Apakah Anda mampu tersenyum di saat bisnes Anda hancur berantakan, padahal sebelumnya bisnes Anda sedang maju-majunya? Mampukah Anda tetap tersenyum dan bersikap wajar sementara keadaan ekonomi Anda begitu terpuruk dan Anda dililit banyak hutang? Tidak banyak orang yang mampu bersikap seperti ini. Tapi saya mengenal salah seorang di antaranya, yaitu teman saya, Abdul Basith.
Abdul Basith merupakan seorang pemuda yang ulet dan supel. Ia sudah mulai terjun ke dunia bisnes ketika masih berkuliah di STEI Ahmad Dahlan Ciputat. Walaupun berasal dari daerah, ia cepat akrab dengan orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya di Jakarta. Malah dapat dikatakan, gayanya sangat mirip dengan orang Jakarta sendiri.
Sejak tahun 1999, ia memulai sebuah usaha kecil dengan cara membuka sebuah warung sembako di sebuah gang sempit di wilayah Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Warung tempat usahanya itu berlokasi tak terlalu jauh dari Kali Ciliwung yang membatasi Pasar Minggu dan Condet, benar-benar sebuah tempat yang sederhana dan bersahaja. Ia memulai usahanya berdua dengan seorang temannya, masing-masing mengeluarkan modal sebesar 5 juta rupiah. Walaupun demikian, temannya hanya berperan sebagai investor dan tidak terlibat langsung dengan aktiviti bisnesnya secara langsung. Basith sendirilah yang memutar modal tersebut menjadi sebuah usaha yang mampu bertahan, bahkan berkembang, selama beberapa tahun. Lewat bisnes sederhana tersebut, masing-masing investor bisa memperoleh keuntungan sebesar 400 ribu rupiah setiap bulannya.
Kurang lebih dua tahun kemudian, Teman saya ini menikah. Ia kemudian mengontrak sebuah rumah pada awal tahun 2001 yang ia jadikan sebagai sebuah tempat usaha baru, sekaligus sebagai tempat tinggal bersama istrinya. Semula ia memfokuskan diri pada bisnes beras di warungnya yang baru ini, tapi belakangan ia mengurangi bisnes beras dan menjadikan warung barunya ini sebagai warung sembako dengan harga grosir. Pada akhir 2001, ia menutup toko pertamanya dan memusatkan perhatian pada toko keduanya. Kali ini, ia menjadi pemilik tunggal dari usaha tersebut.
Usahanya sedikit demi sedikit merayap naik dan semakin maju. Sebetulnya pada masa-masa inilah saya mulai mengenal Basith. Saya kagum dengan ketekunan dan kepercayaan dirinya mengelola bisnes. Ia sama sekali tidak tampak seperti seorang sarjana S1. Ia tidak malu untuk terjun di bisnes kecil semacam ini. Walaupun bisnesnya masih terbilang kecil, saya percaya lama kelamaan ia akan mampu meluaskan cakupan usahanya.
Dugaan saya sama sekali tidak meleset. Pada tahun 2003 ia mulai melakukan ekspansi bisnes. Melalui suntikan dana investor, ia berhasil membuka toko di tempat lain. Ia membuka sebuah toko sembako baru di daerah Kemuning, masih di wilayah Pasar Minggu. Pada tahun 2004, ia membuka sebuah toko baru lagi di daerah Srengseng. Jadi total ia memiliki tiga buah toko yang harus dikelola pada waktu yang bersamaan. Untuk menjalankan usahanya yang semakin berkembang itu, ia tentu saja memerlukan pekerja-pekerja baru untuk menjaga toko-toko tersebut, dan ia juga memerlukan alat transportasi yang memungkinkannya mengambil barang dan mendistribusikannya ke seluruh jaringan tokonya. Untuk keperluan SDM baru, ia merekrut keponakan-keponakannya sendiri. Sementara untuk menopang keperluan alat transportasi, ia membeli sebuah mobil pick up seharga 19 juta rupiah dengan cara mencicil.
Pada tahun 2004, ketika saya sendiri masih jungkir balik berjualan donat dan hidup dengan kondisi ekonomi pas-pasan, saya mendapati bisnes sahabat saya ini mulai menanjak. Saya turut bersyukur melihat kemajuan usahanya. Semakin hari saya dapati kesibukannya makin meningkat. Setidaknya saya menitipkan beberapa kotak donat saya di dua buah tokonya. Saya melihat masa depan bisnes kawan ini sangat cerah. Barangkali suatu saat nanti dia bakal memiliki minimarket, atau supermarket, atau mungkin juga beberapa bisnes besar lainnya.
Pada pertengahan tahun 2004 saya berangkat untuk melanjutkan kuliah di Malaysia dan menjadi semakin jarang berkomunikasi dengan sahabat saya ini. Saya tidak mengikuti lagi perkembangan bisnesnya. Walaupun pada awalnya kami masih suka berkirim sms, tapi belakangan hal itu tidak terjadi lagi disebabkan waktu dan kesibukan kami masing-masing. Saya kadang mengunjunginya di hari-hari liburan yang pendek ketika saya berada di Jakarta dan saya sempat mendengar persoalan yang diutarakannya tentang bisnes yang mengalami kesulitan dan ganjalan. Namun, saya melihat bisnesnya masih cukup besar dan mampu melewati badai kesulitan. Sosoknya yang santai tapi kokoh tentu bisa mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya.
Saya sendiri pada waktu yang hampir bersamaan sedang dipusingkan oleh kesulitan saya sendiri terkait dengan biaya kuliah di Malaysia. Saya sempat memutuskan untuk cuti karena tak punya uang untuk membayar biaya kuliah. Namun alhamdulillah berkat dukungan beberapa orang sanak family saya berhasil melanjutkan kuliah kembali. Ketika keadaan saya mulai tenang dan saya mulai melakukan riset untuk tesis di akhir tahun 2006, saya memutuskan untuk mampir ke tempat Basith untuk sekedar bersilaturahim.
Saya sampai di depan rumah, sekaligus toko utama, sahabat saya itu. Apa yang saya lihat betul-betul membuat saya terkejut. Toko yang dulunya penuh berisi barang-barang dagangan itu kini kosong melompong. Tak satu pun barang dagangan tampak di tempat itu. Langit-langit ruangan yang dulu penuh berisi, rak-rak yang dijejali oleh aneka macam barang, etalase kaca yang biasanya padat terisi, serta anak-anak yang selalunya mondari-mandir ke tempat itu untuk membeli jajanan, kini lenyap tak bersisa. Semuanya raib seperti embun yang menguap di padang gurun. Toko itu telah mati, dan saya seperti menatap sebuah kuburan.
Roda dunia benar-benar berputar. Yang tadinya di atas kini berada di bawah, di titik nadir. Pemandangan di depan toko itu menimbulkan sedikit rasa syok dan kesedihan di hati saya. Apa yang telah terjadi pada sahabat saya ini? Mengapa usahanya sampai gulung tikar seperti ini?
Saat yang berjumpa dengannya saya menjadi lebih terkejut lagi. Ia menyambut saya dengan ramah, seolah tidak terjadi sesuatu yang serius dengan usahanya. Saya bertanya kepadanya mengapa tokonya kosong seperti itu. Ia tersenyum renyah dan berkata apa adanya, bahwa usahanya itu telah gulung tikar. Ia sekarang tidak punya apa-apa lagi. Hutangnya pada para investor juga bertumpuk dan ia tak tahu bagaimana harus melunasinya. Yang jelas ia menyicil pembayaran hutang itu sesuai kesanggupannya. Ketika saya bertanya besar kecil hutangnya, ia memberi isyarat kalau hutangnya lebih dari 50 juta rupiah. Kepala saya pusing mendengarnya. Saya pernah punya hutang belasan juta rupiah. Rasanya sungguh menyiksa sekali, walaupun pihak yang memberi piutang tidak pernah menagihnya pada saya. Sementara sahabat di depan saya ini punya masalah yang jauh lebih besar dari saya. Saya jadi merasa tidak tega menanyakan soal kejatuhan bisnesnya lebih jauh, walaupun ia bersikap santai dan biasa saja.
Di perjalanan pulang saya masih sulit mempercayai apa yang saya lihat. Teman saya ini telah memulai bisnes dari nol, lalu mengembangkan bisnes dan membuka cabang-cabang baru dari tokonya. Ia telah berada di sebuah jalur kesuksesan. Namun, tiba-tiba saja bisnesnya dilanda badai. Dan pada saat badai sudah mereda, ia bukan saja tidak punya apa-apa, tapi juga setumpuk hutang yang harus ia cicil pembayarannya. Bisnes sembako yang telah dirintisnya selama tujuh tahun habis tak bersisa. Sama sekali tidak ada bekasnya. Bahkan sepotong permen pun tak ada lagi di toko itu. Ia kini berjualan kerupuk rengginang dan menitipkannya di warung-warung. Di samping itu, ia juga berusaha mencari-cari peluang usaha baru, tapi akhirnya tak mampu melangkah lebih jauh karena ketiadaan modal.
Saya tak sempat bertemu dengan beliau lagi setelah itu, karena saya harus kembali ke Kuala Lumpur untuk menyelesaikan thesis dan kuliah saya. Saya baru berinteraksi lagi dengan beliau dua tahun kemudian, yaitu akhir tahun 2008 ini, setelah saya kembali dari Malaysia dan menetap di Jakarta. Pada saat itulah saya menyempatkan diri untuk menanyakan kisah perjalanan bisnesnya secara lengkap. Ia pun menjelaskan bagaimana ia mengawali bisnes hingga akhirnya mencapai puncaknya, sebagaimana telah saya ceritakan sebelumnya di atas.
“Ketika bisnes saya di toko yang sekaligus menjadi tempat tinggal saya ini telah mapan dan kokoh, maka saya pun memantapkan diri untuk mengembangkan bisnes,” ia menjelaskan awal keberhasilan sekaligus kekacauan bisnesnya. “Untuk mengembangkan bisnes, tentu saja saya memerlukan modal tambahan. Akhirnya saya berhasil mendapatkan pinjaman dari tiga orang, masing-masing sebesar 25 juta, 20 juta, dan 28 juta rupiah. Saya menawarkan bagi hasil yang menarik pada masing-masing investor ….
“Kesalahan saya adalah semua kerugian hanya ditanggung oleh saya sendiri. Kalau terjadi kerugian, pihak investor tidak ikut menanggungnya. Begitu perjanjiannya.”
“Mana bisa seperti itu,” saya memprotes. “Dalam perjanjian bisnes, pihak investor mahupun pengelola seharusnya sama-sama ikut menanggung sekiranya terjadi kerugian.”
“Itulah masalahnya,” Basith tersenyum pasrah. “Cuma dengan cara seperti itu saya bisa menarik investor. Kalau tidak begitu, tidak ada yang mahu berinvestasi.”
Saya merasa geram juga. Para investor itu keterlaluan sekali. Kalau berinvestasi, tapi hanya mahu dapat untung dan tak mahu ikut menanggung kerugian. Itu sama saja dengan memberikan pinjaman dengan bunga. Saya tahu sahabat saya ini memang sudah lama mencari pinjaman investasi tapi tak berhasil mendapatkannya. Barangkali itu yang menyebabkan ia memberanikan diri untuk menawarkan sistem investasi semacam itu.
“Maka saya pun mulai mengembangkan usaha. Saya membuka toko baru di Kemuning, lalu beberapa bulan kemudian sebuah toko lainnya di Srengseng. Saya pun menjadi sangat sibuk mengelola usaha.
“Toko yang terakhir yang di Srengseng rupanya tak bisa bertahan lama, hanya empat bulan saja. Entah kenapa, toko itu mandeg dan akhirnya mati. Tapi toko saya yang lainnya masih jalan. Saya kemudian memutuskan untuk menjadikan toko yang di jalan kemuning sebagai pusat jual beli beras. Dengan modal sebesar 54 juta rupiah, saya membeli beras sebanyak dua truk, kira-kira 16 ton banyaknya. Saya menjadi distributor beras di wilayah Pejaten Timur dan sekitarnya. Beberapa toko besar bahkan juga mengambil beras dari saya.
“Tapi permasalahan kemudian muncul. Modal yang tidak terlalu besar itu rupanya belum memadai untuk menopang bisnes saya secara stabil. Beras-beras yang saya letakkan di warung-warung kebanyakan tidak membayar secara langsung, tapi dengan cara berhutang. Ini sebetulnya tidak masalah, karena mereka toh tetap membayar. Tapi bisnes menjadi goyah ketika harga beras tiba-tiba saja melambung tinggi. Keterbatasan dana menyebabkan perputaran bisnes menjadi tersendat. Permintaan pasar tidak bisa sepenuhnya saya suplai karena terbatasnya dana untuk membeli stok barang baru.
“Persoalan lain yang membuat bisnes saya semakin terpuruk adalah SDM-SDM yang saya rekrut, keponakan-keponakan saya sendiri. Mereka ternyata tak selalu bisa dipercaya. Toko yang di Kemuning semakin lumpuh karena banyak uang tagihan yang tak masuk dalam laporan keuangan toko. Entah uang itu dikemanakan oleh keponakan saya. Dari situ saya mendapat sebuah pelajaran berharga: jangan pernah mempekerjakan sanak famili sendiri! Kita merasa tak enak untuk menegur kalau mereka melakukan kesalahan. Akhirnya, bisnes malah jadi berantakan.”
“Sebetulnya tidak ada masalah dengan mempekerjakan sanak famili sendiri,” saya meluruskan. “Yang penting kita harus bisa bersikap tegas dan membedakan mana yang urusan keluarga dan mana yang urusan bisnes.” Saya jadi teringat sebuah prinsip yang menarik: Trust is good, but control is better. Kepercayaan itu bagus, tapi kontrol lebih bagus lagi. Artinya, jangan kita melulu mengandalkan kepercayaan dalam menjalankan bisnes, kontrol juga harus tetap dijalankan. Bekerja dengan saudara sendiri memang membuat pertimbangan kita lebih kuat ke arah trust, kepercayaan. Kita jadi cenderung berpikir, masak sih saudara sendiri bakal menipu atau menikam saya dari belakang. Akibatnya, aspek control jadi terkesampingkan. Pada saat kita menyadari bahwa kepercayaan kita sangat bersifat relatif, atau malah bersifat semu, segala sesuatunya sudah tak bisa dikontrol lagi, dan apa yang kita bangun pun mulai runtuh. Inilah yang terjadi pada sahabat saya.
“Alhasil, bisnes saya mulai bermasalah dan mengalami kemunduran. Keterbatasan modal membuat bisnes saya macet, SDM yang kurang bisa dipercaya menjadikan aliran dana tidak masuk ke dalam kas toko, tapi hilang entah kemana, sementara cicilan bagi hasil investasi harus terus saya setorkan. Bisnes pun mulai mengalami kehancuran. Itu terjadi sejak tahun 2005.
“Pada tahun 2006, masalah demi masalah lainnya juga berdatangan menimpa saya dan keluarga. Saya mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil pick up. Mobil itu mengalami penyok cukup serius dan saya terpaksa mengeluarkan dana sebesar 5 juta rupiah untuk memperbaikinya, padahal ketika itu saya sedang kesulitan keuangan. Lalu kedua anak saya jatuh sakit dan saya kembali harus mengeluarkan uang cukup besar untuk membiayai perawatan mereka.
“Toko yang ada di Kemuning terpaksa saya tutup. Toko saya tinggal satu lagi sebagaimana sebelumnya. Itu pun dalam keadaan yang rawan dan tak mampu berkembang. Saya menghadapi sebuah pilihan sulit. Para investor tetap menagih uang bagi hasil setiap bulannya, padahal bisnes saya sudah lumpuh dan tak mungkin lagi memberikan bagi hasil. Masalahnya, mereka tentu tidak akan mahu percaya dengan penjelasan saya sekiranya toko saya masih beroperasi, walaupun tinggal satu toko saja. Maka saya pun memutuskan untuk menghentikan usaha itu sama sekali, karena kenyataannya bisnes saya itu memang sudah mati. Dengan begitu, para investor bisa melihat sendiri bagaimana keadaan bisnes saya yang sesungguhnya dan saya tak perlu lagi membayarkan bagi hasil bulanan kepada mereka. Walaupun begitu, saya tetap berkewajiban mengembalikan dana investasi yang mereka tanamkan dalam bisnes saya. Maka saya pun mencicilnya sesuai dengan kemampuan saya. Sebagian dari investor ada yang mengikhlaskan uangnya karena melihat keadaan saya, sementara sebagian lainnya tetap meminta saya membayarnya.”
“Setelah itu, kamu hidup dari berjualan rengginang?” saya bertanya.
“Ya, saya dan keluarga hidup dari berjualan rengginang. Alhamdulillah kami tetap mampu bertahan hingga sekarang. Saya terus mencari peluang-peluang usaha baru yang bisa memperbaiki keadaan kami. Saya pernah bekerja di daerah Pondok Cabe, tapi tidak bertahan lama. Untungnya saya tetap mempertahankan usaha kerupuk rengginang.
“Selama masa sulit-sulit itu, kami hidup dari harapan ke harapan. Keadaan yang sulit itu bahkan membuat saya sempat tergoda untuk mejual batu-batu yang katanya mengandung kekuatan magis, seperti batu kocok dan batu-batu lainnya. Istri saya selalu mengingatkan supaya saya meninggalkan usaha semacam itu. Alhamdulillah, saya kemudian meninggalkannya.”
“Jadi, masa-masa kesulitan itu terutama terjadi sepanjang tahun 2007-an?” saya bertanya.
“Sebetulnya, sampai hari ini pun (ketika itu akhir tahun 2008) kami masih mengalami kesulitan,” terang Basith sambil tersenyum.
Sahabat saya ini menceritakan semuanya dengan nada suara yang biasa saja, bahkan cenderung riang. Seperti itulah gaya bicaranya di saat berhasil, dan seperti itu juga gaya bicaranya di saat susah. Tidak ada yang berubah pada dirinya. Badai kehidupan tidak membuatnya kehilangan mood dan stress berlebihan. Ia tetap kelihatan ceria sebagaimana biasanya.
“Tidak ada orang yang percaya ketika bisnes saya jatuh dan saya mengalami kesulitan keuangan,” terang teman saya itu. “Mungkin ini karena gaya dan sikap saya yang tetap seperti biasa, sehingga orang sama sekali tidak mengira kalau keadaan saya sedang payah. Ketika bisnes jatuh dan tertimpa banyak hutang, saya tetap bersikap biasa. Nafsu makan saya normal-normal saja, sehingga saya sama sekali tidak mengalami penurunan berat badan. Yah, habis mahu bagaimana lagi? Semuanya sudah diatur sama Yang di Atas. Tugas kita hanya melakukan usaha.”
Begitulah Basith. Sikapnya itu membuat saya kagum dan mengacungkan jempol. Saya kira, kegagalan itu merupakan resiko dalam setiap usaha. Yang penting kita tetap tabah dan berusaha bangkit kembali. Musibah merupakan kemestian bagi setiap manusia yang normal. Kita harus menjalaninya dengan sabar. Kalau perlu dengan sesungging senyum … seperti sahabat saya itu.
Alwi Alatas
10/11/2008
Wednesday, October 28, 2009
Kisah Penjual Gado-gado
Kisah Penjual Gado-Gado
Alwi Alatas
Sudah hampir setahun lamanya saya tidak pulang ke Jakarta. Selama belajar di Malaysia, biasanya saya kembali ke Jakarta setiap empat bulan sekali. Tapi sejak bulan November 2006 lalu, saya tidak pernah pulang sampai sepuluh hari menjelang Iedul Fitri bulan Oktober 2007 lalu. Maklum, dalam setahun terakhir ini saya mengajak istri ikut ke Kuala Lumpur.
Hidup di negeri orang tentunya harus banyak menyesuaikan diri dengan keadaan setempat, termasuk dalam hal makanan. Untungnya lidah kami berdua cocok dengan lidah orang-orang di sini yang sehari-hari biasa makan roti canai dan nasi lemak serta minum teh tarik atau Milo suam. Walaupun begitu, rasa rindu terhadap makanan dan jajanan Indonesia tentunya juga muncul, apalagi setelah sekian lama tinggal di Kuala Lumpur.
Alhasil, ketika pulang ke Jakarta pada awal Oktober lalu, kami sama-sama “ngidam” jajanan Ibukota. Istri saya berkali-kali minta dibelikan siomay dan beberapa kali mencegat – dengan bantuan keponakannya tentunya – tukang bakmi yang biasa lewat di depan rumah. Saya sendiri tidak punya target khusus, tapi selama beberapa hari di Jakarta, alhamdulillah berbagai macam jajanan berhasil saya jajal. Dengan begitu, kerinduan yang sekian lama tertahan bisa terpuaskan. Tetapi, di antara jajanan-jajanan yang ada, masih ada satu yang sejauh itu belum juga berhasil saya dapatkan … gado-gado. Entah kenapa, berbagai kesempatan untuk membeli dan mencicipi gado-gado sepenuhnya terlewatkan. Dan karenanya, selama beberapa minggu, obsesi makan gado-gado belum juga terpenuhi.
Kira-kira dua minggu setelah lebaran, saya dan keluarga (istri saya ketika itu tidak ikut) pergi bersilaturahim ke rumah seorang famili di Bogor. Agak lama juga kami berada di sana. Ketika akan pulang ke Jakarta, waktu shalat Ashar sudah masuk. Berhubung saya tidak menjamak shalat, saya turun di sebuah masjid kecil untuk shalat sementara kakak saya pergi mengambil barang yang tertinggal di rumah yang kami kunjungi sebelumnya. Selesai shalat, mobil sudah parkir lagi di depan masjid. Saya masuk ke dalam mobil, sementara kakak saya gantian masuk ke dalam masjid untuk shalat Ashar.
Belum lama duduk di dalam mobil, seorang bapak tua berjalan tertatih-tatih menuju mobil tempat saya menunggu. Dengan suara lemah ia menawarkan makanan yang ia jual sambil menunjuk ke arah gerobak kusamnya yang diparkir tak jauh dari mobil kami. Karena memang tidak berniat jajan, serta merta saya menolak tawaran itu dengan halus. Saya bahkan sudah berniat menolaknya sebelum bapak tua itu menawarkan barang dagangannya.
Bapak itu masih belum menyerah. Ia sekali lagi menawarkan dagangannya kepada saya, tidak dengan sifat agresif atau sikap memelas yang dibuat-buat, tapi dengan permohonan yang nyaris tak mengeluarkan suara, diiringi dengan rasa putus asa. Lagi-lagi, tanpa menunggu bapak itu selesai bicara, saya kembali menolaknya secara halus. Saya hanya meliriknya sedikit, khawatir tatapan saya ke arah penampilannya yang memelas akan membuat saya terenyuh dan akhirnya mendorong saya untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak saya perlukan.
Merasa tidak berhasil menawarkan dagangannya kepada kami, bapak tua itu berjalan tertatih meninggalkan mobil. Saya pikir ia akan langsung kembali duduk di samping gerobaknya untuk menunggu calon pembeli yang mestinya – saya pikir – bakal datang cepat atau lambat. Tapi ternyata tidak! Bapak tua itu berjalan dengan langkah-langkah yang rapuh memasuki pekarangan masjid. Ia mendekati seorang tukang bangunan yang sedang merapikan kayu-kayu untuk bahan renovasi masjid dan menawarkan makanan jajaannya kepada si tukang tadi. Tukang itu pun menggeleng halus. Dan ia kembali menggeleng ketika bapak tua itu masih berusaha membujuknya, membuat si bapak berdiri gamang di tempatnya untuk beberapa saat.
Mungkin karena posisi yang agak jauh dan tidak merasa terganggu oleh bujukan si bapak tadi, saya merasa lebih bebas untuk memperhatikan gerak langkah dan keresahannya. Di bawah naungan senja yang mulai meremang, orang tua itu masih berada di jalan dengan langkah lunglai dan ekspresi tak berdaya. Pada momen-momen yang singkat itu, beberapa pertanyaan mulai terlintas di benak saya. Apa yang dijual bapak ini? Berapa umurnya? Apakah dagangannya ada yang membeli? Mengapa ia terlihat begitu sedih dan putus asa? Bapak ini adalah kepala keluarga dari istri dan anak-anak yang mungkin sedang menanti sang ayah datang dengan membawa rizki tak seberapa yang berhasil diraihnya pada hari itu. Apakah yang seberapa pada hari itu benar-benar mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga si bapak?
Gerimis rasa haru mulai turun rintik-rintik di pelataran hati saya. Hal yang sama juga dirasakan oleh ibu saya yang ikut mengamati dari jendela pintu depan. Kasihan Bapak ini, begitu Ibu saya bergumam. Saya pun mulai merasa kasihan, tetapi rasa kasihan itu masih dalam bentuk gerimis yang belum cukup kuat untuk membuat seorang segera bertindak, tetapi ia lumayan memadai untuk membuatnya sadar akan adanya sesuatu yang membutuhkan respon. Hati saya tergerak untuk membeli dagangan si Bapak, walaupun mungkin nantinya tidak akan saya makan. Saya tidak begitu yakin dengan enak tidaknya makanan yang ia jual, mengingat penampilan gerobaknya yang begitu sederhana.
Mata saya mengawasi bapak itu ketika ia berjalan melewati mobil. Bapak itu masih menaruh harapan saya mau membeli makanannya, dan kali ini harapannya tercapai. Saya membuka pintu mobil sedikit dan tersenyum ke arahnya. Ia berjalan mendekat, masih tertatih-tatih.
“Beli Pak ….” pintanya samar sambil menunjuk lemah ke arah gerobak tuanya.
“Bapak jualan apa?” saya bertanya pada bapak itu sembari bertekad untuk membeli apa pun yang ia jual.
“Saya jual gado-gado dan rujak …,” jawabnya dengan suara yang dalam dan lemah, seolah ada sisa-sisa kelelahan yang panjang di dalam dirinya.
Hmmm, gado-gado? Saya merasa kurang yakin. Gado-gado seperti apa yang ia jual. Terus terang saya ragu kalau saya bakal menyukai gado-gado yang dibuat bapak ini. Tapi itu tidak penting, karena tujuan utama saya adalah membantu si Bapak.
“Berapa harga gado-gadonya, Pak?” saya mengajukan pertanyaan yang biasa diajukan oleh setiap calon pembeli. Tiga ribu rupiah, empat ribu rupiah? Saya menduga-duga berapa harga seporsi gado-gado si bapak. Gerobaknya yang kusam malah membuat saya berpikir jangan-jangan harga seporsi gado-gadonya cuma dua ribu atau dua ribu limaratus.
“Berapa saja Pak, terserah …, saya senang ada yang beli,” jawabnya dengan suara bergetar. Jawaban itu betul-betul membuat saya tersentuh. Bapak ini benar-benar sudah menyerah dan mengabaikan posisi tawarnya. Ia sedang menginformasikan dengan halus bahwa ia tidak sedang dalam posisi jual-beli. Ia sedang membutuhkan pertolongan.
Secara spontan tangan saya mengeluarkan uang lima ribu rupiah dan memberikannya kepada si bapak.
“Saya beli lima ribu, Pak,” ucap saya dengan lintasan pemikiran bahwa uang segitu sudah lebih dari harga standar seporsi gado-gadonya. Si bapak menerima uang itu dengan rasa syukur. Ia berjalan kembali ke gerobaknya dengan tubuh gemetar. Saya memperhatikan orang tua itu berjalan dan seketika saya merasa telah melakukan sebuah dosa karena hanya memberikan uang sebesar lima ribu rupiah kepadanya.
Baru saja akan mulai membuat gado-gado, si Bapak teringat sesuatu dan berjalan kembali dengan tertatih-tatih ke arah mobil. Saya merasa tidak tega dan segera turun dari mobil untuk mencegah supaya si Bapak jangan berjalan mondar-mandir ke mobil hanya karena ingin menanyakan sesuatu.
“Pakai ketupat?” tanya si bapak.
“Boleh Pak. Gado-gadonya dibungkus saja, kerupuknya kalau bisa dipisah,” pesan saya sambil mendekat.
Orang tua itu mengangguk dan berbalik kembali ke gerobaknya. Ada sepercik etos melayani pada gerak-gerik si bapak. Etos untuk memberikan yang terbaik bagi seorang konsumen. Namun etos itu terlihat rapuh tergerusi beban hidup yang begitu panjang serta ketidakpastian yang menghadang di hadapan.
Saya berjalan menuju gerobak tua itu dan ikut berdiri menemani di samping si bapak. Saya memperhatikan bahan-bahan yang akan digunakannya untuk membuat gado-gado. Bahan-bahan itu tidak banyak jumlahnya dan komposisinya terlihat begitu aneh untuk standar pembuatan gado-gado yang pernah saya cicipi selama ini. Kacang-kacang goreng yang ia gunakan bahkan masih bulat utuh, lengkap dengan kulit-kulitnya yang berwarna coklat gelap, membuat tampilan gado-gado itu menjadi semakin tidak memikat. Saya membayangkan betapa para juru masak di kota-kota besar memiliki perlengkapan yang begitu mewah serta bahan-bahan masakan yang sangat lezat dan menarik, sehingga konsumen-konsumen mereka sanggup mengantri sekian lama untuk bisa mencicipi makanan-makanan yang harganya cukup mahal itu. Tanpa mengabaikan rasa iba, sisi professional saya mengatakan bahwa makanan si bapak ini benar-benar tidak layak jual. Siapa yang mau beli gado-gado semacam ini? Saya berkata dalam hati dengan perasaan tidak tega.
“Bagaimana jualannya, Pak?” saya bertanya perlahan dan hati-hati.
“Dari pagi baru ada dua orang yang beli, Pak,” jawabnya dengan suara parau. Tangannya yang gemetar masih terus mengulek kacang.
Dagangannya memang tidak laku, gumam saya dalam hati, dugaan saya ternyata memang benar. Tapi pada saat yang sama saya juga menyadari bahwa ada kebenaran lain yang sangat menyakitkan. Orang tua ini – yang seharusnya bisa beristirahat di rumah dengan tenang dengan mendapat tanggungan dari anggota keluarganya atau jaminan sosial dari pemerintah – ternyata masih berkeliling untuk mencari nafkah. Baginya itu tentu bukan sebuah pilihan. Itu merupakan tuntutan hidup yang tak mampu ditolaknya. Ia yang sudah renta dan layu masih harus berkeliling mendorong-dorong gerobak tuanya menjajakan gado-gado dan rujak ke berbagai tempat. Dan pada hari ini, ketika matahari sudah menjelang terbenam, ia masih belum mendapatkan pembeli kecuali dua orang.
Ia mulai menaburi bumbu kacangnya dengan potongan tahu, mentimun dan beberapa bahan lainnya. “Modalnya saja masih belum dapat,” ia melanjutkan dengan suara pelan. Suaranya bagai angin yang bergesekan lemah dengan dedaunan kering di di musim kemarau. “Saya sendiri sebenarnya sedang sakit ….”
Saya sulit membayangkan itu semua. Lantas bagaimana dengan makan dan kebutuhan keluarganya pada hari itu? Bagaimana dengan dagangannya untuk esok hari? Kini saya yang merasa tak berdaya. Saya yang tinggal di kota, dari keluarga yang berkecukupan, apa yang bisa saya lakukan untuk orang tua ini? Hanya menyampaikan rasa simpati? Menepuk-nepuk bahunya dan menganjurkannya untuk bersabar (padahal ia lebih mengetahui arti kesabaran daripada saya)? Atau saya merasa cukup hanya dengan mendoakannya? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya hanya bisa mengeluarkan uang sebesar dua puluh ribu rupiah yang ada di kantong saya dan menghadiahkannya kepada si bapak ketika orang tua itu hampir selesai dengan pekerjaannya. Hanya itu yang mampu saya lakukan. Di kantong saya hampir tidak ada uang lagi. Saya memang tidak membawa uang yang cukup pada hari itu. Si bapak mengucapkan terima kasih dengan sisa-sisa suaranya.
Bapak itu membungkus gado-gado dengan kertas coklat. Perlengkapan dagang si bapak begitu terbatasnya. Ia bahkan tidak mempunyai kantong plastik untuk menjinjing bungkus gado-gado saya. Ia terlihat kerepotan mencari jalan untuk membungkus kerupuk. Sebelumnya sempat saya katakan supaya kerupuknya dicampur saja dengan gado-gado, tidak perlu dipisah, tapi ia tetap bertekad untuk membungkus kerupuknya secara terpisah. Lantas diambilnya kertas coklat untuk digunakan sebagai pembungkus kerupuk. Saya memohon lagi kepadanya supaya ia tidak perlu bersusah payah seperti itu, biarkan saja saya membawa gado-gadonya tanpa disertai kerupuk. Tapi ia seperti tidak perduli. Dengan tangan yang masih gemetaran, ia membungkus kerupuk-kerupuk itu dengan kertas pembungkus.
Setelah semuanya siap, saya hendak mengambil kedua bungkusan itu untuk saya bawa ke mobil. Tapi ia menolak dan memaksa untuk ikut membawakannya sampai ke mobil. Saya betul-betul tak berdaya dan merasa iba sekaligus kagum melihatnya berjalan tertatih seperti itu. Ia sedang sakit. Guratan kepayahan yang bercampur dengan rasa syukur terlihat jelas di wajahnya. Ketika sudah sampai di mobil, kakak saya yang sudah duduk di kursi pengemudi mengulurkan tangannya untuk memberikan uang kepada si bapak. Saya tidak tahu berapa besar uang yang diberikan. Saya pun masuk dan mobil segera bergerak meninggalkan tempat itu diiringi tatapan sendu dan lambaian tangan si bapak.
Saya meletakkan bungkusan gado-gado itu di dalam sebuah plastik yang ada di dalam mobil. Saya tidak bisa memakannya, karena tidak ada sendok di dalam mobil dan rasanya tidak nyaman kalau harus makan dengan tangan sementara kendaraan terus bergerak. Saya tahu gado-gado itu akan benyek pada saat nanti tiba Jakarta dan kalau sudah begitu rasanya tentu jadi semakin tidak enak. Saya tahu gado-gado itu akan berubah rasa saat tiba di Jakarta nanti, tapi saya bertekad untuk memakannya, walaupun hanya sedikit. Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di Jakarta Selatan menjelang Maghrib.
Ketika tiba di rumah, saya langsung menghampiri istri saya dan menunjukkan bungkusan gado-gado yang ada di tangan saya. “Lihat!” saya tersenyum kepadanya, “Akhirnya saya mendapatkannya setelah hampir satu tahun tidak makan gado-gado.” Ya. Ini memang gado-gado pertama yang saya temui dalam satu tahun terakhir!
Istri saya tersenyum. “Jadi akhirnya berhasil juga dapat gado-gado? Beli di mana?”
Maka saya pun menceritakan seluruh kejadiannya sambil mempersiapkan gado-gado itu di atas piring. Gado-gado itu sangat banyak sampai-sampai porsi saya masih lebih dari cukup walaupun saya sudah membagi sebagian gado-gado itu untuk istri dan ibu mertua saya.
“Apa …?” istri saya langsung protes ketika saya sudah selesai bercerita, “Kanda cuma memberikan dua puluh ribu untuk bapak tua yang sedang kesusahan itu? Kenapa tidak memberikan lima puluh ribu atau lebih lagi?”
“Saya tadi sedang tidak bawa uang Sayang,” saya mengelak, “Lagi pula, yang saya berikan itu sudah hampir mewakili seluruh isi kantong saya.”
“Tapi kan bisa pinjam uang dulu dari Umi (maksudnya Ibu saya),” ia masih memprotes.
“Iya sih, tapi entahlah tadi saya sama sekali tidak terpikir ke arah sana,” lagi-lagi saya membela diri.
Istri saya masih menyesali apa yang telah terjadi untuk beberapa waktu lamanya. Dan saya tahu ia benar. Mungkin itu adalah salah satu hal yang paling saya sesali dalam hidup saya.
Saya terus terbayang-bayang wajah sendu si Bapak tua ketika saya memakan gado-gado di piring saya. Saya memakan gado-gado itu, dan terus memakannya dengan lahap. Saya terus memakan gado-gado itu sampai dasar-dasar piring saya mulai terlihat. Wajah bapak tua itu terus membayang. Senyumannya yang nyaris tak tampak sudah cukup memadai untuk menyibak perlahan kerut-kerut di wajahnya sebagai pembuka jalan bagi sinar matahari sore memantul lepas menjajakan keceriaan serta kebahagiaan bagi alam di sekitarnya. Bayang-bayang tangannya yang gemetar tapi ikhlas telah menyadarkan saya bahwa energi ketulusannya telah menjadi bumbu penyedap yang luar biasa bagi makanan yang dibuatnya.
Saya terus makan sampai gado-gado di piring saya ludes tak tersisa. Saya tertegun untuk beberapa saat sambil menatap piring saya yang sudah kosong. Kini saya sadar sepenuhnya. Saya betul-betul tidak mampu untuk menolak sebuah kebenaran yang lain … itu adalah gado-gado paling lezat yang pernah saya makan seumur hidup saya!
Kuala Lumpur, 14 November 2007
Ditulis sebagai kenangan untuk Bapak penjual gado-gado di Bogor
Semoga Allah memberi jalan dan kemudahan hingga akhir hayatnya
Alwi Alatas
Sudah hampir setahun lamanya saya tidak pulang ke Jakarta. Selama belajar di Malaysia, biasanya saya kembali ke Jakarta setiap empat bulan sekali. Tapi sejak bulan November 2006 lalu, saya tidak pernah pulang sampai sepuluh hari menjelang Iedul Fitri bulan Oktober 2007 lalu. Maklum, dalam setahun terakhir ini saya mengajak istri ikut ke Kuala Lumpur.
Hidup di negeri orang tentunya harus banyak menyesuaikan diri dengan keadaan setempat, termasuk dalam hal makanan. Untungnya lidah kami berdua cocok dengan lidah orang-orang di sini yang sehari-hari biasa makan roti canai dan nasi lemak serta minum teh tarik atau Milo suam. Walaupun begitu, rasa rindu terhadap makanan dan jajanan Indonesia tentunya juga muncul, apalagi setelah sekian lama tinggal di Kuala Lumpur.
Alhasil, ketika pulang ke Jakarta pada awal Oktober lalu, kami sama-sama “ngidam” jajanan Ibukota. Istri saya berkali-kali minta dibelikan siomay dan beberapa kali mencegat – dengan bantuan keponakannya tentunya – tukang bakmi yang biasa lewat di depan rumah. Saya sendiri tidak punya target khusus, tapi selama beberapa hari di Jakarta, alhamdulillah berbagai macam jajanan berhasil saya jajal. Dengan begitu, kerinduan yang sekian lama tertahan bisa terpuaskan. Tetapi, di antara jajanan-jajanan yang ada, masih ada satu yang sejauh itu belum juga berhasil saya dapatkan … gado-gado. Entah kenapa, berbagai kesempatan untuk membeli dan mencicipi gado-gado sepenuhnya terlewatkan. Dan karenanya, selama beberapa minggu, obsesi makan gado-gado belum juga terpenuhi.
Kira-kira dua minggu setelah lebaran, saya dan keluarga (istri saya ketika itu tidak ikut) pergi bersilaturahim ke rumah seorang famili di Bogor. Agak lama juga kami berada di sana. Ketika akan pulang ke Jakarta, waktu shalat Ashar sudah masuk. Berhubung saya tidak menjamak shalat, saya turun di sebuah masjid kecil untuk shalat sementara kakak saya pergi mengambil barang yang tertinggal di rumah yang kami kunjungi sebelumnya. Selesai shalat, mobil sudah parkir lagi di depan masjid. Saya masuk ke dalam mobil, sementara kakak saya gantian masuk ke dalam masjid untuk shalat Ashar.
Belum lama duduk di dalam mobil, seorang bapak tua berjalan tertatih-tatih menuju mobil tempat saya menunggu. Dengan suara lemah ia menawarkan makanan yang ia jual sambil menunjuk ke arah gerobak kusamnya yang diparkir tak jauh dari mobil kami. Karena memang tidak berniat jajan, serta merta saya menolak tawaran itu dengan halus. Saya bahkan sudah berniat menolaknya sebelum bapak tua itu menawarkan barang dagangannya.
Bapak itu masih belum menyerah. Ia sekali lagi menawarkan dagangannya kepada saya, tidak dengan sifat agresif atau sikap memelas yang dibuat-buat, tapi dengan permohonan yang nyaris tak mengeluarkan suara, diiringi dengan rasa putus asa. Lagi-lagi, tanpa menunggu bapak itu selesai bicara, saya kembali menolaknya secara halus. Saya hanya meliriknya sedikit, khawatir tatapan saya ke arah penampilannya yang memelas akan membuat saya terenyuh dan akhirnya mendorong saya untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak saya perlukan.
Merasa tidak berhasil menawarkan dagangannya kepada kami, bapak tua itu berjalan tertatih meninggalkan mobil. Saya pikir ia akan langsung kembali duduk di samping gerobaknya untuk menunggu calon pembeli yang mestinya – saya pikir – bakal datang cepat atau lambat. Tapi ternyata tidak! Bapak tua itu berjalan dengan langkah-langkah yang rapuh memasuki pekarangan masjid. Ia mendekati seorang tukang bangunan yang sedang merapikan kayu-kayu untuk bahan renovasi masjid dan menawarkan makanan jajaannya kepada si tukang tadi. Tukang itu pun menggeleng halus. Dan ia kembali menggeleng ketika bapak tua itu masih berusaha membujuknya, membuat si bapak berdiri gamang di tempatnya untuk beberapa saat.
Mungkin karena posisi yang agak jauh dan tidak merasa terganggu oleh bujukan si bapak tadi, saya merasa lebih bebas untuk memperhatikan gerak langkah dan keresahannya. Di bawah naungan senja yang mulai meremang, orang tua itu masih berada di jalan dengan langkah lunglai dan ekspresi tak berdaya. Pada momen-momen yang singkat itu, beberapa pertanyaan mulai terlintas di benak saya. Apa yang dijual bapak ini? Berapa umurnya? Apakah dagangannya ada yang membeli? Mengapa ia terlihat begitu sedih dan putus asa? Bapak ini adalah kepala keluarga dari istri dan anak-anak yang mungkin sedang menanti sang ayah datang dengan membawa rizki tak seberapa yang berhasil diraihnya pada hari itu. Apakah yang seberapa pada hari itu benar-benar mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga si bapak?
Gerimis rasa haru mulai turun rintik-rintik di pelataran hati saya. Hal yang sama juga dirasakan oleh ibu saya yang ikut mengamati dari jendela pintu depan. Kasihan Bapak ini, begitu Ibu saya bergumam. Saya pun mulai merasa kasihan, tetapi rasa kasihan itu masih dalam bentuk gerimis yang belum cukup kuat untuk membuat seorang segera bertindak, tetapi ia lumayan memadai untuk membuatnya sadar akan adanya sesuatu yang membutuhkan respon. Hati saya tergerak untuk membeli dagangan si Bapak, walaupun mungkin nantinya tidak akan saya makan. Saya tidak begitu yakin dengan enak tidaknya makanan yang ia jual, mengingat penampilan gerobaknya yang begitu sederhana.
Mata saya mengawasi bapak itu ketika ia berjalan melewati mobil. Bapak itu masih menaruh harapan saya mau membeli makanannya, dan kali ini harapannya tercapai. Saya membuka pintu mobil sedikit dan tersenyum ke arahnya. Ia berjalan mendekat, masih tertatih-tatih.
“Beli Pak ….” pintanya samar sambil menunjuk lemah ke arah gerobak tuanya.
“Bapak jualan apa?” saya bertanya pada bapak itu sembari bertekad untuk membeli apa pun yang ia jual.
“Saya jual gado-gado dan rujak …,” jawabnya dengan suara yang dalam dan lemah, seolah ada sisa-sisa kelelahan yang panjang di dalam dirinya.
Hmmm, gado-gado? Saya merasa kurang yakin. Gado-gado seperti apa yang ia jual. Terus terang saya ragu kalau saya bakal menyukai gado-gado yang dibuat bapak ini. Tapi itu tidak penting, karena tujuan utama saya adalah membantu si Bapak.
“Berapa harga gado-gadonya, Pak?” saya mengajukan pertanyaan yang biasa diajukan oleh setiap calon pembeli. Tiga ribu rupiah, empat ribu rupiah? Saya menduga-duga berapa harga seporsi gado-gado si bapak. Gerobaknya yang kusam malah membuat saya berpikir jangan-jangan harga seporsi gado-gadonya cuma dua ribu atau dua ribu limaratus.
“Berapa saja Pak, terserah …, saya senang ada yang beli,” jawabnya dengan suara bergetar. Jawaban itu betul-betul membuat saya tersentuh. Bapak ini benar-benar sudah menyerah dan mengabaikan posisi tawarnya. Ia sedang menginformasikan dengan halus bahwa ia tidak sedang dalam posisi jual-beli. Ia sedang membutuhkan pertolongan.
Secara spontan tangan saya mengeluarkan uang lima ribu rupiah dan memberikannya kepada si bapak.
“Saya beli lima ribu, Pak,” ucap saya dengan lintasan pemikiran bahwa uang segitu sudah lebih dari harga standar seporsi gado-gadonya. Si bapak menerima uang itu dengan rasa syukur. Ia berjalan kembali ke gerobaknya dengan tubuh gemetar. Saya memperhatikan orang tua itu berjalan dan seketika saya merasa telah melakukan sebuah dosa karena hanya memberikan uang sebesar lima ribu rupiah kepadanya.
Baru saja akan mulai membuat gado-gado, si Bapak teringat sesuatu dan berjalan kembali dengan tertatih-tatih ke arah mobil. Saya merasa tidak tega dan segera turun dari mobil untuk mencegah supaya si Bapak jangan berjalan mondar-mandir ke mobil hanya karena ingin menanyakan sesuatu.
“Pakai ketupat?” tanya si bapak.
“Boleh Pak. Gado-gadonya dibungkus saja, kerupuknya kalau bisa dipisah,” pesan saya sambil mendekat.
Orang tua itu mengangguk dan berbalik kembali ke gerobaknya. Ada sepercik etos melayani pada gerak-gerik si bapak. Etos untuk memberikan yang terbaik bagi seorang konsumen. Namun etos itu terlihat rapuh tergerusi beban hidup yang begitu panjang serta ketidakpastian yang menghadang di hadapan.
Saya berjalan menuju gerobak tua itu dan ikut berdiri menemani di samping si bapak. Saya memperhatikan bahan-bahan yang akan digunakannya untuk membuat gado-gado. Bahan-bahan itu tidak banyak jumlahnya dan komposisinya terlihat begitu aneh untuk standar pembuatan gado-gado yang pernah saya cicipi selama ini. Kacang-kacang goreng yang ia gunakan bahkan masih bulat utuh, lengkap dengan kulit-kulitnya yang berwarna coklat gelap, membuat tampilan gado-gado itu menjadi semakin tidak memikat. Saya membayangkan betapa para juru masak di kota-kota besar memiliki perlengkapan yang begitu mewah serta bahan-bahan masakan yang sangat lezat dan menarik, sehingga konsumen-konsumen mereka sanggup mengantri sekian lama untuk bisa mencicipi makanan-makanan yang harganya cukup mahal itu. Tanpa mengabaikan rasa iba, sisi professional saya mengatakan bahwa makanan si bapak ini benar-benar tidak layak jual. Siapa yang mau beli gado-gado semacam ini? Saya berkata dalam hati dengan perasaan tidak tega.
“Bagaimana jualannya, Pak?” saya bertanya perlahan dan hati-hati.
“Dari pagi baru ada dua orang yang beli, Pak,” jawabnya dengan suara parau. Tangannya yang gemetar masih terus mengulek kacang.
Dagangannya memang tidak laku, gumam saya dalam hati, dugaan saya ternyata memang benar. Tapi pada saat yang sama saya juga menyadari bahwa ada kebenaran lain yang sangat menyakitkan. Orang tua ini – yang seharusnya bisa beristirahat di rumah dengan tenang dengan mendapat tanggungan dari anggota keluarganya atau jaminan sosial dari pemerintah – ternyata masih berkeliling untuk mencari nafkah. Baginya itu tentu bukan sebuah pilihan. Itu merupakan tuntutan hidup yang tak mampu ditolaknya. Ia yang sudah renta dan layu masih harus berkeliling mendorong-dorong gerobak tuanya menjajakan gado-gado dan rujak ke berbagai tempat. Dan pada hari ini, ketika matahari sudah menjelang terbenam, ia masih belum mendapatkan pembeli kecuali dua orang.
Ia mulai menaburi bumbu kacangnya dengan potongan tahu, mentimun dan beberapa bahan lainnya. “Modalnya saja masih belum dapat,” ia melanjutkan dengan suara pelan. Suaranya bagai angin yang bergesekan lemah dengan dedaunan kering di di musim kemarau. “Saya sendiri sebenarnya sedang sakit ….”
Saya sulit membayangkan itu semua. Lantas bagaimana dengan makan dan kebutuhan keluarganya pada hari itu? Bagaimana dengan dagangannya untuk esok hari? Kini saya yang merasa tak berdaya. Saya yang tinggal di kota, dari keluarga yang berkecukupan, apa yang bisa saya lakukan untuk orang tua ini? Hanya menyampaikan rasa simpati? Menepuk-nepuk bahunya dan menganjurkannya untuk bersabar (padahal ia lebih mengetahui arti kesabaran daripada saya)? Atau saya merasa cukup hanya dengan mendoakannya? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya hanya bisa mengeluarkan uang sebesar dua puluh ribu rupiah yang ada di kantong saya dan menghadiahkannya kepada si bapak ketika orang tua itu hampir selesai dengan pekerjaannya. Hanya itu yang mampu saya lakukan. Di kantong saya hampir tidak ada uang lagi. Saya memang tidak membawa uang yang cukup pada hari itu. Si bapak mengucapkan terima kasih dengan sisa-sisa suaranya.
Bapak itu membungkus gado-gado dengan kertas coklat. Perlengkapan dagang si bapak begitu terbatasnya. Ia bahkan tidak mempunyai kantong plastik untuk menjinjing bungkus gado-gado saya. Ia terlihat kerepotan mencari jalan untuk membungkus kerupuk. Sebelumnya sempat saya katakan supaya kerupuknya dicampur saja dengan gado-gado, tidak perlu dipisah, tapi ia tetap bertekad untuk membungkus kerupuknya secara terpisah. Lantas diambilnya kertas coklat untuk digunakan sebagai pembungkus kerupuk. Saya memohon lagi kepadanya supaya ia tidak perlu bersusah payah seperti itu, biarkan saja saya membawa gado-gadonya tanpa disertai kerupuk. Tapi ia seperti tidak perduli. Dengan tangan yang masih gemetaran, ia membungkus kerupuk-kerupuk itu dengan kertas pembungkus.
Setelah semuanya siap, saya hendak mengambil kedua bungkusan itu untuk saya bawa ke mobil. Tapi ia menolak dan memaksa untuk ikut membawakannya sampai ke mobil. Saya betul-betul tak berdaya dan merasa iba sekaligus kagum melihatnya berjalan tertatih seperti itu. Ia sedang sakit. Guratan kepayahan yang bercampur dengan rasa syukur terlihat jelas di wajahnya. Ketika sudah sampai di mobil, kakak saya yang sudah duduk di kursi pengemudi mengulurkan tangannya untuk memberikan uang kepada si bapak. Saya tidak tahu berapa besar uang yang diberikan. Saya pun masuk dan mobil segera bergerak meninggalkan tempat itu diiringi tatapan sendu dan lambaian tangan si bapak.
Saya meletakkan bungkusan gado-gado itu di dalam sebuah plastik yang ada di dalam mobil. Saya tidak bisa memakannya, karena tidak ada sendok di dalam mobil dan rasanya tidak nyaman kalau harus makan dengan tangan sementara kendaraan terus bergerak. Saya tahu gado-gado itu akan benyek pada saat nanti tiba Jakarta dan kalau sudah begitu rasanya tentu jadi semakin tidak enak. Saya tahu gado-gado itu akan berubah rasa saat tiba di Jakarta nanti, tapi saya bertekad untuk memakannya, walaupun hanya sedikit. Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di Jakarta Selatan menjelang Maghrib.
Ketika tiba di rumah, saya langsung menghampiri istri saya dan menunjukkan bungkusan gado-gado yang ada di tangan saya. “Lihat!” saya tersenyum kepadanya, “Akhirnya saya mendapatkannya setelah hampir satu tahun tidak makan gado-gado.” Ya. Ini memang gado-gado pertama yang saya temui dalam satu tahun terakhir!
Istri saya tersenyum. “Jadi akhirnya berhasil juga dapat gado-gado? Beli di mana?”
Maka saya pun menceritakan seluruh kejadiannya sambil mempersiapkan gado-gado itu di atas piring. Gado-gado itu sangat banyak sampai-sampai porsi saya masih lebih dari cukup walaupun saya sudah membagi sebagian gado-gado itu untuk istri dan ibu mertua saya.
“Apa …?” istri saya langsung protes ketika saya sudah selesai bercerita, “Kanda cuma memberikan dua puluh ribu untuk bapak tua yang sedang kesusahan itu? Kenapa tidak memberikan lima puluh ribu atau lebih lagi?”
“Saya tadi sedang tidak bawa uang Sayang,” saya mengelak, “Lagi pula, yang saya berikan itu sudah hampir mewakili seluruh isi kantong saya.”
“Tapi kan bisa pinjam uang dulu dari Umi (maksudnya Ibu saya),” ia masih memprotes.
“Iya sih, tapi entahlah tadi saya sama sekali tidak terpikir ke arah sana,” lagi-lagi saya membela diri.
Istri saya masih menyesali apa yang telah terjadi untuk beberapa waktu lamanya. Dan saya tahu ia benar. Mungkin itu adalah salah satu hal yang paling saya sesali dalam hidup saya.
Saya terus terbayang-bayang wajah sendu si Bapak tua ketika saya memakan gado-gado di piring saya. Saya memakan gado-gado itu, dan terus memakannya dengan lahap. Saya terus memakan gado-gado itu sampai dasar-dasar piring saya mulai terlihat. Wajah bapak tua itu terus membayang. Senyumannya yang nyaris tak tampak sudah cukup memadai untuk menyibak perlahan kerut-kerut di wajahnya sebagai pembuka jalan bagi sinar matahari sore memantul lepas menjajakan keceriaan serta kebahagiaan bagi alam di sekitarnya. Bayang-bayang tangannya yang gemetar tapi ikhlas telah menyadarkan saya bahwa energi ketulusannya telah menjadi bumbu penyedap yang luar biasa bagi makanan yang dibuatnya.
Saya terus makan sampai gado-gado di piring saya ludes tak tersisa. Saya tertegun untuk beberapa saat sambil menatap piring saya yang sudah kosong. Kini saya sadar sepenuhnya. Saya betul-betul tidak mampu untuk menolak sebuah kebenaran yang lain … itu adalah gado-gado paling lezat yang pernah saya makan seumur hidup saya!
Kuala Lumpur, 14 November 2007
Ditulis sebagai kenangan untuk Bapak penjual gado-gado di Bogor
Semoga Allah memberi jalan dan kemudahan hingga akhir hayatnya
Kalau Rejeki Nggak Kemana 2
Kalau Rejeki Nggak Kemana 2
Kalau rejeki memang nggak kemana. Ya, begitulah yang biasa dikatakan sebagian orang. Artinya, kalau memang sudah jadi rejeki kita, dia tentu akan sampai juga ke tangan kita, walaupun kita tidak mengejarnya. Ini juga yang beberapa kali terjadi pada diri saya.
Salah satu peristiwa yang pernah saya alami adalah ketika saya diminta menjadi juri lomba baca puisi. Pada suatu malam, saya sedang duduk-duduk di ruang keluarga ketika telpon berdering. Saya pun mengangkat telepon.
“Assalamu’alaikum …?” terdengar suara di seberang sana.
“Wa’alaikum salam,” jawab saya.
“Eh, Pak … kami dari panitia …,” si penelpon memperkenalkan dirinya pada saya. “Kami ingin meminta Bapak untuk menjadi juri lomba baca puisi tingkat SMP dan SMU.”
“Juri lomba baca puisi?” saya meragukan pendengaran saya. “Tapi itu sama sekali bukan bidang saya. Kalau juri lomba menulis cerpen atau artikel saya bisa. Tapi lomba baca puisi …?”
“Kami percaya Bapak cocok untuk itu.”
“Siapa saja yang ikut menjadi juri?” tanya saya.
Lalu si penelpon menyebutkan dua nama lainnya, yang salah satunya saya kenal. Ia juga menjelaskan bahwa panitia sempat meminta seorang mantan artis yang kini sudah memakai jilbab untuk menjadi juri, tapi batal karena fee yang diminta si artis terlalu tinggi. Saya sempat berpikir, kalau panitia berani mengundang artis, walaupun akhirnya tidak jadi, tentu fee yang mereka tawarkan lumayan tinggi juga; terlalu rendah untuk si artis, tapi barangkali cukup tinggi buat orang biasa seperti saya. Hanya saja saya tidak ingin menanyakan berapa fee yang ditawarkan panitia.
“Sebetulnya, dari mana dapat informasi tentang saya?” saya bertanya penasaran.
“Eh …, ada beberapa teman yang menginformasikan dan merekomendasikan Bapak untuk posisi juri ini.”
Saya tidak mencoba menyelidik lebih jauh dari mana mereka mendapatkan nama saya. Sebetulnya saya agak tertarik dan ingin membantu, tapi saya merasa ini bukan bidang saya.
“Senang sekali kalau saya bisa membantu, tapi sayangnya saya bukan orang yang tepat untuk posisi itu. Akan lebih baik kalau posisi juri ini diisi oleh orang yang benar-benar berkompeten,” saya berusaha menjelaskan alasan penolakan saya pada mereka.
“Aduh, gimana ya …?” si penelpon kelihatannya agak kecewa dengan penolakan saya.
“Begini saja …,” saya berusaha memberikan jalan keluar, “Saya merekomendasikan satu nama untuk menggantikan saya. Coba pihak panitia hubungi dulu Dr. Amir. Beliau doktor tafsir lulusan Pakistan dan beliau sangat menguasai soal puisi. Beberapa puisi beliau dimuat oleh Majalah Horison.”
Si penelpon tidak merespon. Kelihatannya dia kurang tertarik dengan usulan saya. Aneh juga, saya pikir, ditawari orang yang lebih baik kok ragu-ragu.
“Coba hubungi beliau dulu. Kalau beliau bisa, Alhamdulillah, saya yakin panitia tidak akan kecewa. Tapi kalau Dr. Amir tidak bisa, panitia boleh menghubungi saya lagi.”
“Kalau beliau tidak bisa, Bapak siap menjadi juri kan?” si penelpon mencari penegasan dengan nada harap.
“Insya Allah,” jawab saya. “Tapi hubungi dulu Dr. Amir ya.”
Maka ia pun mengucapkan salam dan menutup telepon setelah saya membalas salamnya. Istri saya yang mendengar percakapan itu bertanya pada saya kenapa harus menolak permintaan tersebut. Saya jawab, karena saya merasa bukan ahlinya.
“Jadi juri puisi untuk anak-anak SMP dan SMU kan tidak susah,” kata istri saya seperti menyesali penolakan saya. “Bukankah lebih baik kalau permintaan itu diterima saja?”
Saya hanya mengangkat bahu. Saya pikir keputusan saya itu tidak salah. Bukankah sebuah urusan itu sebaiknya dikerjakan oleh ahlinya. Kalau saya memaksakan diri terjun ke bidang yang tidak begitu saya kuasai, jangan-jangan malah merusak acara. Lain ceritanya kalau tidak ada alternatif lain atau saya benar-benar dipaksa oleh panitia.
“Kalau rejeki nggak kemana. Kalau ini memang rejeki saya, nanti juga panitia akan nelpon lagi,” jawab saya sekenanya.
“Lha, kalau panitianya nggak nelpon lagi?”
“Ya berarti bukan rejeki saya.”
Maka saya pun mengerjakan urusan yang lain. Saya segera melupakan permintaan dari panitia tersebut, karena saya menduga Dr. Amir tentu akan menyanggupi permintaan itu. Kalaupun doktor di bidang tafsir itu berhalangan, barangkali beliau akan merekomendasikan temannya yang lain yang cocok untuk itu.
Beberapa saat setelah itu, telepon kembali berdering.
“Assalamu’alaikum,” terdengar suara yang familiar di seberang sana. “Pak, ini dari panitia ….”
“Oh ya …, bagaimana, sudah menghubungi Dr. Amir?”
“Sudah, tapi beliau tidak bisa karena sudah ada acara,” jawab suara di seberang sana. “Beliau malah menyarankan supaya Bapak saja yang menjadi juri.”
“Begitu ya …,” saya masih ragu-ragu. “Apa panitia tidak punya alternatif lain …?”
“Tidak ada …, dan kami sangat berharap Bapak mau menjadi juri.”
Saya tidak punya pilihan lain. Saya mau tidak mau menerimanya. Alhamdulillah, ternyata pilihan panitia tidak sepenuhnya salah. Tugas menjadi juri baca puisi jauh lebih sederhana daripada yang saya bayangkan. Pada prinsipnya, semua orang yang memiliki sedikit pemahaman tentang puisi dan pembacaan puisi bisa menjadi juri di acara tersebut.
Saya menjadi juri seharian penuh bersama dua orang juri lainnya. Setelah tugas selesai, panitia memberikan fee kepada setiap juri. Jumlah yang lumayan untuk seorang guru seperti saya. Saya menatap amplop berisi uang itu sambil tersenyum.
“Saya sudah menolakmu dan menyuruhmu pergi ke tempat lain. Tapi rupanya Allah sudah menetapkan kamu sebagai rejeki saya, maka kamu pun datang kembali ke tangan saya.”
Berapa banyak harta dikejar tapi tak kunjung dapat, sementara rejeki yang tak terbayangkan sebelumnya malah datang secara tak terduga.
Written b: Alwi Alatas
Jakarta, 14/11/08
Kalau rejeki memang nggak kemana. Ya, begitulah yang biasa dikatakan sebagian orang. Artinya, kalau memang sudah jadi rejeki kita, dia tentu akan sampai juga ke tangan kita, walaupun kita tidak mengejarnya. Ini juga yang beberapa kali terjadi pada diri saya.
Salah satu peristiwa yang pernah saya alami adalah ketika saya diminta menjadi juri lomba baca puisi. Pada suatu malam, saya sedang duduk-duduk di ruang keluarga ketika telpon berdering. Saya pun mengangkat telepon.
“Assalamu’alaikum …?” terdengar suara di seberang sana.
“Wa’alaikum salam,” jawab saya.
“Eh, Pak … kami dari panitia …,” si penelpon memperkenalkan dirinya pada saya. “Kami ingin meminta Bapak untuk menjadi juri lomba baca puisi tingkat SMP dan SMU.”
“Juri lomba baca puisi?” saya meragukan pendengaran saya. “Tapi itu sama sekali bukan bidang saya. Kalau juri lomba menulis cerpen atau artikel saya bisa. Tapi lomba baca puisi …?”
“Kami percaya Bapak cocok untuk itu.”
“Siapa saja yang ikut menjadi juri?” tanya saya.
Lalu si penelpon menyebutkan dua nama lainnya, yang salah satunya saya kenal. Ia juga menjelaskan bahwa panitia sempat meminta seorang mantan artis yang kini sudah memakai jilbab untuk menjadi juri, tapi batal karena fee yang diminta si artis terlalu tinggi. Saya sempat berpikir, kalau panitia berani mengundang artis, walaupun akhirnya tidak jadi, tentu fee yang mereka tawarkan lumayan tinggi juga; terlalu rendah untuk si artis, tapi barangkali cukup tinggi buat orang biasa seperti saya. Hanya saja saya tidak ingin menanyakan berapa fee yang ditawarkan panitia.
“Sebetulnya, dari mana dapat informasi tentang saya?” saya bertanya penasaran.
“Eh …, ada beberapa teman yang menginformasikan dan merekomendasikan Bapak untuk posisi juri ini.”
Saya tidak mencoba menyelidik lebih jauh dari mana mereka mendapatkan nama saya. Sebetulnya saya agak tertarik dan ingin membantu, tapi saya merasa ini bukan bidang saya.
“Senang sekali kalau saya bisa membantu, tapi sayangnya saya bukan orang yang tepat untuk posisi itu. Akan lebih baik kalau posisi juri ini diisi oleh orang yang benar-benar berkompeten,” saya berusaha menjelaskan alasan penolakan saya pada mereka.
“Aduh, gimana ya …?” si penelpon kelihatannya agak kecewa dengan penolakan saya.
“Begini saja …,” saya berusaha memberikan jalan keluar, “Saya merekomendasikan satu nama untuk menggantikan saya. Coba pihak panitia hubungi dulu Dr. Amir. Beliau doktor tafsir lulusan Pakistan dan beliau sangat menguasai soal puisi. Beberapa puisi beliau dimuat oleh Majalah Horison.”
Si penelpon tidak merespon. Kelihatannya dia kurang tertarik dengan usulan saya. Aneh juga, saya pikir, ditawari orang yang lebih baik kok ragu-ragu.
“Coba hubungi beliau dulu. Kalau beliau bisa, Alhamdulillah, saya yakin panitia tidak akan kecewa. Tapi kalau Dr. Amir tidak bisa, panitia boleh menghubungi saya lagi.”
“Kalau beliau tidak bisa, Bapak siap menjadi juri kan?” si penelpon mencari penegasan dengan nada harap.
“Insya Allah,” jawab saya. “Tapi hubungi dulu Dr. Amir ya.”
Maka ia pun mengucapkan salam dan menutup telepon setelah saya membalas salamnya. Istri saya yang mendengar percakapan itu bertanya pada saya kenapa harus menolak permintaan tersebut. Saya jawab, karena saya merasa bukan ahlinya.
“Jadi juri puisi untuk anak-anak SMP dan SMU kan tidak susah,” kata istri saya seperti menyesali penolakan saya. “Bukankah lebih baik kalau permintaan itu diterima saja?”
Saya hanya mengangkat bahu. Saya pikir keputusan saya itu tidak salah. Bukankah sebuah urusan itu sebaiknya dikerjakan oleh ahlinya. Kalau saya memaksakan diri terjun ke bidang yang tidak begitu saya kuasai, jangan-jangan malah merusak acara. Lain ceritanya kalau tidak ada alternatif lain atau saya benar-benar dipaksa oleh panitia.
“Kalau rejeki nggak kemana. Kalau ini memang rejeki saya, nanti juga panitia akan nelpon lagi,” jawab saya sekenanya.
“Lha, kalau panitianya nggak nelpon lagi?”
“Ya berarti bukan rejeki saya.”
Maka saya pun mengerjakan urusan yang lain. Saya segera melupakan permintaan dari panitia tersebut, karena saya menduga Dr. Amir tentu akan menyanggupi permintaan itu. Kalaupun doktor di bidang tafsir itu berhalangan, barangkali beliau akan merekomendasikan temannya yang lain yang cocok untuk itu.
Beberapa saat setelah itu, telepon kembali berdering.
“Assalamu’alaikum,” terdengar suara yang familiar di seberang sana. “Pak, ini dari panitia ….”
“Oh ya …, bagaimana, sudah menghubungi Dr. Amir?”
“Sudah, tapi beliau tidak bisa karena sudah ada acara,” jawab suara di seberang sana. “Beliau malah menyarankan supaya Bapak saja yang menjadi juri.”
“Begitu ya …,” saya masih ragu-ragu. “Apa panitia tidak punya alternatif lain …?”
“Tidak ada …, dan kami sangat berharap Bapak mau menjadi juri.”
Saya tidak punya pilihan lain. Saya mau tidak mau menerimanya. Alhamdulillah, ternyata pilihan panitia tidak sepenuhnya salah. Tugas menjadi juri baca puisi jauh lebih sederhana daripada yang saya bayangkan. Pada prinsipnya, semua orang yang memiliki sedikit pemahaman tentang puisi dan pembacaan puisi bisa menjadi juri di acara tersebut.
Saya menjadi juri seharian penuh bersama dua orang juri lainnya. Setelah tugas selesai, panitia memberikan fee kepada setiap juri. Jumlah yang lumayan untuk seorang guru seperti saya. Saya menatap amplop berisi uang itu sambil tersenyum.
“Saya sudah menolakmu dan menyuruhmu pergi ke tempat lain. Tapi rupanya Allah sudah menetapkan kamu sebagai rejeki saya, maka kamu pun datang kembali ke tangan saya.”
Berapa banyak harta dikejar tapi tak kunjung dapat, sementara rejeki yang tak terbayangkan sebelumnya malah datang secara tak terduga.
Written b: Alwi Alatas
Jakarta, 14/11/08
Subscribe to:
Posts (Atom)