Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

Tuesday, September 24, 2013

Sebesar apa rumah kita?

Beberapa hari lalu saya bertakziah ke tempat seorang yang baru saja meninggal dunia. Orang yang wafat ini merupakan seorang pengusaha yang berhasil dan termasuk orang kaya. “Jalan masuk ke rumahnya hanya cukup untuk satu mobil,” begitu saya diberitahu, “tapi rumahnya besar sekali.”

Ketika tiba di rumahnya, saya tidak begitu memperhatikan keadaan tempat itu, karena perhatian tertuju pada orang-orang lainnya yang hadir di sana. Beberapa waktu kemudian, jenazah dibawa dengan sebuah mobil pengantar jenazah menuju ke masjid untuk disalatkan dan kemudian dibawa ke kubur. Saya sendiri tidak ikut menyalatkan di masjid dan mengantarkan ke kuburan. Saya menunggu ibu saya yang ikut bertakziah keluar dari dalam rumah untuk kemudian pulang ke rumah.

Orang-orang sudah mulai pergi meninggalkan tempat itu dan suasana menjadi lebih sepi. Ketika itu, sambil menunggu ibu, saya memperhatikan halaman serta rumah yang besar itu. Untuk sebuah rumah pribadi, tempat itu memang sangat besar. Ia memiliki bangunan tempat meletakkan mobil yang terpisah dari bangunan rumah utama. Halaman dan kebunnya juga sangat luas.

“Besar sekali rumah ini,” saya bertanya-tanya ingin tahu, “berapakah luasnya?”

“Saya dengar luasnya 1 hektar,” kata abang yang ada di sebelah saya.

Dapatkah anda membayangkan sebuah rumah pribadi, di tengah kota besar seperti Jakarta, yang luas tanahnya 1 hektar? Tentu saja Allahyarham bukan satu-satunya orang kaya yang memiliki rumah dan halaman seluas itu. Ada orang-orang kaya lainnya yang memiliki rumah pribadi dengan tanah yang luas. Tapi jumlah mereka tentu terbatas, apalagi jika dibandingkan dengan kebanyakan orang yang rumahnya tidak sampai 100 atau 150 meter persegi. Masih banyak lagi yang tidak memiliki rumah sama sekali dan hanya mampu menyewa rumah.

Kalau pemilik rumah ini selalu bersyukur kepada Tuhannya atas nikmat itu, tentu ia termasuk orang yang beruntung. Ia memiliki rumah yang besar, memiliki kekayaan yang lebih dari cukup, memiliki kendaraan dan bangunan khusus untuk meletakkan kenderaannya, memiliki bisnis yang hebat, serta memiliki banyak hal lainnya. Tentu tiada alasan untuk tidak bersyukur. Tapi kita yang rumahnya kecil pun, atau belum punya rumah, jangan sampai tak bersyukur. Karena nikmat yang sedikit pun perlu disyukuri. Sekecil apa pun nikmat, di dalamnya ada tuntutan untuk bersyukur. Dan bagi orang yang bersyukur, nikmatnya akan dilipatgandakan.

Jadi begitulah, orang itu memiliki rumah yang sangat besar. Namun kini ia sudah meninggal dunia. Jenazahnya dibawa meninggalkan rumah itu, menuju ke tempat yang lain. Kemana jenazah itu dibawa? Ya, ia dibawa ke ‘rumah’ yang baru. Luas rumah yang baru itu hanya sekitar dua meter persegi, tidak lebih. Rumah barunya itu sama saja dengan rumah kita semua pada akhirnya. Orang yang tidak punya rumah selama hidupnya pun pada akhirnya akan menempati ‘rumah’ yang luasnya kurang lebih sama dengan yang ditempati si kaya.



Rumah di akhir kehidupan itu bernama kuburan. Kita semua akan masuk ke dalamnya. Kekayaan kita di dunia tidak membuat kubur itu lebih besar dan nyaman. Kekayaan amal-lah yang akan menjadikannya terang dan aman.

Jangan hanya sibuk membeli dan mengurus rumah duniawi. Kerana pada akhirnya rumah itu akan jadi milik orang lain. Persiapkan diri untuk rumah yang terakhir. Agar kelak kita tak merasa kecewa yang berpanjangan.

Syed Alwi Alatas
Jakarta, 23 September 2013

Friday, October 14, 2011

Klakson (Horn)


Saat mengendarai mobil (Malaysia: kereta) atau motor di jalan raya, terkadang kita mendengar orang di kendaraan lain membunyikan klakson (horn) ke arah kita. Apa yang kita rasakan saat mendengar suara klakson (horn) seperti itu? Merasa gembira dan tersanjung karena mendapat perhatian orang lain? Atau kita akan merasa kesal dan marah karenanya? Agaknya yang terakhir inilah yang lebih sering dirasakan, terlebih jika kita hidup di kota-kota besar. Sebabnya sederhana saja. Klakson-klakson itu biasanya dibunyikan untuk tujuan menegur atau komplain (complaint).

Ambillah contoh di dua buah kota, Kuala Lumpur dan Jakarta. Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa membunyikan klakson di jalan-jalan Kuala Lumpur merupakan hal yang agak sensitif. Orang jarang menekan klakson, dan jika mereka membunyikannya kemungkinan besar mereka merasa kesal karena tidak suka dengan cara kita mengendarai kendaraan.

Di Jakarta orang lebih murah hati dalam menekan klakson. Di jalan-jalan raya, setiap berapa menit akan terdengar suara klakson dari mobil ataupun motor. Orang-orang begitu bersemangat dan menggebu-gebu dalam membunyikan klakson kendaraan mereka. Maklum, banyak jalan di kota ini sangat macet sehingga para pengendara menjadi sangat tidak sabaran.

Walaupun bunyinya hampir sama, tapi suara klakson itu dapat mewakili beberapa maksud. ”Cepat jalan, lampu sudah hijau!” ”Kalau jalan yang betul, punya mata nggak sih!” ”Kalau belok pakai lampu sen dong, dasar nggak punya otak!” Yah, kurang lebih begitulah bunyi lengkapnya kalau klakson itu bisa bersuara seperti manusia. Jadi wajar kalau orang lain akhirnya juga membalas bunyi-bunyi klakson itu dengan perasaan kesal dan marah.

Tapi saya punya pengalaman lain yang menarik saat saya pergi ke Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Tentu saja Padang Sidempuan bukan kota besar seperti Jakarta atau Kuala Lumpur. Lalu lintas (traffic) di kota itu sangat tidak beraturan. Lampu lalu lintas (traffic light) jarang ditaati oleh para pengendara. Saat lampu berwarna hijau, mereka jalan terus. Dan ketika lampu berwarna merah, mereka juga jalan terus.

”Jadi apa artinya dibuatkan lampu lalu lintas, kalau tidak ditaati?” saya bertanya pada kawan yang membawa kendaraan.

”Tidak ada artinya,” kata kawan saya dengan logat Batak yang cukup kental. ”Lampu dan peraturan lalu lintas ada untuk dilanggar.” Ia menjelaskan sambil tertawa ringan.

”Orang-orang kadang berhenti juga pada saat lampu merah kalau mereka mau atau kalau ada polisi di dekat situ,” Kata kawan yang lain. ”Karena orang-orang biasa melanggar peraturan lalu lintas, mereka yang ingin mentaati peraturan merasa kesulitan sehingga akhirnya terpengaruh oleh orang banyak dan terpaksa ikut melanggar juga.”

Bukan hanya melanggar lampu lalu lintas, kebanyakan pengendara motor di daerah itu juga tidak mengenakan helm (helmet). Kaca-kaca spion (wing mirror atau side mirror) juga dilepaskan dari motor-motor yang ada. Motor-motor yang digunakan kaum perempuan biasanya hanya menggunakan satu kaca spion, sementara yang laki-laki melepaskan kedua-dua kaca spion. Laki-laki yang menggunakan motor dengan kaca spion dianggap banci (Malaysia: pondan).

Terlepas dari hal itu, orang-orang di sana punya kebiasaan menarik terkait dengan klakson (horn). Saat saya diajak melakukan perjalanan bersama kawan-kawan di sana, mereka sering sekali membunyikan klakson. Saat melewati jalan yang agak sepi dan saat berpapasan dengan kendaraan lain, atau bahkan saat berpapasan dengan orang yang sedang berjalan atau duduk di tepi jalan, teman saya sering membunyikan klakson. Hal ini membuat saya merasa heran. Apakah orang-orang yang mendengarnya tidak merasa terganggu dan kesal.

”Mengapa sering membunyikan klakson seperti itu?” saya bertanya.

”Oh, itu kebiasaan kami di sini,” jawab kawan saya. ”Itu cara kami bertegur sapa dengan orang-orang.”

Wow, saya terkesan mendengarnya. Dan memang selama beberapa hari saya mengikuti perjalanan, saya hampir tidak mendapati mereka menekan klakson dengan nada marah. Sebagian besar bunyi klakson itu ditujukan untuk bertegur sapa. Jadi kalau klakson itu bisa bersuara seperti manusia, bunyinya kurang lebih seperti ini: ”Hai.” ”Halo” ”Assalamu’alaikum.” ”Bagaimana kabarnya?” ”Senang berjumpa dengan Anda.” ”Nanti kita jumpa lagi ya.” Dan orang-orang akan membalasnya dengan bunyi klakson yang juga ramah. Mungkin hal semacam ini tidak hanya berlaku di Padang Sidempuan, tetapi juga di beberapa daerah lain di luar kota-kota besar.

Ah, indah sekali jika orang-orang membunyikan klakson kendaraan mereka dengan tujuan yang baik dan ramah seperti ini. Cara pandang saya terhadap bunyi klakson berubah selama saya berada di Padang Sidempuan ...., setidaknya sampai saya berangkat lagi ke Kuala Lumpur dan Jakarta.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
17 Dzulqaidah 1432/ 15 Oktober 2011