"Odol" dari Surga
Today at 2:38pm
Diposkan oleh Jusharno Ahmad 15 Jan 2010
Cerita menggelikan ini kudengar ketika duduk dibangku SMA dulu. Cerita yang akhirnya tertulis begitu dalam di relung-relung hati. Cerita yang meskipun naif, namun bermakna sangat dalam.
Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol dipenjara. Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan. Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul. Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?
Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar mendapatkan jawaban dari-NYA . Meminta dibukakan jalan keluar dari setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat gagah untuk diucapkan. Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan berulang-ulang kali sebelum diutarakan. Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk esok hari –entah sampai berapa hari- menjengkelkan hatinya amat sangat. Amat tidak penting bagi orang lain, tetapi sangat penting bagi dirinya.
Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu, lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap gila itu. Ia berdiri ragu-ragu dipojok ruangan sel penjara, dalam temaram cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang ia lakukan. Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : “TUHAN, Kau mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu”. Doa selesai. Wajah lelaki itu tampak memerah. Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata amin. Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip dengan seseorang yang berludah ditempat tersembunyi. Tetapi walaupun demikian ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore hari diucapkan, permintaan itu menggelisahkannya hingga malam menjelang tidur. Akhirnya, lelaki itu –walau dengan bersusah payah- mampu melupakan doa sekaligus odolnya itu.
Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar dikamar selnya.
“Saya tidak bersalah Pak !!!”, teriak seorang lelaki gemuk dengan buntalan tas besar dipundak, dipaksa petugas masuk kekamarnya,” Demi TUHAN Pak !!! Saya tidak salah !!! Tolong Pak…Saya jangan dimasukin kesini Paaaaaaaaak. .!!!”
Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari ‘tamu baru’ itu.
“Diam !!”, bentak sang petugas,”Semua orang yang masuk keruangan penjara selalu meneriakkan hal yang sama !! Jangan harap kami bisa tertipu !!!!”
“Tapi Pak…Sssa..”
Brrrraaaaang !!!!
Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan lelaki gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan.
Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya. Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu. Akhirnya tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun kembali tertidur pulas.
Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali ini karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas. Ia terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara. Lho mana Si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi ? Ah masa iya, mimpi itu begitu nyata ?? Aku yakin ia disini tadi malam.
“Dia bilang itu buat kamu !!”, kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas dipojok ruangan. Lelaki itu segera menoleh dan segera menemukan benda yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.
“Sekarang dia dimana Pak ?”, tanyanya heran.
“Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi…biasa salah tangkap !”, jawab petugas itu enteng, ”saking senangnya orang itu bilang tas dan segala isinya itu buat kamu”.
Petugas pun ngeloyor pergi.
Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari kepojok ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk untuknya.
Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri. “Ya..TUHAAANNN !!!!”, laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur dipojok ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata. Lelaki itu bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu. Disampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya berhamburan keluar. Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian sehari-hari.
~~~
Sahabat, Kisah tersebut sungguh-sunguh kisah nyata. Sungguh-sungguh pernah terjadi. Dan aku mendengarnya langsung dari orang yang mengalami hal itu. Semoga semua ini dapat menjadi tambahan bekal ketika kita meneruskan berjalan menempuh kehidupan kita masing-masing. Jadi suatu ketika, saat kita merasa jalan dihadapan kita seolah terputus. Sementara harapan seakan menguap diganti deru ketakutan, kebimbangan dan putus asa.
Pada saat seperti itu ada baiknya kita mengingat sungguh-sungguh bahkan Odol pun akan dikirimkan oleh Surga bagi siapapun yang membutuhkannya. Apalagi jika kita meminta sesuatu yang mulia. Sesuatu yang memuliakan harkat manusia dan DIA yang menciptakan kita.
Tuesday, June 8, 2010
Tuesday, April 6, 2010
Lima Miliarder Dunia yang Hidup Sederhana
Lima Miliarder Dunia yang Hidup Sederhana
Mereka tidak suka menghambur-hamburkan uangnya.
Selasa, 6 April 2010,
VIVAnews - Setidaknya satu kali dalam hidup, pernahkah Anda berfantasi menjadi orang yang bergelimang harta? Lantas, apa yang akan Anda lakukan dengan uang miliaran atau triliunan di tangan Anda?
Memang tidak sedikit jumlah orang kaya di planet ini. Namun percaya atau tidak, masih ada di antara orang-orang kaya dunia tersebut yang hidup relatif normal, dalam arti hidup seperti orang kebanyakan.
Rahasia "kotor" dari orang-orang kaya bersahaja ini adalah bahwa mereka tidak bertingkah laku seperti orang kaya. Mereka sibuk berhemat dan berinvestasi demi masa depan, daripada menghambur-hamburkan uang hanya untuk kepentingan sesaat.
Coba simak beberapa orang kaya bersahaja di dunia berikut ini, seperti dikutip dari laman San Francisco Chronicle, Kamis 1 April 2010.
1. Warren Buffett
Buffett adalah seorang investor sukses, pebisnis, sekaligus filantropis, dan pemilik Berkshire Hathaway. Namun, rahasia sebenarnya dari kekayaan pribadi Buffett mungkin adalah kegemarannya untuk berhemat. Pemilik harta kekayaan senilai US$47 miliar ini menjauhi rumah dan benda-benda mewah. Bersama istrinya, pria 79 tahun ini masih tinggal di rumah sederhana mereka di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat yang mereka beli dengan harga US$31.500, lebih dari 50 tahun lalu. Meski Buffett sering menikmati hidangan di restoran terbaik di berbagai belahan dunia, bila disodori pilihan, Buffett akan lebih memilih burger dan kentang goreng beserta Coke cherry dingin. Saat ditanya mengapa dia tidak memiliki sebuah kapal pesir, Buffett menjawab: "Kebanyakan mainan cuma menimbulkan rasa nyeri di leher."
2. Carlos Slim
Nama Carlos Slim belum terlalu dikenal orang bila dibandingkan dengan nama-nama besar macam Bill Gates. Namun, pria warga Meksiko ini baru saja dikukuhkan sebagai orang paling kaya sejagat, mengalahkan pendiri Microsoft tersebut. Kekayaan Slim bernilai lebih dari US$53 miliar. Meski dia bisa membeli berbagai barang mewah duniawi, Slim hampir tidak pernah memanfaatkan kesempatan itu. Seperti Buffett, Slim tidak memiliki kapal pesiar atau pesawat, dan tetap menghuni rumah yang sama sejak 40 tahun lalu.
3. Ingvar Kamprad
Kamprad, pendiri ritel furnitur terkemuka asal Swedia, Ikea. Bagi Kamprad, mencari cara untuk menghemat uang bukan hanya persoalan konsumennya, tetapi juga menjadi nilai berharga bagi dirinya sendiri. Kamprad pernah berujar, "Orang-orang Ikea tidak mengendarai mobil mencolok atau tinggal di hotel-hotel mewah." Aturan tersebut berlaku juga bagi dirinya, pendiri perusahaan ritel Ikea. Dia sering menggunakan kereta untuk mengurus bisnisnya yang tersebar di mana-mana. Untuk urusan di dalam kota, Kampard cukup memanfaatkan bus kota atau mengendarai mobilnya yang telah berumur 15 tahun, sebuah Volvo 240 GL.
4. Chuck Feeney
Feeney tumbuh besar sebagai seorang keturunan Amerika-Irlandia saat terjadi Depresi Besar di Amerika Serikat. Faktor itu bisa jadi mempengaruhi gaya hidup hemat pria kelahiran 23 April 1931 ini. Dengan motto pribadi "Saya ditakdirkan untuk bekerja keras, bukan untuk menjadi orang kaya," salah seorang pendiri Duty Free Shoppers ini diam-diam menjadi seorang miliuner dunia.
Namun, hal lain yang juga dilakukan diam-diam adalah bahwa Feeney memberikan nyaris semua kekayaannya ke yayasan kemanusiaan, Atlantic Philanthropies. Selain memberikan lebih dari US$600 miliar ke almamater Cornell University, dia juga menyumbangkan miliaran dolar ke berbagai sekolah, rumah sakit, dan badan penelitian. Feeney bahkan mengalahkan Buffett dan Kamprad dalam "kategori donasi".
Pemakai rutin fasilitas transportasi umum ini juga selalu terbang menggunakan kelas ekonomi, membeli pakaian dari toko ritel, dan tidak menghamburkan uang hanya untuk membeli rak sepatu besar. "Kita hanya bisa mengenakan satu pasang sepatu dalam satu kali kesempatan," katanya. Dia juga membesarkan anak-anaknya dengan cara normal, yakni dengan meminta mereka bekerja paruh waktu saat musim panas seperti yang dilakukan anak-anak remaja di Amerika.
5. Frederik Meijer
Toko-toko kelontong Meijer banyak tersebar di Midwest, Amerika Serikat. Nilai kekayaan Meijer mencapai lebih dari US$5 miliar, dan hampir separuh dari kekayaan itu justru ditimbun saat pendapatan bersih bisnis Meijer anjlok pada 2009.
Seperti Buffett, Meijer membeli mobil dengan harga logis dan mengendarai mobil-mobil itu sampai tidak bisa digunakan lagi. Seperti Kamprad, Meijer memilih motel-motel biasa saat bepergian untuk urusan bisnis. Dan seperti Chuck Feeney, Meijer fokus pada sesuatu yang bisa diberikan pada masyarakat, dan bukan memboroskan uang untuk kepentingan pribadi.
http://dunia.vivanews.com/news/read/141712-lima_miliarder_dunia_yang_hidup_sederhana
Mereka tidak suka menghambur-hamburkan uangnya.
Selasa, 6 April 2010,
VIVAnews - Setidaknya satu kali dalam hidup, pernahkah Anda berfantasi menjadi orang yang bergelimang harta? Lantas, apa yang akan Anda lakukan dengan uang miliaran atau triliunan di tangan Anda?
Memang tidak sedikit jumlah orang kaya di planet ini. Namun percaya atau tidak, masih ada di antara orang-orang kaya dunia tersebut yang hidup relatif normal, dalam arti hidup seperti orang kebanyakan.
Rahasia "kotor" dari orang-orang kaya bersahaja ini adalah bahwa mereka tidak bertingkah laku seperti orang kaya. Mereka sibuk berhemat dan berinvestasi demi masa depan, daripada menghambur-hamburkan uang hanya untuk kepentingan sesaat.
Coba simak beberapa orang kaya bersahaja di dunia berikut ini, seperti dikutip dari laman San Francisco Chronicle, Kamis 1 April 2010.
1. Warren Buffett
Buffett adalah seorang investor sukses, pebisnis, sekaligus filantropis, dan pemilik Berkshire Hathaway. Namun, rahasia sebenarnya dari kekayaan pribadi Buffett mungkin adalah kegemarannya untuk berhemat. Pemilik harta kekayaan senilai US$47 miliar ini menjauhi rumah dan benda-benda mewah. Bersama istrinya, pria 79 tahun ini masih tinggal di rumah sederhana mereka di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat yang mereka beli dengan harga US$31.500, lebih dari 50 tahun lalu. Meski Buffett sering menikmati hidangan di restoran terbaik di berbagai belahan dunia, bila disodori pilihan, Buffett akan lebih memilih burger dan kentang goreng beserta Coke cherry dingin. Saat ditanya mengapa dia tidak memiliki sebuah kapal pesir, Buffett menjawab: "Kebanyakan mainan cuma menimbulkan rasa nyeri di leher."
2. Carlos Slim
Nama Carlos Slim belum terlalu dikenal orang bila dibandingkan dengan nama-nama besar macam Bill Gates. Namun, pria warga Meksiko ini baru saja dikukuhkan sebagai orang paling kaya sejagat, mengalahkan pendiri Microsoft tersebut. Kekayaan Slim bernilai lebih dari US$53 miliar. Meski dia bisa membeli berbagai barang mewah duniawi, Slim hampir tidak pernah memanfaatkan kesempatan itu. Seperti Buffett, Slim tidak memiliki kapal pesiar atau pesawat, dan tetap menghuni rumah yang sama sejak 40 tahun lalu.
3. Ingvar Kamprad
Kamprad, pendiri ritel furnitur terkemuka asal Swedia, Ikea. Bagi Kamprad, mencari cara untuk menghemat uang bukan hanya persoalan konsumennya, tetapi juga menjadi nilai berharga bagi dirinya sendiri. Kamprad pernah berujar, "Orang-orang Ikea tidak mengendarai mobil mencolok atau tinggal di hotel-hotel mewah." Aturan tersebut berlaku juga bagi dirinya, pendiri perusahaan ritel Ikea. Dia sering menggunakan kereta untuk mengurus bisnisnya yang tersebar di mana-mana. Untuk urusan di dalam kota, Kampard cukup memanfaatkan bus kota atau mengendarai mobilnya yang telah berumur 15 tahun, sebuah Volvo 240 GL.
4. Chuck Feeney
Feeney tumbuh besar sebagai seorang keturunan Amerika-Irlandia saat terjadi Depresi Besar di Amerika Serikat. Faktor itu bisa jadi mempengaruhi gaya hidup hemat pria kelahiran 23 April 1931 ini. Dengan motto pribadi "Saya ditakdirkan untuk bekerja keras, bukan untuk menjadi orang kaya," salah seorang pendiri Duty Free Shoppers ini diam-diam menjadi seorang miliuner dunia.
Namun, hal lain yang juga dilakukan diam-diam adalah bahwa Feeney memberikan nyaris semua kekayaannya ke yayasan kemanusiaan, Atlantic Philanthropies. Selain memberikan lebih dari US$600 miliar ke almamater Cornell University, dia juga menyumbangkan miliaran dolar ke berbagai sekolah, rumah sakit, dan badan penelitian. Feeney bahkan mengalahkan Buffett dan Kamprad dalam "kategori donasi".
Pemakai rutin fasilitas transportasi umum ini juga selalu terbang menggunakan kelas ekonomi, membeli pakaian dari toko ritel, dan tidak menghamburkan uang hanya untuk membeli rak sepatu besar. "Kita hanya bisa mengenakan satu pasang sepatu dalam satu kali kesempatan," katanya. Dia juga membesarkan anak-anaknya dengan cara normal, yakni dengan meminta mereka bekerja paruh waktu saat musim panas seperti yang dilakukan anak-anak remaja di Amerika.
5. Frederik Meijer
Toko-toko kelontong Meijer banyak tersebar di Midwest, Amerika Serikat. Nilai kekayaan Meijer mencapai lebih dari US$5 miliar, dan hampir separuh dari kekayaan itu justru ditimbun saat pendapatan bersih bisnis Meijer anjlok pada 2009.
Seperti Buffett, Meijer membeli mobil dengan harga logis dan mengendarai mobil-mobil itu sampai tidak bisa digunakan lagi. Seperti Kamprad, Meijer memilih motel-motel biasa saat bepergian untuk urusan bisnis. Dan seperti Chuck Feeney, Meijer fokus pada sesuatu yang bisa diberikan pada masyarakat, dan bukan memboroskan uang untuk kepentingan pribadi.
http://dunia.vivanews.com/news/read/141712-lima_miliarder_dunia_yang_hidup_sederhana
Monday, April 5, 2010
Persaudaraan Ekonomi

Persaudaraan Ekonomi
Alwi Alatas
Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah bengkel untuk mengganti oli mobil dan memeriksa kendaraan kalau-kalau ada bagian yang perlu diperbaiki. Ada sebuah bengkel di dekat rumah, pengelolanya orang Cina. Maklum, seperti itulah kalau tinggal di lingkungan orang-orang Cina, susah juga mendapatkan bengkel mobil yang dikelola orang Melayu di dekat tempat tinggal. Tapi tak apalah, pengelola bengkel itu masih muda dan sangat ramah. Bukan hanya ramah, ia juga tidak keberatan menjawab berbagai pertanyaan soal mobil yang ditanyakan oleh pelanggan tak berpengalaman seperti saya.
Selain mengganti oli, pekerja yang menangani mobil saya juga melakukan pemeriksaan bagian-bagian mobil lainnya. Ia mengisi air karburator, memeriksa tekanan angin pada ban dan memompa ban yang agak kempes. Saat memeriksa filter angin yang sudah kotor, ia membawanya ke dalam untuk menanyakan pada bosnya apakah filter tersebut sudah waktunya diganti. ”Bersihkan saja,” ujar bosnya setelah memperhatikan keadaan filter tersebut. Maka anak buahnya tadi segera membersihkan filter tersebut dengan menggunakan penyemprot angin. Keadaannya tentu saja masih agak kotor dan berwarna keruh, walaupun kondisinya sudah lebih baik.
Saya berdiri memperhatikan pegawai itu bekerja. Seorang pelanggan lain, seorang Cina juga, ikut berdiri di samping saya. Sambil memperhatikan mobil saya, ia mulai berbincang dengan saya. Ia bercerita kalau ia selalu memeriksa kendaraannya secara rutin di tempat itu.
“Technician kedai ini ok … dia paham dan boleh baiki semua problem kereta …,” ia berkata penuh semangat.
Lalu ia melihat filter angin mobil saya yang kotor dan sedang dipasang kembali di tempatnya. “Itu sudah kotor sekali … very dirty lah,” katanya sambil menunjuk filter tersebut. “Lebih baik kalau diganti ….”
“Perlu diganti …?” saya ragu-ragu. Jujur saja, saya belum lama memiliki mobil dan pengetahuan saya tentang mesin mobil setingkat pelajar taman kanak-kanak. Terlebih lagi, uang di kantong saya tidak begitu banyak.
”Setiap kali service saya selalu ganti baru semua yang perlu ... minyak hitam, filter angin, minyak brake ...,” ujarnya menerangkan. ”Yang penting jalan kereta kita jadi ok. We feel comfortable.”
Saya mulai terpancing kata-katanya. ”Berapa harga filter angin? Biasanya berapa lama filter itu perlu diganti?”
Pekerja yang sedang mengurus mobil saya menjawab pertanyaan saya dan menyebut harganya. Saya mulai mempertimbangkan untuk membelinya. Kebetulan uang di kantong masih cukup.
”You tak akan menyesal lah,” pelanggan di samping saya tadi. ”Semua itu akan bikin kereta jadi lebih baik ....”
Ketika bos bengkel datang menghampiri, saya tanyakan apakah filternya memang perlu diganti. ”Memang filter itu sudah kotor, dan lebih baik diganti. Tapi terpulang pada awak apakah nak tukar filter dengan yang baru atau tak.”
”Saya kira begitu lebih baik,” pelanggan yang di sebelah saya masih memberi komentar.
”Baiklah kalau begitu,” ujar saya mantap.” Saya nak tukar filter itu dengan yang baru.” Saya terpengaruh juga dengan omongan pelanggan di sebelah saya. Usianya jauh lebih tua dari saya, jadi saya tak merasa ia telah menggurui saya.
Bagaimanapun, saya merasa juga kalau si pelanggan ini sebetulnya sedang mendukung bos bengkel mobil ini. Ia terlihat sangat akrab dengan bos bengkel tersebut. Dengan menyarankan saya membeli filter baru berarti pemasukan untuk bengkel itu bertambah. Tapi pada saat yang sama saya juga tidak yakin kalau ia sedang berusaha menipu saya. Filter tersebut memang sangat kotor dan dan beberapa bagian mobil saya memang sudah perlu diganti.
Setelah selesai memperbaiki mobil, saya pun kembali ke rumah. Selama beberapa waktu berikutnya saya mengingat-ingat kejadian itu. Saya merasa kagum dengan sikap orang-orang keturunan Cina yang saling mendukung dalam berekonomi. Bahkan di antara sesama pedagang Cina biasanya juga cenderung saling mendukung. Mereka membentuk semacam persaudaraan ekonomi untuk menguatkan posisi perekonomian mereka. Tentu saja di antara mereka juga sering terjadi persaingan dan permusuhan. Tapi saat menghadapi orang lain, mereka biasanya bersatu dan saling mendukung.
Bagaimana dengan kaum Muslimin? Apakah kaum Muslimin dan para pedagang Muslim juga terbiasa melakukan hal yang sama? Barangkali sebagian pelaku ekonomi Muslim juga memiliki kecenderungan yang sama. Namun kami khawatir sikap kebalikannya yang lebih sering muncul. Saya jadi teringat dengan apa yang saya baca di buku Anne Booth, The Indonesian Economy in the Nineteenth and Twentieth Century. Dengan mengutip dari Clifford Geertz saat menjelaskan tentang para pedagang pribumi di Kudus, ia menulis bahwa ‘sikap individualisme mereka yang berlebihan membawa pada kecemburuan ekonomi dan pertengkaran di antara sesama mereka sendiri, daripada membangun jaringan dan memberi dukungan yang saling menguntungkan yang menjadi ciri khas kaum imigran Cina.’
Saya tidak begitu paham dengan sikap individualisme yang berlebihan. Tapi rasa-rasanya masalah kecemburuan ekonomi dan konflik internal cukup mudah dipahami dan dicari contohnya. Apa yang disebutkan Geertz atau Booth di atas terjadi beberapa dekade yang lalu. Apakah hal semacam itu masih berlaku sampai sekarang ini? Wallahu a’lam. Semoga saja tidak.
Kuala Lumpur, 3 Desember 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)