Showing posts with label Galeri Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Galeri Ilmu. Show all posts

Thursday, May 9, 2013

Nasihat Tok Guru Nik Aziz tentang Kematian

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ

Saat menulis buku Mencari Husnul Khatimah (buku dalam perencanaan untuk terbit di Malaysia oleh Galeri Ilmu), saya menemukan sebuah buku yang ditulis oleh Tok Guru Nik Aziz (Nik Abdul Aziz Nik Mat), yaitu Mati Satu Peringatan. Sebuah buku yang sudah agak lama diterbitkan dan tidak tebal, tetapi mengandungi banyak nasihat dan pelajaran di dalamnya. Dalam buku itu, Tok Guru Nik Aziz memberikan nasihatnya kepada kita semua tentang kematian, negeri akhirat, dan perlunya persiapan kita untuk menghadapinya. Beliau menulis:

“… kehidupan selepas mati ibarat satu perjalanan jauh yang memakan masa yang lama. Menyedari hakikat itu, setiap insan perlu membuat persiapan yang mencukupi dan sempurna. Namun orang yang lalai tidak pernah memikirkan persiapan menghadapi mati. Bayangkan jika secara tiba-tiba seseorang itu mendapati dirinya terlantar di padang pasir yang tandus. Apabila dahaga mencekik kerongkongnya barulah dia sedar dia tidak membawa bekalan air sedikit pun.”



Apa yang beliau katakan memang benar, dan kita sering melupakannya, kerana kesibukan kita dengan berbagai urusan dunia. Dunia ini hanya sekejap mata jika dibandingkan dengan kehidupan selepas mati. Akhirat merupakan kehidupan yang panjang dan abadi. Kita semua pada akhirnya akan mati, keluar dari kehidupan yang fana ini dan masuk ke dalam kehidupan yang selanjutnya. Jika waktu itu sudah tiba, tidak ada kesempatan untuk berbalik ke belakang untuk memperbaiki keadaan. Sudahkah kita membuat persiapan untuk menghadapi itu semua?

Kita perlu belajar dari Tok Guru Nik Aziz, bukan hanya dari kata-kata dan tulisannya, tetapi juga dari apa yang telah beliau lakukan. Beliau telah memerintah negara bagian Kelantan, Malaysia, selama kurang lebih 23 tahun, dan pemerintahannya dikenal sebagai pemerintahan yang bersih. Penduduk negeri itu, juga di negeri-negeri lainnya, mendukung dan menyintai beliau. Bukan hanya yang Muslim, orang-orang selain Melayu yang tidak beragama Islam pun menaruh rasa hormat yang tinggi dan menyayangi beliau.

Beliau memerintah begitu lama, tetapi kehidupannya tetap sederhana. Beliau tidak memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri. Karena beliau beramal dan berperilaku seperti apa yang telah beliau tuliskan, bahwa setiap insan perlu membuat persiapan yang mencukupi dan sempurna untuk menghadapi kehidupan selepas mati; bahwa dunia ini bukan tujuan, negeri akhirat itulah tempat tinggal yang sebenarnya.

Beberapa hari yang lalu, beliau mengumumkan pengunduran diri sebagai Menteri Besar (kurang lebih sama dengan kedudukan gubernur di Indonesia) Kelantan. Beliau mengundurkan diri karena alasan kesehatan serta usia yang sudah mencapai 82 tahun (beliau lahir pada tahun 1931). Posisi beliau digantikan oleh penerusnya.

Beliau telah beramal dan memberi contoh kepada kita semua tentang kecilnya nilai dunia serta kemana sesungguhnya akhir perjalanan kita. Semoga kita yang yang lebih muda dapat mengambil apa-apa yang baik yang telah beliau sampaikan dan lakukan sebagai bekal dalam melanjutkan perjalanan … menuju ke negeri yang berikutnya.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
30 Jumadil Akhir 1434/ 10 Mei 2013



Friday, April 5, 2013

Obat Kuat Jiwa

Alwi Alatas

Belum lama ini saya berbincang dengan beberapa orang rekan di penerbit Galeri Ilmu, di antaranya Wan Zayuhisyam, penulis buku Cikgu, Anak Saya Okay? Perbincangan kami berkenaan dengan iklan buku di internet.

“Bukannya mudah nak tarik audience kepada iklan buku,” kata Wan Zayuhisyam, “lain halnya jika iklan obat kuat, tentu ramai yang tertarik.”

“Kalau macam itu tampilkan saja iklan obat kuat,” kata saya, “saat mereka klik iklan itu, yang muncul adalah buku.”

“Mana boleh seperti itu, nanti orang-orang kecewa karena lain yang diiklankan lain pula isinya.”

“Sebenarnya …,” kata saya lagi, “buku-buku motivasi Islami ini obat kuat juga … ia adalah obat kuat jiwa.”

Yang lain pun tersenyum mendengarnya.

Ini memang gurauan saja. Bukannya betul-betul akan buat iklan semacam itu. Bagaimanapun, hal ini mengandung fakta yang benar. Buku-buku motivasi yang dibuat oleh para penulis tarbiyah rohani, atau dapat juga disebut buku-buku spiritual motivation, memang merupakan obat kuat jiwa. Buku-buku ini boleh memberi kekuatan yang besar pada jiwa. Ia mampu menggetarkan dan memotivasi jiwa; membangkitkan semangat yang lemah; mengubah kesedihan menjadi kegembiraan; menghilangkan keputusasaan dan mengubahnya jadi rasa percaya diri; dan dapat memperkaya jiwa serta mendekatkannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Buku-buku itu boleh membuat jiwa manusia ‘tersenyum’ bahagia. Kalau sudah begitu, insya Allah tak akan ada lagi kesusahan yang menimbulkan rasa putus asa. Seperti yang saya tulis di dalam buku Mudahkan, Jangan Susahkan: “Senyuman di jiwa itu mendahului senyuman di wajah. Musibah dan kesusahan berasa segan dan takjub kepada jiwa yang sentiasa tersenyum.”



Masalahnya, berapa banyak orang yang menganggap penting jiwanya serta apa yang ada di dalam dadanya, dibandingkan mereka yang mementingkan apa yang beberapa centimeter berada di bawah dadanya?

Kalau yang dijual obat kuat lelaki mungkin banyak yang mahu membelinya dan sanggup membayar mahal, karena ia adalah simbol kejantanan dan kegagahan. Tapi berapa banyak yang mahu membayar untuk kekuatan jiwanya? Berapa uang yang sanggup dikeluarkan untuk membeli buku-buku tarbiyah rohani yang merupakan obat kuat jiwa, bukan hanya bagi kaum lelaki tetapi juga bagi kaum perempuan dari pelbagai usia?

Kalau seorang lelaki merasa terganggu dalam hal kegagahan yang satu itu, ia tentu menjadi sangat gelisah dan sanggup mengeluarkan banyak uang untuk mengembalikan kekuatannya. Tapi kalau yang hilang adalah kegagahan dan kekuatan jiwa, siapa yang peduli? Banyak yang tak mau pening memikirkannya. Yang lain semuanya penting, tapi jiwa tak begitu dianggap penting. Padahal sebenarnya jiwa itulah yang paling tinggi nilainya dan paling mahal harganya.

Jangan hanya kuatkan badan dan hal-hal fizikal lainnya. Kuatkanlah jiwa. Carilah obat kuat jiwa. Hadiri majelis zikir dan majelis ilmu. Perbanyak ibadah dan membaca al-Qur’an. Beli dan baca buku-buku Islami. Tak banyak uang yang perlu dikeluarkan untuk itu. Tapi manfaatnya insya Allah berlipat-lipat lebih tinggi dibandingkan uang yang dikeluarkan.

Para pembaca sekalian, jiwa kita terlalu tinggi nilainya. Hargailah ia dengan sebaik-baiknya. Insya Allah hal itu akan membuat kita mampu menjadi seorang pemenang yang sejati di kemudian hari.

Kuala Lumpur
23 Jumadil Awwal 1434/ 4 April 2013