Showing posts with label masalah. Show all posts
Showing posts with label masalah. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

A World of Smile

Kira-kira sepuluh tahun yang lalu ketika saya adalah seorang mahasiswa di perguruan tinggi, saya bekerja sebagai pelatih di universitas saya, Museum of Natural History. Suatu hari semasa bekerja di sebuah kedai tempat membeli hadiah, saya melihat sepasang orang tua datang dengan seorang gadis kecil di kursi roda.

Saat saya memperhatikan lebih dekat pada gadis ini, saya melihat bahawa ia bertengger di atas kerusinya. Saya kemudian menyadari bahawa ia tidak mempunyai tangan atau kaki, hanya kepala, leher dan batang tubuh. Dia memakai pakaian putih yang kecil dengan titik polka merah.

Ketika pasangan itu mendorongnya ke arah saya, saya memandang ke kasir. Saya kemudian memalingkan kepala saya ke arah gadis itu dan memberikannya kedipan mata. Setelah saya mengambil uang dari kakek neneknya, saya menoleh lagi pada gadis itu, yang sedang memberi saya senyuman paling besar dan paling manis yang pernah saya lihat. 


Tiba-tiba kekurangannya menjadi hilang dan semua yang saya lihat adalah gadis yang cantik ini, yang senyumannya telah mencairkan saya dan hampir serta-merta memberikan saya rasa yang benar-benar baru tentang arti hidup ini. Ia telah menarik saya dari seorang pelajar kampus yang miskin dan tidak bahagia serta membawa saya ke dunianya; dunia yang penuh senyuman, kasih sayang dan kehangatan.

Itu sepuluh tahun yang lalu. Kini saya adalah seorang peniaga yang berjaya dan setiap kali saya merasa jatuh dan berfikir tentang masalah-masalah yang ada, saya ingat pada gadis kecil itu serta pelajaran luar biasa tentang kehidupan yang ia berikan pada saya.

Diterjemahkan secara bebas daripada http://www.islamcan.com/islamic-stories/a-world-of-smile.shtml#.VJL9gzHF9q0

Thursday, December 18, 2014

Seorang perempuan yang kehilangan anak

Tulisan dari sebuah grup WA (dengan sedikit editing)

Di sebuah desa kecil di lereng pengunungan ada seorang penasehat yang bijaksana. Suatu hari seorang wanita yang putra satu-satunya telah meninggal, mendatangi penasehat tersebut dan bertanya, "Apa yang anda miliki yang dapat mengobati rasa kecewa dan sakit hatiku?"

Setelah sang penasehat mendengar kisah hidup wanita ini, ia berkata; "Ada, tapi syarat pertama Anda harus membawakan saya segenggam benih padi dari sebuah keluarga yang tidak memiliki masalah."

Wanita itu segera pergi ke sebuah rumah termewah di desa itu. Ia berpikir tentu tidak ada yang salah di rumah ini. Setelah ia menemui pemilik rumah, ia mendengar hal yang sebaliknya. Tuan rumah menceritakan banyak masalah yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Lalu ia datang ke rumah yg lain. Jawab penghuni rumah itu, "Oh Anda datang ke rumah yang salah."


Setelah ia mengunjungi berpuluh rumah ia tetap tak dapat menemukan keluarga yg tidak memiliki masalah. Setelah sebulan ia kembali ke penasehatnya,."Maaf, saya tidak berhasil menemukan keluarga yang tidak memiliki masalah," katanya. "Malahan saya banyak menasehati dan menguatkan beberapa keluarga yang begitu menyedihkan keadaannya."

Penasehat itu bertanya, "Apakah hatimu masih sakit?"

Sambil tersenyum ia menjawab, "Tidak lagi, setelah saya tau orang yang tampaknya bahagia ternyata ia memiliki masalah yang jauh lebih banyak dari saya."


Banyak orang terjebak pada pola pikirnya sendiri, sehingga ia merasa menjadi orang yang paling malang, tidak seperti orang lain yang kelihatan begitu Happy.

Kadang kita begitu sibuk memikirkan diri kita sendiri dan terlalu sibuk menjumlah kesulitankesulitan sehingga kita lupa menghitung berkah dan segala kebaikan yg telah kita terima.

Thursday, March 28, 2013

Masalah Orang Besar

Saat membaca tulisan Shaikh Abdullah Nasih Ulwan tentang Shalahuddin, tiba-tiba berjumpa dengan sebait puisi Mutanabi.


Ujian selalu datang pada orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menanggungnya

Sebagaimana kualitas yang baik didapati pada orang-orang yang mulia

Perkara yang kecil mungkin tampak besar di mata orang kecil

Sebagaimana perkara yang besar tampak kecil di mata orang besar





Allah memang memberikan ujian kepada manusia sesuai dengan kemampuannya. Orang kecil hanya akan mendapatkan masalah yang kecil. Masalah yang besar tidak akan datang melainkan kepada orang yang besar. Mengapa begitu? Karena saat mendapat masalah kecil, orang kecil pun masih sering mengeluh dan menganggap masalahnya terlalu besar. Bagaimana lagi kalau diberi masalah yang besar.

Sementara orang besar mampu menghadapi masalah yang berat dengan senyuman. Karena buat mereka tidak ada masalah atau ujian yang benar-benar besar, selama mereka bersama Yang Maha Besar.

Mau jadi orang besar? Belajarlah untuk tidak membesar-besarkan masalah. :)

Alwi Alatas
KL, 29 Maret 2013

Monday, October 17, 2011

Lebih dari Tersenyum


Ada orang yang mampu menertawakan sebagian dari masalah yang dihadapinya. Sebagian masalah dan musibah sebetulnya mengandung seporsi hiburan dan kelucuan, walaupun tak semua orang dapat melihatnya

Pada pertengahan Ramadhan 1432 (Agustus 2011) lalu, saya berada di Pekanbaru, Riau, untuk mengisi kajian Ramadhan dan bedah buku Whatever Your Problem, Smile. Saya berada di sana atas undangan Ustadz Mustafa Umar dan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Zainab. Alhamdulillah seluruh program berjalan dengan lancar.

Pada hari terakhir, saya pun berangkat meninggalkan tempat menginap menuju airport untuk kembali ke Kuala Lumpur. Ketika itu saya diantar oleh panitia program, Idris, dan sopir (driver) RSIA Zainab yang biasa kami panggil Pak Dayat. Dalam perjalanan ke airport, sopir keturunan Arab Medan yang biasa bicara ceplas-ceplos ini protes pada saya.

“Tadi saya sempat mendengar kajian buku Ustadz …,” katanya.

“Oh ya?”

“Ya,” katanya setengah tertawa. “Dan saya tertawa dengan tema buku itu, Apapun Masalahmu, Tersenyumlah.”

“Mengapa begitu?” tanya saya heran.

“Saat mendengar pembahasan tadi, saya berkata dalam hati, ‘Ustadz ini enak saja menyuruh senyum orang yang sedang dapat masalah. Coba kalau Ustadz sendiri yang dapat masalah, apakah masih bisa tersenyum?’” ujarnya sambil tertawa.

Saya tersenyum mendengar kritiknya yang to the point itu. “Memang jauh lebih mudah bicara daripada mengamalkannya,” jawab saya, “tapi itu bukan berarti hal itu tidak bisa diamalkan.”

“Saat mendengarkan kajian tadi saya menggeleng-gelengkan kepala,” lanjut Pak Dayat, “Enak betul Ustadz ini bicara. Coba kalau Ustadz yang berada di posisi saya. Saya ini baru saja dapat musibah yang cukup besar ....”

“Baru mendapat musibah?” saya mulai memahami mengapa ia protes pada saya.


“Ya, selama beberapa hari ini saya tertahan di luar kota karena harus mengurus adik saya yang terlibat kecelakaan (accident),” ujarnya. “Akhirnya kami harus membayar ganti rugi sebesar 30 juta rupiah (sekitar RM 10,500).” Ia kemudian menceritakan kisahnya secara detail.

Saya mengangguk-angguk penuh simpati saat ia menuturkan kisahnya. Pantaslah ia tidak kelihatan di RSIA Zainab selama beberapa hari ini? Rupanya ia sedang mengalami musibah di luar kota dan terpaksa menyelesaikannya sebelum dapat kembali lagi ke Pekanbaru, gumam saya dalam hati.

“Itulah sebabnya saya tertawa saat mendengarkan kajian tadi,” Pak Dayat menutup kisahnya sambil tertawa.

“Sebetulnya Pak Dayat ini seorang yang hebat,” kata saya setelah ia menyelesaikan ceritanya.

“Mengapa begitu?” ia bertanya.

“Karena di dalam buku itu saya hanya mengajak orang untuk tersenyum saat mendapat masalah. Tapi Pak Dayat justru tertawa saat mendapat musibah. Itu jauh lebih hebat dari tersenyum,” ujar saya.

Mendengar itu, Pak Dayat tertawa lebih keras lagi. Ia kini tertawa terkekeh-kekeh sambil mengangguk-angguk. ”Antum ini bisa saja memberi jawaban,” katanya pada akhirnya.

Saya hanya tersenyum sambil mendoakan mudah-mudahan ia dan adiknya dapat mengatasi masalah yang dihadapinya dengan sabar dan mendapat ganti yang lebih baik nantinya. Jumlah uang yang harus ia keluarkan sangat besar untuk seorang dengan pekerjaan seperti beliau. Sungguh bukan hal yang mudah untuk tersenyum, apalagi tertawa, setelah menghadapi musibah dan kehilangan uang sebesar itu.

Tidak banyak orang yang bisa menertawakan musibah yang dialaminya? Apakah di antara pembaca ada yang pernah melakukannya? Tidak masalah kalau kita tidak melakukannya. Tersenyum di saat mendapatkan musibah pun sudah merupakan kemampuan yang hebat. Atau kalaupun tidak tersenyum, setidaknya kita tidak mengeluh dan tidak memprotes ketetapan-Nya.

*Gambar oleh Mike Sidharta (http://kfk.kompas.com/kfk/view/64857)

Alwi Alatas
Jakarta,
13 Shawal 1432/ 11 September 2011