Showing posts with label pekanbaru. Show all posts
Showing posts with label pekanbaru. Show all posts
Monday, October 17, 2011
Lebih dari Tersenyum
Ada orang yang mampu menertawakan sebagian dari masalah yang dihadapinya. Sebagian masalah dan musibah sebetulnya mengandung seporsi hiburan dan kelucuan, walaupun tak semua orang dapat melihatnya
Pada pertengahan Ramadhan 1432 (Agustus 2011) lalu, saya berada di Pekanbaru, Riau, untuk mengisi kajian Ramadhan dan bedah buku Whatever Your Problem, Smile. Saya berada di sana atas undangan Ustadz Mustafa Umar dan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Zainab. Alhamdulillah seluruh program berjalan dengan lancar.
Pada hari terakhir, saya pun berangkat meninggalkan tempat menginap menuju airport untuk kembali ke Kuala Lumpur. Ketika itu saya diantar oleh panitia program, Idris, dan sopir (driver) RSIA Zainab yang biasa kami panggil Pak Dayat. Dalam perjalanan ke airport, sopir keturunan Arab Medan yang biasa bicara ceplas-ceplos ini protes pada saya.
“Tadi saya sempat mendengar kajian buku Ustadz …,” katanya.
“Oh ya?”
“Ya,” katanya setengah tertawa. “Dan saya tertawa dengan tema buku itu, Apapun Masalahmu, Tersenyumlah.”
“Mengapa begitu?” tanya saya heran.
“Saat mendengar pembahasan tadi, saya berkata dalam hati, ‘Ustadz ini enak saja menyuruh senyum orang yang sedang dapat masalah. Coba kalau Ustadz sendiri yang dapat masalah, apakah masih bisa tersenyum?’” ujarnya sambil tertawa.
Saya tersenyum mendengar kritiknya yang to the point itu. “Memang jauh lebih mudah bicara daripada mengamalkannya,” jawab saya, “tapi itu bukan berarti hal itu tidak bisa diamalkan.”
“Saat mendengarkan kajian tadi saya menggeleng-gelengkan kepala,” lanjut Pak Dayat, “Enak betul Ustadz ini bicara. Coba kalau Ustadz yang berada di posisi saya. Saya ini baru saja dapat musibah yang cukup besar ....”
“Baru mendapat musibah?” saya mulai memahami mengapa ia protes pada saya.
“Ya, selama beberapa hari ini saya tertahan di luar kota karena harus mengurus adik saya yang terlibat kecelakaan (accident),” ujarnya. “Akhirnya kami harus membayar ganti rugi sebesar 30 juta rupiah (sekitar RM 10,500).” Ia kemudian menceritakan kisahnya secara detail.
Saya mengangguk-angguk penuh simpati saat ia menuturkan kisahnya. Pantaslah ia tidak kelihatan di RSIA Zainab selama beberapa hari ini? Rupanya ia sedang mengalami musibah di luar kota dan terpaksa menyelesaikannya sebelum dapat kembali lagi ke Pekanbaru, gumam saya dalam hati.
“Itulah sebabnya saya tertawa saat mendengarkan kajian tadi,” Pak Dayat menutup kisahnya sambil tertawa.
“Sebetulnya Pak Dayat ini seorang yang hebat,” kata saya setelah ia menyelesaikan ceritanya.
“Mengapa begitu?” ia bertanya.
“Karena di dalam buku itu saya hanya mengajak orang untuk tersenyum saat mendapat masalah. Tapi Pak Dayat justru tertawa saat mendapat musibah. Itu jauh lebih hebat dari tersenyum,” ujar saya.
Mendengar itu, Pak Dayat tertawa lebih keras lagi. Ia kini tertawa terkekeh-kekeh sambil mengangguk-angguk. ”Antum ini bisa saja memberi jawaban,” katanya pada akhirnya.
Saya hanya tersenyum sambil mendoakan mudah-mudahan ia dan adiknya dapat mengatasi masalah yang dihadapinya dengan sabar dan mendapat ganti yang lebih baik nantinya. Jumlah uang yang harus ia keluarkan sangat besar untuk seorang dengan pekerjaan seperti beliau. Sungguh bukan hal yang mudah untuk tersenyum, apalagi tertawa, setelah menghadapi musibah dan kehilangan uang sebesar itu.
Tidak banyak orang yang bisa menertawakan musibah yang dialaminya? Apakah di antara pembaca ada yang pernah melakukannya? Tidak masalah kalau kita tidak melakukannya. Tersenyum di saat mendapatkan musibah pun sudah merupakan kemampuan yang hebat. Atau kalaupun tidak tersenyum, setidaknya kita tidak mengeluh dan tidak memprotes ketetapan-Nya.
*Gambar oleh Mike Sidharta (http://kfk.kompas.com/kfk/view/64857)
Alwi Alatas
Jakarta,
13 Shawal 1432/ 11 September 2011
Wednesday, October 5, 2011
Jalan ke Pekanbaru
By: Alwi
Betapa banyak hal yang kita rencanakan dengan matang tak berjalan sama sekali. Dan berapa banyak hal yang tidak kita rencanakan justru berjalan dengan begitu bagusnya.
Sudah dua tahun ini, setiap bulan Ramadhan, saya diundang ke Pekanbaru, Riau, oleh Ustadz Mustafa Umar dan Rumah Sakit Zainab. Selama berada di Pekanbaru, saya diminta mengisi beberapa program, termasuk bedah buku (booktalk) Ketika Allah Menguji Kita (Bila Allah Menduga Kita) dan Whatever Your Problem, Smile (Senyumlah, Apa pun masalahmu Ia pasti akan berlalu).
Selama berada di sana, orang-orang sering bertanya, “Bagaimana Ustadz mengenal Ustadz Mustafa Umar? Apakah Ustadz sama-sama belajar di Malaysia dan berjumpa di sana?”
Saya selalu tersenyum mendengar pertanyaan itu. Manusia tidak pernah menyangka betapa hebatnya takdir mempertemukan manusia, gumam saya dalam hati.
Dr. Mustafa Umar merupakan seorang dai yang dikenal luas di Pekanbaru dan sekitarnya. Di Malaysia beliau juga memiliki banyak jamaah pengajian. Walaupun sama-sama belajar di Malaysia, kami tidak pernah bertemu. Ustadz Mustafa Umar lebih senior dari saya dalam usianya dan dalam studinya di Malaysia. Yang mempertemukan kami hanyalah sebuah ‘kebetulan’.
Pada suatu malam, beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan tahun 2010, seorang mahasiswa Indonesia di Universiti Islam Antarabangsa (UIA) Malaysia menelpon saya. “Ustadz, besok kami mengadakan program yang akan diisi oleh Ustadz Mustafa Umar. Apakah Ustadz dapat mengirimkan beberapa buku Ustadz untuk dijual pada program tersebut?”
“Programnya besok? Mengapa baru sekarang saya diberi tahu?”
”Minta maaf, Ustadz. Sebelumnya tidak ada rencana untuk berjualan buku. Keputusan ini baru saja dibuat. Kalau Ustadz sempat membawakan buku ke UIA kami akan menjualkan buku-buku itu. Tapi kalau tak sempat tak apalah. Kami minta maaf karena tak merencanakan ini lebih awal.”
“Saya belum dapat memastikannya. Kalau sempat, saya akan membawanya besok.”
Kami pun mengakhiri pembicaraan.
Ketika itu saya belum mengenal Ustadz Mustafa Umar, beliau pun demikian juga. Kami sama sekali belum pernah bertemu dan mengenal satu sama lain. Saya sendiri tidak dapat hadir ke acara tersebut karena ada hal lain yang harus dilakukan. Karena saya tak dapat pergi ke UIA dan teman-teman di sana juga tak dapat datang ke tempat saya yang cukup jauh dari kampus untuk mengambil buku, maka buku-buku itu kemungkinan besar tidak akan dijual pada acara tersebut.
Tapi dengan izin Allah, pada pagi harinya istri saya menawarkan diri untuk mengantarkan buku-buku itu ke UIA. Maka jadilah buku itu dibawa dan dijual oleh panitia (organizer) pada program ceramah Ustadz Mustafa Umar.
Pada petang harinya, saya mendapat kabar dari panitia (organizer), enam buah buku saya terjual pada program tersebut. Buku-buku yang terjual adalah sebuah novel dan lima buah buku Ketika Allah Menguji Kita (Bila Allah Menduga Kita). Lima buku yang terakhir ini seluruhnya dibeli oleh Ustadz Mustafa Umar. Seolah-olah, buku-buku itu berada di tempat itu hanya untuk berjumpa dengan Ustadz Mustafa Umar, dan bukan untuk hal yang lainnya.
Teman-teman di UIA mengatakan bahwa Ustadz Mustafa Umar tertarik saat melihat buku itu dan meminta nomor telepon saya. Beberapa waktu kemudian beliau memang menghubungi saya. Beliau menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan beliau akan mengadakan program bedah buku (booktalk) di Pekanbaru. Setiap harinya ada satu buah buku yang dibedah. Total ada sekitar dua puluh buku yang akan dibedah. Beliau menanyakan kesediaan saya sekiranya diundang ke Pekanbaru dan membedah buku tersebut secara langsung. Saya menyetujui undangan beliau itu. Maka berangkatlah saya pada Ramadhan tahun itu (2010) ke Pekanbaru ... dan juga pada Ramadhan tahun berikutnya (2011). Tersambunglah tali persaudaraan dan silaturahim dengan teman-teman di Pekanbaru.
Setiap mengingat hal itu, saya selalu terkesan dengan cara takdir mempertemukan manusia. Ketika orang-orang tidak memikirkan dan merencanakan sesuatu, tiba-tiba semuanya bergerak sendiri untuk mewujudkannya, walaupun hanya tersisa satu malam untuk itu. Dan semua berlaku sesuai dengan kehendak-Nya. Wallahu a’lam bis showab.
Jakarta,
8 Dzulqaidah 1432/ 6 Oktober 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)



