Wednesday, October 28, 2009

Membeli Semangat

Membeli Semangat

Suatu hari saya berkunjung ke rumah seorang kawan yang tengah menyelesaikan studi doktoralnya di Malaysia, Ustadz Ali al-Hamid. Beliau sedang pulang sebentar ke Jakarta untuk suatu keperluan. Di rumahnya, saya juga berbincang-bincang dengan ayahnya, ammi Abu Bakar al-Hamid.

Ketika kami tengah berbincang, tiba-tiba lewat seorang tukang bubur di depan rumah. Ammi Abu Bakar memanggil tukang bubur itu dan menawari kami semua untuk makan bubur, tapi rupanya tak seorang pun yang sedang berminat makan bubur pagi itu. Jadi beliau akhirnya membeli satu piring saja untuk dirinya sendiri.

Ketika beliau membawa masuk sepiring bubur itu dan hendak memakannya, beliau berkata, ”Sebenarnya, saya tidak ingin makan bubur. Saya membelinya semata-mata untuk mendukung usaha tukang bubur itu. Buat saya ini lebih baik daripada memberi sedekah.”

Lalu sambil makan bubur beliau bercerita, ”Saya selalu berusaha untuk membeli barang dagangan (orang-orang kecil) semampu saya untuk mendukung usaha mereka. Bisa kamu bayangkan betapa bahagia dan bersemangatnya seorang pedagang ketika barang dagangannya dibeli.

”Dulu saya pernah pergi naik bus dari Jakarta ke Surabaya. Di banyak tempat bus itu berhenti dan banyak pedagang naik untuk menjual beraneka macam barang yang harganya sangat murah. Saya selalu membeli barang-barang dagangan mereka, tapi tidak pernah menyimpannya. Barang-barang itu saya berikan ke orang lain setelah saya beli.

“Lama kelamaan orang yang duduk di sebelah saya bertanya mengapa saya melakukan hal semacam itu, yaitu membeli barang-barang tapi kemudian malah memberikannya kepada orang lain.”

“Maka saya jawab, ‘Sebenarnya saya bukannya membeli barang. Saya membeli semangat. Saya membeli semangat dagang mereka.’”

Jakarta, 16/01/09 (22.40)
Alwi Alatas

Miskin atau Kaya Dulu?

Miskin atau Kaya Dulu?

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke rumah seorang sepupu saya yang usianya jauh lebih tua. Kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Lalu tibalah pembicaraan ke tema tentang nasib. Sepupu saya yang bernama Husin itu lantas berkata bahwa dalam banyak hal manusia bisa berikhtiar atas nasibnya. Artinya, manusia bisa berusaha untuk memilih nasibnya sendiri, dengan izin Allah tentu saja, dan pilihannya itu boleh jadi memberikan sebuah arah bagi masa depannya. Ia lalu bercerita tentang kisah sepasang suami istri yang sudah lama tak dikaruniai anak dan hidup secara sederhana (saya tidak tahu dari mana beliau mendapatkan cerita ini, apakah dari buku atau dari penuturan orang lain).

“Pada suatu hari, sepasang suami istri ini tidur dan bermimpi. Di dalam mimpinya mereka diberitahu bahwa separuh hidup mereka akan msikin dan separuh hidupnya yang lain akan menjadi kaya raya. Mereka dipersilahkan memilih akan menempuh yang mana dulu. Sekiranya mereka ingin kaya dulu, maka akhir hidup mereka bakal jadi miskin. Kalau mereka memilih miskin terlebih dahulu, maka separuh akhir hidup mereka akan menjadi kaya raya.

“Ketika bangun dari tidurnya, si suami menceritakan mimpinya kepada sang istri. Istrinya merasa terkejut dan mengatakan bahwa ia juga mendapatkan mimpi yang sama. Karena kejadian yang unik ini, keduanya memutuskan untuk mendatangi seorang ulama untuk berkonsultasi. Setelah berjumpa dengan si ulama dan menceritakan mimpi mereka, ulama tersebut menjelaskan bahwa mimpi mereka itu kemungkinan besar merupakan mimpi yang benar. Maka ia menyarankan keduanya untuk menetapkan pilihan yang diberikan di dalam mimpi tersebut dan berdoa pada Allah. Kedua suami istri ini kemudian menjalankan saran si ulama dan menetapkan pilihan mereka.”

Saat mendengarkan cerita ini, sempat terlintas di benak saya untuk ikut memilih. Sekiranya saya yang berada di posisi kedua orang itu, kemungkinan besar saya akan memilih untuk menjadi miskin dulu, lalu menjadi kaya raya di akhir hidup. Seperti kata pepatah kan: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Saya pikir suami istri ini tentu juga bakal memilih seperti itu. Apa enaknya menjadi kaya dulu tapi akhirnya susah.
Tapi ternyata tebakan saya meleset. Suami istri itu, menurut cerita sepupu saya, memilih kebalikan dari itu.

“Suami istri tadi memilih dan memohon pada Allah untuk menjadi kaya dulu dan menjadi miskin di akhir hidupnya,” sepupu saya melanjutkan ceritanya. “Mereka ingin berbuat sesuatu dengan kekayaannya itu selagi mereka masih muda dan kuat, sehingga mereka bisa menolong banyak orang dengannya. Adapun di akhir hidupnya mereka akan menghabiskan waktu untuk banyak beribadah pada Allah. Mereka tidak perduli menjadi miskin di akhir hidupnya. Itu mungkin lebih baik, karena dengan begitu ibadah mereka tidak akan terganggu oleh kesibukan duniawi.

“Maka Allah pun mengabulkan doa mereka. Tak lama kemudian mereka menjadi kaya raya. Allah juga menganugerahkan mereka anak. Seperti yang mereka niatkan, kekayaan tidak menjadikan mereka sombong dan lupa diri. Mereka banyak menolong orang dengan harta kekayaan tersebut. Harta terus mengalir ke pundi-pundi tabungan mereka, sementara pada saat yang sama mereka tak bosan-bosannya menyedekahkan harta mereka itu kepada orang-orang yang membutuhkannya.

“Hari berganti hari dan tahun berganti tahun. Mereka telah melewati tahun-tahun kesenangan dan merasa sudah hampir tiba waktunya untuk mempersiapkan diri menghadapi masuknya paruh akhir hidup mereka. Mereka sudah merasa puas telah memanfaatkan harta benda mereka di masa kaya untuk bersedekah dan terus menerus berbuat baik. Kini mereka siap sekiranya Allah mengambil harta benda tersebut dan menjadikan mereka miskin. Mereka akan menghabiskan sisa umur mereka untuk beribadah pada Allah.

“Akhirnya, pada suatu malam mereka bermimpi lagi. Di dalam mimpinya itu mereka diberitahu bahwa sudah datang waktunya bagi mereka memasuki paruh terakhir umur mereka. Hanya saja, ternyata nasib mereka berubah. Mereka tak perlu menghabiskan sisa umur mereka dalam kemiskinan. Allah menganugerahkan sisa umur mereka dalam kekayaan, bukan dalam kemiskinan. Sedekah dan kebaikan-kebaikan selama mereka kaya raya telah mengubah garis nasib mereka.

“Mereka hidup dalam kemakmuran, kebahagiaan, dan amal shalih hingga ke akhir hidup mereka.”

By: Alwi Alatas
Jakarta, 15/11/08

Mengapa Tidak?

Mengapa Tidak

Ada sebuah cuplikan film kartun yang sangat menarik. Pendek memang, tapi lucu dan mengesankan. Pada cuplikan itu digambarkan tokoh kartunnya sedang menaiki sebuah kapal di laut lepas. Lalu terjadi badai besar yang membuat kapalnya terdampar dan hancur berantakan di sebuah pulau kecil. Ketika sudah berada di pantai pulau kecil itu, si tokoh kartun ini menatap langit dan berkata dengan nada protes, “Mengapa saya?”

Tak lama kemudian, ketika tokoh kartun itu masih berdiri di tempat yang sama, turun sebuah jawaban. Sebuah balon turun ke bawah dari langit. Balon itu bertuliskan, “Mengapa tidak?”

Cuplikan film kartun ini, setidaknya paruh bagian yang pertama, seringkali mewakili hidup kita. Ketika kita mendapatkan sebuah musibah yang berat, kita mengeluh dan memprotes, “Mengapa saya?” “Mengapa harus saya yang menerima musibah semacam ini?” “Mengapa saya harus menerima beban berat ini?” Kita tidak bisa menerima musibah yang menimpa kita itu. Dan karena tidak bisa menerimanya, kita jadi makin tertekan dan kehilangan optimisme. Kita mempertanyakannya, “Mengapa saya?” Padahal pertanyaan itu tidak memberi manfaat apa pun bagi kita.

Kita tidak perlu menunggu datangnya sebuah jawaban, tidak juga turunnya sebuah balon bertuliskan, “Mengapa tidak.” Karena jawaban semacam itu memang tidak akan pernah datang. Cukup terima saja bahwa itu sudah terjadi pada kita. Berat memang. Tapi itu sudah terjadi dan kita tidak bisa berbuat apa-apa atasnya. Daripada menanyakan yang tidak perlu, lebih baik kita menatap masa depan dan mengambil tindakan nyata. Lupakan yang sudah berlalu dan berbuatlah secara positif untuk hari ini dan hari esok.

Jadi, buat apa bertanya, “Mengapa saya?” Lebih baik bertanya, “Lalu, apa yang bisa saya lakukan sekarang?” Lakukanlah apa yang kita bisa dan bangkitlah kembali tanpa mengeluh. Hanya dengan cara seperti itu kita bisa memperbaiki keadaan dan bangkit kembali menuju keberhasilan. Barangkali suatu saat nanti kita justru akan mengangguk dan tersenyum saat mengingat musibah yang pernah menimpa kita, “Ya, mengapa tidak?”

By: Alwi Alatas,
Jakarta, 18/11/08