Friday, March 22, 2013

Emas di Balik Batu

Bukannya mudah untuk tidak mengeluh saat mendapatkan musibah atau ujian dalam hidup. Lebih susah lagi untuk tersenyum dan bersyukur. Bagaimana kita akan tersenyum dan bersyukur, sementara kita sedang merasakan kesusahan?

Anggaplah misalnya kita gagal dalam tes di kampus. Itu adalah musibah yang cukup berat. Bagaimana kita akan tersenyum? Atau kita mengalami kecelakaan (accident) yang menyebabkan kaki dan tangan kita patah. Kita tak dapat menggunakan tangan dan kaki seperti biasanya selepas kejadian itu. Itu merupakan ujian yang sangat berat. Bagaimana caranya kita bersyukur dalam keadaan seperti itu?



Bagaimana jika kita bangun pada pagi hari dan tiba-tiba mata kita tak dapat melihat lagi. Kita menjadi buta selamanya. Apa yang akan kita lakukan? Untuk dapat bersabar saja rasanya sudah hebat. Tapi tersenyum dan bersyukur? Mungkinkah hal ini dilakukan?

Hal ini memang tidak mustahil untuk dilakukan, tetapi tentu sangat berat. Menuliskan dan menceritakannya jauh lebih mudah. Tapi kalau kita benar-benar mengalaminya, belum tentu kita mampu melakukan. Namun kalau kita dapat melakukannya, tentu indah sekali. Dapat musibah, lantas bersyukur. Dapat masalah, justru tersenyum dan bersyukur. Bahagianya orang yang dapat melakukan hal seperti ini.

Tapi dari mana jalannya hal ini dapat dilakukan? Apa rahasianya seorang yang mendapat kesusahan mampu bersyukur? Di bawah ini ada jawabannya.

Kapan seseorang itu bersyukur? Tentunya ketika mendapatkan nikmat dan karunia. Setiap kali merasakan nikmat, orang yang baik dan faham tentu akan bersyukur. Begitu juga halnya ketika mendapatkan musibah. Kalau ia dapat melihat adanya karunia di balik musibah, tentu ia akan bersyukur juga. Ia mendapat musibah, tetapi pada musibah itu ia melihat hal yang positif, mestilah ia akan bersyukur.

Anggaplah misalnya saat sedang berjalan ada yang menimpuk anda dengan sebuah batu sehingga kepala anda berdarah. Ini adalah musibah dan rasanya sangat menyakitkan. Ia sakit luar dan dalam. Sakit di luar karena kepala terluka; sakit di dalam (sakit hati) karena kesal dengan perbuatan orang yang tak bertanggung jawab. Tapi kemudian anda menginjak batu itu dan batu itu pecah. Ternyata di dalam batu itu ada emas. Sekarang apakah anda masih marah-marah? Atau anda justru tersenyum dan bersyukur? Mungkin setelah itu anda justru berharap akan ada lagi batu-batu yang dilemparkan ke kepala anda.



Memang hampir mustahil kita akan mengalami kejadian seperti ini dalam hidup kita: ditimpuk batu dan ternyata di dalam batu itu ada emas. Ini hanya kiasan saja. Bagaimanapun percayalah, semua “batu” yang menimpa kita dalam hidup ini, sebenarnya di dalamnya terkandung “emas”. Hanya saja masalahnya, apakah kita mau memperhatikan dan menghargai “emas” itu atau tidak. Sayangnya, banyak manusia yang tidak mau melihatnya. Pandangan mereka hanya tertuju pada batu. Sehingga akhirnya mereka gagal melihat kebaikan di sebaliknya dan karenanya gagal bersyukur.

Maka mulai sekarang, berhentilah mengutuki batu. Berprasangka baiklah dan carilah sisi positifnya. Insya Allah kita akan menemukan emas di sebalik batu.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur
10 Jumadil Awwal 1434/ 22 Maret 2013

Thursday, September 27, 2012

Kegagalan boleh menjadi manis

Beberapa hari lepas ada seorang yang mengirim pesan pada saya bahawa ia baru saja membeli buku Mudahkan Jangan Susahkan. Beliau sedang bersedih kerana bisnisnya mengalami kerugian dan pening kerana tak bisa mengembalikan uang pinjaman. Saya doakan semoga beliau diberi kemudahan. Saya ceritakan bahawa di dalam buku Mudahkan Jangan Susahkan ada kisah seorang kawan yang juga gagal dalam bisnis. Perusahaannya bangkrut. Hutangnya mencapai 7 miliar rupiah, atau setara dengan 2.3 juta ringgit. Ia sempat didatangi debt collector, dilaporkan kepada polisi. Walaupun sangat tertekan, ia menghadapi semua itu. Ia tidak lari dari masalah. Kini ia memulai bisnis lagi dari bawah. Dan beberapa bulan lepas saya perhatikan secara perlahan ia sudah mulai bangkit kembali.


Gagal dalam berusaha memang biasa terjadi. Walaupun hal itu menimbulkan kesusahan yang besar, janganlah sampai berputus asa. Yang penting kita bisa belajar dari kegagalan yang dialami. Jangan sudah gagal tak belajar apa-apa pula. Rugi dua kali jadinya.

Kegagalan itu memang pahit. Tetapi ia dapat membantu menciptakan rasa manis. Bukankah selepas mengecap rasa pahit, hal-hal lainnya akan terasa lebih manis?

Semoga buku Mudahkan Jangan Susahkan dapat menghibur beliau yang sedang menghadapi kesusahan dan kegagalan bisnis. Semoga selepas ini beliau bisa bangkit semula dan berjaya.

Dokter dan Pasien


Seorang pasien mengeluh pada dokter, “Saya menderita sakit putus asa setiap kali terjangkit musibah.”

Dokter menuliskan resep untuknya: “Sabar – langsung telan pada menit pertama terkena jangkitan musibah!”

Pasien berikutnya masuk. “Saya merasa sangat tidak sehat, tapi semua dokter mengatakan kesehatan saya baik-baik saja.”

Dokter memberikan resep untuknya: “Syukur – tiga kali sehari. Konsumsi perlahan dan biarkan meresap dalam tubuh dan pikiran.”