Thursday, December 18, 2014

Jeruk Masam Rasa Manis

Bayu Gawtama


Suatu hari, ketika saya sedang menjenguk salah satu saudara yang tengah dirawat di rumah sakit, terdengar suara makian keras dari pasien sebelah, “Bawa jeruk kok busuk, mau ngeracunin saya? biar saya cepat mati?”
Suara marah itu berasal dari lelaki tua yang kedatangan salah satu keluarganya dengan membawa jeruk. Boleh jadi benar, bahwa beberapa jeruk dalam jinjingan itu busuk atau masam. Meski tidak semua jeruk yang dibawanya itu busuk dan sangat kebetulan yang terambil pertama oleh si pasien yang busuk. Dan tanpa bertanya lagi, marahlah ia kepada si pembawa jeruk.
Sebenarnya, boleh dibilang wajar jika seorang pasien marah lantaran kondisinya labil dan kesehatannya terganggu. Ketika ia marah karena jeruk yang dibawa salah satu keluarganya itu busuk, mungkin itu hanya pemicu dari segunung emosi yang terpendam selama berhari-hari di rumah sakit. Penat, bosan, jenuh, mual, pusing, panas, dan berbagai perasaan yang menderanya selama berhari-hari, belum lagi ditambah dengan bisingnya rumah sakit, perawat yang kadang tak ramah, keluarga yang mulai uring-uringan karena kepala keluarganya sekian hari tak bekerja, semuanya membuat dadanya bergemuruh. Lalu datanglah salah satu saudaranya dengan setangkai ketulusan berjinjing jeruk. Namun karena jeruk yang dibawanya itu tak bagus, marahlah ia.
Wajar. Sekali lagi wajar. Tetapi tidak dengan peristiwa lain yang hampir mirip terjadi di acara keluarga besar belum lama ini. Seorang keluarga yang tengah diberi ujian Allah menjalani kehidupannya dalam ekonomi menengah ke bawah, berupaya untuk tetap berpartisipasi dalam acara keluarga besar tersebut. Tiba-tiba, “Kalau nggak mampu beli jeruk yang bagus, mending nggak usah beli. Jeruk asam gini siapa yang mau makan?” suara itu terdengar di tengah-tengah keluarga dan membuat malu keluarga yang baru datang itu.
Pupuslah senyum keluarga itu, rusaklah acara kangen-kangenan keluarga oleh kalimat tersebut. Si empunya suara mungkin hanya melihat dari jeruk masam itu, tapi ia tak mampu melihat apa yang sudah dilakukan satu keluarga itu untuk bisa membawa sekantong jeruk yang boleh jadi harganya tak seberapa.

Harga sekantong jeruk mungkin tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Tapi tahukah seberapa besar pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk membelinya? Rumahnya sangat jauh dari rumah tempat acara keluarga, dan sedikitnya tiga kali tukar angkutan umum. Sepuluh ribu itu seharusnya bisa untuk makan satu hari satu keluarga. Boleh jadi mereka akan menggadaikan satu hari mereka tanpa lauk pauk di rumah. Atau jangan-jangan pagi hari sebelum berangkat, tak satu pun dari anggota keluarga itu sempat menyantap sarapan karena uangnya dipakai untuk membeli jeruk. Yang lebih parah, mungkin juga mereka rela berjalan kaki dari jarak yang sangat jauh dan memilih tak menumpang satu dari tiga angkutan umum yang seharusnya. “Ongkos bisnya kita belikan jeruk saja ya, buat bawaan. Nggak enak kalau nggak bawa apa-apa,” kata si Ayah kepada keluarganya.
Kalimat sang Ayah itu, hanya bisa dijawab dengan tegukan ludah kering si kecil yang sudah tak sanggup menahan lelah dan panas berjalan beberapa ratus meter. Tak tega, Ayah yang bijak itu pun menggendong gadis kecil yang hampir pingsan itu. Ia tetap memaksakan hati untuk tega demi bisa membeli harga dari di depan keluarga besarnya walau hanya dengan sekantong jeruk. Menahan tangisnya saat mendengar lenguhan nafas seluruh anggota keluarganya sambil berkali-kali membungkuk, jongkok, atau bahkan singgah sesaat untuk mengumpulkan tenaga. Itu dilakukannya demi mendapatkan sambutan hangat keluarga besar karena menjinjing sesuatu.
Setibanya di tempat acara, sebuah rumah besar milik salah satu keluarga jauh yang sukses, menebar senyum di depan seluruh keluarga yang sudah hadir sambil bangga bisa membawa sejinjing jeruk, lupa sudah lelah satu setengah jam berjalan kaki, tak ingat lagi terik yang memanggang tenggorokan, bertukar dengan sejumput rindu berjumpa keluarga. Namun, terasa sakit telinga, layaknya dibakar dua matahari siang. Lebih panas dari sengatan yang belum lama memanggang kulit, ketika kalimat itu terdengar, “Jeruk asam begini kok dibawa…”
Duh. Jika semua tahu pengorbanan yang dilakukan satu keluarga itu untuk bisa menjinjing sekantong jeruk tadi, pastilah semua jeruk asam itu akan terasa manis. Jauh lebih manis dari buah apa pun yang dibawa keluarga lain yang tak punya masalah keuangan. Yang bisa datang dengan kendaraan pribadi atau naik taksi dengan ongkos yang cukup untuk membeli sepeti jeruk manis dan segar.
Mampukah kita melihat sedalam itu? Sungguh, manisnya akan terasa lebih lama, meski jeruknya sudah dimakan berhari-hari yang lalu.

http://kisahislami.com/2011/12/06/kisah-hikmah-jeruk-busuk-rasa-manis/

Pesan: Tahanlah lidah kita daripada menghina kekurangan orang lain. Hargai niat baiknya, bukan kecilnya pemberian.

Tuesday, March 4, 2014

Gara-gara ditolak Facebook

Brian Acton, ahli komputer lulusan Stanford University, pernah bekerja di Apple dan Adobe. Antara tahun 1996 dan 2007 ia bekerja di Yahoo dan jabatan terakhirnya adalah vice president of engineering. Dengan kepakaran dan pengalaman semacam itu rasanya akan mudah bagi Acton untuk melamar ke perusahaan manapun yang bergerak di bidangIT. Tapi kenyataannya tidak begitu. Pada pertengahan 2009, ia melamar untuk bergabung dengan Facebook, tapi lamarannya ini ditolak. Kabarnya ia juga melamar dan mengalami penolakan oleh Twitter.

Bagi sebagian orang, penolakan semacam itu mungkin merupakan hal yang menyakitkan dan menyebabkan hilangnya semangat. Tapi manusia sering lupa bahwa tertutupnya sebuah pintu bagi mereka mungkin bermakna adanya pintu lain yang terbukan dan bisa membawanya ke tempat yag lebih baik. Ini pula yang rupanya dialami oleh Acton.

Setelah kejadian itu, ia tampaknya tidak menjadi 'down'. Setelah ditolak Facebook, ia menuliskan hal itu di twitternya dan menutupnya dengan kata-kata 'looking forward to life's next adventure'.



Tak lama setelah itu, Acton dan seorang kawannya, Jan Koum, membangun aplikasi Whatsapp. Aplikasi ini ternyata tumbuh dengan pesat dan digunakan oleh banyak pengguna, termasuk di Indonesia. Kini pengguna Whatsapp telah mencapai 430 juta pengguna aktif dan setiap harinya aplikasi ini melayani 50 miliar pesan setiap harinya. Whatsapp telah mengalahkan penggunaan sms di banyak negara.

Baru-baru ini kita mendengar berita bahwa Facebook membeli Whatsapp dengan harga yang sangat fantastis, yaitu senilai 19 miliar dolar AS atau sekitar 223 triliun rupiah. Dari nilai itu, 3 miliar dolar diberikan dalam bentuk saham kepada Acton dan beberapa orang lainnya di Whatsapp. Acton sendiri kini direkrut untuk bergabung dengan Facebook.

Kisah yang menarik bukan. Lima tahun sebelumnya Brian Acton ditolak oleh Facebook. Namun kini ia 'dibeli' dengan harga yang sangat tinggi oleh perusahaan yang pernah menolaknya itu. Kalau pada waktu itu ia diterima oleh Facebook, kita tidak tahun apakah aplikasi Whatsapp akan terlahir, atau apakah ia akan berkembang seperti yang kita ketahui sekarang.

Takdir memang memiliki rahasianya sendiri dalam mengarahkan hidup seseorang. Jadi jangan marah terhadap takdir yang tidak disukai. Sikapi saja dengan positif dan teruskan perjuangan hidupmu. Insya Allah ada banyak kebaikan yang mungkin menanti di hadapan.

Thursday, February 20, 2014

Cegukan (Hiccup)

Rasanya semua orang pernah mengalami cegukan (hiccup). Biasanya hal ini berlaku setelah makan - tentunya bukan setiap kali makan - tanpa kita ketahui penyebabnya. "Hik ... hik ...," kita terceguk tanpa bisa mengendalikannya. Hal ini agak  mengganggu, tetapi biasanya tidak dianggap serius dan biasanya tidak berlangsung lama. Tapi apa jadinya jika cegukan berlangsung terus menerus selama 11 tahun, seperti yang dialami Amanda Corby (46 th)?

Corby mengalami cegukan selama 11 tahun berturut-turut, hingga sekarang ini. Hal ini mulai terjadi pada tahun 2003 dan tidak pernah berhenti cegukan sejak saat itu. Tidak ada yang memahami mengapa hal itu bisa terjadi, termasuk Corby sendiri. Ia mengalami rangkaian cegukan sebanyak lima kali sehari. Ia cegukan setiap dua detik yang lamanya bisa sampai sepuluh menit. Jika ditotal, ia diperkirakan telah cegukan sebanyak tiga juta kali sejak sebelas tahun yang lalu.

Banyak dokter sudah didatangi dan berbagai metode pengobatan sudah dicobanya, tetapi tidak ada yang berhasil. Paling lama pengobatan itu hanya bertahan selama tiga bulan, setelah itu cegukannya kambuh lagi. Corby sudah tidak tahu apa lagi yang mesti dilakukannya untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Mungkin ia akan terpaksa menerima hal itu sebagai bagian dari dirinya.

Walaupun cegukan kelihatannya masalah sederhana, tetapi mengalaminya secara terus menerus merupakan persoalan yang serius. Corby kadang terpaksa berhenti beberapa kali saat minum air disebabkan cegukannya itu (http://www.dailymail.co.uk/health/article-2561936/Woman-46-hiccuped-constantly-11-YEARS-struggles-drink-cup-tea.html). Mudah-mudahan kita dijauhkan dari hal yang seperti ini.

Kita juga pernah mengalami cegukan, tetapi biasanya cegukan itu akan hilang pada hari yang sama. Kalau kita suatu saat kembali mengalami cegukan, jangan mengeluh. Ingat saja bahwa itu merupakan masalah yang tidak seberapa. Bersyukurlah karena kita tidak mengalami cegukan yang menahun seperti yang dialami Corby.