Showing posts with label dewasa. Show all posts
Showing posts with label dewasa. Show all posts

Thursday, October 27, 2011

Perubahan pada Kecerdasan dan Otak Manusia


Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah seminar tentang remaja, seorang psikolog muda menjelaskan bahwa banyak psikolog cenderung memandang bahwa karakter dan kecerdasan manusia lebih banyak dipengaruhi oleh faktor genetika, yaitu sesuatu yang bersifat menurun, bukan sosial. Kalaupun ada pengaruh sosial, maka hal itu tidaklah signifikan.

Saya agak terkejut mendengar pendapat ini. Jika hal ini benar, maka betapa deterministiknya perjalanan hidup seorang manusia. Kecerdasan dan karakternya merupakan sesuatu yang given, ’dari sananya’ kalau kata orang Jakarta. Mereka tak mampu berbuat banyak untuk mengubah hal itu dalam perjalanan hidupnya, karena ia bersifat genetik. Kalau mau mengubahnya, mereka mungkin perlu melakukan suatu rekayasa genetika.

Sejak awal saya tidak merasa cocok dengan pendapat ini. Faktor genetik memang tidak dapat diabaikan. Tapi apakah lingkungan sosial dan pendidikan tidak dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap kecerdasan dan karakter manusia? Saya percaya lingkungan, pendidikan, dan latihan yang teratur juga dapat membentuk perkembangan otak manusia, terutama pada masa usia awal dari perkembangan manusia. Hanya saja, saya tidak memiliki data dan bukti penelitian tentang itu.

Namun baru-baru ini, ada sebuah penelitian yang menjungkirbalikkan pandangan banyak orang tentang kecerdasan (IQ). Selama ini kita diberitahu bahwa IQ (Intelligence Quotient) seorang manusia cenderung tidak mengalami perubahan pada sepanjang hidupnya. Ia merupakan sesuatu yang given dan relatif stabil. Anak yang cerdas akan tumbuh menjadi seorang yang cerdas. Anak yang bodoh akan berkembang menjadi orang yang bodoh. Apakah seseorang yang cerdas menggunakan kecerdasannya dengan baik dan menjadi sukses dalam hidupnya, itu merupakan hal yang berbeda.

Yang jelas, IQ dianggap sebagai sesuatu yang tidak mengalami perubahan dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dalam hidup seseorang. Tapi penelitian yang dilakukan belum lama ini mengungkapkan fakta yang berbeda. Para peneliti menemukan adanya perubahan kecerdasan yang sangat besar (huge swings in intelligence) pada anak-anak usia remaja. Sebagian hasil penelitian ini diungkap dalam surat kabar The Sun (25 Oktober 2011, hlm. 30).

Pada tahun 2004, beberapa peneliti Inggris melakukan tes terhadap 33 remaja berusia antara 12 dan 16 tahun. Tes yang diberikan adalah tes IQ standar, ”verbal” (bahasa, aritmatika, daya ingat, pengetahuan umum) dan ”non-verbal” (identifikasi bagian gambar yang hilang dll). Selain menjalani tes IQ, anak-anak ini juga dites dengan menggunakan scanner MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk melihat gambar otak mereka dalam bentuk 3 dimensi (3D). Semua hasil pengukuran ini disimpan oleh tim peneliti.

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 2007 dan 2008, penelitian kembali dilakukan terhadap remaja-remaja yang sama. Anak-anak yang umurnya kini telah tiga atau empat tahun lebih tua itu kembali menjalani tes IQ dan tes dengan scanner MRI. Hasilnya sungguh mengejutkan. Sebagian remaja tidak mengalami perubahan IQ yang berarti. Tapi sebagian yang lain mengalami kenaikan, atau penurunan, IQ hingga 20 poin. ”Some subjects performed markedly better but some performed considerably worse,” kata Sue Ramsden dari Wellcome Trust Center for Neuroimaging pada University College London (UCL). Saat gambar scan otak mereka diteliti, didapati adanya perubahan yang signifikan dalam beberapa tahun itu.

”Kami menemukan adanya hubungan yang jelas antara perubahan kemampuan (dalam menjalani tes IQ) ini dan perubahan pada struktur otak mereka,” kata Ramsden, “dan karenanya dapat dikatakan dengan cukup pasti bahwa perubahan IQ ini merupakan sesuatu yang nyata.”

Apakah otak manusia hanya dapat mengalami perubahan signifikan pada masa-masa remaja saja? Kelihatannya tidak. Hal ini tampaknya juga dapat berlaku pada orang-orang dewasa. Penelitian lainnya menunjukkan adanya sifat kenyal/ liat (plasticity) pada otak manusia yang memungkinkan terjadinya perubahan struktural sepanjang kehidupan seorang dewasa. Tes atas seorang sopir taksi di London memperlihatkan bahwa ia memiliki hippocampus yang lebih besar. Hippocampus merupakan titik sentral untuk kemampuan navigasi dan memori.

Hal ini membuat Cathy Price, seorang professor di UCL, mengajukan sebuah pertanyaan mendasar, “… jika struktur otak kita dapat berubah pada sepanjang masa dewasa kita, apakah IQ kita juga dapat berubah?” Ia menjawab sendiri pertanyaannya, “Saya kira, ya. Ada banyak bukti yang menyarankan bahwa otak kita dapat beradaptasi dan strukturnya dapat berubah, bahkan pada masa dewasa.”

Saya kira, saya juga setuju dengan Anda, Prof. Price. Hasil penelitian ini lebih melegakan dibandingkan pandangan deterministik yang selama ini kita terima. Ini memberi kesempatan pada seorang manusia untuk memilih dan berupaya, apakah ia ingin menjadi lebih baik atau lebih buruk, termasuk dalam hal kecerdasan.

Alwi Alatas
Kuala Lumpur
28 Dzulqaidah 1432/ 26 Oktober 2011

Tuesday, October 11, 2011

Tangisan dan Kedewasaan


Tangisan itu bermacam-macam. Ada tangisan sedih dan marah karena apa yang dialami. Ada juga tangisan karena kekuatan cinta dan kelembutan hati.

“Huuu … huuuu …,” suara tangisan itu terdengar menyayat hati.

Ah, saya tak pandai mengekspresikan tangisan dalam tulisan. Sebenarnya, saya hanya hendak menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu, saat hendak tidur, di tengah malam yang sunyi, tiba-tiba terdengar suara tangisan di belakang rumah.

Ish …, ini bukan cerita hantu, jangan pikir macam-macam. Yang menangis ini memang manusia. Suaranya tak berapa jauh, hanya beberapa rumah saja dari tempat kami. Rasanya itu bukan suara tangisan anak kecil, tetapi tangisan seorang perempuan dewasa. Ia menangis sesenggukan dengan suara yang cukup kuat dan dalam waktu yang cukup lama. Makin lama suara tangisannya semakin keras. Ia menangis seperti menangisnya seorang anak kecil yang baru kena hukuman dari ibunya, atau baru berkelahi (bergaduh) dengan temannya.

Ketika itu saya baru saja masuk kamar dan bersiap untuk tidur. Suara tangisan itu memecah rasa kantuk saya untuk beberapa saat lamanya. Entah kapan terakhir kali saya mendengar seorang dewasa menangis cukup keras seperti itu. Sedih juga rasanya mengetahui ada orang lain yang sedang bersedih tanpa tahu apa yang dapat dilakukan untuk membantunya.

Suara tangisan itu akhirnya berkurang dan menghilang ... atau mungkin saja tangisan itu tenggelam bersama hilangnya kesadaran saya yang kemudian terlelap dalam tidur. Yang jelas, saya tidak mendengarnya lagi setelah malam itu.

Apakah Anda pernah menghadapi masalah serius dan kemudian menangis sesenggukan seperti seorang anak kecil? Mudah-mudahan tidak. Tentu kurang pantas bagi seorang dewasa menangis seperti itu, walaupun ia sedang menghadapi musibah yang sangat berat dalam hidupnya.

Saya jadi teringat kisah Nelson Mandela saat ia akan menjalani sebuah ritual penting di usia enam belas tahun. Itu merupakan ritual pengangkatan anak-anak seusianya menjadi pria dewasa. Pada puncaknya, Mandela dan rekan-rekannya menjalani upacara penyunatan. Mereka disunat dengan sebuah pisau yang sangat tajam, tanpa anastesi (anaesthetize) sama sekali. Dapatkah Anda membayangkannya, disunat tanpa dibius. Seperti apa rasanya? Tentu sangat menyakitkan.

Tapi justru di sanalah inti dari ritual tersebut. Sebelum menjalani prosesi yang menyakitkan itu, Mandela mendapat sebuah nasihat yang sangat bermakna dan juga heroik: anak-anak merespons rasa sakit dengan menangis, orang dewasa tidak! Mandela dan kawan-kawannya sama sekali tidak menangis saat kulit kemaluannya dipotong dan rasa sakitnya seketika menyerang syaraf-syaraf otak mereka. Mereka menahan rasa sakit dan menolak untuk menangis, karena mereka kini sudah menjadi manusia yang dewasa.

Hidup ini seringkali menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan daripada disunat tanpa anastesi. Tapi setiap kali merasakan sakitnya kehidupan, tahanlah tangisan atau setidaknya menangislah yang wajar dan tidak berlebihan. Terimalah apa yang sudah terjadi. Ingatlah nasihat di atas: anak-anak merespons rasa sakit dengan menangis, orang dewasa tidak!

Alwi Alatas
Kuala Lumpur,
8 Dzulqaidah 1432/ 6 Oktober 2011