Wednesday, March 31, 2010

Anak laki-laki dan sekantung paku


Anak laki-laki dan sekantung paku

Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk.

Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku,dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain.

Hari pertama dia memaku 37 batang dipagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya.

Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar.

Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar.Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata :

"Anakku, kamu sudah berlaku baik,tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada dipagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula.Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar."

"Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka."

"Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya sama perihnya seperti luka fisik."

"Kawan-kawan adalah perhiasan yang langka."

"Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat."

"Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu."

"Tunjukkanlah kepada teman- temanmu betapa kau menyukai mereka."

http://fawatihus.blogspot.com/2008/02/anak-laki-laki-dan-sekantung-paku.html

Monday, March 29, 2010

Kenapa …?


Kenapa …?


Riyadh, Selasa, 8 Syawal 1400H

Di ruang tunggu bandara, sepasang suami istri berumur kurang lebih 60 tahun, tengah menanti penerbangan ke Mekah.

Sambil menunggu pengumuman, lelaki tua itu berbaring berbantalkan kain ihram, setelah berpesan pada istrinya,

"Nanti, kalau mereka mengumumkan pesawat akan berangkat, bangunkan saya."

"InsyaAllah" jawab istrinya singkat.

Kemudian wanita tua itu diam. Sambil menunggu, terkadang ia berbincang-bincang dengan para wanita lain di sekelilingnya, kemudian dia katakan,

"Saya mau pergi ke toilet."

Selanjutnya ia pergi menuju toilet di samping masjid bandara tersebut. Karena ia merasa tidak bisa menggunakan dengan baik toilet di bandara atau toilet yang dibuat model Eropa, sang istri pun tertahan lama di toilet tersebut.

Ketika kembali dari sana, ternyata orang-orang sekelilingnya telah pergi. Sang istripun segera membangunkan suaminya. Setengah berteriak dia katakan kepadanya,

"Hai Abu Muhammad, orang-orang sudah pergi, mereka meninggalkan kita."

Orang tua itu bangun dengan gelagapan, lalu mengambil barang-barangnya, kemudian masuk ke pintu gerbang. Ternyata petugas di sana mencegahnya untuk masuk, petugas itu berkata,

"Pesawat telah tinggal landas Paman, ke mana engkau tadi?? Tunggulah penerbangan berikutnya tiga jam lagi."

Lelaki tua itu tak bisa tak bisa berbuat apa-apa selain menengok pada istrinya, lalu menumpahkan segala kemarahannya kepada istrinya. Istrinya dibentaknya seraya berkata,

"Kenapa kita sampai tertinggal oleh pesawat? Kemana kamu tadi?"

Seorang petugas segera datang, lalu berkata, "Paman, marilah istirahat disini saja dulu, insyaAllah, segala sesuatunya akan beres."

Akan tetapi lelaki tua itu semakin berang. Dia marah sekali, sementara sang istri berupaya meredakan amarah suaminya, tetapi tidak juga berhasil. Lelaki tua itu terus saja mengecam istrinya dengan berkata,

"KENAPA....KENAPA....KENAPA......" dan seterusnya

Di tengah hujan kecaman yang kian gencar itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengejutkan. Terdengar pengumuman di bandara bahwa pesawat yang baru saja berangkat mengalami gangguan pada salah satu mesin, kemudian gangguan itu makin parah, hingga akhirnya pesawat itu terbakar. Pilot pesawat itu telah menghubungi pusat pengendalian di bandara, meminta izin untuk melakukan pendaratan darurat. Namun selalu dijawab, "Tunggulah sebentar, landasan pacu masih sibuk."

Namun setelah pilot menyaksikan api makn besar, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mendarat darurat. Tiba-tiba tampaklah kobarna api dari segala penjuru pesawat. Seketika itu juga para petugas keamanan dan para medis memburu masuk bandara untuk menyelamatkan para penumpang. Akan tetapi, tidak berhasil, musibah tersebut menyebabkan terjadinya insiden luar biasa dan semua penumpang tewas.

Orang-orang yang mendengar peristiwa naas itupun, langsung berhamburan datang dari segala penjuru. Termasuk anak pasangan tua itu.

Tiba-tiba lelaki tua itu didekap oleh anaknya seraya berkata,

Alhamdulillah, kau selamat bapak, mana ibu?"

Lelaki tua itu menarik napas panjang, lalu berkata,

"Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami berdua. Demi Allah anakku, sebelumnya aku marah dan sedih sekali karena tertinggal oleh pesawat. Aku tidak pernah mengecam ibumu atas apapun seperti yang aku lakukan terhadapnya hari ini. Astaghfirullah wa atubu ilaih....."

........................................................................

Turut meninggal dalam kecelakaan pesawat itu adalah co pilot Saudi Arabian Airlines yang seharusnya tidak bertugas, yaitu Sami Husnain


From Suci Ummi Adam in Facebook

http://www.facebook.com/photo.php?pid=281013&id=100000142608027


Message: When unpleasant things happen to you, don’t ask ‘why,’ just accept them … and prepare for the next ‘flights.’

Sunday, February 28, 2010

MELAKSANAKAN AMANAH DENGAN IKHLAS


MELAKSANAKAN AMANAH DENGAN IKHLAS

Dari milis teman

Seorang ayah ingin mengajarkan kepada anaknya sejak dini yang baru duduk dikelas 3 SD untuk mengatur uang jajannya. Sang anak diberi uang Rp 30.000 perminggu (termasuk ongkos ojek). Biasanya uang tersebut diberikan sang ayah sehari sebelum anaknya masuk sekolah.
Pada minggu pagi mereka berdua hendak jalan-jalan ke kota untuk menikmati liburan. Sebelum berangkat, tak lupa sang ayah memberikan uang jajan mingguan anaknya dengan tiga lembar uang Rp 10.000. Dan uang tersebut disimpan rapi dalam saku celananya. Ditengah keasikan sang ayah dan anaknya menikmati hari libur mereka, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan kedatangan seorang kakek pengemis yangg telah tua renta sambil memelas.

Tak tega melihat sang kakek tua memelas, sang anak dengan sigap langsung mengeluarkan 3 lembar uang 10.000,- dari saku celana dan diberikan seluruhnya. Kontan saja kakek pengemis ini terlihat sangat senang seraya mengucapkan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira kepada sang anak dan ayahnya ini.

Setelah si kakek tua berlalu, kemudian sang ayah bertanya;
“Sayang, kenapa kamu berikan semua uangmu untuk kakek itu? Bukankah satu lembar saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga nanti malam?”
“Ayah..kalau kakek tua itu ikhlas menerima yang sedikit maka aku ikhlas untuk memberikan yang lebih besar!” Jawab anaknya dengan wajah tersenyum..
“Tek!!!” Hati sang ayah langsung tersentak kaget mendengar jawaban tersebut.
“Nah, terus uang jajanmu untuk seminggu ke depan bagaimana?” Tanya sang ayah mencoba menguji.
“Kan aku masih punya ayah dan bunda! Tidak seperti kakek tua itu yang mungkin hanya hidup sebatangkara di dunia ini.” Balas anaknya.
“Kenapa kamu begitu yakin kalo ayah dan bunda akan mengganti uang jajanmu? Ayah nggak janji loh?” Kembali sang ayah mengujinya.
“Kalo ayah merasa bahwa aku adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada ayah dan bunda, maka aku sangat yakin ayah dan bunda tak akan membiarkan aku kelaparan seperti kakek tua itu..” Jawab sang anak mantap.

Seakan sang ayah tak percaya dengan jawaban dari putranya hingga ia kehabisan kata-kata. Ia tak menyangka jawaban seperti itu keluar dari seorang bocah kelas 3 SD. Ia seperti sedang berhadapan dengan seorang ulama besar dan ia tak bernilai apa-apa ketika berada dihadapannya.

Lalu ia berjongkok dan memegang kedua pundak anaknya..
“Sayang…ayah dan bunda janji akan selalu menjaga dan merawatmu hingga Allah tetapkan batas umur ini. Ayah sangat sayang padamu..” Sambil kedua matanya berkaca-kaca seolah tak kuat menahan haru..

Sambil memegang kedua pipi ayahnya, sang anak membalas,
“Ayah tak perlu berkata seperti itu. Sejak dulu aku sudah tahu bahwa ayah dan bunda sangat mencintai dan menyayangiku. Kelak jika aku sudah dewasa aku akan selalu menjaga ayah dan bunda, dan aku tidak akan membiarkan ayah dan bunda hidup dijalan seperti kakek tua itu…”

Dan airmata sang ayahpun tak terbendung mendengar jawaban tulus dari anaknya. Dipeluklah tubuh mungil itu dengan sangat erat. Dan kedua larut dalam haru dan kasih sayang.