Alwi Alatas
Saat memasukkan kata ‘clinically dead’ di google, saya terkejut krn banyak gambar Hosni Mubarak yang muncul. #Mati
Saya sempat merasa heran. Apakah google sudah mulai error dalam layanan pencariannya. #Mati
Kemudian saya berpikir, mungkin ada berita terbaru yang belum saya tahu tentang Mesir. #Mati
Apakah Hosni Mubarak yang dikatakan akan dibebaskan itu tiba-tiba saja meninggal dunia? #Mati
Saya pun membuka gambar itu dan membaca beritanya. Ternyata itu berita lama, tahun 2012. #Mati
Saat itu ia sempat dikabarkan meninggal dunia secara klinis. #Mati
Terlepas dari berita itu, sebenarnya berdasarkan apa yang berlaku di Mesir skrg, Hosni Mubarak mmg tlh mati scr politik, politically dead, … #Mati
tp sekarang ini rupanya bangkit kembali dengan pertolongan Abdul Fatah al-Sisi dan kawan-kawannya. #Mati
Mubarak yg sdh jatuh dari kekuasaan, dipenjara, dan msk mahkamah utk menunggu hukuman, akhirnya dilepaskan kembali. #Mati
Apakah ia akan kembali ke kursi kekuasaan, wallahu a’lam. #Mati
Apa pun yang berlaku, pada akhirnya Mubarak, al-Sisi, dan yang lainnya akan mati juga, #Mati
baik secara politik ataupun secara klinis, mati yang sebenar-benarnya. #Mati
Semua ada batas waktunya. Firaun pun tak bisa membeli keabadian. #Mati
Pada saat kematian datang, semua yang telah dilakukan seseorang di dunia akan dipertanggung-jawabkan. #Mati
Bagi sebagian orang, dunia adalah tempat satu-satunya untuk meraih kemenangan dan kejayaan. #Mati
Ia akan melakukan apa sj untuk mendapatkan kemenangan dan kejayaan itu, walau dgn berbuat sezalim-zalimnya pd org lain. #Mati
Tapi bagi orang yang beriman, kemenangan akhirat jauh lebih penting. #Mati
Di dunia, ia akan berusaha untuk menang dan sukses. Tapi kalau pun kalah, ia tak peduli. #Mati
Karena kemenangan akhirat itulah yang jauh lebih penting. #Mati
Dunia ini singkat dan akhirat itu abadi. #Mati
Di antara keduanya ada kematian yang menyakitkan dan selepasnya ada hisab yang keras. #Mati
Cukuplah itu sebagai pengingat bagi kita semua. #Mati
Showing posts with label Mati. Show all posts
Showing posts with label Mati. Show all posts
Thursday, August 22, 2013
Thursday, May 9, 2013
Nasihat Tok Guru Nik Aziz tentang Kematian
بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ
Saat menulis buku Mencari Husnul Khatimah (buku dalam perencanaan untuk terbit di Malaysia oleh Galeri Ilmu), saya menemukan sebuah buku yang ditulis oleh Tok Guru Nik Aziz (Nik Abdul Aziz Nik Mat), yaitu Mati Satu Peringatan. Sebuah buku yang sudah agak lama diterbitkan dan tidak tebal, tetapi mengandungi banyak nasihat dan pelajaran di dalamnya. Dalam buku itu, Tok Guru Nik Aziz memberikan nasihatnya kepada kita semua tentang kematian, negeri akhirat, dan perlunya persiapan kita untuk menghadapinya. Beliau menulis:
“… kehidupan selepas mati ibarat satu perjalanan jauh yang memakan masa yang lama. Menyedari hakikat itu, setiap insan perlu membuat persiapan yang mencukupi dan sempurna. Namun orang yang lalai tidak pernah memikirkan persiapan menghadapi mati. Bayangkan jika secara tiba-tiba seseorang itu mendapati dirinya terlantar di padang pasir yang tandus. Apabila dahaga mencekik kerongkongnya barulah dia sedar dia tidak membawa bekalan air sedikit pun.”
Apa yang beliau katakan memang benar, dan kita sering melupakannya, kerana kesibukan kita dengan berbagai urusan dunia. Dunia ini hanya sekejap mata jika dibandingkan dengan kehidupan selepas mati. Akhirat merupakan kehidupan yang panjang dan abadi. Kita semua pada akhirnya akan mati, keluar dari kehidupan yang fana ini dan masuk ke dalam kehidupan yang selanjutnya. Jika waktu itu sudah tiba, tidak ada kesempatan untuk berbalik ke belakang untuk memperbaiki keadaan. Sudahkah kita membuat persiapan untuk menghadapi itu semua?
Kita perlu belajar dari Tok Guru Nik Aziz, bukan hanya dari kata-kata dan tulisannya, tetapi juga dari apa yang telah beliau lakukan. Beliau telah memerintah negara bagian Kelantan, Malaysia, selama kurang lebih 23 tahun, dan pemerintahannya dikenal sebagai pemerintahan yang bersih. Penduduk negeri itu, juga di negeri-negeri lainnya, mendukung dan menyintai beliau. Bukan hanya yang Muslim, orang-orang selain Melayu yang tidak beragama Islam pun menaruh rasa hormat yang tinggi dan menyayangi beliau.
Beliau memerintah begitu lama, tetapi kehidupannya tetap sederhana. Beliau tidak memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri. Karena beliau beramal dan berperilaku seperti apa yang telah beliau tuliskan, bahwa setiap insan perlu membuat persiapan yang mencukupi dan sempurna untuk menghadapi kehidupan selepas mati; bahwa dunia ini bukan tujuan, negeri akhirat itulah tempat tinggal yang sebenarnya.
Beberapa hari yang lalu, beliau mengumumkan pengunduran diri sebagai Menteri Besar (kurang lebih sama dengan kedudukan gubernur di Indonesia) Kelantan. Beliau mengundurkan diri karena alasan kesehatan serta usia yang sudah mencapai 82 tahun (beliau lahir pada tahun 1931). Posisi beliau digantikan oleh penerusnya.
Beliau telah beramal dan memberi contoh kepada kita semua tentang kecilnya nilai dunia serta kemana sesungguhnya akhir perjalanan kita. Semoga kita yang yang lebih muda dapat mengambil apa-apa yang baik yang telah beliau sampaikan dan lakukan sebagai bekal dalam melanjutkan perjalanan … menuju ke negeri yang berikutnya.
Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
30 Jumadil Akhir 1434/ 10 Mei 2013
Saat menulis buku Mencari Husnul Khatimah (buku dalam perencanaan untuk terbit di Malaysia oleh Galeri Ilmu), saya menemukan sebuah buku yang ditulis oleh Tok Guru Nik Aziz (Nik Abdul Aziz Nik Mat), yaitu Mati Satu Peringatan. Sebuah buku yang sudah agak lama diterbitkan dan tidak tebal, tetapi mengandungi banyak nasihat dan pelajaran di dalamnya. Dalam buku itu, Tok Guru Nik Aziz memberikan nasihatnya kepada kita semua tentang kematian, negeri akhirat, dan perlunya persiapan kita untuk menghadapinya. Beliau menulis:
“… kehidupan selepas mati ibarat satu perjalanan jauh yang memakan masa yang lama. Menyedari hakikat itu, setiap insan perlu membuat persiapan yang mencukupi dan sempurna. Namun orang yang lalai tidak pernah memikirkan persiapan menghadapi mati. Bayangkan jika secara tiba-tiba seseorang itu mendapati dirinya terlantar di padang pasir yang tandus. Apabila dahaga mencekik kerongkongnya barulah dia sedar dia tidak membawa bekalan air sedikit pun.”
Apa yang beliau katakan memang benar, dan kita sering melupakannya, kerana kesibukan kita dengan berbagai urusan dunia. Dunia ini hanya sekejap mata jika dibandingkan dengan kehidupan selepas mati. Akhirat merupakan kehidupan yang panjang dan abadi. Kita semua pada akhirnya akan mati, keluar dari kehidupan yang fana ini dan masuk ke dalam kehidupan yang selanjutnya. Jika waktu itu sudah tiba, tidak ada kesempatan untuk berbalik ke belakang untuk memperbaiki keadaan. Sudahkah kita membuat persiapan untuk menghadapi itu semua?
Kita perlu belajar dari Tok Guru Nik Aziz, bukan hanya dari kata-kata dan tulisannya, tetapi juga dari apa yang telah beliau lakukan. Beliau telah memerintah negara bagian Kelantan, Malaysia, selama kurang lebih 23 tahun, dan pemerintahannya dikenal sebagai pemerintahan yang bersih. Penduduk negeri itu, juga di negeri-negeri lainnya, mendukung dan menyintai beliau. Bukan hanya yang Muslim, orang-orang selain Melayu yang tidak beragama Islam pun menaruh rasa hormat yang tinggi dan menyayangi beliau.
Beliau memerintah begitu lama, tetapi kehidupannya tetap sederhana. Beliau tidak memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri. Karena beliau beramal dan berperilaku seperti apa yang telah beliau tuliskan, bahwa setiap insan perlu membuat persiapan yang mencukupi dan sempurna untuk menghadapi kehidupan selepas mati; bahwa dunia ini bukan tujuan, negeri akhirat itulah tempat tinggal yang sebenarnya.
Beberapa hari yang lalu, beliau mengumumkan pengunduran diri sebagai Menteri Besar (kurang lebih sama dengan kedudukan gubernur di Indonesia) Kelantan. Beliau mengundurkan diri karena alasan kesehatan serta usia yang sudah mencapai 82 tahun (beliau lahir pada tahun 1931). Posisi beliau digantikan oleh penerusnya.
Beliau telah beramal dan memberi contoh kepada kita semua tentang kecilnya nilai dunia serta kemana sesungguhnya akhir perjalanan kita. Semoga kita yang yang lebih muda dapat mengambil apa-apa yang baik yang telah beliau sampaikan dan lakukan sebagai bekal dalam melanjutkan perjalanan … menuju ke negeri yang berikutnya.
Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
30 Jumadil Akhir 1434/ 10 Mei 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)