Showing posts with label takdir. Show all posts
Showing posts with label takdir. Show all posts

Tuesday, March 4, 2014

Gara-gara ditolak Facebook

Brian Acton, ahli komputer lulusan Stanford University, pernah bekerja di Apple dan Adobe. Antara tahun 1996 dan 2007 ia bekerja di Yahoo dan jabatan terakhirnya adalah vice president of engineering. Dengan kepakaran dan pengalaman semacam itu rasanya akan mudah bagi Acton untuk melamar ke perusahaan manapun yang bergerak di bidangIT. Tapi kenyataannya tidak begitu. Pada pertengahan 2009, ia melamar untuk bergabung dengan Facebook, tapi lamarannya ini ditolak. Kabarnya ia juga melamar dan mengalami penolakan oleh Twitter.

Bagi sebagian orang, penolakan semacam itu mungkin merupakan hal yang menyakitkan dan menyebabkan hilangnya semangat. Tapi manusia sering lupa bahwa tertutupnya sebuah pintu bagi mereka mungkin bermakna adanya pintu lain yang terbukan dan bisa membawanya ke tempat yag lebih baik. Ini pula yang rupanya dialami oleh Acton.

Setelah kejadian itu, ia tampaknya tidak menjadi 'down'. Setelah ditolak Facebook, ia menuliskan hal itu di twitternya dan menutupnya dengan kata-kata 'looking forward to life's next adventure'.



Tak lama setelah itu, Acton dan seorang kawannya, Jan Koum, membangun aplikasi Whatsapp. Aplikasi ini ternyata tumbuh dengan pesat dan digunakan oleh banyak pengguna, termasuk di Indonesia. Kini pengguna Whatsapp telah mencapai 430 juta pengguna aktif dan setiap harinya aplikasi ini melayani 50 miliar pesan setiap harinya. Whatsapp telah mengalahkan penggunaan sms di banyak negara.

Baru-baru ini kita mendengar berita bahwa Facebook membeli Whatsapp dengan harga yang sangat fantastis, yaitu senilai 19 miliar dolar AS atau sekitar 223 triliun rupiah. Dari nilai itu, 3 miliar dolar diberikan dalam bentuk saham kepada Acton dan beberapa orang lainnya di Whatsapp. Acton sendiri kini direkrut untuk bergabung dengan Facebook.

Kisah yang menarik bukan. Lima tahun sebelumnya Brian Acton ditolak oleh Facebook. Namun kini ia 'dibeli' dengan harga yang sangat tinggi oleh perusahaan yang pernah menolaknya itu. Kalau pada waktu itu ia diterima oleh Facebook, kita tidak tahun apakah aplikasi Whatsapp akan terlahir, atau apakah ia akan berkembang seperti yang kita ketahui sekarang.

Takdir memang memiliki rahasianya sendiri dalam mengarahkan hidup seseorang. Jadi jangan marah terhadap takdir yang tidak disukai. Sikapi saja dengan positif dan teruskan perjuangan hidupmu. Insya Allah ada banyak kebaikan yang mungkin menanti di hadapan.

Monday, May 13, 2013

Takdir: Antara sikap fatalistik dan free will

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ

Takdir merupakan salah satu hal yang tidak mudah untuk dipahami. Banyak manusia yang tergelincir dan jatuh ke dalam kesalahan karena salah dalam memahami takdir. Ada yang memandang bahwa manusia tidak memiliki ikhtiar (pilihan), yaitu tidak dapat berusaha dalam hidupnya karena segala sesuatunya telah ditentukan. Ia hanya seperti wayang (puppet) di tangan seorang dalang. Karena itu, maka tidak ada yang perlu dilakukan dalam hidup. Pasrah saja. Kalau kemudian ia jadi orang jahat maka takdir-lah yang salah, karena ia tidak mampu memilih dalam hidupnya. Takdir-lah yang membuatnya jadi seperti itu. Ini merupakan sikap fatalistik.

Sebaliknya, ada yang menganggap manusia memiliki kehendak mutlak (free will). Ia dapat memilih dan berusaha apa pun, dan tak ada yang dapat menghalanginya, termasuk takdir. Ia percaya bahwa ia sendirilah yang menentukan takdirnya, bukan Tuhan. Jadi berhasil atau tidaknya seorang dalam usahanya mencapai sesuatu ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh selainnya.



Namun para ulama telah menjelaskan bahwa pendapat yang tepat adalah yang pertengahan di antara dua pendapat yang ekstrim ini. Ini seperti yang dijelaskan oleh al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Membuka Rahasia Ilahi:

Sesungguhnya yang berpendapat bahwa seorang hamba tidak mempunyai ikhtiar dan kemampuan atas segala sesuatu, dan perbuatan ikhtiarnya seperti pemaksaan, maka mereka adalah kaum bid’ah yang dinamakan Jabari. Pendapat yang sesat ini telah dibantah dan dibatalkan dengan dalil manfaat pengutusan seorang rasul dan diturunkannya kitab suci.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa manusia mempunyai kemandirian mutlak pada kehendak dan kemampuannya dalam berikhtiar, mereka juga kaum bid’ah yang dinamakan mu’tazilah.

Yang lain berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan dan ikhtiar yang dengannya dapat melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kemampuan dan ikhtiar itu tidak mandiri secara mutlak. Manusia juga tidak menciptakan kemampuan dan ikhtiarnya. Kelompok terakhir inilah yang telah selamat dari bid’ah dan dinamakan ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Masalah ini memerlukan penjelasan yang panjang dan berkelok-kelok yang mungkin membuat seseorang tersesat di dalamnya. Di dalamnya terdapat rahasia ketetapan Allah yang banyak membingungkan akal manusia. Sayyid Al-Mursalin Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang manusia untuk terlalu menyelami dalam membicarakan masalah ini.


Jadi yang pertengahan inilah yang tepat dan indah. Manusia memiliki kemampuan dan ikhtiar. Ia memiliki kemampuan untuk memilih tindakannya dan untuk berusaha dalam hidupnya. Tetapi kemampuannya itu tidak mutlak. Kemampuan itu juga berasal dari Allah. Hasil dari usahanya juga tidak mutlak, kerana bukan ia yang menjadi penentu akhirnya.

Bagi orang yang pasrah berlebihan dalam hidupnya dan tidak mau berusaha dengan alasan takdir, maka sebaiknya ia mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

1. Allah telah mengutus Rasul dan menurunkan Kitab Suci

Ini seperti yang telah disebutkan oleh Habib Abdullah bin Alwi di atas. Diutusnya Rasul dan diturunkannya Kitab Suci tentu memiliki manfaat. Kalau tidak begitu, maka tidak mungkin Allah mengadakan kedua hal ini. Kalau manusia tidak memiliki sebarang daya untuk memilih, maka tidak ada gunanya diutus seorang Rasul. Justru dengan diutusnya Rasul itu, maka sebagian manusia memilih untuk mengikutinya dan sebagian yang lainnya memutuskan untuk menentangnya. Dan masing-masing akan menerima ganjaran berdasarkan pilihannya sendiri.

Makhluk selain manusia tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Hewan-hewan tidak memiliki ikhtiar seperti yang dimiliki manusia. Karena itu kita tidak pernah mendengar ada Nabi atau kitab petunjuk tertentu yang diturunkan ke tengah-tengah hewan. Hewan-hewan itu tidak dihadapkan pada pilihan untuk taat atau ingkar pada Tuhannya. Mereka semua hidup dengan tunduk pada Tuhannya dan selalu mengikuti fitrahnya.

Namun manusia berbeda. Dia diberi kemampuan untuk memilih. Maka kepadanya diutus seorang Rasul dan ia diperintahkan untuk menyambut seruannya berdasarkan kemampuan memilih yang ia miliki. Dengan ikhtiar ini, sebagian manusia memilih untuk menerima petunjuk Allah, sementara sebagian yang lain menolaknya.

2. Kita diarahkan untuk berusaha dan berdoa

Kita diberi kemampuan untuk berusaha. Kita juga diperintah untuk berdoa, meminta apa pun yang baik pada Allah. Sudah tentu usaha dan doa ini memiliki manfaat. Kalau tidak, maka tidak ada gunanya kita berusaha ataupun berdoa. Kalau usaha dan doa memiliki manfaat, berarti manusia memiliki kemampuan untuk mencapai hal-hal tertentu dalam hidupnya dan untuk mencapai kedudukan tertentu di akhirat. Ini tidak seperti yang dikatakan orang yang pasrah secara mutlak dan menganggap dirinya dipaksa oleh takdir.

Manusia memang memiliki kemampuan, tetapi kemampuannya ini tidak mutlak seperti yang dipercayai oleh segolongan manusia. Manusia tidak memiliki kehendak mutlak (free will). Ia memang memiliki kehendak dan kemampuan, tetapi kehendak dan kemampuannya itu ada batasnya.



Dalam satu kesempatan, saya pernah membahas persoalan ini sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Ketika Allah Menguji Kita (Malaysia: Bila Allah Menduga Kita). Saat tanya jawab, ada seorang peserta yang rupanya kurang setuju dengan penjelasan saya. Ia mengatakan pada saya bahwa menurut yang ia pahami, manusia memiliki kehendak mutlak (free will) untuk menentukan apa pun dalam hidupnya. Untuk menjawabnya, saya berikan kepadanya argumen seperti di bawah ini:

1. Kepastian hasil

Saya bertanya kepadanya, “Ketika manusia menghendaki sesuatu, apakah ia dapat memastikan hasilnya secara mutlak? Apakah ia dapat memastikan bahwa semua kehendaknya pasti terwujud sesuai dengan apa yang direncanakannya?”

Ia menjawab, “Tidak.”

Kalau ia tak dapat memastikan hasilnya secara mutlak, maka siapa yang sesungguhnya menentukan hasil itu? Kalau manusia tidak bisa memastikan kehendaknya pasti terwujud sesuai yang ia rencanakan, maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa ia memiki kehendak mutlak (free will)? Bahwa ia memiliki kehendak itu betul, tapi dimana letak kemutlakannya?

Manusia memang tak dapat memastikan hasil usahanya secara mutlak. Karena penentu akhirnya adalah Allah. Manusia memang memiliki pilihan dan kehendak, tapi hal ini dibatasi oleh kehendak Allah. Allah-lah yang menentukan hasil akhirnya, dan insya Allah Dia memilihkan yang paling tepat dan paling baik bagi hamba-Nya.

Kepada pembaca tulisan ini, saya menambahkan satu argumen lagi.

2. Ucapan insya Allah

Ketika kita menghendaki sesuatu, apakah kita mengatakan, “Hal itu akan terwujud dengan izin saya,” atau kita akan mengatakan, “Hal itu akan terwujud dengan izin/ kehendak Allah.” Kita tentu akan mengatakan kalimat yang kedua. Kita biasanya mengucapkan in sya Allah ‘jika Allah menghendaki.’ Ini pun menunjukkan terbatasnya kehendak dan kemampuan kita.

Kalau ada yang memilih perkataan yang pertama bahwa hal itu akan terwujud dengan izinnya sendiri, maka sejak kapan ia memiliki kemampuan untuk mengizinkan terjadi atau tidaknya sesuatu? Kalau ada yang merasa bahwa hal semacam ini mungkin saja dimiliki manusia dalam hidupnya, maka mengapa manusia masih mengenal yang namanya kegagalan? Kalau ini benar, orang-orang yang memiliki pemahaman ini tentu tidak akan pernah gagal dalam hidupnya. Tapi coba tanyakan pada mereka, apakah mereka tak pernah gagal dalam hidup? Apakah semua yang mereka rencanakan pasti terwujud? Kenyataannya tidak. Para pakar berpikir positif yang paling optimis sekalipun, jika ia jujur, tentu akan mengakui bahwa kehendak yang dimiliki seorang manusia, walaupun kehendak itu dianggap powerful, tidak dapat dipastikan keberhasilannya secara mutlak.

Jadi ambillah pendapat yang pertengahan. Gunakan pilihan dan kehendak dengan sebaik mungkin, tapi jangan lupa untuk selalu menyandarkan diri pada Yang Maha Menentukan segala sesuatu.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
4 Rajab 1434/ 14 May 2013

Wednesday, October 5, 2011

Jalan ke Pekanbaru


By: Alwi

Betapa banyak hal yang kita rencanakan dengan matang tak berjalan sama sekali. Dan berapa banyak hal yang tidak kita rencanakan justru berjalan dengan begitu bagusnya.


Sudah dua tahun ini, setiap bulan Ramadhan, saya diundang ke Pekanbaru, Riau, oleh Ustadz Mustafa Umar dan Rumah Sakit Zainab. Selama berada di Pekanbaru, saya diminta mengisi beberapa program, termasuk bedah buku (booktalk) Ketika Allah Menguji Kita (Bila Allah Menduga Kita) dan Whatever Your Problem, Smile (Senyumlah, Apa pun masalahmu Ia pasti akan berlalu).

Selama berada di sana, orang-orang sering bertanya, “Bagaimana Ustadz mengenal Ustadz Mustafa Umar? Apakah Ustadz sama-sama belajar di Malaysia dan berjumpa di sana?”

Saya selalu tersenyum mendengar pertanyaan itu. Manusia tidak pernah menyangka betapa hebatnya takdir mempertemukan manusia, gumam saya dalam hati.

Dr. Mustafa Umar merupakan seorang dai yang dikenal luas di Pekanbaru dan sekitarnya. Di Malaysia beliau juga memiliki banyak jamaah pengajian. Walaupun sama-sama belajar di Malaysia, kami tidak pernah bertemu. Ustadz Mustafa Umar lebih senior dari saya dalam usianya dan dalam studinya di Malaysia. Yang mempertemukan kami hanyalah sebuah ‘kebetulan’.

Pada suatu malam, beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan tahun 2010, seorang mahasiswa Indonesia di Universiti Islam Antarabangsa (UIA) Malaysia menelpon saya. “Ustadz, besok kami mengadakan program yang akan diisi oleh Ustadz Mustafa Umar. Apakah Ustadz dapat mengirimkan beberapa buku Ustadz untuk dijual pada program tersebut?”

“Programnya besok? Mengapa baru sekarang saya diberi tahu?”

”Minta maaf, Ustadz. Sebelumnya tidak ada rencana untuk berjualan buku. Keputusan ini baru saja dibuat. Kalau Ustadz sempat membawakan buku ke UIA kami akan menjualkan buku-buku itu. Tapi kalau tak sempat tak apalah. Kami minta maaf karena tak merencanakan ini lebih awal.”

“Saya belum dapat memastikannya. Kalau sempat, saya akan membawanya besok.”

Kami pun mengakhiri pembicaraan.

Ketika itu saya belum mengenal Ustadz Mustafa Umar, beliau pun demikian juga. Kami sama sekali belum pernah bertemu dan mengenal satu sama lain. Saya sendiri tidak dapat hadir ke acara tersebut karena ada hal lain yang harus dilakukan. Karena saya tak dapat pergi ke UIA dan teman-teman di sana juga tak dapat datang ke tempat saya yang cukup jauh dari kampus untuk mengambil buku, maka buku-buku itu kemungkinan besar tidak akan dijual pada acara tersebut.

Tapi dengan izin Allah, pada pagi harinya istri saya menawarkan diri untuk mengantarkan buku-buku itu ke UIA. Maka jadilah buku itu dibawa dan dijual oleh panitia (organizer) pada program ceramah Ustadz Mustafa Umar.

Pada petang harinya, saya mendapat kabar dari panitia (organizer), enam buah buku saya terjual pada program tersebut. Buku-buku yang terjual adalah sebuah novel dan lima buah buku Ketika Allah Menguji Kita (Bila Allah Menduga Kita). Lima buku yang terakhir ini seluruhnya dibeli oleh Ustadz Mustafa Umar. Seolah-olah, buku-buku itu berada di tempat itu hanya untuk berjumpa dengan Ustadz Mustafa Umar, dan bukan untuk hal yang lainnya.

Teman-teman di UIA mengatakan bahwa Ustadz Mustafa Umar tertarik saat melihat buku itu dan meminta nomor telepon saya. Beberapa waktu kemudian beliau memang menghubungi saya. Beliau menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan beliau akan mengadakan program bedah buku (booktalk) di Pekanbaru. Setiap harinya ada satu buah buku yang dibedah. Total ada sekitar dua puluh buku yang akan dibedah. Beliau menanyakan kesediaan saya sekiranya diundang ke Pekanbaru dan membedah buku tersebut secara langsung. Saya menyetujui undangan beliau itu. Maka berangkatlah saya pada Ramadhan tahun itu (2010) ke Pekanbaru ... dan juga pada Ramadhan tahun berikutnya (2011). Tersambunglah tali persaudaraan dan silaturahim dengan teman-teman di Pekanbaru.

Setiap mengingat hal itu, saya selalu terkesan dengan cara takdir mempertemukan manusia. Ketika orang-orang tidak memikirkan dan merencanakan sesuatu, tiba-tiba semuanya bergerak sendiri untuk mewujudkannya, walaupun hanya tersisa satu malam untuk itu. Dan semua berlaku sesuai dengan kehendak-Nya. Wallahu a’lam bis showab.

Jakarta,
8 Dzulqaidah 1432/ 6 Oktober 2011