Sunday, December 13, 2009

Tunanetra Dilantik Jadi Hakim


SELASA, 23 JUNI 2009
Pertama, Tunanetra Dilantik Jadi Hakim
DETIKPOS.net - Ketunaan fisik seharusnya tak menghalangi hak dasar dan peluang seseorang. Di Antwerpen, Belgia, seorang tunanetra dilantik menjadi hakim dan langsung bertugas.

Bart Hagen (32), nama tunanetra itu. Dia dilantik dan diambil sumpah oleh Ketua Pengadilan Tinggi Michel Rozie, Senin (22/6/2009).

Hakim Tinggi Rozie mengenal baik hakim Hagen, karena dia juga dosen yang mengajar Hagen saat masih mahasiswa.

"Saya mengenal Anda saat Anda menempuh ujian di Mahkamah Agung, di mana Anda meraih nilai tinggi. Kemudian saya memonitor Anda saat praktik kerja lapangan di Pengadilan Mechelen dan saya juga pernah mengajar Anda, di mana Anda selalu aktif berpartisipasi," Ujar Rozie, dikutip dari De Standaard.

Hakim Hagen akan menjalankan tugas dengan cara memindai dokumen, selanjutnya dengan bantuan teknologi dokumen itu diubah ke dalam bentuk suara.

Sementara untuk mobilitas di gedung pengadilan, dia akan dipandu oleh anjing pemandunya yang setia.

Sumber: Kompas.com
http://www.detikpos.net/2009/06/pertama-tunanetra-dilantik-jadi-hakim.html

Tuesday, December 8, 2009

Ada Kalanya Kita Tidak Perlu Menawar

Ada Kalanya Kita Tidak Perlu Menawar

Alwi Alatas

Kadang saya berpikir dalam hati, kalau ada orang yang bertanya apa hal yang paling tidak saya sukai, mungkin jawaban saya adalah menemani perempuan (istri atau ibu) belanja. Saya sering menemani istri belanja (itu pun karena terpaksa), dan saya sering heran betapa kuatnya dia bolak-balik dan melakukan tawar menawar selama berjam-jam hanya untuk membeli beberapa barang. Agaknya tidak salah juga kalau ada ungkapan yang membandingkan antara laki-laki dan perempuan. Ungkapan itu menyebutkan bahwa ’seorang pria akan membayar 2 dollar untuk barang seharga 1 dollar yang ia perlukan, dan seorang perempuan akan membayar 1 dollar untuk barang seharga 2 dollar yang tidak dia perlukan.’ ”Rasanya nggak afdhal kalau membeli tanpa tawar menawar semaksimal mungkin,” begitu istri saya pernah berkata.

Istri saya ini seorang negosiator yang alami (barangkali istri Anda juga seperti itu). Begitu asyiknya dia berlama-lama mebolak-balik dan menawar barang sampai saya sering merasa tidak tega dengan penjualnya. Seperti baru-baru ini kami berbelanja beberapa pakaian untuk kemudian dijual lagi (kalau untuk keperluan dagang tentu saja kami harus menawarnya sebaik mungkin). Istri saya melihat barang-barang itu satu demi satu, dikeluarkan dari tempatnya, diperhatikan setiap lekukan, lalu diletakkan kembali sambil melihat barang yang lain. Ketika membuka dan melihat barang yang baru, ia menemukan ada bagian yang kurang bagus, dan memutuskan untuk melihat yang lain lagi. Si penjual akan melipat kembali pakaian yang sudah dilihat, tapi kadang yang sudah dilihat ini terpaksa dibuka kembali karena istri saya ingin melihatnya kembali.

Saya jadi kasihan dengan si penjual. Dia pasti penat sekali menghadapi pembeli seperti kami, dan pada akhirnya mungkin akan menyerah juga dengan harga yang diusulkan istri saya. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga usaha.
Saya pernah membaca bahwa salah satu teknik negosiasi yang berhasil adalah dengan berlama-lama mencoba barang yang akan dibeli dan terus menerus melakukan tawar menawar. Si penjual pada akhirnya akan merasa letih dengan pelanggannya ini dan memutuskan untuk mengalah dan mengambil untung sedikit saja asalkan barangnya terjual. Kalau waktunya sudah habis untuk melayani pelanggan semacam ini dan akhirnya tidak dibeli, mungkin dia akan merasa kesal. Istri saya sama sekali tidak mengetahui teori negosiasi semacam ini. Ia hanya menikmati proses berbelanja dan tawar menawar serta berusaha mendapatkan harga sebaik mungkin.

Ukuran keberhasilan dalam tawar menawar dan membeli barang tentu saja dengan mendapatkan barang sebagus mungkin dengan harga yang paling rendah. Namun, dalam hidup ini ada kalanya menawar barang untuk harga yang lebih rendah bukanlah hal terbaik yang bisa kita raih. Terlebih lagi jika ekonomi kita sangat berkecukupan dan kita membeli barang dari pedagang kecil. Ada sebagian orang yang menawar murah-murah barang yang dijajakan seorang pedagang kecil. Lalu setelah ia membeli barang tersebut ia mulai merasa menyesal mengapa harus menawar terlalu murah. Bukankah pedagang itu kehidupannya sangat susah. Kadang usianya juga sudah cukup tua. Ia harus memikul barang dagangannya di hari yang sangat panas dan hanya mendapat keuntungan tidak seberapa dari penjualannya. Bahkan jika semua barangnya laku tanpa ditawar sekalipun dia tetap tidak akan menjadi orang kaya.

Saya pernah mendengar tentang seorang tuan tanah kaya di Batavia pada jaman kolonial dulu. Namanya Abdullah bin Alwi al-Attas (w. 1929). Kalau membeli dari pedagang kecil dia sama sekali tidak mau menawar dan akan membayar sesuai dengan harga yang diajukan si pedagang (tentu saja para pedagang kecil ini juga tahu diri dan tidak menaikkan harga barang semaunya saja). Ia juga tidak suka melihat binatang yang dikurung. Kalau melihat ada pedagang burung yang lewat, maka ia akan memanggilnya dan membeli semua burung yang ada, lalu melepaskannya begitu saja.

Ketika ada pedagang kecil lainnya datang untuk menjajakan barangnya, maka ia akan membeli sebagian besar barang yang dijual oleh pedagang itu. Ia membeli tanpa menawar lagi. Jika ditanyakan mengapa ia melakukan hal itu, maka ia akan menjawab bahwa Allah sudah menganugerahkan rizki yang banyak baginya, maka bagaimana mungkin dia akan menawar barang dari pedagang yang keadaannya susah. Ia menganggap hal itu ’haram’ baginya.

Kini kembali pada diri kita. Mungkin kita tidak mampu melakukan seperti Sayyid Abdullah di atas. Kita masih perlu melakukan tawar menawar dalam membeli barang, karena keadaan ekonomi yang sulit belakangan ini dan karena harga-harga barang terus naik. Itu tidak masalah. Tapi kita toh sesekali tetap bisa membantu para pedagang kecil dengan membeli barang mereka tanpa harus menawar terlalu banyak. Nilai belanja kita memang jadi sedikit lebih mahal. Namun senyum bahagia si pedagang kecil akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kita. ’Kebahagiaan itu tidak bisa diraih dengan memiliki, tapi dengan memberi,’ begitu kata pepatah. Bukankah ini indah? Kita membayar sedikit lebih mahal, dan kita mendapatkan kebahagiaan sebagai gantinya.

Barangkali kita juga bukan orang kaya. Dan kalaupun kaya mungkin kekayaannya tidak sama dengah tuan tanah yang diceritakan di atas. Namun boleh jadi kita memiliki kekayaan hati, kekayaan yang membolehkan kita membantu orang-orang yang tengah berusaha di sekitar kita. Kekayaan jiwa semacam ini akan membawa kita pada kekayaan yang sesungguhnya.

Kini perhatikanlah orang-orang kecil yang tengah berusaha di sekitar tempat tinggal kita. Sesekali, datanglah dengan tersenyum pada mereka. Lalu belilah barang mereka tanpa menawar lagi. Mudah-mudahan senyum mereka menjadi doa buat kita.

Jakarta, 30 Oktober 2009

Thursday, November 26, 2009

Iedul Adha di Kolong Tol

Suharyah: Saya Sudah Tak Tahan Tinggal di Kolong Tol

Jumat, 27 November 2009 | 13:27 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com - Suasana Idul Adha tidak pernah terasa meriah bagi Suharyah (48). Bahkan, Idul Adha tahun ini pun suasananya terasa lebih memprihatinkan bagi warga Kampung Baru, Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara ini.

Pada Setember lalu sekitar sepekan setelah hari raya Idul Fitri, rumahnya ludes dilalap api saat kebakaran hebat melanda dua RW di Kelurahan Penjaringan. Tak satu pun perabotan maupun barang berharga yang mampu diselamatkannya kala peristiwa itu.
Satu-satunya barang yang bisa dibawanya hanyalah baju yang melekat di badannya. Beruntung tak satu pun angggota keluarganya yang menjadi korban. Suhardi (58), suaminya dan kelima anaknya, sedang tak berada di rumah saat itu. Tak lagi memiliki tempat berteduh, mereka pun terpaksa tinggal di kolong tol Rawa Bebek akses menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama ratusan warga korban lainnya.

Hampir tiga bulan sejak kebakaran tersebut, Suharyah bersama keluarganya hingga kini masih bertahan di kolong tol. Tak punya biaya membangun rumah menjadi persoalan mendasar yang membuatnya bertahan di penampungan yang sudah tidak layak itu.
"Kalau ingat sekarang lagi Lebaran Haji, saya malah jadi ingat kebakaran kemarin pas beberapa hari sehabis Lebaran juga," ujar Suharyah kepada Kompas.com, Jumat (27/11).

Siang ini terasa begitu terik di lokasi penampungan di kolong tol. Suharyah masih memasak di bawah sebuah meja biliard bekas yang jika malam hari menjadi tempatnya merebahkan diri. Bukannya memasak daging sebagaimana lazimnya perayaan Idul Adha, justru sayur asem yang dimasaknya untuk anak-anaknya.
"Saya enggak dapat daging. Sudah enggak ada lagi yang motong kurban kayaknya di sini sekarang," ujarnya.

Mushala Nurul Huda yang letaknya tak jauh dari "rumah" Suharyah memang sepi dari aktivitas hari raya. Tahun ini tak ada pemotongan hewan kurban di mushala itu. "Saya juga tadi pagi enggak sempat shalat. Saya lagi enggak enak badan," ujarnya.
Suharyah juga mengaku tak medapatkan bantuan zakat dari pemerintah dan para dermawan meski kesulitan ekonomi betul-betul mengimpitnya.

Idul Adha kali ini hanya berlangsung begitu saja tanpa terasa oleh Suharyah. Suhardi, suaminya pun tetap sibuk mencari dan mengumpulkan barang bekas untuk dijualnya sebagai penghidupan sehari-hari.
"Saya sudah enggak bisa ngapa-ngapain lagi. Ngebayangin bisa naik haji aja saya enggak berani," tuturnya.

Masih bisa bersyukur

Meski demikian, dengan kondisi memprihatinkan seperti itu, Suharyah mengaku masih bersyukur bisa bertahan hidup di Kota Metropolitan yang keras ini. Penyakit gula akut memang menderanya sejak lama.
Bahkan tahun lalu, Suharyah sempat dioperasi di RS Atma Jaya Pluit akibat penyakitnya. Jika ditotal, biaya pengobatan dan operasi yang harus ditanggungnya mencapai 16 juta. Beruntung dia mendapatkan bantuan pemerintah melalui surat keterangan tidak mampu. "Ya, alhamdulillah saya bisa operasi gratis," ungkapnya.

Hingga kini, setiap dua pekan sekali, Suharyah mesti bolak-balik ke rumah sakit untuk mengontrol penyakitnya itu. "Tapi obatnya jarang-jarang saya tebus. Soalnya sekarang yang gratis cuma periksanya saja. Obatnya tetap bayar," ujarnya.

Di hari Idul Adha ini wanita asli Betawi ini mengungkapkan harapannya agar bisa segera meninggalkan penampungan dan hidup layak di rumah tetap. Dia berharap pemerintah bisa mengucurkan bantuan agar dia bisa membangun kembali rumahnya yang kini rata dengan tanah.
"Saya enggak minta dipindahin. Saya cuma pengin bantuan supaya rumah saya bisa dibangun lagi. Saya sudah enggak tahan tinggal di kolong begini," ucapnya dengan mata menerawang.

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/11/27/13271662/Suharyah.Saya.Sudah.Tak.Tahan.Tinggal.di.Kolong.Tol