu hari Ahmed duduk di dalam Masjid, ia membaca al-Qur'an, Surah Qaf. Tiba-tiba ia mendengar suara orang menangis. Ia memandang sekelilingnya. Seorang lelaki sedang duduk di sana. Ia pun berjalan ke arah lelaki itu.
"Apa masalahmu, saudaraku?" ia bertanya kepadanya.
"Saya seorang yang berdosa," jawab lelaki tersebut. "Saya tidak menyentuh al-Qur'an selama bertahun-tahun. Saya melakukan banyak perkara buruk yang lain. Adakah saya akan diampuni?" katanya.
Ahmed tersenyum kepada lelaki itu dan berkata, "Apakah engkau tidak mendengar firman Allah dalam al-Qur'an yang mulia:
'Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' [al Zumar 39:53]"
Lelaki itu memandang kepadanya dengan wajah gembira, sementara matanya penuh dengan air mata. Kemudian dia mengucapkan selamat tinggal dan pergi.

Tidak kira berapa besar kejahatan yang ada, selalu ada benih kebaikan di dalam hati seseorang. Jika Allah menurunkan rahmat-Nya kepada kita, ia akan berbuah, Insya Allah.
Benih ini seolah-olah senantiasa berperang di dalam hati kita, bahkan sekiranya hati itu diliputi nafsu. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, Dia menjadikan cahaya kebaikan menyinari hati kita. Dia akan menunjuki kita ke jalan yang benar.
Allah berfirman dalam al-Quran yang mulia: 
'Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya , niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.' [al-An'am 6: 125].

Diambil dan diterjemahkan daripadahttp://www.sunniforum.com/forum/showthread.php…

Tuesday, October 25, 2011

Sensitivitas terhadap sesuatu yang negatif


Al-Qur’an tidak berubah, al-Sunnah tidak berubah, yang berubah adalah respons kita terhadap al-Qur’an dan al-Sunnah
(Abdulbary Yahya, al-Maghrib Institute)

Seorang anak yang belajar di sebuah pesantren, karena terpengaruh temannya, tiba-tiba melakukan kesalahan yang serius: mencuri. Ia mencuri uang temannya, uang abangnya, dan juga uang ibunya. Uang itu digunakan untuk membeli baju-baju baru, handphone, dan beberapa benda lainnya.

Sebenarnya ia merupakan seorang anak yang baik dan tidak pernah melakukan perilaku buruk semacam itu sebelumnya. Tapi rupanya ia mudah dipengaruhi oleh orang lain. Kami kemudian menasihatinya dan memindahkannya dari pesantren ke sebuah madrasah dengan harapan hal itu dapat membantunya untuk berubah.

Suatu hari saya diberitahu bahwa baju yang dulu dibelinya dengan uang curian masih digunakan secara bergantian oleh anak ini dan abangnya. Uang yang dicuri memang dikembalikan kepada pemiliknya secara berangsur (dibayarkan beberapa kali) dan santri yang dicuri uangnya sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Tapi kenyataan ini membuat saya gelisah. Walaupun masalahnya sudah dianggap selesai dan baju itu telah menjadi halal, tapi baju itu sebelumnya didapat dengan cara mencuri. Bagaimana mungkin seorang anak dapat memahami dan merasakan besarnya kejahatan mencuri jika barang bekas curiannya masih tetap melekat di badannya?

Ketika saya berkesempatan berbincang dengan orang tuanya, saya sampaikan kegelisahan saya ini. Saya jelaskan bahwa baju itu memang sekarang sudah halal, tapi hal itu sama sekali tidak mendidiknya. Kalau yang melakukan hal semacam itu adalah anak saya sendiri, saya akan menasihatinya dan menyuruhnya untuk membakar baju-baju itu. Saya tidak ridha dia memakai sesuatu yang bersumber dari perbuatan buruknya. Ia harus menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah suatu kesalahan yang besar.

Orang tuanya merasa berat untuk membakar atau membuang pakaian-pakaian itu, tapi setuju untuk menjauhkannya dari rumah. Mereka memutuskan untuk memberikan baju-baju itu kepada orang lain. Tak apalah, pikir saya, yang penting ia tidak lagi memakai baju-baju itu.

Membakar atau membuang baju-baju itu bukanlah sesuatu yang berlebihan atau salah untuk dilakukan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah melakukan hal ini. Pernah suatu kali beliau mendapati seorang pria mengenakan sebuah cincin emas di jarinya. Beliau kemudian menghampiri orang itu, melepaskan cincin emas dari jarinya, dan membuangnya ke tanah. ” Salah seorang dari kalian dengan sengaja melihat bara api dari neraka dan menggunakannya di tangannya,” kata beliau saat membuang cincin emas itu. Beliau kemudian meninggalkan tempat itu.

Orang itu masih berdiri di sana selama beberapa saat. Seorang yang melihat kejadian itu kemudian berkata kepada si pemilik cincin, ”Ambil cincin itu dan manfaatkanlah.”

Apa yang dikatakan orang itu tidak salah. Cincin dan benda-benda emas lainnya hanya haram untuk dikenakan oleh pria. Tapi emas sama sekali tidak haram untuk disimpan dan dimanfaatkan untuk keperluan lainnya.

Tapi apa respons pemilik cincin itu? Apakah ia mengambil kembali cincin yang telah dibuang itu dan kemudian memanfaatkannya dengan cara yang halal? Ternyata tidak. ”Demi Allah, saya tidak akan mengambil cincin yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah membuangnya,” kata orang itu (Hadits riwayat Muslim ini kami ambil dari buku Shaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Bekal Bagi para Dai di dalam Dakwah).

Betapa indah dan efektifnya tarbiyah Rasulullah kepada orang-orang di sekitarnya. Betapa indahnya sikap dan respons para sahabat terhadap nasihat dan peringatan Nabinya. Mengapa kita tidak mau mengambil pelajaran yang indah ini untuk kehidupan kita sehari-hari? Banyak di antara kita pada hari ini yang tidak ingin anak dan anggota keluarganya melakukan perbuatan buruk. Tapi sayangnya mereka membiarkan bekas-bekas keburukan melekat pada tubuh mereka. Atau bahkan membiarkan terjadinya suatu kesalahan tanpa adanya usaha yang serius untuk mengubahnya.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Ustadz Abdulbary Yahya, salah seorang instruktur pada al-Maghrib Institute, saat memberikan khutbah Jum’at di Masjid International Islamic University Malaysia (IIUM), 14 Oktober 2011: The Qur’an is not changed, the Sunnah is not changed, what is changed is our response to the Qur’an dan the Sunnah.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
19 Dzulqaidah 1432/ 17 Oktober 2011

Friday, September 23, 2011

Di Antara Taman-taman Surga


Alwi Alatas

Sebelum memasuki taman-taman Surga di akhirat kelak, masukilah taman-taman surga-Nya di dunia ini.


Seorang kenalan bercerita tentang salah satu dosennya (lecture) yang non-Muslim. Suatu hari dosennya itu menyindir mahasiswanya yang beragama Islam, “Kasihan orang-orang Islam. Mengapa mereka harus bangun di malam buta untuk shalat tahajjud (qiyamul lail), sementara pada saat itu manusia sedang lelap menikmati tidurnya.”

Ah, sayang sekali, orang ini tidak memahami apa yang diucapkannya.

Bangun malam dan shalat tahajjud memang berat bagi orang yang tidak terbiasa dan tidak memiliki kemauan untuk melakukannya. Tapi bagi mereka yang biasa melakukannya, ia merupakan suatu hal yang indah dan berkesan.

Bagi yang tidak begitu terbiasa melakukannya, setidaknya mereka dapat merasakannya pada waktu-waktu tertentu, seperti di bulan Ramadhan. Mereka berkumpul di masjid-masjid untuk shalat dan membaca al-Qur’an. Lalu di sepuluh hari terakhir mereka melakukan i’tikaf, menetap di masjid, memperbanyak ibadah sambil mengharapkan perjumpaan dengan malam lailatul qadar.

Manusia berhimpun di masjid, beribadah sepanjang malam, atau tidur sebentar dan kemudian melanjutkan kembali ibadah mereka. Suara bacaan al-Qur’an terdengar dari lisan-lisan mereka seperti dengung lebah. Setelah berbuka puasa dan shalat maghrib, mereka akan membuka lembaran-lembaran mushaf dan membacanya dengan khusyu’ sambil menunggu datangnya waktu isya. Setelah itu, orang-orang berdiri dan mendirikan shalat isya dan dilanjutkan dengan shalat tarawih.

Selesai tarawih, mungkin ada tausiyah dan tazkiyah yang dapat melembutkan hati dan meningkatkan semangat beribadah di waktu-waktu yang mulia itu. Kemudian mereka kembali melakukan zikir dan bacaan al-Qur’an, atau berdiri untuk shalat. Ada yang mencari tempat-tempat yang tak banyak dilalui orang, kemudian shalat di tempat itu untuk waktu yang lama. Beberapa yang lain beristirahat selama beberapa atau berbincang dengan beberapa kawannya yang ada di tempat itu. Yang lainnya lagi menghafalkan al-Qur’an atau memurajaah hafalannya.

Kemudian di akhir malam, mereka bergegas berdiri di belakang imam untuk melakukan qiyamul lail. Bacaan imam yang panjang dan menyentuh qalbu membuat jamaah terisak dan menangis. Ketika imam membaca ayat-ayat tentang surga, mereka memohon kepada-Nya untuk mendapatkan Surga. Jika dibacakan ayat-ayat ancaman, hati mereka bergetar dan merasa takut kepada-Nya. Saat imam membaca doa qunut yang indah, banyak yang menangis karena teringat akan dosa-dosanya serta berharap ampunan dari-Nya.

Untuk mereka yang melakukan i’tikaf di masjid yang dipenuhi manusia dari berbagai negara, seperti yang berlaku di masjid Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) ataupun yang lainnya, akan didapati keindahan tambahan. Mereka melangkah di tengah masjid dan melihat manusia dengan berbagai suku bangsa dan beragam warna kulit sibuk dengan ibadah mereka. Saat mereka duduk membaca al-Qur’an, sesekali mereka mengangkat kepalanya dan mendapati seorang Afrika yang berkulit hitam legam atau seorang Eropa yang kulitnya seputih susu menatap sekilas sambil tersenyum ramah.

Mereka berbaris untuk shalat berjamaah dan mendapati seorang Palestina di sebelah kirinya, seorang Nigeria di sebelah kanannya, beberapa orang Melayu di depannya, dan orang-orang bermata sipit yang kemungkinan berasal dari Cina atau Asia Tengah berada di belakangnya. Semuanya tenggelam di dalam bacaan imam yang indah, seolah mereka sedang shalat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Semuanya begitu indah sehingga pada waktu subuh, seorang yang sedang duduk merenungi kenikmatan ibadahnya di sepanjang malam itu mungkin merasakan angin yang lembut menerpa wajah dan tubuhnya. Angin itu sesekali meniup tubuhnya, kemudian menghilang, lalu muncul lagi, dan itu terjadi beberapa kali. Angin itu begitu lembut dan menenangkan jiwa dan perasaan.

Apakah ini merupakan tanda-tanda lailatul qadar seperti yang sering diceritakan orang-orang? Ia memandang ke sebelah kanan, ke sisi masjid yang tak berdinding. Angin itu terasa sangat nikmat. Apakah ini malam lailatul qadar?

Lalu ia mengangkat kepalanya ke atas dan mendapati sebuah kipas angin tak jauh di hadapannya bergerak ke kanan dan ke kiri. Saat kipas itu mengarah kepadanya, ia merasakan hembusan angin seperti yang tadi ia rasakan.

Ah, ternyata hanya hembusan kipas, ia tersenyum sendiri.

Tapi biarlah. Semoga orang-orang yang i’tikaf dan beribadah di penghujung Ramadhan itu mendapatkan lailatul qadar, walaupun mereka tidak merasakan tanda apa pun. Allah tidak akan menyia-nyiakan amal ibadah hamba-hamba-Nya.

Manusia yang berada di masjid-masjid pada malam-malam itu, dengan niat yang ikhlas dan disertai pemahaman yang baik, mereka akan menyaksikan taman-taman surga di dunia. Mereka yang menjaga imannya dan merasakan manisnya iman akan merasakan kenikmatan, seolah-olah mereka sudah berada di Surga sebelum mereka benar-benar memasukinya. Seorang ulama pernah mengatakan, “Di dunia ini ada surga, siapa yang tidak memasukinya tidak akan memasuki Surga di akhirat.”

Tidakkah Anda juga ingin masuk ke dalamnya?


Jakarta,
24 Shawal 1432/ 22 September 2011