Showing posts with label sabar. Show all posts
Showing posts with label sabar. Show all posts

Wednesday, October 2, 2013

Sabar itu tidak mengeluh

Sabar itu tidak mengeluhkan masalah. Ia gigih dalam mencari jalan keluar.

Sabar itu tidak mengeluhkan keadaan. Ia setia dalam melihat sisi cerah dari keadaan itu.

Sabar tidak memiliki waktu untuk mengeluh. Ia terlalu sibuk bergerak ke depan.

“Sabar dan berkeluh-kesah adalah dua hal yang bertentangan…. salah satunya dikalahkan oleh yang lain,” kata Ibn Qayyim al-Jauziyah

(Senyumlah, Apa pun masalahmu Ia pasti akan berlalu)

Thursday, September 27, 2012

Dokter dan Pasien


Seorang pasien mengeluh pada dokter, “Saya menderita sakit putus asa setiap kali terjangkit musibah.”

Dokter menuliskan resep untuknya: “Sabar – langsung telan pada menit pertama terkena jangkitan musibah!”

Pasien berikutnya masuk. “Saya merasa sangat tidak sehat, tapi semua dokter mengatakan kesehatan saya baik-baik saja.”

Dokter memberikan resep untuknya: “Syukur – tiga kali sehari. Konsumsi perlahan dan biarkan meresap dalam tubuh dan pikiran.”

Tersembunyi, tetapi ada dan sangat penting

Alwi Alatas

Kita semua pernah mendengar perkataan ruh atau roh. Tetapi mungkin tidak banyak mengetahui tentangnya, karena kita memang tak diberi pengetahuan yang mendalam tentang hal ini. Seperti yang dikatakan di dalam al-Qur’an: Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (QS 17: 85). Walaupun sedikit yang diketahui tentangnya, bukan berarti ia tidak penting.

Saat berkunjung ke Pekanbaru, Riau, di bulan Ramadhan lalu, saya mendengar sebuah ceramah yang sangat bagus tentang ruh dari Dr. Mustafa Umar, seorang ulama muda yang biasa mengisi taklim di Pekanbaru dan juga di Malaysia. Beliau menjelaskan bahwa setiap kata dalam bahasa Arab yang terdiri dari huruf ra’, waw, dan ha mengandung makna ‘yang tak nampak’, ‘tersembunyi’, tetapi ‘ada dan keberadaannya sangat penting dan menentukan’.

Kata riih (angin), misalnya, terdiri dari ketiga huruf ini: ra’, waw, dan ha. Angin merupakan sesuatu yang tak nampak, tetapi ia ada dan keberadaannya penting. Ia membantu kehidupan manusia dalam banyak hal, walaupun kadang-kadang juga dapat menimbulkan kerusakan. Ia tak kelihatan, tetapi keberadaannya menentukan. Demikian juga dengan kata ruh yang juga terdiri dari ketiga huruf tersebut. Ruh tak nampak, tersembunyi, tetapi ada dan sangat penting. Manusia tak boleh hidup tanpa ruh. Posisi ruh bagi manusia bahkan lebih penting daripada jasad.

Selain itu masih ada lagi contoh yang lain. Jika mendapat musibah, kita dilarang berputus asa dari rahmat Allah, karena “sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir" (QS 12: 87). Nah, kata ‘rahmat’ pada ayat di atas (rawhillah) ternyata juga menggunakan ketiga huruf ini: ra’, waw, dan ha. Berarti ia tak nampak; ia tersembunyi. Walaupun begitu, ia ada dan keberadaannya sangat penting.


Ketika kita mendapat musibah dan kesusahan, serta hampir berputus asa karena tidak melihat jalan keluar, kita perlu ingat dengan makna ini. Jalan keluar itu memang tak nampak, rahmat dan pertolongan Allah itu memang tersembunyi dari pandangan, sehingga membuat sebagian manusia cenderung berputus asa. Tetapi sebenarnya ia ada. Bukan hanya ada, keberadaannya juga sangat penting dan menentukan. Ia akan muncul pada waktunya dan memberi keselamatan. Kalau kita tidak melihatnya pada saat ini, bukan berarti ia tak ada. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk berputus asa jika kita benar-benar beriman.

Ini adalah sebuah makna yang indah. Bukankah begitu? Hal ini juga mengisyaratkan bahwa semua masalah tentu ada jalan keluarnya. Jalan keluar itu tersembunyi, tetapi ia ada dan akan menjadi faktor penting yang dapat mengubah keadaan kita dari kesusahan kepada kemudahan dan keberhasilan. Insya Allah.

Kuala Lumpur,
26 Syawal 1433 H/ 13 September 2012

http://www.facebook.com/pages/Senyumlah-Apa-pun-masalahmu-Ia-pasti-akan-berlalu/116783405069645

http://www.facebook.com/MudahkanJanganSusahkan

Tuesday, January 17, 2012

Tidak Mengeluh, Tidak Menyerah


“Melayang seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah.” Kalimat itu menjadi sebuah trademark yang menggambarkan gaya bertinju Muhammad Ali. Petinju (boxer) legendaris yang terkenal dengan julukan ‘The Greatest’ itu – terbesar di antara para petinju dan olahragawan tentunya – kini telah berusia tujuh puluh tahun. Balutan usia dan deraan penyakit Parkinson seolah tak mampu memudarkan namanya. Banyak orang masih melihatnya sebagai sosok olahragawan terbesar. Ia merupakan satu-satunya petinju yang pernah merebut gelar juara kelas berat sebanyak tiga kali. Beberapa pertandingannya dianggap legendaris dan terus diingat dalam sejarah tinju kelas berat. Ali memulai karir profesionalnya pada tahun 1960 dan pensiun pada awal tahun 1980-an. Pada tahun 1984, tak lama setelah berhenti dari dunia tinju professional, Ali dinyatakan menderita Parkinson. Walaupun didera penyakit, ia tetap menjalani banyak aktivitas sosial dan kemanusiaan hingga sekarang ini.

Ali masuk Islam dan bergabung dengan Nation of Islam pimpinan Elijah Muhammad pada tahun 1964. Ia mengganti namanya dari Cassius Clay menjadi Muhammad Ali. Tentang nama barunya ini ia mengatakan, "Cassius Clay is a slave name. I didn't choose it and I don't want it. I am Muhammad Ali, a free name - it means beloved of God, and I insist people use it when people speak to me and of me" (http://www.mirror.co.uk/news/editors-picks/2012/01/17/muhammad-ali-at-70-magic-moments-from-the-louisville-lip-115875-23703770/). Sebelas tahun kemudian ia keluar dari Nation of Islam dan menjadi seorang Muslim Sunni. Belakangan ini ia mendalami tasawuf.

Seperti dikatakan salah seorang putrinya, Maryum, Muhammad Ali bukanlah seorang yang sempurna (bukankah kita semua juga seperti itu?). Hal itu akan tampak saat seseorang memperhatikan pernikahan dan kehidupan rumah tangganya, terutama pada tahun 60-an hingga 80-an. Beberapa artikel menyebutkan bahwa ia merupakan seorang Muslim yang saleh. Lebih dari itu, kita tidak mengetahui kehidupan pribadi dan keislamannya secara mendalam. Hanya saja ada sesuatu yang mengesankan saat membaca sebuah berita pendek tentang Ali di umurnya yang ketujuh puluh tahun. Walaupun sudah lama meninggalkan kebesarannya di ring tinju dan lebih dari seperempat abad didera penyakit Parkinson, ia digambarkan tak pernah mengeluh ataupun meratapi nasibnya. Ia mendapatkan kedamaian dalam keislamannya dan menerima semua takdir yang dialaminya, termasuk penyakitnya. Menjalani penyakit Parkinson selama dua puluh tujuh tahun tentu merupakan sebuah penderitaan yang panjang dan menyiksa. Tapi apa yang dikatakannya tentang itu semua? “He would always say,” jelas Maryum, anaknya, “I’d rather suffer now than in the hereafter” (Star, Tuesday 17 January 2012).

Sebagaimana ia tak pernah mau menyerah dalam menghadapi lawan di ring tinju, ia pun tak mau mengeluh dan menyerah karena penyakitnya. Walaupun penyakit itu membuatnya sulit bergerak dan berbicara, ia tetap berusaha memberikan yang terbaik kepada sesama Manusia. Tidak mengeluh dan tidak menyerah merupakan implementasi dan konsekuensi yang indah dari kesabaran.

Seseorang tidak pernah benar-benar menjadi besar hanya karena pandai memukuli lawan dan menjatuhkannya di dalam berbagai pertandingan. Yang membuatnya besar adalah sikap yang dimilikinya. Dan itulah yang membuat Muhammad Ali menjadi seorang legenda.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
23 Safar 1433/ 17 Januari 2012

Thursday, October 13, 2011

Setelah Musibah


Tidak selamanya hal yang tidak kita sukai berakhir dengan hal yang buruk. Musibah yang kita alami suatu saat pasti akan berlalu. Setelah hujan badai yang keras dan menakutkan, pelangi akan muncul dengan indahnya di ufuk cakrawala. Dan apa yang sering kita sebut dengan nasib sial sebenarnya tidak ada. Ia hanyalah keberuntungan yang belum kita sadari.

Kisah bulan madu Erika dan Stefan Svanstorm merupakan contoh yang menarik terkait dengan hal ini. Keduanya merupakan pasangan Swedia yang menikah pada akhir tahun 2010. Mereka kemudian melakukan perjalanan bulan madu ke beberapa negara. Bulan madu itu tentunya diharapkan akan menjadi kenangan indah yang tak terlupakan bagi keduanya. Ternyata, perjalanan itu memang menjadi pengalaman yang tak mungkin mereka lupakan di sepanjang hidup mereka. Mereka mengalami bencana beruntun di sepanjang perjalanan tersebut!

Kota pertama yang mereka kunjungi adalah Munich, Jerman. Namun mengunjungi Munich pada akhir tahun itu rupanya merupakan pilihan yang buruk. Kota itu dan sebagian besar wilayah Eropa lainnya sedang mengalami badai salju yang sangat hebat. Dinginnya suhu dan buruknya cuaca membekukan kehangatan bulan madu mereka.

Pasangan ini kemudian memutuskan untuk pergi ke Cairns, Australia, dan mengharapkan suhu Australia yang berlawanan dengan Eropa akan dapat menghangatkan dan membarakan kembali cinta mereka. Tapi saat berada di sana, kota itu sedang mengalami badai siklon. Bukannya menikmati bulan madu, mereka terpaksa ikut berlindung dari badai bersama penduduk setempat.

Mereka lalu meninggalkan kota itu menuju Brisbane, masih di Australia. Tapi kota itu sedang mengalami banjir besar. Mimpi indah mereka pun hanyut bersama banjir yang merendam kota itu. Pasangan ini pun pindah ke kota Australia lainnya, yaitu Perth. ’Kehangatan’ kota ini nyaris dapat menyalakan kembali bara asmara mereka. Tapi suhu di kota itu rupanya terlalu tinggi. Pada saat itu Perth sedang mengalami kebakaran semak (bushfire) yang hebat. Sehingga bukannya cinta yang akan membara, tetapi para pecinta yang boleh jadi akan hangus terbakar di dalamnya. Pasangan ini hampir saja terkena bencana. “(Kami) nyaris saja jadi korban. Pohon-pohon tumbang dan cabang-cabang besar berserakan di jalan,” kata Stefan.

Merasa putus asa dengan Australia, pada akhir Februari 2011 mereka pergi ke Selandia Baru (New Zealand). Apakah tempat yang baru ini akhirnya dapat menggetarkan gelora asmara pasangan yang baru menikah itu? Getaran yang diberikan negeri itu memang dahsyat. Terlalu hebat malah. Beberapa saat setelah mereka tiba, negeri itu mengalami gempa 6,3 skala Richter. Selandia Baru mengumumkan kejadian itu sebagai bencana nasional. Mereka lalu pergi menuju Tokyo. Bukannya berkurang musibah yang dialami, mereka justru mendapati getaran yang lebih kuat lagi di negeri Sakura. Saat berada di sana, Jepang mengalami gempa yang sangat besar, hingga mencapai 8,9 skala Richter. Gempa itu diikuti dengan tsunami yang hebat serta krisis nuklir. Ini jelas bukan tempat yang ideal untuk melakukan perjalanan bulan madu.

Setelah semua bencana itu, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke Bali. Tapi Bali pun ternyata tidak mampu membuat cerah bulan madu mereka. Kehangatan yang mereka cari tak juga mereka dapatkan di pulau dewata. Selama berada di Bali, hujan turun terus menerus. Dengan demikian dapat dikatakan seluruh perjalanan bulan madu yang seharusnya indah dan romantis menjadi hancur berantakan.

Apa yang salah dengan pasangan ini? Mengapa mereka mengalami gempa dan musibah yang terus menerus di sepanjang perjalanan mereka? Kita tidak mengetahui sebabnya. Tapi terlepas dari itu, nama belakang mempelai laki-laki, Svanstorm, menarik untuk diperhatikan. Dalam bahasa yang digunakan di Swedia (bahasa Swensk), kata ini bisa diartikan sebagai ’badai angsa’. Dan jika dikaitkan dengan bahasa Norwegia (Norsk) yang juga digunakan oleh sebagian masyarakat Swedia, kata ini memiliki makna ’badai kehamilan’. Jadi kalau mereka berkali-kali berjumpa dengan badai saat sedang bulan madu, hal itu cukup terwakili oleh nama belakang pasangan muda itu.

Bagaimanapun, kisahnya tidak berhenti sampai di situ. Setelah berbagai bencana dan kesulitan yang dilewati, mereka akhirnya merasakan keberuntungan. Dari Bali mereka menuju ke Cina, dan di tempat yang terakhir ini mereka menemukan suasana yang hangat dan sesuai bagi bulan madu mereka. Selain itu, kisah mereka yang unik rupanya diketahui oleh beberapa media masa. Mereka pun ditawari oleh beberapa media untuk diwawancarai terkait dengan kejadian yang mereka alami. Mereka juga diundang ke New York untuk diwawancarai pada program Good Morning America. Bukan itu saja, sebuah agensi pelancongan dari Swedia menawarkan tiket perjalanan gratis bagi pasangan ini untuk berlibur ke Aruba, Spanyol. Apakah mereka jadi ke Spanyol, dan apakah mereka terhindar dari badai dan gempa di negeri itu? Wallahu a’lam.

Dari kisah ini setidaknya ada dua pelajaran yang bisa kita ambil. Jika kita mengalami musibah yang berat atau musibah yang beruntun, jangan menganggap itu sebagai kesialan atau nasib yang sangat buruk. Sabarkan diri kita. Insya Allah pada akhirnya kita akan mendapatkan kemudahan dan keberuntungan. Dan pelajaran kedua, ... pilihlah nama yang bagus untuk anak-anak kita.

(Diceritakan kembali dari: http://www.inilah.com/read/detail/1397052/apes-bulan-madu-selalu-kena-bencana)

Second/ last picture by Adrianusardya (http://adrianusardya.deviantart.com/art/pagi-yang-cerah-125086644)

Alwi Alatas
Kuala Lumpur
16 Dzulqaidah 1432/ 14 Oktober 2011

Monday, October 10, 2011

Kuruskan Setanmu

Menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya itu memerlukan kesabaran. Kita kadang merasa malas dalam menjalankan kewajiban. Untuk itu kita perlu sabar dan menguatkan diri dalam mengerjakannya. Kita juga sering merasa lemah dalam menghadapi hawa nafsu, merasa tidak berdaya untuk menghindari apa yang diharamkan. Karena itu kita perlu bersabar dalam menghadapi dorongan nafsu. Kita cenderung lupa menyebut nama-Nya dalam setiap aktivitas kita. Untuk itu juga diperlukan kesabaran.

Walaupun bersabar itu kadang terasa berat, tapi buahnya manis. Saat seseorang bersabar dalam melakukan kebiasan yang baik dan Islami, maka ia akan berjaya melemahkan musuh yang selalu berusaha menggoda dan mengganggunya, yaitu setan. Jika ia berhasil mengalahkan setan, tentu setan akan menjadi tak berdaya dan kalah, sementara manusia yang beriman itu akan tersenyum bahagia. Kalau tidak percaya, coba perhatikan kisah singkat berikut ini.

Ibnu Abu Dunya berkata dari sebagian generasi Salaf: Sesungguhnya setan bertemu dengan setan yang lain lalu berkata, ”Kenapa engkau kulihat kurus kering seperti ini?”

Setan yang ditanya menjawab, ”Sesungguhnya aku bersama dengan orang yang jika makan, ia menyebut nama Allah, akibatnya aku tidak bisa makan dengannya. Jika ia minum, ia menyebut nama Allah, akibatnya aku tidak bisa minum dengannya. Jika ia masuk rumahnya, ia menyebut nama Allah, akibatnya aku tidur di luar rumahnya.”

Setan yang satunya lagi berkata, ”Sedang aku bersama dengan orang yang jika makan, ia tidak menyebut nama Allah, maka aku bisa makan bersamanya. Jika ia minum, ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku bisa minum dengannya. Jika ia masuk rumahnya, ia tidak menyebut nama Allah, akibatnya aku bisa masuk ke dalam rumah bersamanya. Dan jika ia menggauli istrinya, ia tidak menyebut nama Allah hingga aku bisa menggauli istrinya bersamanya.”

Ibn Qayyim al-Jauziyah mengakhiri kisah ini dengan kalimat berikut: Barangsiapa membiasakan sabar, maka ia disegani lawannya. Barangsiapa mengalami kesulitan untuk bersabar, maka ia diincar lawannya dan nyaris setan berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan pada orang tersebut. (Diambil dari Ibn Qayyim al-Jauziyah, Sabar: Perisai Seorang Mukmin, Jakarta, Pustaka Azzam, 1420 H, hlm. 37)

Apakah selama ini kita sudah cukup sabar dalam melazimkan kebaikan sehingga membuat setan menjadi kurus dan lemah? Semoga saja.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
12 Dzulqaidah 1432/ 10 Oktober 2011