Showing posts with label senyum. Show all posts
Showing posts with label senyum. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

A World of Smile

Kira-kira sepuluh tahun yang lalu ketika saya adalah seorang mahasiswa di perguruan tinggi, saya bekerja sebagai pelatih di universitas saya, Museum of Natural History. Suatu hari semasa bekerja di sebuah kedai tempat membeli hadiah, saya melihat sepasang orang tua datang dengan seorang gadis kecil di kursi roda.

Saat saya memperhatikan lebih dekat pada gadis ini, saya melihat bahawa ia bertengger di atas kerusinya. Saya kemudian menyadari bahawa ia tidak mempunyai tangan atau kaki, hanya kepala, leher dan batang tubuh. Dia memakai pakaian putih yang kecil dengan titik polka merah.

Ketika pasangan itu mendorongnya ke arah saya, saya memandang ke kasir. Saya kemudian memalingkan kepala saya ke arah gadis itu dan memberikannya kedipan mata. Setelah saya mengambil uang dari kakek neneknya, saya menoleh lagi pada gadis itu, yang sedang memberi saya senyuman paling besar dan paling manis yang pernah saya lihat. 


Tiba-tiba kekurangannya menjadi hilang dan semua yang saya lihat adalah gadis yang cantik ini, yang senyumannya telah mencairkan saya dan hampir serta-merta memberikan saya rasa yang benar-benar baru tentang arti hidup ini. Ia telah menarik saya dari seorang pelajar kampus yang miskin dan tidak bahagia serta membawa saya ke dunianya; dunia yang penuh senyuman, kasih sayang dan kehangatan.

Itu sepuluh tahun yang lalu. Kini saya adalah seorang peniaga yang berjaya dan setiap kali saya merasa jatuh dan berfikir tentang masalah-masalah yang ada, saya ingat pada gadis kecil itu serta pelajaran luar biasa tentang kehidupan yang ia berikan pada saya.

Diterjemahkan secara bebas daripada http://www.islamcan.com/islamic-stories/a-world-of-smile.shtml#.VJL9gzHF9q0

Friday, April 5, 2013

Obat Kuat Jiwa

Alwi Alatas

Belum lama ini saya berbincang dengan beberapa orang rekan di penerbit Galeri Ilmu, di antaranya Wan Zayuhisyam, penulis buku Cikgu, Anak Saya Okay? Perbincangan kami berkenaan dengan iklan buku di internet.

“Bukannya mudah nak tarik audience kepada iklan buku,” kata Wan Zayuhisyam, “lain halnya jika iklan obat kuat, tentu ramai yang tertarik.”

“Kalau macam itu tampilkan saja iklan obat kuat,” kata saya, “saat mereka klik iklan itu, yang muncul adalah buku.”

“Mana boleh seperti itu, nanti orang-orang kecewa karena lain yang diiklankan lain pula isinya.”

“Sebenarnya …,” kata saya lagi, “buku-buku motivasi Islami ini obat kuat juga … ia adalah obat kuat jiwa.”

Yang lain pun tersenyum mendengarnya.

Ini memang gurauan saja. Bukannya betul-betul akan buat iklan semacam itu. Bagaimanapun, hal ini mengandung fakta yang benar. Buku-buku motivasi yang dibuat oleh para penulis tarbiyah rohani, atau dapat juga disebut buku-buku spiritual motivation, memang merupakan obat kuat jiwa. Buku-buku ini boleh memberi kekuatan yang besar pada jiwa. Ia mampu menggetarkan dan memotivasi jiwa; membangkitkan semangat yang lemah; mengubah kesedihan menjadi kegembiraan; menghilangkan keputusasaan dan mengubahnya jadi rasa percaya diri; dan dapat memperkaya jiwa serta mendekatkannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Buku-buku itu boleh membuat jiwa manusia ‘tersenyum’ bahagia. Kalau sudah begitu, insya Allah tak akan ada lagi kesusahan yang menimbulkan rasa putus asa. Seperti yang saya tulis di dalam buku Mudahkan, Jangan Susahkan: “Senyuman di jiwa itu mendahului senyuman di wajah. Musibah dan kesusahan berasa segan dan takjub kepada jiwa yang sentiasa tersenyum.”



Masalahnya, berapa banyak orang yang menganggap penting jiwanya serta apa yang ada di dalam dadanya, dibandingkan mereka yang mementingkan apa yang beberapa centimeter berada di bawah dadanya?

Kalau yang dijual obat kuat lelaki mungkin banyak yang mahu membelinya dan sanggup membayar mahal, karena ia adalah simbol kejantanan dan kegagahan. Tapi berapa banyak yang mahu membayar untuk kekuatan jiwanya? Berapa uang yang sanggup dikeluarkan untuk membeli buku-buku tarbiyah rohani yang merupakan obat kuat jiwa, bukan hanya bagi kaum lelaki tetapi juga bagi kaum perempuan dari pelbagai usia?

Kalau seorang lelaki merasa terganggu dalam hal kegagahan yang satu itu, ia tentu menjadi sangat gelisah dan sanggup mengeluarkan banyak uang untuk mengembalikan kekuatannya. Tapi kalau yang hilang adalah kegagahan dan kekuatan jiwa, siapa yang peduli? Banyak yang tak mau pening memikirkannya. Yang lain semuanya penting, tapi jiwa tak begitu dianggap penting. Padahal sebenarnya jiwa itulah yang paling tinggi nilainya dan paling mahal harganya.

Jangan hanya kuatkan badan dan hal-hal fizikal lainnya. Kuatkanlah jiwa. Carilah obat kuat jiwa. Hadiri majelis zikir dan majelis ilmu. Perbanyak ibadah dan membaca al-Qur’an. Beli dan baca buku-buku Islami. Tak banyak uang yang perlu dikeluarkan untuk itu. Tapi manfaatnya insya Allah berlipat-lipat lebih tinggi dibandingkan uang yang dikeluarkan.

Para pembaca sekalian, jiwa kita terlalu tinggi nilainya. Hargailah ia dengan sebaik-baiknya. Insya Allah hal itu akan membuat kita mampu menjadi seorang pemenang yang sejati di kemudian hari.

Kuala Lumpur
23 Jumadil Awwal 1434/ 4 April 2013

Monday, October 17, 2011

Lebih dari Tersenyum


Ada orang yang mampu menertawakan sebagian dari masalah yang dihadapinya. Sebagian masalah dan musibah sebetulnya mengandung seporsi hiburan dan kelucuan, walaupun tak semua orang dapat melihatnya

Pada pertengahan Ramadhan 1432 (Agustus 2011) lalu, saya berada di Pekanbaru, Riau, untuk mengisi kajian Ramadhan dan bedah buku Whatever Your Problem, Smile. Saya berada di sana atas undangan Ustadz Mustafa Umar dan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Zainab. Alhamdulillah seluruh program berjalan dengan lancar.

Pada hari terakhir, saya pun berangkat meninggalkan tempat menginap menuju airport untuk kembali ke Kuala Lumpur. Ketika itu saya diantar oleh panitia program, Idris, dan sopir (driver) RSIA Zainab yang biasa kami panggil Pak Dayat. Dalam perjalanan ke airport, sopir keturunan Arab Medan yang biasa bicara ceplas-ceplos ini protes pada saya.

“Tadi saya sempat mendengar kajian buku Ustadz …,” katanya.

“Oh ya?”

“Ya,” katanya setengah tertawa. “Dan saya tertawa dengan tema buku itu, Apapun Masalahmu, Tersenyumlah.”

“Mengapa begitu?” tanya saya heran.

“Saat mendengar pembahasan tadi, saya berkata dalam hati, ‘Ustadz ini enak saja menyuruh senyum orang yang sedang dapat masalah. Coba kalau Ustadz sendiri yang dapat masalah, apakah masih bisa tersenyum?’” ujarnya sambil tertawa.

Saya tersenyum mendengar kritiknya yang to the point itu. “Memang jauh lebih mudah bicara daripada mengamalkannya,” jawab saya, “tapi itu bukan berarti hal itu tidak bisa diamalkan.”

“Saat mendengarkan kajian tadi saya menggeleng-gelengkan kepala,” lanjut Pak Dayat, “Enak betul Ustadz ini bicara. Coba kalau Ustadz yang berada di posisi saya. Saya ini baru saja dapat musibah yang cukup besar ....”

“Baru mendapat musibah?” saya mulai memahami mengapa ia protes pada saya.


“Ya, selama beberapa hari ini saya tertahan di luar kota karena harus mengurus adik saya yang terlibat kecelakaan (accident),” ujarnya. “Akhirnya kami harus membayar ganti rugi sebesar 30 juta rupiah (sekitar RM 10,500).” Ia kemudian menceritakan kisahnya secara detail.

Saya mengangguk-angguk penuh simpati saat ia menuturkan kisahnya. Pantaslah ia tidak kelihatan di RSIA Zainab selama beberapa hari ini? Rupanya ia sedang mengalami musibah di luar kota dan terpaksa menyelesaikannya sebelum dapat kembali lagi ke Pekanbaru, gumam saya dalam hati.

“Itulah sebabnya saya tertawa saat mendengarkan kajian tadi,” Pak Dayat menutup kisahnya sambil tertawa.

“Sebetulnya Pak Dayat ini seorang yang hebat,” kata saya setelah ia menyelesaikan ceritanya.

“Mengapa begitu?” ia bertanya.

“Karena di dalam buku itu saya hanya mengajak orang untuk tersenyum saat mendapat masalah. Tapi Pak Dayat justru tertawa saat mendapat musibah. Itu jauh lebih hebat dari tersenyum,” ujar saya.

Mendengar itu, Pak Dayat tertawa lebih keras lagi. Ia kini tertawa terkekeh-kekeh sambil mengangguk-angguk. ”Antum ini bisa saja memberi jawaban,” katanya pada akhirnya.

Saya hanya tersenyum sambil mendoakan mudah-mudahan ia dan adiknya dapat mengatasi masalah yang dihadapinya dengan sabar dan mendapat ganti yang lebih baik nantinya. Jumlah uang yang harus ia keluarkan sangat besar untuk seorang dengan pekerjaan seperti beliau. Sungguh bukan hal yang mudah untuk tersenyum, apalagi tertawa, setelah menghadapi musibah dan kehilangan uang sebesar itu.

Tidak banyak orang yang bisa menertawakan musibah yang dialaminya? Apakah di antara pembaca ada yang pernah melakukannya? Tidak masalah kalau kita tidak melakukannya. Tersenyum di saat mendapatkan musibah pun sudah merupakan kemampuan yang hebat. Atau kalaupun tidak tersenyum, setidaknya kita tidak mengeluh dan tidak memprotes ketetapan-Nya.

*Gambar oleh Mike Sidharta (http://kfk.kompas.com/kfk/view/64857)

Alwi Alatas
Jakarta,
13 Shawal 1432/ 11 September 2011