Showing posts with label mushala. Show all posts
Showing posts with label mushala. Show all posts
Thursday, November 3, 2011
Manusia atau Kuda?
Karena yang dihadapi itu manusia, bukan hewan, maka bersikaplah manusiawi dan berakhlak
Dalam beberapa kesempatan, saya mendapati teman-teman yang memiliki semangat dalam memperjuangkan Islam dan menegakkan kebenaran, tapi sayangnya semangat itu tidak diikuti dengan cara yang bagus serta akhlak yang baik. Akibatnya, para aktivis Muslim yang bersemangat ini sering terlihat keras dan garang di mata orang-orang awam. Pada gilirannya, Islam yang diwakili oleh orang-orang yang bersemangat ini jadi kelihatan menyeramkan dan menakutkan. Padahal Rasulullah pernah mengingatkan, “Mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari.” (HR Bukhari)
Pernah suatu kali sebagian aktivis Muslim melakukan demonstrasi di Masjid al-Azhar, Jakarta Selatan. Ada beberapa peserta demonstrasi yang mengambil jalan pintas masuk ke halaman masjid dengan cara melompati pagar yang tidak terlalu tinggi. Tiba-tiba terdengar ada yang berteriak kasar, ”Hei, masuk lewat pintu, jangan melompati pagar seperti itu!”
Sebenarnya tidak ada masalah dengan isi nasihat itu. Yang menjadi masalah adalah kata-kata itu dilontarkan dengan nada tinggi dan agak kasar. Hal itu tentu menggores perasaan orang-orang yang melompati pagar tadi. Kalau saja hal itu disampaikan dengan cara yang lebih baik, tentu ia akan menjadi bagus dan lebih sempurna.
Pada kesempatan yang lain lagi, saat masih menjadi mahasiswa baru di Universitas Indonesia, hal yang hampir sama pernah juga terjadi. Ketika itu kami sedang menjalani serangkaian kegiatan penerimaan mahasiswa baru yang biasa disebut ospek/ mapras dan istilah-istilah sejenisnya. Pada waktu ashar kami sama-sama pergi ke mushala (surau) untuk shalat dan mendengarkan ceramah dari seorang ustadz atau senior di kampus itu. Setelah itu, ada sedikit minuman dan snack yang diberikan kepada para mahasiswa baru.
Saat makan dan minum, banyak juga mahasiswa yang melakukannya sambil berdiri. Walaupun mereka semua Muslim, banyak yang tidak memahami bahwa makan dan minum sebaiknya dilakukan sambil duduk.
Ketika melihat ada banyak yang makan dan minum sambil berdiri, seorang senior aktivis mushala berteriak keras, ”Hoi, kalau makan dan minum duduk, jangan seperti kuda!”
Para mahasiswa terdiam dan saling melihat satu sama lain, seolah-olah ada seekor kuda sedang berdiri di antara mereka. Senior yang tadi berteriak tidak menampakkan wajahnya, hanya suaranya saja yang terdengar. Sebagian dari mahasiswa baru ini ada yang mencari tempat untuk duduk. Tapi banyak yang lainnya tetap berdiri dan melanjutkan makan minum mereka. Tentu saja, mereka memang belum mengetahui tentang tuntunan Islam dalam makan dan minum. Seruan yang agak kasar tadi tidak memberikan pemahaman kepada mereka tentang cara makan dan minum yang baik.
Sebagian orang yang melihat atau mendengar kejadian semacam ini mungkin termenung, karena mereka itu manusia, dan bukan kuda, mengapa tidak perlakukan mereka seperti manusia. Berikan nasihat dengan cara yang baik dan lembut. Kuda pun tak akan suka jika dikasari.
Nasihat yang baik akan menjadi berkesan jika ia disampaikan dengan cara yang juga baik. Sampaikanlah kebenaran dengan cinta, agar manusia melihat keindahan dan kelembutan pada agama ini. Kita bisa melakukannya, insya Allah.
Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
19 Dzulqaidah 1432/ 17 Oktober 2011
Monday, October 31, 2011
Tegurlah tapi jangan menyakiti
Tegurlah orang yang melakukan kesalahan dengan cara yang tidak membuatnya merasa malu atau sakit hati
Menegur kesalahan orang lain memerlukan seni tersendiri. Jika kita menegurnya terlalu keras boleh jadi ia akan merasa sakit hati. Kalau kita menegurnya di depan orang banyak tentu ia akan merasa malu. Akibatnya, apa yang diharapkan dari teguran itu boleh jadi tidak terwujud. Atau mungkin saja teguran itu diterima tapi memberikan bekas menyakitkan yang lama di hati orang yang mendapat teguran.
Ketika masih belajar di SMA (senior high school), saya baru mulai mendalami Islam dan menjadi sangat bersemangat untuk menjalankannya. Usia masih sangat muda ketika itu. Sehingga semangat yang sangat tinggi belum diimbangi dengan cara berpikir dan sikap yang lebih bijaksana.
Pada suatu hari, ketika sedang duduk di mushala (surau) sekolah, ada seorang teman yang sedang shalat dzuhur. Ia terlambat melakukannya sehingga kemudian melakukan shalat sendirian.
Tiba-tiba masuk seorang kawannya yang terkenal usil dan suka bercanda. Saat masuk ke dalam mushala dan melihat kawannya sedang sujud, sikap usilnya muncul. Ia segera menghampiri kawannya itu dan menarik kakinya ke belakang, sehingga posisi kawan yang sebelumnya sujud berubah menjadi terlungkup atau tengkurap.
Ya Allah, pelajar ini sedang shalat dan sujud menghadap Tuhannya, tapi posisinya kini menjadi seperti orang yang sedang tidur dengan wajah menghadap ke bawah. Sementara pelajar yang melakukannya tertawa senang karena berhasil mengerjai kawannya itu.
Saya sangat terkejut melihat itu dan melompat spontan dari tempat duduk. Saya menarik pelajar itu dan menjauhkannya dari kawan yang sedang shalat tadi. ”Mengapa kamu melakukan hal itu?” saya menegurnya. ”Jangan bergurau dalam perkara ibadah dan shalat!”
”Oh ...,” pelajar tadi merasa terkejut dan berhenti tertawa, ”maaf.” Wajahnya langsung berubah dan ia segera pergi meninggalkan mushala.
Untunglah ia menerima teguran dan tidak menentangnya. Tapi saya tak dapat melupakan ekspresi wajahnya ketika itu. Teguran itu tampaknya terlalu mengejutkan dan membuatnya merasa sangat malu. Saya jadi menyesal karena terlalu bersemangat melakukannya. Sebenarnya saya boleh menariknya perlahan dan menjelaskan dengan lembut bahwa hal itu tidak baik. Tentu ia tidak akan merasa terkejut atau malu karenanya.
Apa yang dilakukannya memang keterlaluan, sangat keterlaluan. Tapi itu disebabkan ia belum paham. Walaupun perbuatan itu keterlaluan, tapi menegurnya tetap perlu dengan kelembutan. Perbuatan yang terlalu itu sama sekali tidak memberi alasan bagi kita untuk menegur secara keras dan berlebihan, kecuali mungkin jika ia dengan sengaja melecehkan kebenaran.
Bukankah tindakan kencing di dalam masjid itu merupakan tindakan yang keterlaluan? Seorang mukmin tentu akan sangat marah jika melihat ada orang yang sengaja kencing di dalam masjid. Ini juga dulu pernah terjadi di jaman Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dan hal itu membuat marah para sahabat. Tapi Nabi menahan kemarahan mereka dan beliau menegur orang Arab Badui yang melakukan perbuatan itu dengan cara yang baik, sehingga orang ini akhirnya memutuskan masuk Islam.
Maka tetaplah bersemangat dalam beragama, dan bersemangatlah dalam meluruskan yang salah, tapi gunakan kata-kata yang lembut dan tidak menyakitkan. Kecuali jika yang melakukan perbuatan buruk itu memang orang yang sangat memusuhi kebaikan dan sengaja menghalang-halangi orang dari jalan Allah. That’s a different thing.
Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
19 Dzulqaidah 1432/ 17 Oktober 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)

